Sabtu, 26 Desember 2009

Fisika Modern & Buddhisme

Salah satu hukum dasar dalam ilmu fisika adalah kesetaraan massa dan energi. Hukum ini menyatakan bahwa massa bisa di transformasikan menjadi energi dan energi bisa di transformasikan menjadi massa berdasarkan rumus terkenal dari Albert Einstein yaitu E = mc2.

Secara mengagumkan prinsip tersebut juga telah di ajarkan didalam Buddhisme. Di dalam Sutra Hati (Prajnaparamatia-hrdaya) disebutkan " Wujud tidak berbeda dari kekosongan dan kekosongan tidak berbeda dari wujud. Wujud adalah kekosongan dan kekosongan adalah wujud".

Hukum kekekalan massa dan energi dalam fisika yang mengatakan bahwa massa dan energi tidak dapat di ciptakan dan dimusnahkan juga bisa kita temukan dalam Buddhisme. Didalam Avatamsaka Sutta bab. 14 berbunyi " Segala sesuatu tidak dilahirkan/diciptakan, segala sesuatu tidakdapat dimusnahkan"

Buddhisme menyatakan bahwa segala fenomena mengalami transformasi. Oleh karena energi dan wujud adalah tidak dualis, maka bisa terjadi transformasi wujud dan sebalik nya. Dengan kata lain, yang ada tidak bisa menjadi tidak ada, yang tidak ada tidak bisa menjadi ada. Bila yang tidak ada bisa mendadak menjadi ada, maka ini merupakan prinsip spontanitas. Bila doktrin spontanitas diyakini betul adanya, maka dunia bisa menjadi kacau balau tanpa aturan aturan, seperti sekuntum bunga bisa mendadak muncul di tengah udara tanpa sebab. Oleh sebab itulah dalam Buddhisme istilah "penciptaan" (bentuk lain dari spontanitas) di ganti dengan istilah "transformasi" atau kadang kadang di sebut juga dengan "kelahiran yang bersifat ilusi"

Menurut Buddhisme, fenomena tidak lahir secara spontan, melainkan melalui proses penyatuan dan penggabungan aneka sebab musabab dan kondisi-kondisi tertentu. Tidak bisa muncul buah tanpa benih dan kondisi kondisi ideal.
Dalam Avatamsaka Sutta bab 37 tertera " Sebagaimana dengan miliaran planet, alam semesta tidaklah terbentuk hanya karena satu kondisi saja, tidak oleh (hanya) satu fenomena saja- alam semesta hanya dapat terbentuk oleh aneka sebab musabab dan kondisi-kondisi yang tek terhitung..."

Salah satu penemuan terpenting dari fisika modern adalah fenomena interdependensi. Interdependensi adalah prinsip saling ketergantungan semua fenomena di dunia dengan yang lain nya.
Sebagi contoh, misal nya saja kita melihat sepotong kemeja, lantas dapatkah kita melihat awan di dalam sepotong kemeja ?? . Tentu banyak orang yang merasa bingung apabila di tanya masalah ini. Namun kalau kita merenungkan dari mana datang nya kemeja ini, maka kita akan mendapatkan jawabannya. Kemeja berasal dari pohon kapas yang mendapat sinar matahari dan huja. Hujan itu sendiri datang dari awan. Setelah kapas yang sudah tumbuh di ambil dan ditenun menjadi benang, kemudian benang di rajut menjadi kain, dan selanjut nya kain menjadi kemeja. Maka jelas kita dapat melihat sinar matahari dan awan serta hujan di dalam nya. Ini adalah interpenetrasi fenomena. Di dalam sebuah fenomena terkandung fenomena lain nya yang berkaitan. Hal ini juga menjadi dasar dari fisika modern, terutama kalau kita sudah memasuki dunia partikel elementer seperti positron, boson, lepton dan lain-lain.

Bhayaberava Sutta (Sutta ke 4 dari Majjhima Nikaya) :

" Ketika pikiran ku yang terkonsentrasi dengan demikian termurnikan, tidak tercela, mengatasi semua kekotoran, dapat diarahkan, mudah diarahkan, serta tenang. Aku memusatkannya pada kelahiran-kelahiran yang lampau, satu, dua....ratusan, ribuan, banyak kalpa dari penyusutan semesta, banyak kalpa pengembangan dan penyusutan semesta."

Sang Buddha telah memaklumi pengembangan dan penciutan alam semesta. Beliau bersabda:

"Lebih awal atau lebih lambat, ada suatu waktu, sesudah masa waktu yang sangat panjang sekali alam semesta menciut ....... Tetapi lebih awal atau lebih lambat, sesudah masa yang lama sekali, alam semesta mulai mengembang lagi..."

Sang Buddha berpendapat, bahwa alam semesta, yang disebut Beliau sebagai Samsara, adalah tanpa awal. Beliau bersabda:

"Tidak dapat ditentukan awal dari alam semesta. Titik terjauh dari kehidupan, berpindah dari kelahiran ke kelahiran, terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan, tidaklah dapat diketahui......"

Ajaran Buddha bukan harga mati dan umat Buddhisme di berikan kebebasan berpikir.....tidak di "haramkan" kalau seorang murid Buddha meragukan kitab suci nya sendiri.
Yang sudah pasti dalam ajaran Buddha tidak ada ancaman2 neraka atau pun iming2 surga.

Kalama Sutta mengatakan :

"...Oleh karena itu, warga suka Kalama, jangan lah percaya begitu saja berita yang di sampaikan kepada mu, atau oleh karena sesuatu yang sudah merupakan tradisi, atau sesuatu yang di desas desus kan. Janganlah percaya begitu saja apa yang tertulis di dalam kitab-kitab suci, juga apa yang di katakan sesuai dengan logika dan kesimpulan belaka, juga apa yang katanya telah di renungkan dengan seksama, juga apa yang kelihatannya cocok dengan pandanganmu atau karena ingin menghormat seorang pertapa yang menjadi gurumu......tetapi terimalah kalau engkau sudah membuktikan nya...."

Inti dari Kalama Sutta itu tentu sangat dekat dengan apa yang di sebut dengan metode ilmiah, yaitu bahwa kita jangan hanya percaya pada logika murni ataupun hipotesa belaka, melainkan kita harus mengujinya terlebih dahulu dengan serangkaian pengamatan atau observasi.

Sikap pemikiran demikina dikenal dalam agama Buddha dengan istilah yang di sebut "Ehipassiko" yang berarti "Datang dan lihatlah" dan bukan hanya sekedar "Datang dan percayalah". Buddha tidak pernah meminta kepada kita untuk percaya saja secara membabi buta pada Buddhisme. Buddha tidak pula minta kita untuk datang dan langsung mempercayai seluruh ucapan yang di sabdakan Beliau, melainkan untuk terlebih dahulu membuktikan sendiri kebenaran yang di sabdakan tersebut melalui perenungan dan meditasi.

Sang Buddha menyebut tentang asal dan perluasan alam semesta hanya sepintas lalu. Beliau tidak menganggap, bahwa berteori dan berspekulasi tentang hal tersebut, adalah lebih penting dibanding masalah utama kita, yakni mengakhiri penderitaan dan mencapai kebahagiaan Nibbana (Sansekerta: Nirwana). Ketika seorang sekali waktu mendesak Sang Buddha untuk menjawab pertanyaan tentang luasnya alam semesta, Sang Buddha membandingkan keadaan orang tersebut sebagai seorang yang terkena panah beracun, namun menolak diobati dan dicabuti anak panah tersebut, sebelum orang tersebut mengetahui secara jelas siapa yang melepaskan anak panah tersebut. Sang Buddha, lalu bersabda:

"Menjalani hidup yang suci tak dikatakan tergantung apakah alam semesta ini terbatas atau tidak, atau keduanya atau tidak keduanya. Sebab apakah alam semesta ini, terbatas atau tidak; tetaplah ada kelahiran, tetap ada usia-lanjut, tetap ada kematian, kesedihan, penyesalan, penderitaan, keperihan dan keputusasaan; dan untuk mengatasi semua itulah semua yang Saya ajarkan..."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar