Sabtu, 16 Januari 2010

Perhatian dan Kesadaran

Apakah kita baru menyadari sesuatu setelah kita memperhatikannya, ataukah kita bisa menyadari sesuatu sebelum kita memperhatikannya? Apakah perhatian akan sesuatu menjamin kita menyadarinya? Apakah kesadaran akan sesuatu berarti kita sudah memperhatikannya? Apakah perhatian dan kesadaran adalah hal yang sama?

Hampir seluruh hal yang saya lakukan dalam terapi, training, dan blog ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran orang-orang yang terlibat di dalamnya. Saya percaya bahwa untuk bisa melangkah dan meningkatkan diri, seseorang wajib untuk sepenuhnya menyadari dan mengetahui di mana ia berada, apa saja yang terjadi dalam hidupnya, dan bagaimana hal-hal tersebut membawanya sampai di titik tersebut.

Analogi sederhananya, untuk bisa sembuh dari penyakit, Anda harus bisa mendiagnosanya terlebih dahulu sebelum bisa menentukan obat atau perawatan yang perlu dilakukan. Solusi adalah sebuah kesia-siaan, atau bahkan racun, jika Anda tidak pernah mengetahui kondisi Anda yang sebenarnya. Saya menyebutnya, “To know yourself is to heal yourself.”

Namun hari ini saya belajar hal yang baru yang sangat menarik: perhatian dan kesadaran adalah dua hal yang berbeda. Christof Koch dan Naotsugu Tsuchiya dari California Institute of Technology meneliti hewan primata dan menemukan bahwa mata mereka menerima sekitar 1 juta informasi (sangat berbeda dengan manusia) tiap detiknya, dan otak menyeleksi sebagian kecil yang penting saja untuk diproses secara real time, sementara sisa data lainnya dibiarkan tersimpan tanpa diproses.

Hal tersebut dikenal sebagai ‘perhatian’. Sementara apa itu kesadaran?

“Consciousness is surmised to have substantially different functions from attention. These include summarizing all information that pertains to the current state of the organism and its environment and ensuring this compact summary is accessible to the planning areas of the brain, and also detecting anomalies and errors, decision making, language, inferring the internal state of other animals, setting long-term goals, making recursive models and rational thought.“

Mereka menyampaikan bahwa bukan saja Perhatian dan Kesadaran merupakan dua proses mental yang berbeda, tapi juga salah satu bisa terjadi tanpa kehadiran yang lainnya, seperti ditunjukkan dalam sebuah studi lain, dimana sekelompok partisipan menilai seberapa menarik foto pria dan wanita yang ditampilkan di layar komputer selama 0.013 detik. Sekalipun mereka semua melaporkan tidak sempat menyadari detil gambar wajah-wajah tersebut, mereka ternyata mampu secara akurat memberikan nilai rata-rata yang sama. Ini artinya Anda bisa memperhatikan sesuatu tanpa pernah menyadari apa itu sepenuhnya.

Bagaimana dengan sebaliknya, kesadaran tanpa perhatian? Christof Koch dan Naotsugu Tsuchiya memberikan sejumlah contoh yang agak berbeda dengan studi sebelumnya di atas. Partisipan studi diminta melihat tampilan foto secara mendadak selama 0.030 detik. Mereka semua melaporkan dapat menyebut gambaran umum tentang wajah yang bersangkutan, sekalipun sama sekali tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya mereka lihat.

Agak sulit dimengerti, jadi saya berikan contoh versi yang lebih sederhana saja dalam kasus romansa: Anda selalu menyadari bahwa kekasih Anda menerima dan mencintai Anda apa adanya, namun baru benar-benar memperhatikan betapa langka dan berharganya hal tersebut ketika dia sudah tidak ada lagi di samping Anda.

Sebagai tambahan, saya menemukan sebuah studi lainnya lagi yang menyatakan bahwa membuyarkan konsetrasi perhatian seseorang akan sesuatu akan meningkatkan kesadarannya akan hal tersebut.

Ah, menarik sekali…

Jujur, saya tidak tahu seberapa menarik pembelajaran ini bagi Anda. Saya tidak tahu apakah Anda mengerti apapun yang saya tulis ini. Saya juga tidak tahu bagaimana pengetahuan ini dapat diaplikasikan secara praktis. Yang jelas tujuan tulisan saya, seperti hari-hari lainnya, adalah meningkatkan perhatian dan kesadaran agar menjadi lebih baik, lebih awas, lebih maksimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar