Sabtu, 26 Desember 2009

Cara mengendalikan perasaan2 yang muncul (kemarahan, putus asa, sedih, dll)

Faktor bathin pada setiap makhluk hidup ada 52, yg disebut cetasika. 14 diantaranya adalah yg tdk bermanfaat [13 netral & 25 bermanfaat]. Karena kita berada di Asankhata Dhamma, berkondisi, maka rupa [jasmani] & nama [citta & cetasika] pun tentunya tdk luput karena keberkondisian ini. Artinya, semua faktor bathin kita pun "terikat" oleh 3 corak kehidupan universal: anicca, dukkha, & anatta...

Apakah faktor² bathin negativ, seperti: marah, benci, menyesal, dengki, dendam, dll ~ bisa dipertahankan terus²? Tidak yah? Akan berubah [anicca] juga, TERGANTUNG KONDISI [kondisi = paduan + proses]. Kondisi inilah yang menentukan keberlangsungan faktor bathin tersebut. Kesimpulan sementara sejauh ini, baik faktor bathin negativ & positiv, sama² berkondisi sehingga tidak bisa dipertahankan keberlangsungannya; bagaimanapun itu dipaksakan. Maka dengan pengertian mendalam yg benar, maka diharapkan kita bisa "memanage" faktor² bathin tsb... Bagaimana caranya? Setidaknya ada 3 metodologi:
1.. Suttamaya panna: kebijaksanaan pengetahun yg diperoleh dari belajar literatur, baca, diskusi, nonton, dll...
2.. Cintamaya panna: kebijaksanaan yang diperoleh dari kontemplasi no 1 di atas dgn kenyataan hidup sehari². Pemahaman pd tahap ini tentunya akan lebih kuat & mendalam dari pada yg no 1...
3.. Bhavanamaya panna: kebijaksanaan yang diperoleh dari kualitas pengembangan bathin yang mengarah kepada kesucian...
Kita rata² ada di tahapan no 1 di atas; maka dari itu, kita butuh lebih banyak kontemplasi dgn mengaitkannya pada kondisi keseharian kita. Menurut literatur, marah itu tidak bermanfaat, malah merugikan perkembangan bathin kita. Ini semata² kita 'tahu' ~ tapi apakah sudah 'mengerti'? 'Tahu' ada pd poin no 1, 'ngerti' sudah ada pd poin no 2... Umumnya ketika kita belajar utk masuk tahapan poin no2; kita gampang "terperangkap" dalam subjek permasalahan ~ sehingga bukannya merenungkan apa yg kita hadapi, sebaliknya justru merana karena perasaan yg ditimbulkan dari subjek permasalahan itu sendiri...

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Sekarang saya hendak mengajak kita semua utk coba mencari, dari mana & di mana kah marah [contoh umum] timbul atau berada???
Saya menggunakan ilustrasi sepasang kekasih; katakan saja si cowo suka colek si cewe, yah ibaratnya itulah cara di cowo memperlihatkan gaya romantisnya. Si cewe sih senang saja dicolek oleh cowonya sendiri; bahkan kalo si cowo sudah lama vacum colek, bisa² si cewe "nagih" lho ~ benar yah? Artinya ini umumlah ditemukan di dalam masyarakat.. .

Nah, gimana jika si cewe dicolek oleh seorang gembel; dgn "kualitas" colekan yg sama dgn pacarnya? Umumnya pasti tidak terima yah, paling umum sih, marah/kesal. .. Mengapa colekannya sama, cuma karena oleh insan yg berbeda maka menimbulkan amarah & kekesalan? Sebenarnya dari mana asal & letak kemarahan & kekesalan itu? Ilustrasi berikutnya, kita akan membuktikan bahwa marah itu bahkan bisa ditunda & dia hanya akan timbul jika kondisinya sudah tepat...

Skenarionya begini: saya akan menutup identitas pacar si cewe & si gembel hingga si cewe tdk bisa mengenalinya; di balik tirai, mungkin. Kemudian meminta kedua pria itu mencubit si wanita ~ kita lihat reaksinya si cewe ketika identity revealed... Varian skenarionya begini:
1.. Si cowo cubit dgn lembut & si gembel cubit lebih kasar ~ si cewe diminta tebak segera: mana yg si cowo & mana yg si gembel. Tebakannya tepat ~ after revealing identity, si cewe girang karena tebakannya tepat; plus cemberutin si gembel...
2.. Dibalik, si cowo cubit dgn kasar & si gembel dgn kelembutan ~ akhirnya si cewe salah tebak; kali ini kesal/marahnya sudah berubah objek: mengapa dirinya bisa ditipu oleh yg lembut/kasarnya sebuah cubitan?
3.. Even... sama lembutnya kedua cubitan & si cewe diminta utk menebak ~ namun hasilnya [pembukaan tabir] ditunda selama ± 1 jam; kemudian baru diberitahukan apakah tebakannya tepat atau tidak... ± 1 jam kemudian, after revealing identity, dia baru muncul perasaan, yg pasti kesal/marahnya sudah tdk seperti 2 sessi di awal...
Nah, sessi pertama; kemarahan muncul dalam hitungan detik, after revealing identity. Sessi kedua, karena salah tebak; kemarahan sudah tdk "sekuat" yg pertama ~ malah sudah bercampur perasaan malu...
Lha... sessi ketiga, ternyata kemarahan berubah menjadi ketegangan menunggu hasil after revealing identity. Saat itu, dimanakah kemarahannya? Padahal khan jelas barusan dicubit oleh 2 orang yg berbeda? Yg satu si cowo yg dia sukai utk dicubit ~ satunya justru yg menimbulkan marah tak kala mencubit. Cubitannya sudah terjadi, mengapa tdk spontan marah? ADA PERSEPSI/IDENTIFIKA SI/DEFINISI khan? Itulah kondisi [paduan+proses] yg disebutkan di atas... Umumnya disebut: permainan pikiran & perasaan... Di sessi ini, marah bisa ditunda hingga ± 1 jam, bahkan setelah itu, mungkin bisa jadi: bukan kemarahan yg timbul lho... Bisa² dia merasa lucu sendiri...

Jadi, apakah cubitan itu adalah sumber kemarahan? Ternyata bukan yah; persepsi yg definitif lah sumber kemarahan itu... Sama halnya dgn pejudi yg menang, royal kasih duit, nraktir, dll ~ tapi saat yg lagi kalah: kartu disalahin, tempat duduk bawa sial, pembagi kartu disalahkan dll...

Terhitung sejak kita bangun hingga tidur lelap kembali, kita semua cuma melayani 6 landasan indera ini:
~ melihat
~ mendengar
~ membaui
~ mengecap
~ merasakan sentuhan
~ berpikir
5 yg awal cenderung berorientasi kepada: lobha [sikap bathin yg melekat kepada obyek]...
1 yg terakhir cenderung berorientasi kepada: dosa [sikap bathin yg menolak akan obyek]...
Kita terbiasa meladeni & melayani keenam di atas; dia bilang mules~ke WC; dia bilang kesal~kita marah; dia bilang lapar/haus~kita makan/minum; dia bilang perempuan itu kasih harapan~kita selingkuh; dia bilang males~kita lanjut tidur, tulisan emailnya menyinggung saya~balas lah dgn singgung pribadinya, dll...
Nah, seberapa jauh kita yg justru balik mengendalikan keenam di atas? Nyaris sepenuhnya kita yg dikendalikan yah?

Di masyarakat, mudah ditemui yg pemarah, tapi juga ada yg penyabar dari sejak dia kecil. Apakah sudah takdir? Ada juga yg pemarah & berubah menjadi sabar... Penyabar yg menjadi pemarah juga banyak yah? Apakah semua itu sekoyong²? Ini semua merupakan ketangkasan bathin di dalam merespon obyek yg muncul dari 6 landasan indera di atas. Tentu saja bisa dilatih, saya yakin sekali itu. Sama halnya dgn yg belajar Bhs Inggris; awalnya mengeja alphabet pun sulit ~ setelah dilatih terus, cas-cis-cus mirip bule...

So, jika ada hal yg membuat kita marah; misalnya diomeli atasan atau salesman menyela dgn argumentasi ~ apakah BISA kita tidak marah? Jawabannya bukan BISA atau TIDAK BISA ~ namun MAU atau TIDAK MAU? Buktinya???
Coba seumpamanya saya kasih tantangan [ekstrim]: jika Anda tdk marah ketika diargumentasi dgn hal konyol oleh salesman Anda; maka saya kasih hadiah uang 1 MILYAR... Bisakah tidak marah? Pasti MAU; bukan masalah bisa atau tidak bisa lagi...
Ternyata 'kondinya' adalah motivasi yah ~ mungkin saja menilai marah lebih bermanfaat daripada sabar, barangkali? Cobalah kita bedakan dengan baik & benar:
a.. marah karena diargumentasi konyol oleh salesman & kemudian tetap memberikan argumentasi balik; dan
b.. tidak marah [alias tenang & sabar] karena diargumentasi konyol oleh salesman & kemudian tetap memberikan argumentasi balik...
Mana yang lebih OK? Ternyata MARAH dan TETAP MEMBERIKAN ARGUMENTASI BALIK adalah 2 hal yg berbeda jauh yah? Artinya kita tetap bisa "tetap memberikan argumentasi balik" dengan KETENANGAN ~ bukan KEMARAHAN...
Kita bisa lihat penampilan debat kandidat kepresidenan di AS; semua berusaha tenang, karena dgn demikian mereka bisa memberikan respon dgn baik & benar... Ternyata bisa dilatih yah?

Mari kita semua sama² melatih; mengutip reminder mentor saya: memang tidak sederhana, tapi bukan berarti tidak bisa ~ cuma perlu jujur & berani utk mencobanya.. .

Sukhi Hotu,

Gunasaro
* * * * * *
Post ke Milis SP~23 April 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar