Sabtu, 26 Desember 2009

Kesejajaran Evolusi dengan Buddhisme

Oleh : Willy Yandi Wijaya

Tentunya kita tak asing lagi dengan evolusi. Sejak teori evolusi Darwin dipublikasikan ke khalayak umum, Prokontra terus bergulir mewarnai kepopuleran Charles Darwin (1809-1882) bahkan hingga saat ini. Salah satu hal yang membuat teori Darwin diperdebatkan oleh banyak manusia adalah hipotesis yang menyatakan bahwa leluhur manusia adalah sejenis hewan primata, atau dengan kata lain, manusia keturunan sejenis monyet berjuta-juta tahun sebelum masehi. Dampak Teori evolusi Darwin telah menyerang agama-agama yang meyakini penciptaan manusia. Kala itu—ketika pertama kali dipublikasikan dalam bukunya oleh Darwin—teori Darwin mendapat banyak sekali pertentangan sekaligus dukungan. Apalagi ada keyakinan pada saat itu bahwa kehidupan di Bumi hanya baru 6000 tahun sesuai dengan interpretasi yang tertulis pada kitab suci. Jadi para agamawan kala itu menolak teori evolusi secara mambuta.

Perkembangkan ilmu pengetahuan semakin menguatkan bukti teori evolusi. Penyebaran geografis spesies (biogeografi) awalnya membantu Darwin akan idenya tentang evolusi. Darwin menyadari bahwa hewan di suatu daerah, lebih mirip dengan hewan di sekitarnya daripada di tempat lain yang jauh. Bukti kuat yang mendukung teori evolusi adalah fosil. Banyak fosil yang ditemukan, termasuk fosil manusia purba yang mirip dengan manusia dan berjalan tegak. Kemudian, banyak sekali fosil yang terus ditemukan yang semakin mendukung bukti teori evolusi. Selain itu, bukti juga ditemukan jika kita membandingkan anatomi (struktur tubuh) dan melakukan perbandingan embrio berbagai jenis hewan. Bukti terbaru lahir dari perkembangan biologi molekuler, tentang genetik manusia dan mutasi yang semakin menguatkan teori evolusi.

Sekarang akan kita tinjau dari sisi buddhisme apakah teori evolusi selaras atau bertentangan. Mekanisme evolusi adalah perubahan sedikit demi sedikit dari makhluk hidup yang sederhana ke makhluk yang lebih kompleks. Walau demikian adanya, adalah suatu kesalahan yang fatal jika kita menganggap manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Kelebihan evolusi (perubahan) pada manusia semata-mata karena evolusi pada otak manusia yang mempunyai kemampuan belajar dan berkembang. Seandainya evolusi manusia tidak ada, bisa saja suatu saat ada ‘manusia’ sejenis anjing yang pintar yang menguasai peradaban di Bumi. Bukti bahwa manusia bukan yang paling sempurna adalah banyaknya jenis hewan yang mempunyai indera yang tidak dimiliki manusia. Contohnya kelelawar yang mempunyai indera untuk menangkap gelombang utrasonik yang tidak bisa dideteksi manusia. Menganggap manusia adalah evolusi yang paling sempurna itulah yang telah mendatangkan kesombongan manusia atas Bumi ini yang berakibat kerusakan alam.

Konsep evolusi sebenarnya secara tidak langsung telah terkandung dalam konsep buddhis tentang ketidakkekalan atau perubahan (anicca). Buddha Gautama telah menyadari salah satu hukum alam yang berlaku di dunia ini yaitu perubahan. Walaupun tidak secara ilmiah, banyak legenda-legenda buddhis yang secara tidak langsung menyiratkan kemungkinan adanya evolusi. Salah satu contoh legenda yang sangat terkenal adalah ‘kera sakti’, Walaupun simbol binatang pada legenda itu mempunyai arti tersendiri, ide evolusi telah tersirat di dalamnya.

Seleksi alam adalah proses yang menyeleksi setiap individu pada suatu populasi dan populasi yang tidak bisa bertahan akan mengalami kematian. Tentunya konsep seleksi alam mengandung arti adanya sebab-akibat yang saling bergantung atau kesalingterkaitan antar segala sesuatu (paticcasamuppada). Bukti tertulis konsep evolusi dalam buddhisme ada pada Kitab Digha Nikaya, Agganna Sutta. Di dalam Agganna sutta dikatakan bahwa pada mulanya makhluk hidup di bumi berasal dari ‘makhluk alam cahaya’ (abhassara). ‘Makhluk alam cahaya’ bisa bermakna makhluk yang tidak terlihat seperti cahaya, mungkin sejenis sel. Kemudian karena makhluk tersebut memakan ‘sari-sari tanah’ (nutrisi/makanan) dalam waktu yang ‘lama sekali’ (jutaan tahun), tubuh mereka menjadi ‘padat’ (berevolusi menjadi mempunyai bentuk yang lebih besar dan terlihat). Makluk tersebut terus menikmati makanan dan akhirnya berbentuk. Bentuk Makhluk hidup tersebut berbeda-beda dan secara umum menjadi laki-laki (jantan) dan perempuan (betina). Dari Agganna Sutta tersebut kita dapat melihat dengan sangat jelas konsep evolusi makhluk hidup hingga menjadi manusia dan hewan-hewan seperti saat ini.

Evolusi biologis sendiri memakan waktu lama hingga berjuta-juta tahun. Dalam buddhisme ada dikatakan ‘ber-kalpa-kalpa (berjuta-juta tahun) yang lalu’ menyiratkan keyakinan dalam buddhis bahwa Bumi sudah ada sejak lama, bukan sekitar 6000 tahun seperti yang diyakini agama pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Barat. Sejak awal dalam konsep buddhisme, segala yang terjadi di dunia ada sebab-akibat (hukum karma) dan kesalingterkaitan (paticcasamuppada), jadi menurut cara pandang buddhis, evolusi memang terjadi, namun bukan kebetulan melainkan ada sebab. Hal tersebut juga yang sebenarnya terjadi jika kita memahami mekanisme evolusi, bukan kebetulan yang sering salah diyakini oleh banyak kalangan agamawan maupun ilmuwan dari segi filosofinya.

Salah satu kesalahan pemahaman masyarakat umum terhadap teori evolusi adalah pada arti kata ‘teori’. Banyak kesalahan penfsiran terhadap kata ‘teori’. ‘Teori’ Darwin dianggap hanya teori. Dalam bidang sains, ‘teori’ adalah upaya pengujian terhadap suatu hipotesis atau perkiraan dalam kehidupan nyata terus-menerus. Sedangkan istilah teori dalam pengertian umum adalah sesuatu perkiraan dari ide manusia yang belum nyata atau di dalam sains lebih dekat dengan makna hipotesis. Jadi yang dimaksud dengan teori Darwin adalah suatu perkiraan/hipotesis yang telah teruji dalam kehidupan nyata dalam berbagai bentuk dan masih terus diuji dengan percobaan maupun pengamatan di lapangan.

Kesimpulannya adalah ajaran Buddha selaras dengan sains. Perlu kita pahami bahwa ajaran Buddha tidak mendukung atau membenarkan sains, karena sains selalu berkembang. Bukti-bukti dalam sains yang akan menguji kebenaran suatu hipotesis atau teori dalam sains. Setelah terbukti artinya hal tersebut adalah hukum alam (Dhamma Niyama) yang berarti benar dan layak diyakini. Satu kelebihan ajaran Buddha Gautama yang diajarkan Beliau adalah berani menyatakan pengujian terhadap ajarannya, layaknya seorang ilmuwan menguji percobaannya. Pemikiran ini jelas sangat sejalan dengan pemikiran sains dengan pengujian metode ilmiahnya.

Daftar Pustaka

Campbell, Neil A. , Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchell. 2003. Biologi, jilid 2 edisi kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kirthisinghe, Buddhadasa P. 2004. Cendekiawan Buddhis Mancanegara Bicara Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Badan Penerbit Buddhis Aryasuryacandra.

Wowor, Corneles. 2005. Ketuhanan Yang Mahaesa Dalam Agama Buddha. Semarang: Vihara Tanah Putih.

Wijaya, Willy Yandi. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production Vihara Vidyaloka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar