Sabtu, 16 Januari 2010

Kebahagiaan atau Ilusi Kebahagiaan?

Ambil posisi duduk yang nyaman. Tarik nafas dengan dalam. Tenangkan diri Anda. Karena hari ini kita akan santai saja, belajar bahwa memiliki kepuasan secara materi dan finansial, penampilan yang selalu terawat dan menawan hati, serta kehidupan dikagumi oleh banyak orang akan membuat hidup Anda terasa tidak bahagia.

Bukan saja kebahagiaan tidak terletak pada sisi akibat, tapi juga kebahagiaan berada ribuan kilometer jauhnya dari hal-hal yang terlihat menyenangkan. Semakin kita berhasil menciptakan kebebasan finansial, kesempurnaan fisik, dan hidup populer, semakin kita merasakan kurang bahagia. Demikian hasil kesimpulan dari para peneliti di Universitas Rochester, Amerika Serikat.

“What’s striking and paradoxical about this research is that it shows that reaching materialistic and image-related milestones actually contributes to ill-being; despite their accomplishments, individuals experience more negative emotions like shame and anger and more physical symptoms of anxiety such as headaches, stomachaches, and loss of energy.“

Saya sendiri telah banyak terlibat dan mengalami sendiri bagaimana hasil penemuan itu benar-benar nyata, lebih dari sekedar teori di atas kertas saja. Anehnya, jika kita datang ke pertemuan bisnis tipikal multi level marketing, Anda mendapatkan suasana yang begitu berbeda. Mereka terlihat begitu bahagia dengan peraihan tingkat-tingkat prestasi tertentu dalam struktur organisasinya. Mereka menampilkan banyak foto-foto orang bersenyum lebar dengan deretan gigi putih sehat dengan latar belakang Menara Eiffel, Colloseum, dan kapal-kapal pesiar. Mereka terlihat… bahagia!

Hmmm, apa yang terjadi? Mengapa bertentangan dengan riset dari para ilmuan di atas? Saya beritahu kata kuncinya: terlihat. Jika hanya sekedar mengamati, Anda akan terkecoh dengan apa yang diterima oleh sensor-sensor visual. Kita mudah termanipulasi dan memanipulasi diri, ingat?

Beberapa hari yang lalu saya menonton dokumenter Michael Jackson. Ketika sang jurnalis memintanya ditunjukkan beberapa gerakan dansa yang sangat terkenal itu, Michael berdecak kaget, tersenyum simpul sambil menunduk, berkali-kali menolak permintaan itu. Sungguh diluar dugaan, seorang Michael Jackson benar-benar merasa malu dan canggung!

Saya pribadi kini lebih percaya dengan apa yang sudah diteliti oleh para ilmuan tersebut. Kekayaan dan popularitas adalah hal yang menyenangkan yang ilusif, tapi seringkali bukanlah hal yang membahagiakan. Sementara kebahagiaan itu sendiri, mengutip tulisan saya dahulu, “… hanyalah by-product, atau hasil atau efek, dari sebuah hidup yang bermakna.”

Kenali apa yang Anda kejar selama bertahun-tahun ini. Tentukan pilihan Anda: mengejar kebahagiaan atau ilusi kebahagiaan?

“Individuals who value personal growth, close relationships, community involvement, and physical health are more satisfied as they meet success in those areas. They experience a deeper sense of well-being, more positive feelings toward themselves, richer connections with others, and fewer physical signs of stress.“

Tarik nafas yang dalam lagi. Ucapkan terima kasih di dalam hati. Dan ijinkan kaki Anda berlari ke arah yang benar tanpa ada keragu-raguan lagi. Sampai jumpa di ujung sana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar