Selasa, 26 Januari 2010

Sudahlah, Maafkan Saja

Sudahlah, Maafkan Saja!

Bayangkan Anda sedang menghadiri pesta yang amat meriah. Semua orang tampil
dengan pakaian terbaik. Makanan yang dihidangkanpun tampak lezat dan
mengundang selera. Saat Anda antre untuk mengambil makanan, tiba-tiba
seseorang yang sangat Anda percaya berbisik di telinga Anda, ''Hati-hati,
banyak makanan tak halal disini, bahkan ada beberapa yang beracun!''

Saya berani menjamin Anda akan mengurungkan niat mengambil makanan. Boleh
jadi Anda pun langsung pulang ke rumah. Anda benar, hanya orang bodohlah
yang mau menyantap makanan tersebut. Kita tak mau makan sembarangan. Kita
sangat peduli pada kesehatan kita.

Anehnya, kita sering -- bahkan dengan sengaja -- memasukkan '
makanan-makanan beracun'' ke dalam pikiran kita. Kita tak sadar bahwa inilah
sumber penderitaan kita. Salah satu makanan yang paling berbahaya tersebut
bernama: ketidakmauan kita untuk memaafkan orang lain!

Ketidakmauan memaafkan adalah penyakit berbahaya yang menggerogoti
kebahagiaan kita. Kita sering menyimpan amarah. Kita marah karena dunia
berjalan tak sesuai dengan kemauan kita. Kita marah karena pasangan, anak,
orang tua, atasan, bawahan, dan rekan kerja, tak melakukan apa yang kita
inginkan. Lebih parah lagi, kita memendam kemarahan ini berhari-hari, bahkan
bertahun-tahun.

Memang banyak sekali kejadian yang memancing emosi kita. Pengendara motor
yang memaki kita, mobil yang menyalib dan hampir membuat kita celaka, orang
yang membobol ATM kita, politisi yang hanya memperjuangkan perutnya sendiri,
adik yang sering minta bantuan tapi tak pernah mengucapkan terima kasih,
pembantu yang membohongi kita, maupun bos yang pelitnya luar biasa. Kita
mungkin berpikir bahwa orang-orang tak tahu diri ini sudah sepantasnya kita
benci. Tapi kita lupa bahwa kebencian yang kita simpan hanyalah merugikan
kita sendiri.

Penelitian menunjukkan ketidakrelaan memaafkan orang lain memiliki dampak
hebat terhadap tubuh kita: menciptakan ketegangan, mempengaruhi sirkulasi
darah dan sistem kekebalan, meningkatkan tekanan jantung, otak dan setiap
organ dalam tubuh kita. Kemarahan yang terpendam mengakibatkan berbagai
penyakit seperti pusing, sakit punggung, leher, dan perut, depresi, kurang
energi, cemas, tak bisa tidur, ketakutan, dan tak bahagia.

Baru-baru ini saya sempat berinteraksi dengan sekelompok mahasiswa yang
mengeluhkan perasaan tertekan dan tak bahagia. Ternyata, kebanyakan dari
mereka memendam berbagai kemarahan, baik kepada orang tua maupun orang-orang
di sekitar mereka. Salah seorang mengaku telah 10 tahun memendam kebencian
kepada wanita yang menjadi istri kedua ayahnya. Si ayah yang dijuluki orang
paling sholeh di kantornya tanpa diduga mempunyai ''simpanan.'' Wanita ini
kemudian dinikahinya, dan akhirnya meninggal karena stroke lima tahun lalu.
Tapi, kemarahan dan kebencian si anak hingga kini belum juga mereda.

Musuh kita sebenarnya bukanlah orang yang membenci kita tetapi orang yang
kita benci. Ada cerita mengenai seorang lelaki bekas tapol di zaman Orde
Baru yang mengunjungi kawannya sesama eks tapol. Sambil mengobrol si kawan
bertanya, ''Apakah kamu sudah melupakan rezim Orde Baru?'' Jawabnya, ''Ya,
sudah.'' Si kawan kemudian berkata, ''Saya belum. Saya masih sangat membenci
mereka.'' Lelaki itu tertawa kecil dan berkata, ''Kalau begitu, mereka masih
memenjara dirimu.''

Untuk mencapai kebahagiaan, kita perlu mengubah cara pandang kita. Sumber
kebahagiaan ada dalam diri kita sendiri, bukan di luar. Karena itu jangan
terlalu memusingkan perilaku orang lain. Sebaliknya, belajarlah memaafkan.
Kunci memaafkan adalah memahami ketidaktahuan. Banyak orang yang melakukan
kesalahan karena ketidaktahuan. Kalaupun mereka sengaja melakukannya, itupun
karena mereka sebenarnya tak tahu. Mereka tak tahu bahwa kejahatan bukanlah
untuk orang lain tetapi untuk mereka sendiri.

Orang yang suka memaki dan bersikap kasar sebenarnya tak menyadari bahwa
mereka sedang menzalimi dirinya sendiri. Suatu ketika ia akan kena batunya.
Inilah konsekuensi logis dari hukum alam.

Mempraktikkan konsep memaafkan akan membuat hidup lebih ringan. Saya ingat,
saat sedang duduk menunggu anak saya sekolah pada minggu lalu, seorang ibu
yang lewat menubrukkan tasnya yang cukup berat ke kepala saya, tanpa permisi
apalagi minta maaf. Orang-orang yang melihat kejadian itu
menggeleng-gelengkan kepala sambil mencela kecerobohannya. Saya mencoba
mempraktikkan konsep ini, dan langsung memaafkannya. Ibu itu kelihatannya
sedang kalut. Tak mungkin ia sengaja menabrak saya begitu saja.

Untuk mencapai kebahagiaan, berikanlah maaf kepada orang lain. Hentikan
kebiasaan menyalahkan orang lain. Ingatlah, kesempurnaan manusia justru
terletak pada ketidaksempurnaannya. Hanya Allah-lah yang Maha Suci dan Maha
Sempurna. Saya menyukai apa yang dikemukakan Gerarld G Jampolsky dalam
bukunya Forgiveness, The Greatest Healer of All. ''Rela memaafkan adalah
jalan terpendek menuju Tuhan.''

Sumber: Sudahlah, Maafkan Saja! oleh Arvan Pradiansyah - Dosen UI dan
pengamat manajemen SDM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar