Senin, 28 Desember 2009

Keyakinan vs Fanatisme

Ini adalah salah satu topik yang dalam aplikasinya masih sangat rancu.
Kerancuan itu dapat terjadi karena batas diantara keduanya sangat
tipis, namun bila yang satu menuju ke sebuah kebaikan maka yang
lainnya akan memberikan sebuah kerugian besar. Tulisan ini didasarkan
pada sabda-sabda Sang Buddha sebagaimana tercantum di dalam kitab suci
Tripitaka namun dengan bahasa yang sederhana sesuai kapasitas
pemahaman pribadi saya.

Keyakinan yang dinamakan Saddha, adalah iman atau kepercayaan yang
berdasarkan kebijaksanaan. Keyakinan dalam ajaran Sang Buddha bukan
berdasarkan atas rasa percaya semata atau bahkan rasa takut, tapi
keyakinan yang didasarkan atas aebuah penyelidikan (ehipassiko).
Kegembiraan tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang hanya
memiliki keyakinan yang didasari atas rasa takut atau karena
kepercayaan yang membuta. Karena sesungguhnya kegembiraan itu hanya
dapat dirasakan oleh mereka yang memiliki pengertiian benar dan
kebijaksanaan. Seperti yang diungkapkan oleh Sang Buddha bahwa
seseorang yang bermoral dan berwatak baik akan belajar bahwa
demikianlah seharusnya cara hidup seorang siswa yang mematahkan
kecenderungan buruk, mencapai kesempurnaan lewat jalan kebijaksanaan
dan pemusatan pikiran bersih dari dorongan yang keliru . Setelah ia
sendiri memahami dan menyadari akan tujuan yang lebih luhur dari hidup
ini, lalu berpikir untuk melaksanakannya sendiri (Puggala-Pannatti,
III, 1). Sariputra (salah seorang siswa utama Sang Buddha) juga
mengungkapkan bahwa keyakinan yang baik itu harus diuji dengan
mengendalikan indra. Dengan keyakinan ini, semangat, kesadaran,
konsentrasi, dan kebijaksanaan berkembang terus menerus. "Sebelumnya
aku hanya mendengar hal-hal ini, sekarang aku hidup dengan
mengalaminya sendiri. Kini dengan pengetahuan yang dalam aku
menembusnya dan membuktikan secara jelas" (Samyutta Nikaya . V, 226).

Setelah melihat uraian di atas, kita sudah mengetahui bahwa Saddha
adalah sebuah keyakinan yang didasarkan atas sebuah penyelidikan
dengan pengertian yang benar serta penuh kebijaksanaan. Iman semacam
itu dikategorikan sebagai iman yang rasional (akaravati-saddha).
Sebuah iman yang dewasa tentu saja akan berbeda dengan iman yang
kekanak-kanakan atau membuta. Iman yang kekanak-kanakan atau membuta
inilah yang dikenal sebagai Fanatisme. Sang Buddha juga pernah
menyampaikan bahwa seseorang yang kuat dalam keyakinan tetapi lemah
dalam kebijaksanaan akan memiliki keyakinan yang fanatik dan tanpa
dasar. Sedangkan seseorang yang kuat dalam kebijaksanaan tetapi lemah
dalam keyakinan akan mengetahui bahwa ia bersalah jika berbuat
kejahatan, tetapi sulit untuk menyembuhkannya bagaikan seseorang yang
penyakitnya disebabkan oleh si obat sendiri. Bila keduanya seimbang,
seseorang akan memiliki keyakinan hanya bila ada dasarnya
(Visuddhimagga. 129).

Dalam Brahmajala-sutta tercatat bagaimana Sang Buddha mengajarkan
siswanya agar bersikap kritis terhadap penganutan agama Buddha
sendiri: "Para Bhikkhu, jika ada orang berbicara menentang aku, atau
menentang Dharma atau menentang Sangha, janganlah karena hal itu
engkau menjadi marah, benci, atau menaruh dendam. Jika engkau merasa
tersinggung dan sakit hati, hal itu akan menghalangi perjalanananmu
sendiri mencapai kemenangan. Jika engkau merasa jengkel dan marah
ketika orang lain mengucapkan kata-kata yang menentang kita, bagaimana
engkau dapat menilai sejauh mana ucapannya itu benar atau salah?...
Jika ada orang yang mengucapkan kata-kata yang merendahkan Aku, atau
Dharma atau Sangha, engkau harus menjelaskan apa yang keliru dan
menunjukkan kesalahannya dengan menyatakan berdasarkan hal ini atau
itu, tidak benar, itu bukan begitu, hal demikian tidak diketemukan di
antara kami dan bukan pada kami. Sebaliknya pula, Bhikkhu, jika orang
lain memuji Aku, memuji Dharma, memuji Sangha, janganlah karena hal
tersebut engkau merasa senang atau bangga atau tinggi hati. Jika
engkau bersikap demikian maka hal itu itu pun akan menghalangi
perjalanananmu sendiri mencapai kemenangan. Jika orang lain memuji
Aku, atau Dharma atau Sangha, maka engkau harus membuktikan kebenaran
dari apa yang diucapkan dengan menyatakan berdasar hal ini atau itu,
ini benar, itu memang begitu, hal demikian terdapat di antara kami,
ada pada kami" (Digha-Nikaya. I, 3).

Setelah membaca semua sabda-sabda Sang Buddha di atas, apa yang
sekarang muncul di dalam benak anda sekalian? Bagi saya pribadi,
ajaran Sang Buddha lebih menitik-beratkan pada pengembangan
religiusitas mental dan batin kita ketimbang sebuah keberAGAMAan.
Sebagaimana dikatakan oleh Bodhidharma, bahwa Buddha tak dapat
ditemukan dalam kitab suci. Ia mengajarkan untuk melihat ke dalam hati
kita sendiri dengan kesadaran dan kesucian yang sempurna, karena di
situlah kita akan bertemu dengan Buddha. Mungkin banyak diantara anda
yang sering melihat orang-orang di sekeliling anda yang kuat menganut
agamanya secara lahiriah, tapi tidak seiring dengan perkembangan
religiusitas mental dan batinnya. Orang bisa saja sangat taat
beribadah, namun di dalam rumahnya ia menyiksa istrinya dan di luar
rumahnya ia seorang lintah darat. Boleh jadi orang gigih menganut
agama dengan motivasi tertentu seperti dagang, karier atau tuntutan
calon mertua. Orang yang militan dalam kegiatan organisasi agama,
namun mengobarkan kebencian dan permusuhan, tidak peduli dengan
kesulitan orang lain, tidak jujur, tidak adil, tentunya tidak
religius. Sebaliknya ada orang yang tidak begitu cermat menaati aturan
agama (bukan mengenai nilai moral yang universal) atau bahkan ia juga
tidak mengenal agama sama sekali, namun ia cinta pada kebenaran,
lurus, tidak munafik, tidak egois, tidak serakah dan suka menolong,
maka ia bisa disebut religius.

Jadi sekarang pilihan berada di tangan anda. Karena sesungguhnya Sang
Buddha sudah membabarkan secara lengkap dan sempurna mengenai
perbedaan antara Saddha & Fanatisme. Artikel ini sendiri bersumber
dari tulisan Bapak Khrisnanda Wijaya-Mukti dalam bukunya yang sangat
indah dan berjudul "Wacana Buddha-Dharma". Buku tersebut dan juga
nasehat mama saya, telah sangat banyak membantu saya keluar dari
kesalahan pandangan saya sebagai seorang siswa Sang Buddha. Saya
sendiri mengenal Buddha-Dharma pada tahun 1997 (kemudian menerima
Tisarana & Pancasila pada tahun yang sama). Namun bukan kedamaian yang
saya temukan akan tetapi "debat kusir" yang tak perlu serta
berkepanjangan dengan famili dan para sahabat yang kebetulan
non-Buddhis. Puncaknya adalah tahun 2003, saat saya mendapat
kesempatan menjadi seorang Dharmaduta, karena pada saat itu saya
justru lebih banyak melakukan ADharma (dengan cara melakukan musavada
tentang keyakinan-keyakinan selain Buddhis kepada para umat). Nasihat
mama saya pun hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Tahun
2004 saya mendapatkan buku yang sangat berharga itu, yang juga
kemudian menyadarkan saya akan kebenaran nasehat mama saya selama ini.
Seperti Angulimala, saya akhirnya membuang "pedang" saya dan
menggantinya dengan sebuah teratai kebenaran. Keindahan lain yang saya
rasakan adalah saat saya bisa mengenalkan Buddha-Dharma kepada
rekan-rekan non-Buddhis, karena kini saya datang kepada mereka dengan
kedamaian.

Teman-teman sekalian, jadikan Buddha-Dharma sebagai pembebasmu dan
bukan sebagai belenggumu, karena sesungguhnya Sang Buddha pun juga
sudah menguraikan bahwasanya kebanggaan (beragama Buddha) juga adalah
salah satu penghalang kita dalam mencapai kemenangan (Nibbana).
Selamat berbuat kebajikan dan semoga semua mahkluk selalu hidup
berbahagia, Saddhu.

(sumber: Buku Wacana Buddha-Dharma karya Bapak Krishnanda Wijaya-Mukti)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar