Sabtu, 26 Desember 2009

Sederhana, Bukan Berarti Mudah

Lebih dari 1500 tahun yang lalu, hidup seorang guru meditasi yang sangat terkenal. Beliau tinggal di dalam hutan yang jauh sekali dari keramaian. Karena ia tinggal menyendiri, ia tak mempunyai pengikut, dan orang yang mengetahui keberadaannya sangat sedikit. Namun, seorang menteri dari istana kerajaan di sana telah mendengar bahwa beliau tinggal jauh di gunung, dan hal ini membuat sang Menteri berpikir bahwa mungkin Guru meditasi tersebut dapat memberikan beberapa formula rahasia atau pengetahuan esoterik (hanya dipahami oleh orang tertentu) yang memungkinkannya mengerti ajaran-ajaran sang Buddha secara cepat dan tanpa usaha mandiri. Dengan berpikiran demikian, menteri itu melakukan perjalanan yang sulit, jauh dari kota besar, melalui gunung-gunung, melintasi sungai-sungai dan gurun-gurun.
Akhirnya, ia tiba di pertapaan Guru tersebut, dan dengan kegembiraan yang meluap ia berharap menemuinya. Setelah memberi hormat kepada pertapa bijaksana tersebut, ia segera bertanya :
“Apakah inti dari ajaran Buddha?”
Dengan menahan napas ia menunggu jawaban Guru tersebut, dan ia yakin jawabannya adalah beberapa doktrin rahasia dan aneh. Pertapa bijaksana tersebut berdiam diri beberapa saat, dan melihat kepada menteri itu. Beliau berkata : “Tak melakukan segala bentuk kejahatan, meningkatkan kebaikan, dan menyucikan batin, inilah ajaran para Buddha.”
Dengan kecewa menteri tersebut berseru : “Tetapi, semua anak-anak berusia tiga atau empat tahun di seluruh kerajaan mengetahui ayat suci tersebut!”
Guru tersebut menjawab : “Namun, bahkan, orang tua berumur 80 tahun dengan rambut putih yang panjang, mendapatkan hal tersebut tidak mudah untuk dipraktekkan!”
Bagaimana tanggapan menteri tersebut terhadap jawaban di atas tidak dilaporkan, namun hal ini menunjukkan dengan baik, bagaimanapun pengetahuan, bahkan suatu apresiasi intelektual terhadap Dhamma tidaklah cukup. Apabila seseorang memiliki kebijaksanaan benar, dan dengan kebijaksanaan itu ia telah menghancurkan akar-akar dari kemekatan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha), ‘telah melakukan apa yang patut dilakukan’, bagi orang tersebut, terbuka pintu menuju ‘tanpa kematian’, atau sesuatu yang tanpa kondisi, yaitu NIBBANA….

Bahan :
Pointing to Dhamma oleh Ven.Khantipalo Bhikkhu.

Di dalam Dhamma tidak terdapat komplikasi. Komplikasi-komplikasi yang terdapat di dalam kepercayaan religius seseorang adalah hasil dari kekotoran-kekotoran batin dalam hati mereka sendiri. Apabila seseorang mendapatkan bahwa Dhamma sangat sulit untuk di mengerti atau di praktekkan, maka hal ini akibat dari kesulitan yang ditemui dalam diri orang tersebut.
Dhamma sangat sederhana dan jelas. Namun mengatakan bahwa Dhamma adalah sederhana hendaknya tidak diartikan bahwa Dhamma itu mudah! Usaha sangat diperlukan. Apabila Dhamma bebas dari kelicikan, dalih/kepura-puraan dan spekulasi, maka banyak orang menyukainya. Mereka yang mencari spekulasi filosofi, dan mereka yang tertarik untuk mempercayai dogma, tak akan menemukan apa yang dicarinya di dalam DHAMMA!
Namun, mereka yang berharap melihat diri mereka sebagaimana sesungguhnya, yang berhasrat untuk mempraktekkan demi manfaat dirinya dan orang lain, yang ingin melihat kebebasan mutlak di dalam dirinya – dan yang siap untuk berkerja keras – DHAMMA adalah untuknya!

Bahan :
Buddhism Explained oleh Phra Khantipalo

DHAMMA STUDY GROUP, BOGOR
30 Juni 1988

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar