Sabtu, 26 Desember 2009

S I L A BUDHHIST

1. Pengertian Sila

1) Kehendak atau sikap batin yang tercetus sebagai ucapan benar dan perbuatan benar.
2) Cara untuk mengendalikan diri dari segala bentuk-bentuk pikiran yang tidak baik atau merupakan usaha untuk membebaskan diri dari Lobha, Dosa, dan Moha.

2. Sila dalam Kitab Suci Tipitaka
Kitab Suci Tipitaka berisi ajaran Sang Buddha, yaitu tentang Sila, Samadhi, dan Pabba. Banyak sekali Sutta yang menegaskan tentang hal tersebut, di antaranya :
1) Dhammacakkappavattana Sutta 6) Sonadanda Sutta
2) Cullavedala Sutta 7) Rathavinita Sutta
3) Brahmajala Sutta 8) Vyagghapajja Sutta
4) Samannaphala Sutta 9) Sigalovada Sutta
5) Ambattha Sutta 10) Mangala Sutta, dan masih banyak lagi.

3. Ciri, fungsi, wujud, dan sebab-sebab terdekat yang menimbulkan Sila

1) Ciri (Lakkhana) dari Sila adalah ketertiban dan ketenangan.
2) Fungsi (Rasa) dari Sila adalah :
- Pertama, menghancurkan kelakuan yang salah (Dussiliya)
- Kedua, menjaga seseorang agar tetap tidak bersalah (Anavajja)
Atau secara ringkasnya :
- Menghancurkan kejahatan
- Memperbaiki perbuatan-perbuatan salah
- Menjaga, atau memelihara, atau mempertahankan perbuatan baik
3) Wujud (Paccupatthana) dari Sila adalah kesucian (Soceyya).
4) Sebab terdekat yang menimbulkan (Padatthana) Sila atau hal-hal yang langsung dapat membantu terwujudnya Sila adalah Hiri dan Ottappa.
Hiri dan Ottappa adalah Dhamma pelindung dunia (Lokapaladhamma).

4. Pelaksanaan Sila

1) Dengan pengendalian diri (Samvara)
- Patimokkha Samvara
- Sati Samvara
- Bana Samvara
- Khanti Samvara
- Viriya Samvara
Sedangkan cara untuk mengendalikan diri dari segala pikiran, ucapan, dan perbuat-an yang tidak baik dapat juga digolongkan dalam tiga cara, yaitu :
- Sikkhapada : melaksanakan latihan-latihan pengendalian diri
- Carita Sila : melaksanakan hal-hal yang baik
- Varitta Sila : menghindari hal-hal yang tidak baik
2) Dengan pantangan (Viratti)
- Sampatti Viratti : pantangan seketika
- Samadana Viratti : pantangan karena janji
- Samuccheda Viratti : pantangan mutlak

5. Ciri orang yang melaksanakan Sila

1) Sikap dan tingkah lakunya sopan
2) Bisa melihat ke dalam diri sendiri, apakah diri sendiri ini berhasil atau tidak dalam menjalankan atau melatih Sila

6. Pembagian Sila

1) Menurut jenis
- Pabbati Sila
Melatih mengendalikan diri dengan jalan mentaati atau patuh terhadap peraturan-peraturan dari luar, misalnya undang-undang, dan sebagainya

- Pakati Sila
Sila yang alamiah, yaitu cara pengendalian diri yang dipakai untuk membersihkan batin, seperti Sila dalam Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Atau, Sila yang selalu dilaksanakan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan (alamiah)
2) Menurut besar – kecil tujuan atau maknanya
- Hina Sila : dilaksanakan dengan mengharapkan pengikut atau kedudukan
- Majjhima Sila : dilaksanakan dengan mendambakan jasa kebajikan
- Panita Sila : dilaksanakan dengan pengertian bahwa ini adalah suatu hal yang
benar-benar patut dilaksanakan
3) Menurut penggolongan umat Buddha
- Bhikkhu Sila
- Bhikkhuni Sila
- Anupasampanna Sila
- Gahattha Sila

7. Uraian Panca Sila

A. Sila Pertama ; menahan diri dari membunuh makhluk hidup

a. Ada lima faktor untuk dapat disebut membunuh
1) Ada makhluk hidup
2) Mengetahui bahwa makhluk itu masih hidup
3) Berpikir untuk membunuhnya
4) Berusaha untuk membunuhnya
5) Makhluk itu mati sebagai akibat dari usaha tersebut

b. Obyek dari pelanggaran Sila Pertama
1) Manusia
2) Binatang
- Binatang berguna
- Binatang tak berguna
* Yang merugikan
* Yang tak merugikan

c. Maksud (motif) dari pelanggaran Sila Pertama
1) Direncanakan (sengaja)
2) Tak dikehendaki
- Dorongan sesaat (mendadak)
- Mempertahankan diri
- Kecelakaan

d. Usaha dari pelanggaran Sila Pertama
1) Dikerjakan langsung
2) Dengan tak langsung

e. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Pertama yang harus juga kita hindari
1) Membunuh manusia dan hewan
2) Menyiksa manusia dan hewan
3) Menyakiti jasmani manusia dan hewan

f. Akibat dari melanggar Sila Pertama
1) Lahir kembali dalam keadaan cacat
2) Mempunyai wajah yang buruk
3) Mempunyai perawakan yang jelek
4) Berbadan lemah, berpenyakitan
5) Tidak begitu cerdas
6) Selalu khawatir/cemas, takut
7) Dimusuhi dan dibenci banyak orang, tidak mempunyai pengikut
8) Terpisahkan dari orang yang dicintai
9) Berusia pendek
10) Mati dibunuh orang lain

B. Sila Kedua : menahan diri dari mengambil sesuatu yang tidak diberikan

a. Ada lima faktor untuk dapat disebut mencuri
1) Ada sesuatu / barang / benda milik pihak lain
2) Mengetahui bahwa barang itu ada pemiliknya
3) Berpikir untuk mencurinya
4) Berusaha untuk mencurinya
5) Berhasil mengambil barang itu melalui usaha tersebut

b. Usaha dari pelanggaran Sila Kedua
1) Pencurian secara langsung
- Mencuri - Pemalsuan
- Merampas - Berbohong (memungkiri harta benda yang dititipkan)
- Memeras - Mencopet
- Merampok - Menukar barang
- Gugatan palsu - Menyelundup dan menghindari pajak
- Penipuan - Penggelapan
2) Pencurian tak langsung
- Berlaku sebagai kaki tangan (tukang tadah)
- Merayu untuk menipu
- Menerima suapan (pungli)

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Kedua yang harus juga kita hindari
1) Penghacuran barang orang lain dengan sengaja untuk balas dendam
2) Mempergunakan barang dengan sewenang-wenang

d. Akibat dari melanggar Sila Kedua
1) Tidak begitu mempunyai harta benda dan kekayaan
2) Terlahirkan dalam keadaan melarat atau miskin
3) Menderita kelaparan
4) Tidak berhasil memperoleh apa yang diinginkan dan didambakan
5) Menderita kebangkrutan atau kerugian dalam usaha dagang
6) Sering ditipu atau diperdayai
7) Mengalami kehancuran karena bencana atau malapetaka

e. Kebahagiaan yang dimiliki oleh orang yang mencari nafkah secara benar
1) Rasa bangga memiliki barang (harta) secara sah
2) Bebas dari beban yang membuat ia harus hidup bersembunyi
3) Sewaktu mempergunakan hartanya itu ia tidak tertekan batinnya
4) Hal itu memperkuatnya untuk tidak jatuh ke dalam cara-cara hidup yang jahat lainnya.

C. Sila Ketiga : menahan diri dari pemuasan nafsu seks dengan cara yang salah

a. Ada empat faktor untuk dapat disebut berzinah
1) Ada obyek yang tidak patut digauli
2) Mempunyai pikiran untuk menyetubuhi obyek tersebut
3) Berusaha menyetubuhi
4) Berhasil menyetubuhi, dalam arti berhasil memasukkan alat kemaluannya ke dalam salah satu dari tiga lubang (mulut, anus, atau liang peranakan) walau-pun hanya sedalam biji wijen

b. Obyek dari pelanggaran Sila Ketiga
1) Obyek yang menyebabkan pelanggaran Sila Ketiga oleh laki-laki
- Wanita yang telah menikah
- Wanita yang masih di bawah pengawasan atau asuhan keluarga
- Wanita yang menurut kebiasaan (adat istiadat) dilarang, yaitu :
* Mereka dilarang karena tradisi keluarga, masih dalam satu garis keturun-an yang dekat
* Mereka dilarang karena tradisi (peraturan) agama. Dalam tradisi Therava-da disebutkan : Upasika Atthasila, bhikkhuni di jaman dulu
* Mereka dilarang karena hukum negara pada jaman dulu, misalnya selir raja
2) Obyek yang menyebabkan pelanggaran Sila Ketiga oleh wanita
- Laki-laki yang telah menikah
- Laki-laki yang berada di bawah peraturan agama, misalnya bhikkhu, sama-nera

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Ketiga yang harus juga ki-ta hindari
1) Berzinah (melakukan hubungan kelamin bukan dengan suami/isterinya)
2) Berciuman dengan lain jenis kelamin yang disertai nafsu berahi
3) Menyenggol, mencolek, dan sejenisnya yang disertai dengan nafsu berahi

d. Akibat dari melanggar Sila Ketiga
1) Mempunyai banyak musuh
2) Dibenci banyak orang
3) Sering diancam dan dicelakai
4) Terlahirkan sebagai banci/waria atau wanita
5) Mempunyai kelainan jiwa
6) Diperkosa orang lain
7) Sering mendapat aib/malu
8) Tidur maupun bangun dalam keadaan gelisah
9) Tidak begitu disenangi oleh laki-laki maupun perempuan
10) Gagal dalam bercinta
11) Sukar mendapat jodoh
12) Tidak memperoleh kebahagiaan dalam hidup berumah-tangga
13) Terpisahkan dari orang yang dicintai

D. Sila Keempat : menahan diri dari berkata yang tidak benar

a. Ada empat faktor untuk dapat disebut berdusta
1) Ada sesuatu hal yang tidak benar
2) Mempunyai pikiran untuk berdusta
3) Berusaha berdusta
4) Pihak lain mempercayainya

b. Usaha dari pelanggaran Sila Keempat
1) Kebohongan langsung
- Bohong terang-terangan
* Menghasut
* Menipu/memperdayai
* Menjilat
* Pembatalan
- Pelanggaran sumpah/ikrar
- Muslihat/tipu daya
- Munafik, perbuatan pura-pura
- Permainan kata-kata secara licin
- Melebih-lebihkan
- Menyembunyikan/mengurangi
2) Kebohongan tak langsung
- Kata-kata melukai
* Sarkasme (pujian tajam)
* Penghinaan (merendahkan)
- Kebohongan tak terpikir
- Sindiran untuk menimbulkan perselisihan
3) Melanggar janji
- Perjanjian antara dua pihak
- Perjanjian satu pihak
- Pembatalan kata-kata

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Keempat yang harus juga kita hindari
1) Euphemisme (basa-basi)
2) Cerita (perumpamaan atau kiasan)
3) Salah pengertian
4) Salah ucapan
d. Akibat dari melanggar Sila Keempat
1) Bicaranya tidak jelas
2) Giginya jelek dan tidak rata/rapi
3) Mulutnya berbau busuk
4) Perawakannya tidak normal, terlalu gemuk atau kurus, terlalu tinggi atau pen-dek
5) Sorot matanya tidak wajar
6) Perkataannya tidak dipercayai walaupun oleh orang-orang terdekat atau ba-wahannya

E. Sila Kelima : menahan diri dari menggunakan makanan/minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan

a. Ada empat faktor untuk dapat disebut mabuk-mabukan
1) Ada sesuatu yang merupakan Sura, Meraya, atau Majja; yaitu sesuatu yang membuat nekat, mabuk, tak sadarkan diri, yang menjadi dasar dari kelengahan dan kecerobohan
2) Mempunyai keinginan untuk menggunakannya
3) Menggunakannya
4) Timbul gejala mabuk atau sudah menggunakannya (meminumnya) hingga ma-suk melalui tenggorokan

b. Obyek yang menyebabkan pelanggaran Sila Kelima
1) Segala jenis minuman/makanan yang memabukkan
2) Barang yang bila digunakan/dimasukkan di dalam tubuh bisa membuat kita ti-dak sadar dan ketagihan

c. Hal-hal lain yang dapat dikategorikan pelanggaran Sila Kelima yang harus juga kita hindari
- Makan/minum sampai terlalu kenyang (kekenyangan) sehingga bisa mengaki-batkan muntah-muntah

d. Keburukan-keburukan dari makanan/minuman yang memabukkan
1) Pemborosan uang karena keinginan yang tak terkendali
2) Menjadi sebab untuk timbulnya pertengkaran dan perkelahian
3) Menjadi sebab untuk timbulnya penyakit, bukan sebagai penawar
4) Sebab utama dari timbulnya noda nama baik keluarga
5) Hilangnya pengendalian diri
6) Menimbulkan gangguan pada fungsi otak

e. Akibat dari melanggar Sila Kelima (melakukan pemabukan)
1) Dalam Avguttara Nikaya, Sutta Pitaka, Sang Buddha Gotama menekankan be-tapa besar akibat negatif yang ditimbulkan dari pemabukan:”Duhai para bhik-khu, peminum minuman keras secara berlebihan dan terus menerus niscaya dapat menyeret seseorang dalam alam neraka, alam binatang, alam iblis. Aki-bat paling ringan yang ditanggung oleh mereka – yang karena kebajikan lain, terlahirkan sebagai manusia – ialah menjadi orang gila/sinting”.
2) Dalam bagian lain Beliau juga mengatakan:”Ada tiga macam hal, duhai para bhikkhu, yang apabila dilakukan tidak pernah dapat membuat kenyang. Apa-kah tiga macam hal itu? Tiga macam hal itu ialah bertiduran, bermabuk-ma-bukan, dan bersetubuhan”.
3) Terlahirkan kembali sebagai orang gila; tingkat kesadaran/kewaspadaannya rendah; tidak memiliki kecerdasan; tidak mempunyai banyak pengetahuan; bersifat ceroboh; pikun; pemalas; sulit mencari pekerjaan; sukar memperoleh kepercayaan orang lain.

8. Uraian Panca Dhamma

Kalau Panca Sila bersifat negatif, maka Panca Dhamma (Lima Sifat Mulia) adalah ber-sifat positif, karena itu disebut pula sebagai Kalyana Dhamma, yaitu yang akan memu-liakan (mendukung) mereka yang mempraktekkan Sila. Panca Dhamma ini ada lima, yang masing-masing berhubungan secara berpasangan dengan Sila-Sila yang terda-pat di dalam Panca Sila.
1) Metta Karuna (cinta kasih dan belas kasihan)
2) Samma Ajiva (berpikiran untuk bermatapencaharian benar)
3) Santutthi (puas dalam hal nafsu berahi)
- Sadarasantutthi (seorang laki-laki puas hanya dengan satu isteri)
- Pativatti (seorang isteri setia hanya kepada satu suami)
4) Sacca (kejujuran/kebenaran)
5) Sati-sampajabba (ingat dan waspada)
- Waspada dalam makanan
- Waspada dalam pekerjaan
- Waspada dalam kelakuan seseorang
- Waspada dalam hakekat hidup

9. Pahala dari Sila

1) Secara umum
- Dapat melaksanakan Sila dengan baik, maka akan bebas dari penyesalan (kare-na bisa menjaga Sila dengan baik)
- Bebas dari penyesalan menimbulkan kegembiraan
- Kegembiraan dapat menimbulkan kegiuran (Piti)
- Kegiuran dapat menimbulkan ketenangan (Passadi)
- Ketenangan dapat menimbulkan kebahagiaan (Sukha)
- Kebahagiaan dapat menimbulkan pemusatan pikiran (Ekaggata)
- Pemusatan pikiran akan menimbulkan ‘pengetahuan mengenai kebenaran mu-tlak’ (Anuloma-bana)
- Pengetahuan mengenai kebenaran mutlak akan mendorong untuk ‘mencari kebe-basan’ (Muncitukamyata-bana)
- Usaha dalam mencari pembebasan akan mendapatkan ‘pengetahuan tentang ke-bebasan’ (Nibbana-bana)
- Pengetahuan tentang kebebasan akan membawa orang ke dalam ‘kebebasan’ (Nibbana)
2) Avguttara Nikaya IV (halaman 99)
Sang Buddha bersabda kepada Ananda sebagai berikut:”Ananda, Sila memiliki tia-da penyesalan sebagai tujuan dan buahnya”.
3) Mahaparinibbana Sutta
Sang Buddha berkata kepada Upasaka-Upasika tentang pahala dari Sila sebagai berikut:
- “Sila menyebabkan seseorang memiliki harta kekayaan yang banyak
- Nama dan kemashurannya akan tersebar luas
- Dia dapat menghadiri setiap pertemuan tanpa ketakutan atau keragu-raguan ka-rena dia menyadari bahwa dia tidak akan dicela atau didakwa orang banyak
- Sewaktu meninggal batinnya tentram, dan
- Akan terlahir dalam suatu tempat yang membawa kebahagiaan”.
4) Digha Nikaya II (halaman 69 – 70)
Sang Buddha bersabda kepada para bhikkhu sebagai berikut:”Jika seorang bhikkhu ingin dicintai dan dihormati oleh sesama bhikkhu, maka dia harus menjalankan Sila”.
Kutipan-kutipan tersebut di atas merupakan sebagian kecil tentang pahala dari Sila yang dibabarkan oleh Sang Buddha sendiri.
Sila adalah dasar dari penghidupan yang benar dari perumahtangga untuk mencapai kehidupan surga. Namun, tujuan tertinggi pelaksanaan Sila adalah perealisasian Nib-bana. Oleh sebab itu, ciri-ciri Sila adalah juga merupakan ‘jalan’ untuk merealisasi Nib-bana.

10. Tambahan penjelasan
A. Atthavga Sila (delapan macam peraturan / tata susila)
1) Panatipata vermani
Menghindari membunuh makhluk hidup apapun juga
2) Adinnadana veramani
Menghindari mengambil barang/sesuatu yang tidak diberikan
3) Abrahmacariya veramani
Menghindari melakukan hubungan kelamin
4) Musavada veramani
Menghindari mengucapkan kata-kata yang tidak benar
5) Surameraya-majjapamadatthana veramani
Menghindari menggunakan segala minuman/makanan yang dapat menyebabkan ketagihan dan lemahnya kewaspadaan
6) Vikalabhojana veramani
Menghindari makan pada waktu yang tidak tepat, yaitu lewat tengah hari
7) Naccagitavadita-visukadassana-malagandhavilepana-dharanamandana-vibhusa-natthana veramani
Menghindari menari, menyanyi, bermain musik, pergi melihat pertunjukkan/per-mainan; tidak memakai bunga-bungaan, wangi-wangian, kosmetik, atau perhias-an lain yang tujuannya untuk menghias atau mempercantik diri
8) Uccasayana-mahasayana veramani
Menghindari menggunakan tempat tidur dan tempat duduk yang tinggi, besar, dan mewah

B. Dasa Sila (sepuluh macam peraturan / tata susila)
1) sampai dengan 6) sama dengan Atthavga Sila
7) Naccagitavadita-visukadassana veramani
Menghindari menari, menyanyi, bermain musik, dan melihat pertunjukan
8) Malagandhavilepana-dharanamandana-vibhusanatthana veramani
Menghindari memakai bunga-bungaan, wangi-wangian, kosmetik, atau perhias-an bersolek lainnya
9) Uccasayana-mahasayana veramani
Menghindari menggunakan tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi, besar, dan mewah
10) Jataruparajata-patiggahana veramani
Menghindari menerima emas dan perak (yang juga berarti ‘uang’)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar