Sabtu, 26 Desember 2009

Konsep Buddhis tentang Relativitas Waktu

Perkembangan fisika modern telah mengalami kemajuan pesat sejak Newton membabarkan konsep nya mengenai waktu yang absolut dan universal hingga Einstein yang mengeluarkan teori nya mengenai relativitas waktu, yaitu dimana waktu dapat berjalan melambat atau bertambah cepat tergantung dari kecepatan sang pengamat serta kekuatan gravitasi. Dengan teori tersebut maka waktu jadi kehilangan sifat universal nya. Apa yang bagi seorang pengamat merupakan masa lalu, dapat pula merupakan masa mendatang bagi pengamat lain nya.

Teori Einstein yang mengguncangkan tersebut di lahirkan pada tahun 1905 yang kita kenal dengan Teori Relativitas Khusus. Pada saat itu dia memulai dengan mempertanyakan gagasan waktu yang absolut dan universal dari Newton. Menurut Einstein, waktu tidak lagi tergantung/terpisah dari alam sekitarnya, melainkan tergantung pada kecepatan gerak sang pengamat. Makin cepat sang pengamat bergerak , makin lambat waktu berjalan.
Sebagai contoh, kalau seseorang mengendarai pesawat ruang angkasa yang mempunya kecepatan 87% kecepatan cahaya, maka waktu akan melambat menjadi setengah nya, Artinya, pertambahan umur seseorang setelah melakukan perjalanan tersebut akan menjadii 1/2 kali lebih lambat di bandingkan dengan orang-orang yang ada dibumi. Dengan demikian, orang-orang yang ada di bumi akan menjadi lebih cepat tua dan keriput. Sir James Jeans, dalam buku nya The Mysterious Universe menyatakan " Diyakini sekarang bahwa setiap rangkaian peristiwa memiliki orde waktunya sendiri dan adalah sulit untuk membandingkan atau menghubungkan satu sama lain nya disebab kan tidak ada nya "waktu" standar bersama "

Agama Buddha mendefinisikan waktu sebagai "sebuah" pengukuran terhadap perubahan. Kita dapat mengukur perubahan, baik perubahan fisik yang terlihat maupun perubahan yang di proyeksikan oleh mental kita.
"Waktu" tidak boleh di katakan tidak eksis meskipun ia merupakan suatu proyeksi mental, oleh karena itu ia dapat mempengaruhi kita dengan cara yang berbeda.
Misal nya, saat kita sedang bersenang-senang, "waktu" terasa berlalu begitu cepat. Tetapi ketika saat kita sedang gelisah menunggu sesuatu atau sedang mengalami siksaan batin, waktu sehari terasa sangat panjang

Lalu, apakah prinsip relativitas waktu ini telah di kenal dalam Buddhisme ? Agama Buddha membagi alam kehidupan ini menjadi 31 kategori.
Pada salah satu alam tersebut, yaitu Alam Surga Caturmaharajika, satu hari sama dengan 50 tahun manusia. Pada alam surga yang di sebut Tiga-Puluh-Tiga-Dewa (Tavatimsa) , satu hari sama dengan 100 tahun manusia. Pada alam Surga Yama, satu hari sama dengan 200 tahun manusia. Sementara itu, di Surga Brahma, kehidupan mereka jauh lebih lama lagi karena dimensi waktu yang memanjang secara geometrik.

Agama Buddha juga tidak menerima konsep ada nya waktu yang bersifat universal & absolut. Menurut nya, dimensi waktu masih merupakan bagian dari kebenaran relatif fenomena dunia. Dengan kata lain, dimensi waktu hanya bisa merupakan makna di dalam alam relatif karena ia merupakan suatu proyeksimental dari kesadaran pikiran yang bersifat diskriminatif, dimensi waktu adalah suatu ilusi yang diciptakan oleh pikiran
Dalam kitab Atthasalini dari Abhidhamma di nyatakan " Dengan dimensi waktu Suciwan melukiskan pikiran/ dan dengan pikiran melukiskan waktu

Agama Buddha juga tidak menyetujui pandangan bahwa waktu mempunyai awal dan akhir. Bangsa-bangsa pada jaman kuno tidak dapat atau sulit memahami hal ini sehingga mereka mengarang suatu mitos mengenai penciptaan oleh seorang dewa untuk menandai bermulanya waktu.

Demikianpula para ilmuwan modern memandang bahwa waktu tidak mempunyai suatu keberadaan yang dapat dicerai-beraikan karena eksistensi nya tidak hanya ada pada saat sekarang saja. Menurut mereka, adalah mustahil untuk menandai awal, sedang berlangsungnya, atau akhirdari suatu periode. Jika kita membagi suatu periode menjadi bagian awal, tengah dan akhir, maka akan menjadi jelas bahwa sesuatu yang merupakan "keseluruhan" tidak terdapat pada salah satu dari ketiga bagian ini.

Menurut agama Buddha, waktu terawal/primordial tidak ada, dimensi waktu merupakan suatu bentukan pikiran belaka. Karena merupakan suatu bentukan pikiran, maka kita mampu mempersepsikan waktu yang lebih awal lagi, suatu "waktu" yang di anggap terawal masi bisa di proyeksikan oleh kesadaran mental ke waktu yang lebih awal lagi dan seterusnya.

Menurut sistem Yogacara dari Buddhisme Mahayana, selama kita berada dalam alam relatif yang dualis, maka konsep "waktu terawal" tidak ada karena selama pemikiran dan konsep kita terkungkung dalam alam relatif, maka selalu bisa membayangkan waktu yang lebih awal dari yang terawal. Sebagaimana hal nya dalam garis bilangan yang selalu bisa ditemukan bilangan yang lebih besar ataupun lebih kecil, demikian juga dengan pemikiran dualis kita yang dapat "mundur" ataupun "maju" tanpa batas. Oleh sebab itu, dalam semua sutra Buddha, selalu digunakan istilah "sejak masa tanpa awal", karena pada dasar nya "waktu" merupakan proyeksi mental yang bersifat diskriminatif, seperti hal nya dalam mimpi kita, selalu bisa kita bayangkan waktu yang lebih awal.

Buddha bersabda " Masa lalu, sekarang, masa depan.....tak lebih dari nama-nama, bentuk bentuk pikiran, kata-kata yang di gunakan sehari hari, ia hanyalah realitas yang superfisial. Masa lalu tak dapat di raih karena sudah lewat, masa depan tak dapat diraih karena belum tiba, masa sekarang tak dapat di raih karena seketika kita memikirkan "sekarang", ia sudah pergi jauh ..."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar