Rabu, 13 Januari 2010

Asal Mula

DN 15 D ii 55
Mahānidāna Sutta: Khotbah Panjang Tentang Asal-Mula
Diterjemahkan dari bahasa Pāḷi ke bahasa Inggris oleh
Maurice O'Connell Walshe
© 2009-2010

[55] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR.1 Suatu ketika, Sang Bhagavā sedang menetap di tengah-tengah para Kuru. Ada sebuah kota pasar yang bernama Kammāsadhamma.2 Dan Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang Bhagavā, memberi hormat, duduk di satu sisi, dan berkata: “Sungguh indah, Bhagavā, sungguh menakjubkan, betapa dalamnya asal-mula yang saling bergantungan ini, dan betapa dalamnya ia terlihat! Namun bagiku terlihat sejernih-jernihnya!”

‘Jangan berkata begitu, Ānanda, jangan berkata begitu! Asal-mula yang saling bergantungan ini dalam dan terlihat dalam. Tanpa memahami, tanpa menembus ajaran ini, maka generasi ini bagaikan segumpal benang kusut, tertutup oleh tanaman merambat,3 kusut bagaikan rumput kasar, tidak mampu melewati alam sengsara, alam kelahiran yang menderita, kehancuran, dan lingkaran kelahiran- dan-kematian.’4

2. ‘Jika, Ānanda, engkau ditanya: “Apakah usia-tua-dan-kematian memiliki kondisi atas keberadaannya?”5 Engkau harus menjawab: “Ya.” Jika ditanya: “Apakah yang mengondisikan usia-tua-dan- kematian?” Engkau harus menjawab: “Usia-tua-dan-kematian dikondisikan oleh kelahiran.” ... [56] “Apakah yang mengondisikan kelahiran?” ... “Penjelmaan mengondisikan kelahiran.” ..190Khotbah Panjang Tentang Asal-Mula 191

“Kemelekatan mengondisikan penjelmaan.” ... “Keinginan mengondisikan kemelekatan.” “Perasaan mengondisikan keinginan.” “Kontak mengondisikan perasaan.” “Batin-dan- jasmani mengondisikan kontak.”6 ... “Kesadaran mengondisikan batin-dan-jasmani.” .... Jika ditanya: “Apakah kesadaran memiliki kondisi atas keberadaannya?” Engkau harus menjawab: “Ya.” Jika ditanya: “Apakah yang mengondisikan kesadaran?” Engkau harus menjawab: “Batin-dan-jasmani mengondisikan kesadaran.”7

3. ‘Demikianlah Ānanda, batin-dan-jasmani mengondisikan kesadaran dan kesadaran mengondisikan batin-dan-jasmani, batin-dan-jasmani mengondisikan kontak, kontak mengondisikan perasaan, perasaan mengondisikan keinginan, keinginan mengondisikan kemelekatan, kemelekatan mengondisikan penjelmaan, penjelmaan mengondisikan kelahiran, kelahiran mengondisikan usia-tua-dan-kematian, dukacita, [57] ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesusahan.8 Ini adalah keseluruhan dari keberadaan penderitaan.’

4. ‘Aku mengatakan: “Kelahiran mengondisikan usia-tua-dan- kematian,” dan ini adalah cara untuk memahaminya. Jika, Ānanda, tidak ada kelahiran sama sekali, di mana pun, siapa pun, manusia atau bukan manusia: dewa, gandhabba ..., yakkha ..., hantu ...,9 manusia ..., binatang berkaki empat ..., burung-burung ..., reptil, jika tidak ada kelahiran sama sekali dari semua makhluk ini, maka, dengan tidak adanya kelahiran, lenyapnya kelahiran, dapatkah usia-tua-dan-kematian muncul?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Oleh karena itu, Ānanda, ini adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi usia-tua-dan-kematian – yaitu kelahiran.’

5. ‘Aku mengatakan: “Penjelmaan mengondisikan kelahiran.” ... jika sama sekali tidak ada penjelmaan di alam kenikmatan-indria, di alam berbentuk, atau di alam tanpa bentuk ... dapatkah kelahiran muncul?’

‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Oleh karena itu, ini adalah kondisi bagi kelahiran – yaitu penjelmaan.’

6. ‘“Kemelekatan mengondisikan penjelmaan.” ... jika sama sekali tidak ada kemelekatan: kemelekatan terhadap indria-indria [58], kemelekatan terhadap pandangan-pandangan, kemelekatan terhadap upacara dan ritual, terhadap kepercayaan akan diri ... dapatkah penjelmaan muncul?’

7. ‘“Keinginan mengondisikan kemelekatan.” ... jika sama sekali tidak ada keinginan: terhadap pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-rasa kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran ... dapatkah kemelekatan muncul?’

8. ‘“Perasaan mengondisikan keinginan.” ... jika sama sekali tidak ada perasaan: perasaan yang muncul dari kontak-mata, kontak- telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-badan, kontak- pikiran – dengan tidak adanya semua perasaan, dengan lenyapnya perasaan, dapatkah keinginan muncul?’

‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Oleh karena itu, Ānanda, ini adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi keinginan – yaitu perasaan.’

9. ‘Dan demikianlah, Ānanda, perasaan mengondisikan keinginan, keinginan mengondisikan pencarian,10 pencarian mengondisikan perolehan,11 perolehan mengondisikan pengambilan-keputusan,12 pengambilan-keputusan mengondisikan nafsu-keinginan,13 nafsu- keinginanmengondisikanketerikatan,14 keterikatan mengondisikan kelayakan,15 kelayakan mengondisikan ketamakan,16 ketamakan [59] mengondisikan penjagaan atas harta-benda yang dimiliki,17 dan karena penjagaan harta-benda yang dimiliki, maka muncullah pengambilan tongkat dan pedang, pertengkaran, perselisihan, perdebatan, percekcokan, caci-maki, kebohongan dan kejahatan tidak terampil lainnya.’

10. ‘Aku mengatakan: “Semua kondisi jahat yang tidak terampil ini muncul karena penjagaan harta-benda miliknya.” Karena jika sama sekali tidak ada penjagaan terhadap harta-benda ... apakah ada tindakan mengambil tongkat atau pedang ...?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Oleh karena itu, Ānanda, menjaga harta-benda adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi semua kondisi kejahatan yang tidak terampil.’

11. ‘Aku mengatakan: “Keserakahan mengondisikan penjagaan harta-benda ....”’

12-17. ‘“Kelayakan mengondisikan ketamakan, ... [60] keterikatan mengondisikan kelayakan, ... nafsu-keinginan mengondisikan keterikatan, ... pengambilan-keputusan mengondisikan nafsu- keinginan, ... perolehan mengondisikan pengambilan-keputusan, ... pencarian mengondisikan perolehan ....”’ [61]

18. ‘Aku mengatakan: “Keinginan mengondisikan pencarian,” ... jika tidak ada keinginan ... apakah akan ada pencarian?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Oleh karena itu, Ānanda, keinginan adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi semua pencarian. Demikianlah kedua hal ini bergabung menjadi satu di dalam perasaan.18’ [62]

19. ‘Aku mengatakan: “Kontak mengondisikan perasaan.” ... oleh karena itu, kontak adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi perasaan.’

20. ‘“Batin-dan-jasmani mengondisikan kontak.” Dengan sifat- sifat, ciri-ciri, tanda-tanda atau indikasi apa pun faktor-batin19 terbentuk, akankah, dengan tidak adanya sifat-sifat ... demikian yang berhubungan dengan faktor-batin, muncul genggaman akan gagasan faktor-jasmani?’20 ‘Tidak, Bhagavā.’

‘Atau dengan tidak adanya sifat-sifat demikian yang berhubungan dengan faktor-jasmani, akankah ada genggaman pada reaksi indriawi dalam bagian faktor-batin?’ ‘Tidak, Bhagavā.’

‘Dengan sifat-sifat apa pun faktor-batin dan faktor-jasmani terbentuk – dengan tidak adanya sifat-sifat tersebut, adakah manifestasi dari genggaman pada gagasan, atau pada reaksi indriawi?’ ‘Tidak, Bhagavā.’

‘Dengan sifat-sifat, ciri-ciri, tanda-tanda atau indikasi apa pun faktor-batin terbentuk, dengan tidak adanya sifat-sifat tersebut, adakah kontak apa pun yang terjadi?’ ‘Tidak, Bhagavā.’

‘Maka, Ānanda, batin-dan-jasmani ini adalah akar, penyebab, asal- mula, kondisi bagi semua kontak.’

21. ‘Aku mengatakan: “Kesadaran mengondisikan batin-dan- jasmani.” ... [63] jika kesadaran tidak masuk ke dalam rahim ibu, akankah batin-dan-jasmani berkembang di sana?’ ‘Tidak, Bhagavā.’

‘Atau jika kesadaran, setelah memasuki rahim ibu, kemudian dibelokkan, akankah batin-dan-jasmani itu dilahirkan dalam kehidupan ini?’ ‘Tidak Bhagavā.’ ‘Dan jika kesadaran dari makhluk muda tersebut, laki-laki atau perempuan, dipotong, akankah batin- dan-jasmani tumbuh, berkembang dan dewasa?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Oleh karena itu, Ānanda, kesadaran ini adalah akar, penyebab, asal-mula, kondisi bagi batin-dan-jasmani.’

22. ‘Aku mengatakan: “Batin-dan-jasmani mengondisikan kesadaran.” ... jika kesadaran tidak menemukan tempat bersandar dalam batin-dan-jasmani, akankah selanjutnya ada kelahiran, kematian, dan penderitaan?’ ‘Tidak, Bhagavā.’ Oleh karena itu, Ānanda, batin-dan-jasmani ini adalah akar, penyebab, asal- mula, kondisi bagi kesadaran. Sejauh itulah, Ānanda, kita dapat melacak21 kelahiran dan kerusakan, kematian dan kejatuhan ke alam-alam lain dan terlahir kembali,22 sedemikian jauhlah jalan pembentukan, konsep, sedemikian jauhlah, bidang pemahaman, sedemikian jauhlah lingkaran berputar [64] sejauh yang bisa dilihat dalam kehidupan ini,23 yaitu batin-dan-jasmani bersama dengan kesadaran.’

23. ‘Dalam cara bagaimanakah, Ānanda, orang-orang menjelaskan sifat dari diri? Beberapa menyatakan diri sebagai bermateri dan terbatas,24 mengatakan: “Diriku adalah bermateri dan terbatas;” beberapa menyatakannya sebagai bermateri dan tidak terbatas ... beberapa menyatakannya sebagai tanpa materi dan terbatas ...; beberapa menyatakannya sebagai tanpa materi dan tidak terbatas, mengatakan: “Diriku adalah tanpa materi dan tidak terbatas.”’

24. ‘Siapa pun yang menyatakan diri sebagai bermateri dan terbatas, menganggapnya sebagai demikian saat ini, atau di alam berikutnya, berpikir: “Meskipun tidak demikian saat ini, aku akan mendapatkannya di sana.”25 Karena itu, itulah yang perlu dikatakan mengenai pandangan bahwa diri adalah bermateri dan terbatas, dan hal yang sama berlaku untuk teori-teori [65] lainnya. Demikianlah, Ānanda, bagi mereka yang mengusulkan penjelasan tentang diri.’

25-26. ‘Bagaimanakah dengan mereka yang tidak menjelaskan sifat dari diri? ... (seperti paragraf 23-24 tetapi kebalikannya.)’ [66]

27. ‘Dengan cara bagaimanakah, Ānanda, orang-orang menganggap diri? Mereka menyamakannya dengan perasaan: “Perasaan adalah diriku,”26 atau: “Perasaan bukanlah diriku, diriku tidak terlihat,”27 atau: “Perasaan bukanlah diriku, tetapi diriku bukan tidak terlihat, ini adalah suatu sifat yang hanya dapat dirasakan.”’28

28. ‘Sekarang, Ānanda, seorang yang mengatakan: “Perasaan adalah diriku,” harus diberitahu: “Ada tiga jenis perasaan, Teman: menyenangkan, menyakitkan, dan netral. Yang manakah di antara ketiga itu yang engkau anggap dirimu?” Ketika perasaan menyenangkan dirasakan, perasaan menyakitkan atau netral tidak dirasakan, tetapi hanya perasaan menyenangkan. Ketika perasaan menyakitkan dirasakan, tidak ada perasaan menyenangkan atau netral yang dirasakan. Dan ketika perasaan netral dirasakan, tidak ada perasaan menyenangkan atau menyakitkan dirasakan.’

29. ‘Perasaan menyenangkan adalah tidak kekal, terkondisi,29 muncul bergantungan, mengalami kerusakan, mengalami pelenyapan, memudar, padam – dan demikian pula perasaan menyakitkan [67] dan perasaan netral. Maka siapa pun yang, ketika mengalami suatu perasaan menyenangkan, berpikir: “Ini adalah diriku,” akan, saat lenyapnya perasaan menyenangkan itu, berpikir: “Diriku telah lenyap!” dan demikian pula dengan perasaan menyakitkan dan perasaan netral. Karena itu, siapa pun yang berpikir: “Perasaan adalah diriku” merenungkan sesuatu dalam kehidupan ini yang tidak kekal, campuran antara kebahagiaan dan ketidakbahagiaan, mengalami kemunculan dan pelenyapan. Oleh karena itu, tidaklah tepat mempertahankan: “Perasaan adalah diriku.”’

30. ‘Tetapi siapa pun yang mengatakan: “Perasaan bukanlah diriku, diriku tidak terlihat,” harus ditanya: “Jika, Teman, tidak ada perasaan sama sekali yang dialami, akankah ada pikiran: ‘Aku’?” [dan ia akan menjawab:] “Tidak, Bhagavā.”30 Oleh karena itu, tidaklah tepat mempertahankan: “Perasaan bukanlah diriku, diriku tidak terlihat.”’

31. ‘Dan siapa pun yang mengatakan: “Perasaan bukanlah diriku, tetapi diriku bukan tidak terlihat, ini adalah suatu sifat yang hanya dapat dirasakan.” Harus ditanya: “Baiklah, Teman, jika semua perasaan lenyap, akankah ada pikiran: ‘Aku adalah ini?’”31 [dan ia akan menjawab:] “Tidak, Bhagavā.” Oleh karena itu, tidaklah tepat mempertahankan: [68] “Perasaan bukanlah diriku, tetapi diriku bukan tidak terlihat, ini adalah suatu sifat yang hanya dapat dirasakan.”’

32. ‘Sejak saat, Ānanda, ketika seorang bhikkhu tidak lagi menganggap perasaan sebagai diri, atau diri yang tidak terlihat, atau sebagai yang terlihat dan adalah sifat yang hanya bisa dirasakan, dengan tidak menganggap demikian, ia tidak melekat pada apa pun di dunia ini; karena tidak melekat, ia tidak bergairah oleh apa pun juga, dan dengan tidak bergairah, ia memperoleh pembebasan diri,32 dan ia mengetahui: “Kelahiran telah selesai, kehidupan suci telah dijalani, telah dilakukan apa yang harus dilakukan, tidak ada apa-apa lagi di sini.”’

‘Dan jika seseorang berkata kepada bhikkhu yang batinnya terbebaskan demikian: “Tathāgata ada setelah kematian,”33 itu akan [terlihat olehnya sebagai] suatu pendapat salah dan tidak tepat, demikian pula: “Tathāgata tidak ada setelah kematian ..., ada dan tidak ada ..., bukan ada dan juga bukan tidak ada setelah kematian.” Mengapa demikian? Sejauh, Ānanda, yang dicapai oleh pembedaan, sejauh yang dicapai oleh bahasa, sejauh yang dicapai oleh konsep, sejauh yang dicapai oleh pemahaman, sejauh yang dicapai dan diputar oleh lingkaran – bhikkhu itu terbebaskan dari semuanyaolehpengetahuan-super,34 danuntukmempertahankan bahwa bhikkhu yang terbebaskan demikian itu tidak mengetahui dan tidak melihat adalah pandangan salah dan tidak benar.’

33. ‘Ānanda, ada tujuh bidang kesadaran35 dan dua alam.36 Apakah tujuh ini? Ada makhluk-makhluk yang berbeda dalam [69] jasmani dan berbeda dalam persepsi, seperti manusia, beberapa dewa dan beberapa yang berada di alam sengsara. Ini adalah bidang pertama kesadaran. Ada makhluk-makhluk yang berbeda dalam jasmani dan sama dalam persepsi, seperti para dewa pengikut Brahmā, terlahir di sana [karena telah mencapai] jhāna pertama. Ini adalah bidang ke dua. Ada makhluk-makhluk yang sama dalam jasmani dan berbeda dalam persepsi. Seperti para dewa Ābhassara.37 Ini adalah bidang ke tiga. Ada makhluk-makhluk yang sama dalam jasmani dan sama dalam persepsi, seperti para dewa Subhakiṇṇa. Ini adalah bidang ke empat. Ada makhluk-makhluk yang telah melampaui secara total semua persepsi materi, dengan melenyapkan persepsi reaksi indria dan dengan tanpa-perhatian terhadap persepsi yang beraneka ragam; berpikir: “Ruang adalah tanpa batas”, mereka telah mencapai alam Ruang Tanpa Batas. Ini adalah bidang ke lima. Ada makhluk-makhluk yang, dengan melampaui alam Ruang Tanpa Batas, berpikir: “Kesadaran adalah tanpa batas”, telah mencapai alam Kesadaran Tanpa Batas. Ini adalah bidang ke enam. Ada makhluk-makhluk yang, dengan melampaui alam Kesadaran Tanpa Batas, berpikir: “Tidak ada apa pun”, telah mencapai alam Kekosongan. Ini adalah bidang ke tujuh. [Dua alam adalah:] Alam makhluk-makhluk tanpa kesadaran, dan, ke dua, Alam Bukan Persepsi juga bukan Bukan-Persepsi.’

34. ‘Sekarang, Ānanda, sehubungan dengan jenis pertama kesadaran, dengan jasmani yang berbeda dan persepsi yang berbeda, seperti manusia dan seterusnya, jika seseorang memahaminya, asal- mulanya, lenyapnya, keindahan dan bahayanya, dan pembebasan darinya, pantaskah baginya untuk bersenang-senang di dalamnya?’ [70] ‘Tidak, Bhagavā.’ ‘Dan demikian pula sehubungan dengan jenis-jenis lainnya, dan dua alam?’ ‘Tidak Bhagavā.’

‘Ānanda, sejauh sebagai seorang bhikkhu, setelah mengetahui sebagaimana adanya ketujuh jenis kesadaran ini dan dua alam ini, asal-mulanya dan lenyapnya, keindahan dan bahayanya, terbebaskan tanpa keterikatan, bhikkhu itu, Ānanda, disebut seorang yang terbebaskan oleh kebijaksanaan.’38

35. ‘Ada, Ānanda, delapan pembebasan ini.39 Apakah itu?

(1) Memiliki bentuk, seseorang melihat bentuk.40 Ini adalah pembebasan pertama. (2) Tanpa melihat bentuk materi dalam diri seseorang, ia melihatnya di luar.41 Ini adalah pembebasan ke dua. [71] (3) Berpikir: “Ini indah”, seseorang meliputinya.42 Ini adalah yang ke tiga. (4) Dengan secara total melampaui semua persepsi materi, dengan melenyapkan persepsi reaksi-sensor dan dengan ke-tidak-tertarikan pada persepsi yang beraneka-ragam, berpikir: “Ruang adalah tanpa batas,” seseorang masuk dan berdiam dalam alam Ruang Tanpa Batas, ini adalah yang ke empat. (5) Dengan melampaui Alam Ruang Tanpa Batas, berpikir: “Kesadaran adalah tanpa batas,” seseorang masuk dan berdiam dalam alam Kesadaran Tanpa Batas, ini adalah yang ke lima. (6) Dengan melampaui alam Kesadaran Tanpa Batas, berpikir: “Tidak ada apa pun,” seseorang masuk dan berdiam dalam alam Kekosongan, ini adalah yang ke enam. (7) Dengan melampaui alam Kekosongan, seseorang masuk dan berdiam dalam alam Bukan persepsi juga bukan Bukan- Persepsi, ini adalah yang ke tujuh. (8) Dengan melampaui alam Bukan persepsi juga bukan Bukan-Persepsi, seseorang masuk dan berdiam dalam Lenyapnya Persepsi dan Perasaan.43 Ini adalah pembebasan ke delapan.’

36. ‘Ānanda, ketika seorang bhikkhu mencapai delapan pembebasan ini dalam urutan maju, dalam urutan mundur, dan dalam urutan maju-dan-mundur, masuk dan keluar dari dalamnya kapan pun ia inginkan, selama yang ia inginkan, dan telah mencapai dengan pengetahuan-super yang ia miliki di sini dan saat ini, baik kehancuran kekotoran-kekotoran maupun pembebasan yang tanpa kekotoran dari hati dan pembebasan oleh kebijaksanaan,44 bhikkhu itu disebut “Terbebaskan dalam kedua-arah,”45 dan, Ānanda, tidak ada jalan lain selain “pembebasan kedua-arah” yang lebih mulia atau sempurna daripada yang ini.’

Demikianlah Sang Bhagavā berkata. Dan Yang Mulia Ānanda senang dan gembira mendengar kata-kata Beliau

http://dhammacitta.org/dcpedia/DN_15_Mahanidana_Sutta_Walshe

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar