Sabtu, 26 Desember 2009

ROH….. Apa .... Di mana ….. Dari mana …. Ke mana ... ?

ROH…..
Apa .... Di mana ….. Dari mana …. Ke mana ... ?
Oleh Selamat Rodjali

Sejak kecil manusia telah terbiasa dengan istilah roh, baik secara lisan maupun di dalam batin. Di dalam perialanan kehidupan sehari-hari, efek tentang, roh di dalam batin itu sangat kuat, bahkan sangat erat kaitannya dengan Prilaku Orang itu dalam menghadapi setiap aktivitasnya. Mengapa sejak kecil manusia telah terlekati oleh konsep tentang roh tersebut? Secara sportif diakui bahwa penga¬ruh lingkungan (keluarga, tetangga, dan seterusnya) begitu -kuat. Secara sadar atau tidak, baik umat Buddha ataupun bukan telah menanamkan konsep roh itu kepada orang di sekitarnya, dan 'memeli¬hara' konsep itu. Tentu umat Buddha tersebut bertitel 'umat KTP atau mereka yang berani menyebut dirinya sebagai pakar Buddhis, namun tak pemah mau mengkaji dan mempraktekkan ajaran Buddha secara konsisten.

Kita semua menyadari bahwa di sekitar kita penuh dengan pan¬dangan sesat tentang roh yang senantiasa ada di dalam tubuh. merasa¬kan, melihat, serta dapat 'bertransmigrasi ke surga atau ke neraka abadi. Spekulasi ini terus berlangsung, bahkan Para ilmuwan yang selalu berasaskan logika dan sistematika berpikir masih terus berspekulasi dalam usahanya menelanjangi misteri Roh.

DNA (asam deoksi ribonukleat) ROH ?

Secara biologi. makhluk tersusun atas organ-organ. Organ tersusun atas jaringan-jaringan yang memiliki fungsi unik. Jaringan terbentuk oleh gabungan ribuan bahkan jutaan sel. Sel merupakan bagian terkecil dari makhluk yang mampu beraktivitas hidup. Apabila sel kita urai lagi, maka sel tersusun atas komponen sel (organel) yang dibentuk oleh senyawa karbohidrat, Protein, lipid dan asam nukleat. Senyawa-senyawa tersebut berasal dari oksigen. karbondioksida, nitrogen, garam organik dan ion logam yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Masalahnya, apakah perbedaan antara zat hidup dan tak hidup? Ciri utama pembeda zat hidup dan tak hidup adalah kemampuan mereplikasi diri menghasilkan zat yang memiliki bentuk. struktur molekul dan massa yang identik dengan zat asal. Kemampuan ini dimiliki oleh makromolekul DNA RNA. Melihat hal ini, di dalam sebuah surat kabar ibukota diberitakan bahwa ada pendapat dari ahli filsafat biokimia yang mengatakan kalau roh itu ada. maka ada di dalam DNA bahkan menyamakan DNA dengan roh! Agaknya tertalu pagi untuk memberi ja¬waban 'ya' bagi pemyataan tersebut, apalagi bagi 'umat Buddha, walau¬pun DNA dapat digunakan sebagai sarana mengubah sistem hidup melalui rekayasa genetika.

-APA ROH ITU ?

Sang Buddha menghadapi semua teori dan spekulasi roh kekal ini dengan doktrin Anatta, yang berarti tanpa roh, tanpa aku. Seseorang harus melihat secara objektif apa yang disebut roh itu secara semestinya. Roh semata-mata kombinasi dari kekuatan yang berubah (anicca). Hal ini memerlukan penjelasan analitis.

Sang Buddha mengajarkan bahwa apa yang kita anggap sesuatu yang kekal di dalam diri kita hanyalah kombinasi fenomena fisik dan batin (Pancakkhandha), yang terdiri atas fenomena jasmani/ materi (rupakkhandha), fenomena perasaan (vedana-kkhandha), fenomena pencerapan (sannakkhandha), fenomena bentuk-bentuk pikiran (sankharakkhandha) dan fenomena kesadaran (vinnanakkhandha). Fenomena-fenomena ini bekerja sama dalam sebuah aliran perubahan; mereka tak pernah sama dalam satu saat yang beriringan. Mereka merupakan komponen psiko¬fisik kehidupan. Di dalam psiko-fisik kehidupan ini Sang Buddha tidak menemukan roh kekal. Namun, masih banyak orang yang memiliki miskon¬sepsi bahwa roh itu kesadaran. Kepercayaan akan kekekalan roh merupa¬kan sebuah dogma yang bertentangan dengan kebenaran empiris. Menurut Buddha Dhamma. istilah orang atau jiwa merupakan pannatti dhamma, namun secara paramattha dhamma, istilah itu tidak ada lagi.

DIMANA ROH MENGALAMI OBJEK DAN DARIMANA ROH ITU MUNCUL?

Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia mengalami rangsangan luar. Kita pun sadar mengalaminya. Kesadaran itu telah lama dianggap sebagai roh yang mengalami sesuatu dan bersifat kekal, padahal apa yang disebut 'kesadaran' itu merupakan bagian dari pancakkhandha. Kesadaran atau vinnanakkhandha (citta) selalu berkombinasi dengan tiga kelompok batin lain (cetasika). Mereka mempunyai objek yang sama, timbul bersama, lenyap bersama. selalu berubah-ubah, dan memiliki kualitas yang berbeda.

Pengalaman-pengalaman dalam kehidupan sehari-hari secara global dapat dikelompokkan menjadi enam, yaitu pengalaman melihat, mencium, merasa kecapan, mendengar, pengalaman sentuhan badan, dan Pengalaman melalui pikiran. Pengalaman-pengalaman itu menyangkut segi batiniah dan kesadaran yang mengalami keenam dunia tersebut memiliki fungsi yang unik (khas). Munculnya kesadaran tersebut sepenuhnya tergantung pada kondisi. Sebagai contoh, kesadaran melihat adalah hasil (vipaka), diproduksi oleh kamma. Obiek penglihatan (ruparammana) mengkondisikan 'melihat’ sebagai kesadaran melihat. Apabila tidak ada objek penglihatan, tidak muncul kesadaran melihat. Indera mata, sejenis rupa di dalam mata (pasada rupa) yang mampu menerima objek penglihatan, merupakan kondisi lain bagi proses melihat. Jadi, kesadaran melihat berbeda dengan kesadaran mendengar, juga berbeda dengan kesadaran lain. Fenomena di atas sangat berbeda pula dengan anggapan ‘umum’ yang menyatakan bahwa setiap kesadaran mengalami objek yang berbeda itu dialami oleh satu ‘roh’. Fenomena di atas secara tegas ‘mengkanvaskan ke bawah ring’ teori roh kekal dan teori keakuan yang kekal..
Lantas akan muncul pertanyaan, apabila fenomena-fenomena itu demikian adanya, maka di manakah kesadaran itu mengalami objek dan dari manakah mereka muncul?

Llntuk menjawab pertanyaan tersebut, kita patut kembali merenungkan poses-proses batin melalui keenam indera. Proses pikiran melalui pintu panca indera adalah sebagai berikut
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17
1, 2 dan 3 = Bhavanga citta (kesadaran penyambung kehidupan)
4 = panca-dvaravaijana citta (kesadaran menyelidiki obiek yang datang
menuju lima pintu indera)
5 = dvi-panca-vinnana citta (kesadaran rnelihat, mendengar, mencium,
merasakan rasa, dan kesadaran sentuhan badan)
6 = sampaticchana-citta (kesadaran menerima)
7 = santirana citta (kesadaran memeriksa/mengamati)
8 = votthapana citta (kesadaran memutuskan)
9 - 15 = javana citta (dorongan terhadap obiek Yyng talah diputuskan baik buruknya)
16 dan 17 = tadarammana citta (kesadaran mencatat)

Kesadaran (citta) mengalami objek melalui pintu (dvara), sedangkan kesadaran (citta) itu sendiri muncul dari landasan (vatthu). Marilah kita amati skema di bawah ini untuk membedakan antara dvara dan vatthu :

Skema bisa di liat di link ini... http://www.facebook.com/photo.php?pid=2315119&id=828182907&op=1&view=user&subj=61457179402&aid=-1&oid=61457179402&saved

Para makhluk di alam yang memiliki nama dan rupa (pancavokara bhumi), kesadaran (citta) tak mungkin muncul tanpa jasmani. Sebuah citta yang muncul memiliki sebuah rupa sebagai tempat munculnya citta tersebut. Ketika terdapat kesadaran melihat, dapatkah melihat muncul di luar badan? Ketika mendengar atau berpikir, dapatkah citta¬citta itu muncul tanpa badan? Hal tersebut tidak mungkin terjadi. Dari mana munculnya kesadaran melihat? Kesadaran melihat tidak mungkin muncul di tangan atau di kaki kita! Kesadaran tersebut memerlukan mata sebagai landasan fisiknya. Cakkhuppasada rupa, rupa di dalam organ mata yang dapat menerima objek penglihatan (tepatnya retina), adalah landasan fisik (vatthu) tempat munculnya kesadaran melihat.

Landasan fisik (vatthu) ini tidak sama dengan pintu - (dvara)! walaupun cakkhuppasada rupa dalam hal ini adalah dvara, juga vatthu bagi kesa¬daran melihat (cakkhu vinnana), namun dvara dan vatthu memiliki fungsi yang berbeda. Cakkhu-dvara (pintu mata) adalah tempat di mana proses kesadaran melihat atau cakkhu dvara vithi citta (lebih dari satu citta yang terlibat) mengalami obiek penglihatan. Cakkhu vatthu (landasan fisik mata) adalah tempat munculnya kesadaran melihat (cakkhu vinnana) saja.

Cakkhu vatthu adalah landasan fisik hanya untuk kesadaran melihat, kesadaran lain di dalam proses melihat tersebut memiliki vatthu (landasan) yang berbeda.

Landasan fisik untuk kesadaran mendengar adalah sotappasada rupa, untuk kesadaran merasakan kecapan adalah jivhappasada rupa, untuk kesadaran mencium adalah ghanappasada rupa, untuk kesadaran sentuhan badan adalah kayappassada rupa. Tujuh puluh Sembilan citta sisanya (tak termasuk dvipahca vinnana 10) muncul dari Hadaya Vatthu.

Landasari fisik keenam yang bukan termasuk pasada rupa 5 ialah Hadaya vatthu (landasan hati sanubari). Hadaya vatthu tidak sama dengan pintu pikiran (mano-dvara). Manodvara adalah citta, yaitu bhavanga upaccheda citta, citta sebelum manodvaravaijana citta (kesadaran menyelidiki objek dari pintu pikiran), sedangkan hadava vatthu adalah materi, yaitu hadaya rupa (unsur hati sanubari).

KEMANA ROH ITU PERGI ?

Secara analitis, dapat kembali dilihat di dalam proses pikiran melalui panca dvara di atas bahwa setiap citta (kesadaran) yang muncul dan lenyap segera disusul dengan munculnya citta yang lain, demikian seterusnya, tanpa ada satu cela kosong di antara dua citta yang berurutan. Secara otomatis, cetasika pun muncul dan lenyap bersama citta yang disekutuinva. Ternyata, apa disebut roh yang merasakan segala sesuatu itu adalah semu, ilusi belaka. Aliran kesadaran yang muncul lenyap muncul lenyap tersebut berkondisi, dan apabila kondisi-kondisi tersebut tidak ada, kesadaran itu tidak akan ada. Dengan kata lain, kesadaran yang lenyap bukan berarti kesadaran itu pergi (transmigrasi) ke tempat atau wadah lain, juga bukan berarti bahwa kesadaran itu tetap diam. Perenungan itu memang unik dan inilah ciri khas Buddha Dhamma.

KALAU TIDAK ADA ROH, APAKAH YANG DITUMIMBAL-LAHIRKAN?

Di luar batin dan jasmani, yang menyusun makhluk hidup, Buddha Dhamma tidak mempercayai keberadaan roh kekal yang diperoleh makhluk dari sebuah sumber yang misterius. Di dalam pertanyaan 'apabila tak ada roh yang berpindah dari kehidupan ke kehidupan lain, apakah yang ditumimbal-lahirkan.", terdapat anggapan ada yang ditumimbal-lahirkan. Bagaimana mungkin tumimbal tahir terjadi tanpa satu roh yang dilahirkan?

Menurut Buddha Dhamma, lahir adalah munculnya khandha. Proses penjadian saat ini merupakan hasil dari keinginan menjadi pada kehidupan lampau, dan keinginan saat ini mengkondisikan hidup pada masa kelahiran mendatang. Proses di dalam satu jangka kehidupan merupakan aliran proses kesadaran vang dilanjutkan pada masa kehidupan berikutnya tanpa ada yang hijrah ke tempat lain; dan pandangan ini berbeda dengan teori reinkarnasi roh yang diajarkan oleh kepercayaan tertentu.

Ilmuwan modern mengilustrasikan proses tuimimbal lahir ini seperti bola-bola bilyar berangkai berdekatan. Misalnya, sebuah bola menggelinding mengenai bola lain, bola menggelinding ini akan berhenti mati, sedangkan bola yang dikenainya akan bergerak, demikian seterusnya selama momentum atau impuls (dorongan) kamma masih ada, maka impuls tersebut akan melahirkan penggelindingan bola selanjutnya.

Jadi, ketika tumimbal lahir, tidak ada roh yang berpindah, namun ada khandha yang muncul. Kesadaran di dalam kelahiran yang baru tidak sama dengan kesadaran di dalam hidup yang telah lewat dan juga tidak berbeda, karena sekarang dan lampau masih dalam sebuah proses aliran kehidupan. ibarat keju, berasal dari susu namun keju tidak sama dengan susu, demikian pula kehidupan lampau tidak sama dengan kehidupan sekarang, namun sekarang berasal dari lampau.

DAFRAR PUSTAKA
Kaharuddin, J. 1989. Abhidhammatthasangaha. Sekolah Tingg; Agama Buddha Nalanda. Jakarta, 187hal.

Narada. The Buddha and His -teachings. Buddhist Misionary Society, Kuala Lumpur, 713 hal.

Van Gorkom, Nina. 1979. Abhidhamma in Daily Life. H.M. Gunasekera Trust, Sri Lanka, 259p.

Dimuat di dalam majalah Pancaran Dharma No. Mei 1989.
==================
Semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar