Sabtu, 26 Desember 2009

Introduksi Menuju Kematian

Ceramah Bhikkhu Uttamo
www.samaggi-phala.or.id

Saudara-saudara, baru saja dilakukan upacara peringatan satu tahun kepergian salah satu anggota keluarga yang berada di tempat ini. Memang, perjalanan waktu selama satu tahun kalau dihitung menurut penanggalan dapat dikatakan sebagai waktu yang cukup lama, akan tetapi apabila dijalani sebagai kenyataan maka waktu satu tahun itu menjadi sangat cepat berlalu.

Bertepatan dengan peringatan satu tahun kematian ini akan dibahas tentang pengertian kematian yang sering dianggap sebagai misteri kehidupan. Padahal setiap orang pasti akan mengalami kematian, dan semua orang sudah berkali-kali mengalami kematian. Oleh karena itu, bisa saja walaupun ada orang yang sudah lanjut usia bahkan sampai berumur lebih dari 90 tahun, misalnya, namun ia masih belum memiliki pengertian tentang kematian. Orang yang tidak memiliki pengertian tentang kematian inilah yang membuatnya merasa tidak siap untuk menghadapi kematian walaupun ia sudah lanjut usia. Diharapkan setelah mengerti uraian tentang kematian berikut ini, orang menjadi tidak takut mati lagi, bahkan ia akan selalu siap menghadapi kematian setiap saat. Ia akan menjadi orang yang berani mati, walaupun ia tidak harus mencari mati.

Sebagai dasar pengertian untuk memahami proses kematian, hendaknya disadari bahwa kematian setiap mahluk dapat terjadi setiap saat. Hal ini karena kehidupan mahluk, khususnya manusia dapat diibaratkan sebagai sebuah mobil. Mobil atau sepeda motor akan bisa berjalan karena, salah satunya, terdapat alat bernama ‘busi' yang mengeluarkan api secara bergantian antara hidup dan mati. Ketika busi itu mengeluarkan api, maka terjadilah proses pembakaran uap bahan bakar yang dipergunakan kendaraan tersebut. Akibat adanya pembakaran itu maka muncullah ledakan, muncul tenaga, dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya, sehingga akhirnya kendaraan tersebut mempunyai kekuatan untuk mampu berjalan.

Kehidupan manusia itupun bila digambarkan secara sederhana juga demikian adanya. Penggunaan busi yang dikenal dalam kendaraan, pada manusia bisa dianggap sebagai jantung, paru-paru, maupun organ-organ yang lain. Contoh busi yang disamakan dengan organ manusia ini adalah karena fungsinya yang hampir tidak berbeda. Paru-paru, misalnya, ia selalu bergerak, mengembang dan mengempis untuk mencari udara di saat seseorang bernafas. Seiring dengan gerakan paru-paru, nafas juga bergerak masuk dan keluar. Ketika paru-paru bergerak membesar agar dapat menghisap udara, maka organ ini tidak langsung menyempit lagi untuk mengeluarkan udara yang ada di dalamnya. Paru-paru akan terhenti sejenak. Demikian pula di saat mengeluarkan udara, paru-paru akan menyempit dan berhenti sejenak untuk kemudian menggelembung dan menarik kembali udara segar. Karena gerakan paru-paru yang membutuhkan proses berhenti ini, maka nafas manusia pun juga demikian. Ketika udara telah masuk, ada proses berhentinya nafas barulah kemudian udara dikeluarkan kembali dari tubuh. Sebaliknya, ketika udara keluar, maka setelah nafas sejenak berhenti, udara segar akan ditarik masuk kembali ke dalam tubuh. Demikian seterusnya sejak seseorang masih bayi sampai dengan tibanya saat kematian nantinya.

Marilah sekarang merenungkan lebih dalam tentang proses pernafasan ini. Pada saat seseorang bernafas, ketika nafas masuk dan berhenti sejenak, keadaan seperti ini dapat dikatakan dengan sederhana sebagai suatu bentuk kematian. Demikian pula ketika nafas dihembuskan keluar dan berhenti sejenak, keadaan ini pun dapat disebut sebagai suatu bentuk kematian. Dengan demikian, kehidupan satu mahluk adalah merupakan suatu proses berkesinambungan antara hidup-mati, hidup-mati dst. yang prosesnya dapat disamakan dengan fungsi busi pada kendaraan seperti yang telah disebutkan di atas. Dari sekumpulan proses hidup-mati, hidup-mati, hidup-mati inilah seseorang bisa bergerak dan melakukan berbagai aktifitas apapun juga.

Gerak berkesinambungan antara hidup-mati, hidup-mati itu bukan hanya terjadi pada paru-paru saja, melainkan juga jantung. Jantung yang selalu berdetak untuk memompa darah ke seluruh penjuru tubuh pun bergerak dengan pola yang sama. Jantung mengempis untuk memompa darah ke seluruh tubuh, namun setelah itu jantung tidak langsung mengembang lagi. Ada satu masa tertentu jantung berhenti berdetak sejenak. Sesaat kemudian, jantung mengembang kembali untuk menghisap darah yang datang dari seluruh tubuh. Berikutnya, jantung pun berhenti berdetak sejenak yang kemudian dilanjutkan dengan mengempis kembali. Demikian seterusnya, mengempis, diam, mengembang, diam, mengempis lagi dst. Diamnya jantung, tidak adanya aktifitas jantung, walaupun sejenak, sebenarnya sudah sama dengan kondisi jantung di saat kematian. Oleh karena itu, proses gerak jantung menjadi mengempis, mati, mengembang, mati, mengempis dst. Kehidupan manusia yang dilihat dari proses gerak jantungnya tadi menjadi hidup-mati, hidup-mati dst. Dengan demikian, sesungguhnya kehidupan adalah merupakan suatu kumpulan dari proses kehidupan dan kematian yang berjalan secara berkesinambungan.

Pemahaman akan proses gerak paru-paru dan jantung ini apabila terus diperluas maka akan bisa dimengerti bahwa sebenarnya seluruh kehidupan ini adalah merupakan paduan proses berkesinambungan antara hidup dan mati tersebut. Seseorang yang berada di dalam sebuah ruangan adalah karena ia telah ‘mati' dari luar ruangan tersebut dan ia hidup di dalam ruangan tempat yang sekarang ia berada. Demikian pula sebaliknya. Seseorang yang pergi ke kota lain adalah karena ia telah ‘mati' dari kota yang ia tinggalkan dan hidup kembali di kota yang lain tersebut. Hal ini karena orang yang sudah berada di satu tempat, ia tidak akan bisa diketemukan di tempat lain. Sebaliknya, bila ia telah berada di tempat lain, maka ia tidak akan bisa dijumpai di sini.

Memahami proses kehidupan yang merupakan kumpulan berkesinambungan antara hidup-mati, maka ketika tiba kematian yang sesungguhnya kadang kenyataan ini malah tidak mudah disadari oleh mereka yang baru saja mengalami kematian. Tidak disadarinya bahwa seseorang telah meninggal itu karena kematian adalah merupakan proses wajar yang setiap saat akan dialami dan dihadapi oleh setiap mahluk. Kematian bukan hanya dialami ketika hancurnya tubuh ini saja, melainkan setiap saat. Orang yang berada di satu tempat, ia tidak menyadari kalau dirinya sudah ‘mati' dari tempat yang lain.

Pengertian bahwa ketika orang baru saja meninggal sering tidak menyadari keadaan dirinya yang sudah meninggal itu pernah digambarkan dengan baik dan mengesankan dalam beberapa film Hollywood. Salah satu film terkenal yang menceritakan kematian yang tidak segera disadari ini berjudul: Sixth Sense . Dalam film itu digambarkan bahwa tokoh utama film tersebut tidak menyadari dirinya kalau sudah meninggal. Ia merasa masih tetap bisa bekerja dan dapat berkomunikasi dengan orang lain. Namun, akhirnya ia menyadari bahwa orang yang bisa berkomunikasi dengannya ternyata adalah orang yang memiliki kemampuan melihat mahluk yang telah meninggal dan telah terlahir kembali di alam yang dekat dengan kehidupan manusia. Dalam pengertian Buddhis, mahluk jenis ini disebut sebagai mahluk Peta.

Dengan memahami pengertian bahwa kematian yang sesungguhnya hanyalah berpindah tempat inilah yang akan membuat orang akan selalu siap setiap saat menghadapi kematian. Kematian bukanlah hal yang menakutkan. Kematian mirip dengan orang yang berjalan meninggalkan satu ruangan menuju ke ruangan yang lain. Memang banyak ajaran yang berkembang dalam masyarakat tentang proses kematian ini. Semua ajaran pada intinya adalah untuk memberikan ketenangan dan kesiapan mental agar orang yang mempercayainya siap menghadapi kematian.

Buddha Dhamma memberikan pengertian tentang hakekat kematian dengan nyata agar orang tidak takut lagi menghadapi kematian. Bahkan dikatakan dalam Dhamma bahwa hidup adalah tidak pasti, kematian itulah yang pasti. Seseorang saat ini memang sedang hidup, namun ia tidak tahu sampai kapan ia akan terus hidup. Tidak ada yang tahu. Jadi, kehidupan inilah yang tidak diketahui lamanya, sedangkan datangnya kematian itulah yang sudah pasti. Tinggal masalah waktu saja yang menentukan.

Pada saat upacara peringatan kematian seperti inilah sebenarnya seorang umat Buddha akan diingatkan kembali bahwa kematian itu pasti akan terjadi pada semua mahluk yang hidup. Kematian adalah milik kehidupan. Umat Buddha juga diingatkan bahwa orang tidak perlu merasa takut menghadapi kematian karena pada saat kematian tiba, sering orang malah tidak menyadari kalau dirinya sudah meninggal. Akan tetapi Dhamma bukan hanya untuk memahami hakekat kematian serta menghilangkan rasa takut menghadapi kematian saja, melainkan juga memberikan bekal agar kehidupan yang tidak pasti ini dapat diisi dan mempunyai makna untuk diri sendiri maupun untuk lingkungannya.

Di kala orang masih hidup, masih kuat seperti saat ini hendaknya orang selalu mempergunakan waktunya untuk mengembangkan kebajikan. Kebajikan dapat dilakukan dengan ucapan, badan, dan pikirannya agar ia mempunyai timbunan kebajikan sebagai bekal yang akan membuatnya siap menghadapi kematian. Apabila proses kematian telah tiba, karena sering orang tidak menyadari kalau dirinya telah meninggal, maka mungkin ia akan heran melihat orang yang telah dikenalnya atau bahkan anggota keluarganya sendiri seolah tidak mengenalnya lagi. Mereka seakan sudah tidak mau lagi diajak berkomunikasi lagi dengannya. Putusnya komunikasi ini sesungguhnya karena mereka memang sudah tidak bisa melihat lagi anggota keluarganya yang telah meninggal tersebut. Orang yang baru saja meninggal, karena mungkin masih melekat dengan keluarganya, ia dapat terlahir di alam Peta yang mempunyai kemampuan untuk melihat orang-orang yang dicintainya. Ia juga masih mempunyai keinginan untuk berkomunikasi dengan keluarganya. Kegagalan berkomunikasi inilah yang sebenarnya dapat dijadikan salah satu tanda bahwa seseorang telah meninggal dunia namun terlahir di sekitar anggota keluarganya.

Kegagalan berkomunikasi dengan keluarganya itu akan membuat mahluk Peta yang masih ingin dekat dengan orang yang dicintainya itu merasa sedih. Ia akan selalu berusaha mengajak komunikasi bahkan ketika keluarganya sedang dalam keadaan tidur lelap. Usaha keras inilah yang akhirnya menyebabkan keluarganya akan mengalami mimpi seolah-olah mereka didatangi oleh anggota keluarganya yang telah meninggal dunia. Kadang, pesan dari orang yang telah meninggalpun dapat juga disampaikan lewat mimpi ini.

Sebenarnya, selain berusaha berkomunikasi melalui mimpi, maka orang yang telah meninggal dan terlahir di sekitar keluarganya hendaknya bisa selalu mengisi dirinya dengan pikiran positif. Pengembangkan pikiran positif ini adalah usaha untuk memupuk kebajikan lewat pikirannya yang akan mempercepat dia terlahir di alam yang lebih baik. Apalagi kalau memang keluarganya yang telah mengenal Dhamma juga melakukan upacara pelimpahan jasa untuk almarhum. Almarhum akan merasa bahagia karena keluarganya masih mengingat dirinya. Kebahagiaan lewat pikiran ini adalah merupakan tambahan karma baik bagi almarhum di alam yang kehidupannya saat itu. Kesemua usaha baik ini akan mempercepat kelahirannya di alam yang lebih bahagia.

Ia akan meninggal dari alam yang sekarang dan terlahir kembali di alam yang lebih baik. Hanya saja, proses perpindahan kelahiran dari satu alam ke alam yang lain kadang berlangsung dengan cepat dan sering tanpa disadari oleh mahluk itu sendiri. Sama dengan orang yang baru terlahir ke dunia sebagai bayi, ia sudah tidak ingat proses kehidupan yang lalu dan sejak kapan ia mulai berada di dalam kandungan ibu. Kadang sampai dewasa bahkan sampai meninggal sekalipun orang masih tetap tidak mampu mengingat kehidupan lampau yang pernah dialaminya.

Memang mungkin keterangan ini untuk sebagian orang bisa dianggap mirip seperti dongeng. Anggapan itu adalah hal yang wajar sekali karena memang banyak orang yang belum ingat pengalaman kematian dan kelahiran kembali tersebut. Sama halnya dengan seseorang yang akan pergi ke luar negeri padahal ia belum pernah ke luar negeri, maka ia tentu membutuhkan seorang guide atau pemandu wisata. Tugas seorang pemandu wisata adalah untuk menerangkan berbagai hal yang harus disiapkan maupun dilaksanakan agar perjalanan ke luar negeri itu menjadi nyaman dan berkesan. Demikian pula dengan keterangan tentang proses kematian ini, hendaknya bisa dijadikan salah satu pegangan agar dapat dipergunakan untuk mempersiapkan diri dengan baik bila telah tiba waktunya nanti.

Ada satu hal yang jauh lebih penting daripada membahas tentang proses kematian dan alam kelahiran setelah kematian yang kadang masih bisa dengan mudah diperdebatkan kebenarannya itu. Hal yang sangat penting itu adalah tentang perilaku yang harus dikerjakan dalam kehidupan ini agar dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi proses kematian. Perilaku yang harus dikerjakan adalah mengembangkan pikiran positif setiap saat. Gunakanlah waktu dalam kehidupan ini sebanyak mungkin untuk mengucapkan: “Sabbe satta bhavantu sukhittata” yang artinya adalah ‘Semoga semua mahluk berbahagia.' Ulang, ulang dan terus ulangi kalimat itu sebanyak yang mampu dikerjakan setiap saat, sehingga akhirnya kalimat sarat makna itu akan masuk ke dalam bawah sadar. Sebagai tanda bahwa kalimat itu sudah berada di bawah sadar seseorang, salah satunya dapat diketahui lewat mimpinya. Apabila seseorang sedang mengalami mimpi buruk dan dalam mimpi itu ia bisa secara otomatis mengucapkan kalimat: ‘Semoga semua mahluk berbahagia', maka berarti kalimat itu sudah menyatu dengan dirinya. Kalimat itu bisa menjadi bekal untuk kelahiran kembali di alam manapun juga.

Orang juga bisa menggunakan kalimat lain untuk dimasukkan ke bawah sadarnya. Ia bisa menggunakan kalimat: “Namo tassa bhagavato arahato sammasambuddhassa” atau mungkin ‘Buddhang, Dhammang, Sanghang saranang gachami' atau yang lain lagi. Yang penting ditekankan di sini adalah pengulangan terus menerus kalimat yang telah dipilih itu secara rutin di setiap ada kesempatan sepanjang hari sehingga akhirnya dalam mimpi pun kalimat itu akan muncul. Apabila telah tercapai tahap ini, maka kalimat positif yang telah masuk ke dalam bahwa sadar itu akan bisa menjadi bekal untuk terlahir kembali di alam manapun juga.

Inilah yang dapat dijadikan sebuah introduksi menuju kematian, karena semua orang pasti akan mengalaminya. Memang, ada orang yang meninggal dengan pengalaman yang tidak sama persis dengan uraian di atas, namun, paling tidak, hal yang diuraikan ini bisa dijadikan salah satu pilihan untuk mempersiapkan kematian kita sendiri.

Inilah pengertian yang bisa diberikan dalam kesempatan ini, semoga pengertian ini akan dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan khususnya untuk almarhum yang diadakan upacara pelimpahan jasa pada kesempatan ini. Semoga dengan kekuatan, kebaikan yang telah dilakukan, almarhum akan memperoleh kebaikan dan kebahagiaan di kelahiran yang sekarang. Semoga beliau bisa terlahir di alam yang lebih baik lagi. Demikian pula dengan keluarga yang ditinggalkan, dan kita semua, semoga dengan keterangan yang diberikan dalam kesempatan ini akan memberikan wawasan yang lebih baik, kesiapan mental yang lebih baik, mengerti tugas kita di dunia adalah untuk lebih sering mengucapkan kalimat ‘semoga semua makhluk berbahagia'. Sehingga akhirnya kebahagiaan bisa kita rasakan di kehidupan ini, maupun di dalam kehidupan-kehidupan yang selanjutnya.

Semoga anda berbahagia di dunia ini. Semoga semua makhluk baik yang tampak maupun yang tidak tampak akan selalu berbahagia berbahagia.

Sabbe satta bhavantu sukhittata

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar