Sabtu, 16 Januari 2010

Dekonstruksi Kesepian

Kesepian adalah kondisi mental yang paling kritis, kompleks, dan menyakitkan sehingga kadang orang yang mengalaminya bisa terdorong melakukan hal-hal yang bodoh atau bahkan mengerikan. Jika Anda merasa kurang setuju dengan pendapat saya itu, anggukkan kepala dua kali dan Anda akan otomatis terdorong untuk berubah pikiran.

Tidak masalah apa pendapat Anda, setidaknya itu adalah apa yang saya temukan dalam pengalaman pribadi serta juga menangani terapi konseling selama puluhan tahun hingga hari ini. Hampir 70% orang yang curhat dapat dirunut pada akar-akar kondisi kesepian, jadi biasanya mereka hanya perlu didengarkan saja.

Apapun konflik yang dialami, kebiasaan buruk, ketidakseimbangan psikosomatis hingga penyakit fisik pun (seperti kanker) bisa dipicu oleh rasa kesendirian, keterpisahan, keterputusan seseorang dari dunia sekitarnya. Belum lagi tingginya keterkaitan perasaan tersebut dengan kasus-kasus bunuh diri.

Sama seperti rasa sakit fisik adalah alarm untuk bertindak (seperti menjauhkan tangan dari api), rasa kesepian adalah alarm untuk memperbaiki kebutuhan akan pengakuan dan ikatan sosial. Penulis buku Loneliness: Human Nature and The Need For Social Connection, John Cacioppo, membagi rasa kesepian menjadi tiga jenis.

“There are three core dimensions to feeling lonely. Intimate Isolation, which comes from not having anyone in your life you feel affirms who you are. Relational Isolation, which comes from not having face-to-face contacts that are rewarding. And Collective Isolation, which comes from not feeling that you’re part of a group or collective beyond individual existence.“

Jenis manapun kesepian yang Anda alami sekarang, Anda perlu menyadari bahwa rasa hampa (atau sakit, atau kombinasi keduanya) itu sebenarnya didominasi oleh penilaian subyektif terhadap diri Anda sendiri.

Artinya, sekalipun Anda sudah berusaha untuk keluar rumah, berinteraksi dengan orang sebanyak mungkin, atau menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, tetap saja Anda akan dibayangi sang hantu perasaan kesepian.

Siapakah hantu yang terus menguntit, menekan dan membayangi tersebut?

Anda sendiri!

Andalah yang menghukum, memarahi, memandang rendah, mencibir, dan menolak diri Anda sendiri. Itu sebabnya tidak peduli seaktif apapun kegiatan sosial di luar, Anda tetap merasa sepi di tengah keramaian, ditudungi awan kehampaan ketika aktifitas itu usai dan semua orang pulang ke rumah masing-masing.

Saya selalu menganggap pembelajaran jauh lebih penting daripada solusi. Setidaknya lima puluh persen terobosan sudah terjadi ketika seseorang meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang kondisi yang ia alami. Jadi saya yakin hal-hal di atas sudah banyak mencerahkan, jadi tinggal sisanya untuk Anda kembangkan menuju resolusi yang paling sesuai dengan diri Anda sendiri.

Berhenti malas, gunakan otak Anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar