Sabtu, 26 Desember 2009

Buddhisme dan Takhayul Gaib yang Ajaib

by : Benny Prawira

BUDDHISM n TAKHAYUL?

Kritik:
-suasana ritual yang dipenuhi asap dupa,doa2 dan mempersembahkan sesajian ke hadapan rupang menyebabkan kesan mistis melekat kepada umat Buddhist di mata umum
-di beberapa klenteng (meskipun bukan tempat ibadah Buddhist, beberapa menyediakan rupang Gautama di dalamnya) , ada semacam "lomba" membeli lilin yang besar2 seolah pengaruhi pahala dan respons yang akan diberikan oleh makhluk langit
-lebih parahnya lagi, sinkronisasi dengan tradisi menyebabkan adanya rupang2 dewa yang tidak bersangkutpautan dengan Buddhism digunakan sebagai sarana mewujudkan hal2 yang bersifat duniawi
-praktek lainnya yang bersifat mistis adalah membakar kertas Kim Coa dan cari lucky day
-Buddhist keturunan TiongHoa melakukan pemujaan (bukan lagi penghormatan) terhadap leluhur seolah2 nasib mereka terpengaruhi oleh orang yang sudah meninggal dan mengesankan bahwa leluhur seperti Tuhan
-Untuk meringankan nenek moyang yang telah meninggal , terdapat upacara yang bernama Festival Hantu Kelaparan dimana keluarga mempersembahkan makanan, pakaian, uang kertas dll, dan membaca sutra2 Buddhist pada hari 15 bulan 7 (berdasarkan penanggalan Imlek) yang mana hari itu diyakini pintu gerbang neraka terbuka dan hantu kelaparan dilepaskan untuk sementara agar bisa menikmati liburan di alam semesta
-Dalam Buddhism terlihat seperti ada kasus shamanisme dimana orang yang diyakini telah turun ke bumi dan merasuki seorang medium atau dukun yang bisa diminta "konsultasi"

Tanggapan:
- Semua praktik di atas tidak disebutkan dalam sutra Buddhist baik Pali ataupun Sanskrit
-Buddhism tidak mengajarkan orang untuk mencari hari baik karena dalam Buddhism,bagi orang yang berhati baik, setiap harinya adalah hari yang baik dan juga Buddhism tidak mengajarkan kehidupan menjadi suci berdasarkan tradisi sekalipun Buddhism tidak menghapus tradisi yang telah ada (seperti pujaan 6 arah dalam Sigalovada Sutra) dan melakukan reintrepretasi ulang terhadap tradisi itu sehingga memiliki makna yang menuntun orang untuk menjadi baik
-Ritual2 yang dipenuhi oleh suasana mistis merupakan salah satu ikatan yang harus disingkirkan dalam tata cara Buddhism karena Buddhism tidak mengenal ritual yang diikuti kesurupan, penyiksaan diri, pembantaian binatang, dll
- Hari Hantu Kelaparan (singkata saja jadi HHK) memang merupakan ciri khas Chinese Buddhism dan diawali dari cerita yang berada di Ulambana Sutra yang (katanya) keasliannya diragukan karena diduga dikarang di Tiongkok. Perpaduan Ulambana sutra dan kepercayaan rakyat China dalam memuja leluhur mereka yang telah meninggal menjadikan perayaan ini sangt populer di jaman dinasti Tang hingga menjadi hari libur nasional yang dimulai pada tahun 538 (1000 thn setelah Gautama parinirvana). Dalam Chinese Buddhism, HHK disebut hari Ulambana/ festival Yu Lan. Karena tercampur baurnya kedua tradisi, maka ke2 pihak mempersepsikan bulan 7 dengan cara yang berbeda. Masyarakat China awam mengaitkan bulan 7 dengan bulan hantu sedangkan Chinese Buddhist menganggapnya sebagai bulan berbakti kepada orang tua dan nenek moyang yang telah meninggal. Terbukanya pintu gerbang neraka tidak berkaitan dengan Buddhism karena dalam Buddhism, alam hantu dan alam neraka adalah 2 alam yang berbeda
-Praktek pelafalan mantra dalam bahasa Pali dan Mandarin memberikan kesan "mistis" bagi orang awam yang mendengarnya, tapi yang paling gawat adalah apabila umat Buddhist sendiri tidak mengerti sama sekali apa yang dilafalkannya sehingga tak mendapatkan manfaat apapun juga dalam aspek pengetahuan Dharma walau sudah capek komat kamit dan banyak menghabiskan waktu di vihara. Gautama sendiri mengizinkan murid2nya untuk melafalkan Dharma dalam bahasa mereka masing2 tapi Beliau juga menekankan bahwa makna lebih penting daripada skedar menghafal kata2 saja
-Praktik shamanisme seperti kerasukan roh memang ada di Asia tapi ini cenderung kepada tradisi China dan Taoisme, tidak ada kaitan dengan Buddhism yang berpedoman kepada Tripitaka. Beberapa literatur hanya mencatat secara singkat tentang adanya orang - orang yang dirasuki roh. dari sudut pandang praktik meditasi Buddhist, seseorang yang dirasuki spirit malah akan kesulitan untuk mengalami kemajuan dalam praktik meditasinya
- Spirit yang merasuki tubuh dukun beraneka ragam dan bisa dikatakan bersifat seperti manusia. Bagaimanapun juga, mereka belum lah tercerahi sepenuhnya dan masih ada dalam samsara.Seandainya ada roh yang mengklaim dirinya dewa atau makhluk2 tertentu (dalam kasusu ini banyak juga yang mengaku2 dirinya Guan Yin, Avalokitesvara Bodhisatva), mungkin kita bisa menganggapnya tak lebih dari mencatut nama. Praktik seperti ini telah eksis selama ribuan tahun bahkan telah ada sebelum lahirnya agama2.Buddhist tidak mencela praktik ini seperti agama *You-Know-Who* tapi juga tidak dianjurkan. Jika praktik ini kemudian dihubungkan dengan simbol2 rupang Buddhist di tempat praktik si dukun, hal ini akan memberi kesan bahwa Buddhism identik dengan hal2 mistik dan akhirnya membawa dampak negatif bagi perkembangan Buddhism

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar