Sabtu, 26 Desember 2009

KEBEBASAN TERJAJAH

(oleh Selamat Rodjali)

Kebebasan terjajah, sebuah analisa terhadap kecenderungan psikologi sosial modern...

PENDAHULUAN
Dunia saat ini, mengalami perkembangan pesat di berbagai sektor. Berbagai pendekatan berbeda di bidang ekonomi, sosial, teknologi, komunikasi dan sebagainya begitu mudah dipelajari dan banyak perguruan formal dan informal yang langsung ataupun tak langsung mengajarkan dan memberikan informasi mengenai hal yang berkembang tadi, tak terkecuali Indonesia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang begitu banyak dilalui oleh para guru, cendekiawan, pedagang, filosif, pendeta religius dan sebagainya. Di bidang spiritual, Indonesia pun mengalami transformasi. Tiap guru yang datang singgah di sini
mengajarkan ajaran atau doktrin yang dianutnya sebagai yang paling top. Dalam usaha merebut pangsa pasar (pengikut)nya, mereka tak segan menyatakan diri (mengklaim) bahwa ajarannya yang terbaik, yang lain (yang pernah ada, yang
sedang ada dan yang akan ada) dianggapnya ketinggalan jaman dan salah. Usahanya begitu gencar, bahkan dapat menyusup ke rumah sakit, door to door; bahkan pula orang yang sedang sekarat menghadapi ajal atau yang baru lahir tak luput dari incarannya. Orang-orang yang terlibat di dalamnya menjadi bingung. Situasi ini tak jauh berbeda dengan situasi yang menimpa suku Kalama di India ketika guru Gotama masih hidup. Suku Kalama itu bingung memutuskan doktrin mana yang layak mereka terima dan ikuti, karena semua brahmana saat itu mengklaim bahwa doktrinnya paling top.
Problema ini akhirnya dapat terselesaikan ketika mereka membawanya ke hadapan guru Gotama, seperti tertulis dalam ‘Kotbah terhadap Kalama’, Tipitaka.

Kotbah terhadap Kalama mungkin tidak asing bagi para penganut doktrin yang diajarkan guru Gotama, namun apakah doktrin itu masih relevan dengan dunia modern ini? Apakah penting para ilmuwan ataupun bukan menyadari dan melatih prinsip-prinsip seperti tertuang dalam kotbah terhadap Kalama? Marilah kita melakukan analisa yang lebih mendalam!

SEPULUH POKOK KOTBAH TERHADAP KALAMA
Guru Gotama mengajarkan kepada suku Kalama, dan juga kita semua tentunya, untuk tidak segera atau tergesa-gesa
menerima atau mempercayai sesuatu. Sepuluh kondisi pokok telah diuraikan agar kita senantiasa sadar sehingga terhindar dari perbudakan intelek, penjajahan intelek/kecerdasan seseorang, bahkan dari guru Gotama sendiri. Pokok-pokok ini
sangat memungkinkan bagi kita untuk mengetahui bagaimana memilih ajaran yang benar-benar mampu mengatasi penderitaan/ketidakpuasan. Kesepuluh pokok tersebut adalah :

1. Jangan menerima atau mempercayai sesuatu hanya karena telah berlangsung lama dan telah melalui banyak tahun.
Kebudayaan menerima dan mempercayai sesuatu hanya karena telah lama dan diulang dari cerita bertahun-tahun merupakan ciri orang yang tidak mempunyai ‘akal’. Misalnya, masih banyak orang yang percaya bahwa akan terjadi
malapetaka pada tahun ‘binatang X’ (tahun tersebut umumnya menganut prinsip berlambang ular, kuda, harimau, dan sebagainya).

2. Jangan menerima atau mempercayai sesuatu hanya karena beberapa hal yang dilakukan telah menjadi tradisi.
Ada kisah binatang yang mengikuti seekor kelinci yang lari ketakutan karena menganggap bahwa mangga yang jatuh di sampingnya sebagai bumi yang terbelah. Demikianlah orang-orang yang cenderung meniru orang lain dan telah menjadi tradisi (kebiasaan) lama tanpa pertimbangan. Mereka akan menghadapi bahaya.

3. Jangan menerima atau mempercayai sesuatu karena semata-mata dilaporkan dan berita tersebut tersebar ke berbagai pelosok, bahkan ke seluruh dunia.
Hanya orang yang tidak berpikirlah yang mudah terkena (rentan) oleh ‘gosip.’, karena mereka tidak mau memanfaatkan potensi intelegensia/kecerdasannya.

4. Jangan menerima atau mempercayai sesuatu hanya karena dikatakan tertulis dalam sebuah kitab suci.
Kitab suci sering kali disalahgunakan. Beberapa kekeliruan fatal yang dapat terjadi di antaranya ialah kekeliruan dalam proses perbanyakan kitab (salah tulis, salah ketik, tidak tertulis, tidak terketik), dalam proses pengalihbahasaan, dalam tafsir, di mana semua itu mungkin saja orang yang terlibat di dalamnya tidak paham atau sengaja membuat keliru
dengan menambah atau menyisipi atau menghilangkan bagian tertentu sehingga makna yang terkandung di dalam kitab suci aslinya tidak lagi terpenuhi. Salah satu di antaranya kitab suci yang memuat ajaran guru Gotama saat ini telah banyak dimanipulasi sehingga para penganutnya yang tidak kritis akan terjerat pandangan keliru. Umat yang hanya terima begitu saja dan tanpa mau mengkaji secara teliti kitab sucinya akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang memanfaatkan kebodohan tersebut. (Catatan: ajaran aseli guru Gotama menyiratkan bahwa untuk mengatasi penderitaan dan merealisasi kebahagiaan sejati, maka ajaran tersebut harus berprinsip mengikis keserakahan, kebencian dan kebodohan batin).

5. Jangan menerima atau mempercayai sesuatu hanya karena cocok dengan akal atau logika.
Ilmu logika semata-mata salah satu cabang dari ajaran yang digunakan untuk mengukur ‘kebenaran’. Ilmu tersebut dapat saja keliru apabila data, metoda dan sensor yang digunakan tidak tepat dan tidak lengkap.

6. Jangan memerima atau mempercayai sesuatu hanya karena telah benar secara alasan deduktif atau induktif.
Alasan deduktif atau induktif sering kali dikenal dalam filsafat. Bagi orang tertentu yang menyukai pernyataan
‘mendalam’, terkadang menganggap hal itu sebagai buah kebijaksanaan. Namun sekali lagi, hal tersebut hanya salah
satu pandangan dan tak dapat langsung diterima begitu saja, dan hal itu tidak dapat disetarakan dengan kebijaksanaan karena alasan deduktif atau induktif terkadang tidak benar apabila alasan, pemilihan pemisalan/asumsi dalam pendugaan/hipotesa, tidak cocok atau tidak tepat.

7. Jangan menerima atau mempercayai sesuatu hanya karena cocok dengan pengertian umum seseorang. Pengertian umum kadang kala merupakan keputusan yang didasari kecenderungan seseorang. Umumnya, kita sering menyukai pendekatan ini, sehingga kita begitu terbiasa. Para filosof sering menyukai ini dan terjebak menganggap dirinya pandai.

8. Jangan menerima atau mempercayai sesuatu hanya karena sesuai dengan opini atau teori yang telah dipertimbangkan berulang-ulang. Pandangan seseorang mungkin saja salah atau metode percobaan/praktik dan pengambilan keputusannya tidak benar.
Menerima sesuatu yang cocok dengan teori kita tampaknya sebagai pendekatan ilmiah, namun sesungguhnya tidak demikian, karena pembuktian dan percobaan dari sensor yang terbatas akan membawa hasil yang terbatas pula, apalagi sampai saat ini belum ada sensor untuk batin.

9. Jangan menerima atau mempercayai sesuatu hanya karena pembicaranya tampak dapat dipercaya/kelihatan suci.
Penampilan luar dan pengetahuan nyata seseorang tidak dapat disamakan. Seringkali Kita temui pembicara bereputasi baik yang mengeluarkan kata-kata tentang sesuatu yang tidak benar dan bodoh. Demikian pula terhadap komputer, kini manusia gandrung terhadapnya, padahal komputer dapat menjadi sumber manipulasi serta penipuan termasuk penipuan informasi. Komputer diprogram oleh orang yang terbatas, kemampuannyapun terbatas. Harap pernyataan ini tidak
diartikan bahwa doktrin guru Gotama anti komputer, sebaliknya pandanglah komputer ini secara arif sehingga kita tidak dimanfaatkan oleh oknum di balik komputer itu.

10.Jangan menerima atau mempercayai sesuatu hanya karena pembicara atau pembabarnya adalah guru kita.
Secara umum, guru adalah yang digugu dan ditiru. Ungkapan ini sebenarnya menyesatkan. Karena bila murid sepenuhnya meniru guru, dapat menimbulkan bahaya bila guru itu tidak benar.

Para pembaca, marilah direnungkan, apakah ada doktrin kebebasan seperti di atas bagi para calon pengikut doktrin tersebut di dunia ini? Secara tegas sepuluh pokok di atas menyiratkan bahwa doktrin itu tidak mengandung sistem dogma, tidak ada
tekanan untuk percaya dan ‘amin’. Semua diundang untuk menguji dengan benar sehingga keputusan mengikuti doktrin itu diambil secara mantap. Kualitas ini akan menjaga para pelaksananya agar terhindar dari perbudakan intelek seperti di atas.

MODERNISASI, SATU KEBEBASAN YANG TERJAJAH ...
Kini, manusia cenderung menganggap keadaan yang dijalaninya sebagai satu perubahan yang mengarah ke modernisasi. Semakin lanjut waktu bergulir, semakin modern rasanya dunia ini. Manusia-manusia ‘modern’ ini umumnya hidup dalam suasana cepat, dan harus selalu siaga ‘setiap’ waktu. Mereka tergesa ke sana dan kemari karena permintaan yang
merupakan kesibukannya; mereka makan begitu cepat dan perli lagi, terbaring sebentar melewati malam dan setelah beberapa saat tertidur, bunyi alarm dari penunjuk waktu berdering, mereka harus cepat pergi lagi. Manusia sibuk demikian sepanjang hari, pikirannya begitu terikat; mereka tidak memiliki waktu untuk berpikir religius dan untuk mengerti kebenaran sejati. Satu pemandangan umum tentang manusia ‘modern’ ini adalah kebebasannya menentukan segala pilihannya. Mereka memilih setiap propaganda yang dijajakan. Betapa ‘modern’nya mereka sehingga mereka akhirnya terdorong membeli sesuatu yang tak layak dimiliki atau dimakan. Kebebasan yang mereka banggakan tersebut sebenarnya telah terjajah oleh propaganda dan ini luput dari pengamatan mereka. Mereka telah menjadi budak intelek dan budak spiritual.

Jadi sebagai peringatan kepada orang ‘modern’, bahwa mereka patut berhati-hati karena kebebasan yang mereka anut saat ini cenderung merupakan kebebasan yang sesungguhnya tidak bebas, satu kebebasan yang terjajah.

KOTBAH TERHADAP KALAMA DAN PROSES PENDIDIKAN ANAK
Kini, dunia sedang diputar dengan cepat oleh kekotoran batin. Pesatnya perkembangan transportasi, komunikasi dan teknologi dapat menghancurkan kepribadian, karena dengan kekuatan kekotoran batin itu, dunia sedang memuja materi, seks dan kemewahan. Kecenderungan ini diakibatkan kurangnya perhatian, kewaspadaan dan kebijaksanaan seperti yang tersirat dalam kotbah terhadap Kalama. Manusia yang terlibat di dalamnya banyak yang tidak mengetahui bagaimana menentukan pilihan pada situasi itu. Akibatnya, secara global dunia mengalami krisis perdamaian dan sebaliknya kriminalitas
dan kejahatan kian meningkat. Generasi muda khususnya sangat peka dan mudah terpengaruh. Untuk itu perkembangan batin generasi muda perlu diperkaya dengan prinsip-prinsip kotbah terhadap Kalama.

Anak-anak dapat menerapkan prinsip ini sehingga kewaspadaannya tergugah, dan apabila mereka terlatih dengan prinsip itu, mereka tak akan diselimuti kegelapan batin. Tentu dalam hal ini, peranan orang tua sangat penting. Orang tua seyogyanya mengajar, mendidik dan melatih putera-puterinya untuk mengetahui bagaimana untuk mengerti dunia dan instruksi-instruksi yang mereka terima, untuk melihat betapa beralasannya kata-kata dan jenis hasil yang datang darinya (sebab akibat). Anak itu seyogyanya terlatih dalam sebab akibat sehingga semua pertimbangan yang diambilnya merupakan
pertimbangan yang masak dan beralasan secara alamiah.

Hal ini tidak berarti agar anak tidak mendengar kata orang tua, tetapi secara implisit, sepenuhnya seorang anak seyogyanya
mendengarkan dan mempercayai sesuatu setelah melihat makna nyata dan manfaat akibat yang akan diterima dari mempercayai dan melaksanakannya.

APAKAH KOTBAH TERHADAP KALAMA DAPAT DITERIMA DUNIA KINI?
Kotbah terhadap Kalama memiliki prinsip yang sesungguhnya sesuai dengan pendekatan dan metode ilmiah, lebih-lebih lagi teori dalam ilmu pengetahuan senantiasa belum selesai dan terus berubah. Ilmuwan sejati akan lebih mempercayai sesuatu secara nyata dibandingkan teori mereka, konsep-konsep, dugaan atau alasan karena kriteria mereka untuk menerima sesuatu adalah kebenaran sejati yang beralasan. Dengan demikian kotbah tersebut memenuhi harapan dan kebutuhan para ilmuwan sejati.

Apabila seseorang mengikuti 10 prinsip di atas, ia akan memiliki pengetahuan dan alasan yang tidak melekat kepada ide atau pernyataan yang pertama kali didengarnya. Prinsip yang telah berkembang di dalam batin orang tersebut akan menjadi saringan yang ampuh dalam menangkal perbudakan dan penjajahan spiritual maupun intelek. Dengan demikian, dunia yang diracuni oleh ‘kebebasan’ ini apakah secara nyata mengetahui atau memiliki kebebasan seperti yang tertuang dalam 10 prinsip tadi? Apabila kita tidak dibekali oleh 10 prinsip tadi, maka kita akan cenderung terjajah jauh lebih berat daripada suku Kalama di Jaman guru Gotama saat itu. Kesepuluh prinsip ini mengundang untuk dibuktikan baik secara ilmiah maupun secara spiritual, dan tidak lapuk oleh waktu.

KESIMPULAN Sepuluh prinsip kotbah terhadap kalama tidak pernah melarang kita untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu; prinsip itu mengajarkan kita untuk mempercayai sesuatu hanya atas dasar kecerdasan yang bebas dan kebijaksanaan. Prinsip
itu menganjurkan kita untuk mendengarkan tanpa mengabaikan potensi kecerdasan dan kebijaksanaan kita. Lebih jauh lagi, prinsip itu dapat menolong kita untuk dapat berpikir, menimbang, meneliti dan memutuskan dengan kehalusan dan ketelitian yang tangguh, sehingga kita dapat menemukan ‘jarum emas’ di dalam timbunan rumput kering yang setinggi gunung.

“..., O, Suku Kalama, memang benar kamu menjadi ragu, ...”
“O, Suku Kalama, janganlah kamu menerima atau mempercayai sesuatu ...”
“Tetapi, bila kamu mengetahui secara mandiri bahwa hal ini tidak baik, hal ini dicela para bijaksana, hal ini bila dilakukan akan membawa kepada keruntuhan dan penderitaan, maka tentunya kamu layak untuk tidak menerimanya...”

Kebebasan terjajah tak akan terjadi jika kita berprinsip seperti di atas.
=================

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar