Rabu, 13 Januari 2010

Di Balik Kata

“Mengapa Tuhan tertawa di saat manusia berpikir?
Sebab ketika manusia berpikir, kebenaran menghapus dirinya.”
(Milan Kundera)


Sekitar tahun 2001, saya baru mengetahui bahwa beberapa pemuka agama memperkaya pengalaman rohaninya dengan wawasan yang lebih luas. Mereka mempelajari sesuatu yang disebut hermeneutik, yaitu sebuah metode tertentu untuk menafsirkan sesuatu.
Jika metode tersebut diterapkan pada rasionalisasi agama, maka dapat dipahami bahwa penafsiran terhadap agama diperoleh dengan mencari dan menganalisa makna di balik teks kitab suci. Keyakinan agama menjadi tidak harus mengikuti teks secara harafiah, karena disadari bahwa beragama menjadi berbahaya ketika terjadi salah tafsir.

Tanpa bermaksud mengutak-atik teori filsafat yang rumit, mari kita bicara sedikit tentang hermeneutik. Hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan. Istilah Yunani ini mengingatkan pada tokoh mitologis Hermes. Hermeneutik sering diartikan sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.

Dalam hermeneutik dikenal adanya keyakinan akan makna transendental. Transendental adalah makna yang tidak tampak dalam teks. Menurut Jacques Derrida, seorang Filsuf Perancis yang paling banyak memengaruhi tradisi hermeneutik saat ini, bahwa makna itu adalah hasil ciptaan atau permainan dari teks itu sendiri. Artinya, antara teks dan makna sebetulnya tidak ada hubungan langsung. Misalnya, kata “kursi” digunakan untuk mewakili tempat duduk. Kata bahasa Inggris “chair” digunakan untuk maksud yang sama. Namun, apa hubungannya “kursi” dengan realitas di luar sana yang mengacu pada suatu benda yang berfungsi sebagai tempat duduk? Mengapa harus “kursi”? Mengapa harus “chair”? Mengapa tidak “meja”? Mengapa tidak menggunakan “table”? Mengapa tidak dibalik? Kata “table” untuk menunjuk realitas tempat duduk, dan sebaliknya. Pada dasarnya, tidak ada relasi yang kuat antara teks dan realitas yang ingin diwakilinya. Pikirkan sejenak! Tidak ada hubungan antara sebuah kata dan sesuatu yang dimaksud, bukan?

Makna transendental juga menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada makna dalam teks itu, kitalah yang kreatif membuat maknanya. Ketika sebuah pemahaman dibahasakan, maka pada saat itu “pemahaman” telah mati, hanya menjadi simbol.

Vincent Crapanzano pernah menjelaskan hal ini dalam analogi yang lebih sederhana. Vincent mengingatkan kembali pada tokoh Hermes dalam legenda Yunani Kuno. Hermes adalah seorang tokoh mitologi yang bertugas menerjemahkan pesan-pesan Dewa di Gunung Olympus ke dalam bahasa yang bisa dimengerti umat manusia. Hermes berjanji kepada Dewa Zeus untuk tidak berbohong, tetapi ia tidak berjanji untuk mengatakan seluruhnya dari kebenaran yang diterimanya. Namun, walaupun Hermes tidak bermaksud untuk berbohong pada siapa pun, akan selalu ada sesuatu yang tidak tersampaikan olehnya. Jika kita kembali pada masalah penafsiran agama, terutama penafsiran kitab suci, maka agama tidak akan pernah lepas dari kekurangan dalam menjelaskan kebenaran karena keterbatasan dari tulisan itu sendiri.
...

Kita telah mengetahui bahwa Agama terbagi menjadi dua bagian, yaitu Agama Tuhan (Samawi)—yang dipercaya berasal dari Wahyu Tuhan, dan Agama Manusia—sebuah pandangan hidup yang bersumber pada ajaran manusia sendiri. Baik Agama Tuhan maupun Agama Manusia bernasib sama. Semua pesan spiritual membutuhkan pemahaman dan interpretasi. Wahyu tidak hanya dimengerti sebatas kitab suci yang harus diyakini, tetapi juga dipahami. Karena adanya proses pemahaman itu, Agama Tuhan pun menjadi Agama Manusia. Kebijaksanaan Intuitif adalah tentang pemahaman ini. Jika memang dibutuhkan keyakinan, maka keyakinan itu harus dibangun atas dasar pemahaman. Pada tahap awal kita butuh keyakinan akan sesuatu yang belum kita mengerti sebelumnya. Namun, pada tahap selanjutnya dan tahap akhir kita butuh pemahaman yang lebih mendalam. Jika tidak, maka selamanya kita tidak akan pernah mengerti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar