Rabu, 13 Januari 2010

EHIPASSIKO

JUDUL : EHIPASSIKO (Datang,Lihat dan Buktikan sendiri)

Namo Sanghyang Adibuddhaya,
Namo Buddhaya...


Kata ehipassiko berasal dari kata ehipassika yang terdiri dari 3 suku kata yaitu ehi, passa dan ika. Secara harafiah ”ehipassika” berarti datang dan lihat. Ehipassikadhamma merupakan sebuah undangan kepada siapa saja untuk datang, melihat serta membuktikan sendiri kebenaran yang ada dalam Dhamma.
Istilah ehipassiko ini tercantum dalam Dhammanussati (Perenungan Terhadap Dhamma) yang berisi tentang sifat-sifat Dhamma.
Guru Buddha mengajarkan untuk menerapkan sikap ehipassiko di dalam menerima ajaranNya. Guru Buddha mengajarkan untuk ”datang dan buktikan” ajaranNya, bukan ”datang dan percaya”. Ajaran mengenai ehipassiko ini adalah salah satu ajaran yang penting dan yang membedakan ajaran Buddha dengan ajaran lainnya. Sebuah ajaran yang memberikan kebebasan bagi setiap orang untuk membuktikan sendiri ajaran Buddha bukan sekedar mempercayainya secara membuta.
Sikap awal untuk tidak percaya begitu saja dengan mempertanyakan apakah suatu ajaran itu adalah bermanfaat atau tidak, tercela atau tidak tecela; dipuji oleh para bijaksana atau tidak, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, adalah suatu sikap yang akan menepis kepercayaan yang membuta terhadap suatu ajaran. Dengan memiliki sikap ini maka nantinya seseorang diharapkan dapat memiliki keyakinan yang berdasarkan pada kebenaran.
Ajaran ehipassiko yang diajarkan oleh Guru Buddha juga harus diterapkan secara bijaksana. Meskipun ehipassiko berarti ”datang dan buktikan” bukanlah berarti selamanya seseorang menjadikan dirinya objek percobaan. Sebagai contoh, ketika seseorang ingin membuktikan bahwa menggunakan narkoba itu merugikan, merusak, bukan berarti orang tersebut harus terlebih dulu menggunakan narkoba tersebut. Sikap ini adalah sikap yang salah dalam menerapkan ajaran ehipassiko. Untuk membuktikan bahwa menggunakan narkoba itu merugikan, merusak, seseorang cukup melihat orang lain yang menjadi korban karena menggunakan narkoba. Melihat dan menyaksikan sendiri orang lain mengalami penderitaan karena penggunaan narkoba, itu pun suatu pengalaman, suatu pembuktian.
Buddha telah mengajarkan kepada kita agar jangan percaya begitu saja dengan apa yang didengar dari seorang guru, dari apa yang tertera dalam kitab, omongan orang, tradisi, kepercayaan, takhayul dan peramal sekalipun, sebelum kita benar benar menguji dan membuktikannya sendiri (ehipassiko).
Seseorang yang telah benar benar mengerti karena telah mengalami sendiri, barulah dapat meyakini kebenaran akan sesuatu. Dan bukan hanya percaya begitu saja karena diming-imingi tanpa membuktikannya terlebih dahulu.
Seorang guru berkata, “Orang yang benar benar mengetahui dan mengerti ajaran berarti hidupnya telah diubah oleh apa yang telah diketahuinya. Inilah orang yang sungguh mengetahui, bukan hanya sekedar tahu.”Ehipassiko artinya datang, lihat, dan buktikan sendiri.
Namun bagaimana caranya kita melihat kebenaran jika kita sendiri tidak yakin bahwa kita bisa melihat kebenaran secara ‘benar’?
Seringkali keraguan selalu meyelimuti pikiran kita, bukan hanya terhadap pemikiran dari luar melainkan juga pemikiran dari dalam diri sendiri.
Apakah ini benar, apakah itu salah? Kita tidak berhenti bertanya.
Pada zaman ketika sang Buddha masih hidup, orang orang yang beruntung dapat bertanya langsung kepada sang Buddha; meskipun sang Buddha sendiri mengatakan agar kita jangan percaya begitu saja dengan apa yang didengar dari seorang guru.
Namun setelah sang Buddha parinibbana, kemanakah kita harus menemukan pedoman hidup?
Tentu saja ajaran Beliau masih ada sampai sekarang.
Namun setelah ribuan tahun berlalu, bagaimana kita tahu mana yang benar benar merupakan ajaran murni dari Beliau, dan mana yang hanya merupakan interpretasi dari ajaran Beliau, yang mana bisa saja merupakan interpretasi yang salah.
Saya pernah membaca entah dimana, disana dikatakan bahwa disaat cahaya sebelah luar telah padam, maka kita harus menjadi pelita bagi diri kita sendiri dan menerangi jalan kita sendiri.
Namun apa jadinya jika kita selalu ragu?
Bagaimana jika ternyata pelita kita cahayanya sangat redup, atau bahkan mati? Kita kehilangan arah dan merasa kebingungan, sulit mengambil keputusan?
Beberapa orang tinggal diam dalam kebingungan dan beberapa lagi berjalan dalam kegelapan.
Jadi bagaimana caranya mengembangkan api dalam diri sendiri?
Mungkin disinilah peran dari meditasi.
Membersihkan pikiran seperti halnya cermin yang memantulkan bayangan sesuai aslinya, demikian juga pikiran yang murni melihat kebenaran sebagai kebenaran.
jadi,Ehipassiko (Datang,lihat & buktikan sendiri) adalah Kalimat Seorang Manusia Besar yang Sempurna. Dan itu harus diakui oleh siapapun bahwa setiap orang bisa membuktikan Sendiri tanpa paksaan untuk ditakut-takuti atau dipaksa percaya begitu saja. Ajaran Ehipassiko ini tidak ada dalam Ajaran yang lain, anda boleh ambil & periksa kitab suci Ajaran lain yang umumnya menganjurkan atau malah mengharuskan mengikuti apa yang tertulis/tercantum didalam Kitab Suci tsb. Mengapa Sang Buddha berkata "Ehipassiko". Itu menunjukkan apa yg telah dicapainya pasti bisa dibuktikan dan dibabarkan dgn jelas dan detail tanpa disembunyikan agar setiap mahluk bisa membuktikan sendiri. Itulah bukti Guru Agung Kita adalah Guru yang tidak Otoriter, Moderat, terbuka, rasional, tanpa pilih kasih untuk segala kasta, mahluk dimanapun juga dan Beliau belum ada tandingannya sampai saat ini. Beliau tidak pernah memaksa harus mempercayai Kata-kata yg beliau ucapkan, tapi kita terlebih dahulu harus mengkaji, mengerti, menelaah & mempraktekan apa yg diucapkan Guru Buddha tsb baru boleh mengatakan bahwa ajaran Beliau itu tidak sesuai.

semoga apa yg saya tulis ini bermanfaat,memberi inspirasi dan pemahaman baru.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata,
Semoga Semua Makhluk Berbahagia.

sadhu! sadhu! sadhu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar