Sabtu, 26 Desember 2009

Apakah hewan juga bisa BERTEKAD dan PUNYA KEINGINAN ???

Dulu ketika saya masih SD, abang saya tidak pernah kalah debat dengan teman²nya tentang agama [Nasrani & Islam]. Saya dulu cuma suka ikut²an mereka duduk & dengar seadanya, karena kadang mereka juga suka show up kung-fu [pada masuk perguruan], adu otot, pecahin kemiri, dll... Ketika dewasa, sangat sulit convert abang saya ~ sekarang sih sudah aktiv di sebuah cetiya.

Saya ingat salah satu pertanyaan & tuntutan dia tentang Hukum Kamma; bahwa yg kurang dia bisa terima adalah "perbanyaklah perbuatan baik". Maksunya, lha, ketika kita berbuat baik, khan tidak sekonyong² dapat "imbalannya" . Kita tahu bahwa ada pola timing & interval dari kamma~vipaka yah: cubit langsung terasa sakit, kerja sbg pegawai 30 dpt gaji, sekolah pindah/tinggal kelas 1 thn, dll...

Saya jelaskan kepada dia; contoh: ketika kita membantu seseorang yg mengalami kecelakaan ~ nyawanya tertolong setelah kita memberikan nafas buatan. Apakah saat itu happy? Terlebih familynya datang & memberikan apresiasi yang bertubi²? Jika dituntut "imbalan seketika", itu dialah kebahagiaan yg tidak bisa dibeli dgn uang atau didapatkan tiap hari.

Nah, jika ingin "imbalan seketika" yg riil sebagai cerminan perbuatan kita; artinya kita beberapa menit kemudian yg kecelakaan lagi dong, trus ada yg memberikan kita nafas buatan? Gitu? Dia tertawa geli juga... Kesimpulannya, vipaka kita akan berbuah sesuai dengan kondisi & situasi yang benar² pas. Kamma-vipaka tidak memiliki pola kerja matematis ~ namun tentunya juga ada penyebab dominan.

Poin lainnya, jika kita merujuk kepada akar dominan penderitaan kita: lobha, dosa, moha... Di dalam masyarakat, kita bisa melihat banyak karakter yah, termasuk kita sendiri; tipe mana yg dominan? Lobha? Dosa? Ato moha? Pasti ada kecenderungan masing²...

Setan/iblis didominasi oleh sifat lobha; sedangkan binatang didominasi oleh moha. Makhluk hidup di 31 alam memiliki nama rupa, ada kelahiran di alam tertentu yg hanya memiliki nama, ada pula yg rupa saja yg dominan. Artinya, binatang juga memiliki apa yg dimiliki manusia, nama & rupa juga; begitu juga alam dewa. Nah, yang membedakan adalah kondisi & situasi alam kehidupan; artinya rupa & alam sangat mempengaruhi pola respon bathin mereka.

Nah, coba renungkan dahulu apakah definisi dari "berTEKAD untuk membalas dendam"? Dengan pola pikir alam binatang/ayam tentunya. Apakah membalas dengan: sebaliknya menyembelih manusia? Atau balas ambil telur manusia? Kita harus mengerti dahulu persepsi alam ke-ayam-an itu yah... Seperti yg saya bilang tentang kecenderungan akar penderitaan mereka adalah moha [semata² ketidaktahuan] . Jangankan ayam; manusia yg lemah secara fisik maupun kecerdasan intelek, plus karakter dosanya yg minor; ketika org tersayangnya dibunuh dgn samurai, tidak sempat berpikir utk balas dendam ~ karena diselimuti oleh ketakutan, trauma & bisa² menjadi gila. Kehidupan selanjutnya, justru ketakutan ketika nonton film ninja yg menghunuskan samurai...

Saya tentunya tidak pernah interview ayam akan perasaan mereka ketika telurnya diambil atau mereka melihat temannya disembelih atau dirinya disembelih.. . Tapi, jika dilihat dari sikap mereka ketika disembelih, TAKUT! Itu yang pasti, bukan melotot penuh dendam...

Tapi saya punya cerita tentang ayam bertelur dari teman kantor saya dulu sekali. Mereka adalah keluarga Muslim yg tidak makan daging ayam, apalagi sembelih ayam utk dimakan. Tentunya bukan kebetulan, ceritanya si ayah teman saya itu pagi² hendak menyembelih ayam utk dagingnya dimasak opor ~ utk buka puasa hari ke-15 [Bulan Ramadhan]. Dari proses penangkapan, cabut bulu, hingga pisau nyaris memotong leher si ayam ~ tuh ayam tidak lari, takut, atau menggelepar. Tapi matanya merem-melek, sesekali mirip melotot [tapi bukan dendam sih] ~ ternyata si ayam lagi ngedenin telurnya. Si ayah kaget & sempat nadahin tuh telur; dia akhirnya tahu bahwa kerak telur awalnya lembek/lembut & tidak sekeras yg sering dia pecahkan di kuali utk digoreng.

Saat itulah muncul perenungan, si ayam demi menelurkan ayamnya, dia bahkan tidak peduli akan keselamatan dirinya. Mirip bini gué [orang Betawi asli] waktu lahirin anak² gué yah? Percaya atau tidak, si ayah meneteskan air mata. Sejak saat itu, dirumahnya tidak boleh ada penyembelihan ayam lagi & mereka tidak pernah makan daging ayam, setidaknya di rumah...

Dikaitkan dgn kasus Hukum Kamma di atas, ini bukanlah kebetulan; karena bisa saja si ayah saat itu tdk mau merenung... Bisa saja saat itu dia bukan pada kondisi memiliki karunacitta, sehingga renungannya pun mandul. Bisa juga ada karunacitta, tapi karena tidak ada istri atau anak sebagai bahan renungan, maka saat itupun karunacittanya tidak bisa dimunculkan yah? Atau dia bukan tipe yg tegas, sehingga tidak ultimatum keluarganya utk tdk boleh menyembelih ayam lagi...

Banyak pihak yg karena semua hal kondisional & situasional itu sulit direnungkan, akhirnya menganggap itulah takdir/nasib, sederhana. Buddhis juga banyak yg terperangkap & langsung dgn sederhana menarik terlalu jauh, kamma kehidupan lampau, sederhana juga sih... Jadinya mirip² takdir/nasib juga yah...

Kesimpulan yg penting: apakah lantas jika hewan tidak memiliki "berTEKAD untuk membalas dendam", artinya ini menjadi legitimasi kita utk menjadi peternak binatang/ayam? Saya yakin tidak satupun dari kita di milis ini yg berpikir/planning demikian yah...

Sukhi Hotu,

Gunasaro
* * * * * *
Post: Milis SP~03 Maret 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar