Sabtu, 26 Desember 2009

MENJAWAB PARA SKEPTIK

Ajahn Mun sering kali memberitahu murid-muridnya bagaimana beliau setiap hari mengalami berbagai macam Dhamma yang luar biasa dalam hatinya sehingga tidak mungkin bisa menjabarkan semua hal yang terpapar kepadanya. Beliau secara konstan sadar akan hal-hal yang tidak pernah bisa ia bayangkan ada. Jangkauan pengalamannya membuatnya tidak ragu lagi bahwa aspek-aspek Dhamma yang Buddha dan murid-murid Arahanta-Nya saksikan dari momen ketika mereka mencapai pencerahan sempurna sampai saat mereka meninggal dunia adalah tidak terhitung banyaknya. Jelas sekali, mereka pasti luar biasa banyak di luar hitungan,

Ajahn Mun menyatakan bahwa Dhamma yang tertulis dalam Kanon Pali sama dengan sejumlah air dalam sebuah kendi kecil; dimana Dhamma yang tidak digambarkan dalam kitab suci setara dengan jumlah air yang terkandung dalam semua samudra besar. Beliau merasa bahwa suatu hal yang disayangkan bahwa tidak seorangpun berpikir untuk secara formal menuliskan ajaran Buddha sampai beberapa ratus tahun setelah kemangkatan-Nya dan kemangkatan murid-murid-Nya yang paling piawai. Untuk sebagian besar bagiannya, sifat dan penekanan Dhamma yang pada akhirnya dituliskan didikte oleh sikap dan pendapat tertentu dari individu-individu yang mengumpulkan naskah-naskah itu. Karena alasan ini, tetap tidak bisa diketahui sampai batasan mana karya kumpulan yang telah diwariskan kepada kita selalu merupakan refleksi yang sepenuhnya akurat dari apa yang sebenarnya Buddha ajarkan.

Ajahn Mun sering kali menyatakan kepada murid-muridnya: “Secara pribadi, saya merasa bahwa Dhamma yang keluar langsung dari mulut Buddha dan yang keluar dari hati-nya yang murni, pastilah luar biasa sekali karena ia memiliki kekuatan luar biasa untuk menginspirasi banyak pendengarnya untuk bisa merealisasikan Jalan dan Buah Ajaran dengan kemudahan yang nyata. Dhamma yang hidup, asli, seperti itu, apakah di ucapkan oleh Buddha atau oleh salah satu murid Arahanta-Nya, memiliki kekuatan untuk mengubah mereka yang mendengarkannya, membuat mereka bisa dengan jernih memahami makna paling dalamnya dengan cara yang langsung tepat ke dalam hati. Sedangkan Tipitaka , kita pelajari dan hafalkan isinya sepanjang waktu. Tetapi adakah orang yang mencapai Nibbana ketika sedang mempelajari naskah-naskah, atau ketika mendengar pelafalan sutta-sutta? Dengan mengatakan ini , saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kitab-kitab suci tidak bermanfaat. Tetapi, ketika dibandingkan dengan Dhamma yang keluar langsung dari mulut Buddha, jelas bagi saya, mana yang memiliki nilai dan pengaruh yang besar.”

“Renungkanlah kata-kata saya dengan hati-hati, siapa di antara kalian yang percaya bahwa saya mengajarkan kebenaran yang sesat, tidak mulia. Saya sendiri dengan sepenuh hati memercayai bahwa Dhamma yang keluar dari mulut Buddha sendiri adalah Dhamma yang dengan penuh paksa mencabut semua jenis kilesa dari hati para pendengarnya--disitu juga, serta sampai ke kepuasan sempurna mereka. Inilah Dhamma yang sama yang Buddha gunakan begitu ampuhnya untuk melenyapkan kilesa makhluk-makhluk dimanapun. Sehingga saya tidak punya niat untuk mendorong para pengikut Buddhis menjadi kutu buku penuh opini yang sombong mengunyah halaman-halaman kitab suci hanya karena mereka bersikeras berpegang erat-erat pada Dhamma yang telah mereka pelajari dengan hafalan, sehingga mereka tidak peduli untuk menyelidiki kebenara-kebenaran Mulia luhur yang merupakan bagian integral dari keberadaan mereka sendiri. Saya takut bahwa mereka akan dengan salah membawa kekayaan besar dari Buddha seakan-akan itu adalah milik mereka pribadi, memercayai bahwa, karena mereka telah mempelajari ajaran Dhamma Buddha, maka mereka sudah cukup bijaksana; bahkan meskipun kilesa yang ditumpuk dan mengisi hati mereka setinggi gunung itu belum berkurang sedikitpun.”

“Kalian harus mengembangkan penyadaran penuh untuk menjaga diri sendiri. Jangan menjadi cendikiawan tak berguna yang belajar untuk tujuan tidak baik dan mati sia-sia karena kalian tidak memiliki Dhamma yang benar-benar milik kalian yang bisa kalian bawa sendiri. Bukanlah niat saya dengan cara apapun untuk melecehkan ajaran Dhamma Buddha. Dari sifat sejatinya sendiri, Dhamma adalah selalu Dhamma, Apakah Dhamma itu ada di dalam hati ataukah aspek eksternal Dhamma seperti Kitab Suci Pali. Akan tetapi, Dhamma yang Buddha secara langsung sampaikan dari hatinya mampu membuat banyak orang yang hadir mencapai pencerahan setiap kali Beliau bicara. Sekarang bandingkan Dhamma hidup dengan ajaran Dhamma yang tertulis dalam kitab suci Pali. Kita bisa pastikan bahwa Dhamma dalam hati Buddha adalah sepenuhnya murni. Tetapi karena ajaran-ajaran Buddha di tulis hanya lama setelah Beliau dan murid-murid Arahanta-Nya merealisasi Parinibbana, siapa yang tahu, bahwa mungkin saja ada beberapa dari konsepsi dan teori si pencatat sendiri menjadi tercampur dalam naskah-naskah itu pula, sehingga mengurangi nilai dan kesakralan aspek-aspek tersebut.”

Demikianlah inti dari pembabaran Ajahn Mun. Sedangkan terhadap kritik bahwa kanon Pali tidak memuat adanya bukti mengenai penegasan Ajahn Mun bahwa para Arahanta datang mendiskusikan Dhamma dengannya dan mendemostrasikan cara mereka merealisai Parinibbana tanggapannya adalah: jika kita menerima bahwa Tipitaka tidak memegang keseluruhan monopoli dari Dhamma, maka tentunya mereka yang mempraktekkan ajaran Buddha dengan benar sepatutnya mengetahui sendiri bahwa semua aspek Dhamma yang masuk dalam jangkauan kemampuan alami mereka, baik mereka disebutkan dalam kitab-kitab suci ataupun tidak. Mari kita ambil contoh Buddha dan murid-murid Arahanta-Nya. Mereka mengetahui dan sepenuhnya memahami Dhamma jauh sebelum Kanon Pali muncul. Jika individu-individu mulia ini sesungguhnya adalah perlindungan sejati seperti yang dunia percayai, jelas bahwa mereka mencapai tahapan yang dimuliakan itu pada saat di mana tidak ada kitab suci untuk mendefinisikan parameter-parameter Dhamma. Di sisi lain, jika pencapaian-pencapaian mereka oleh karena itu dianggap salah, maka seluruh tubuh dari Kanon Pali harus di anggap salah pula. Jadi tolong putuskan sendiri apakah Anda lebih suka mengambil Buddha, Dhamma dan Sangha sebagai perlindungan Anda dengan Tulus, atau apakah Anda ingin mengambil perlindungan dalam apa yang kebetulan Anda baca dan apa yang Anda bayangkan sebagai benar. Tapi mereka yang memilih untuk tidak memilah-milah apa yang mereka makan, seharusnya berhati-hati jika ada tulang yang tersangkut di tenggorokan mereka….

Sumber : Legenda Spiritual Ajahn Mun

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar