Sabtu, 26 Desember 2009

PENYEMBAHAN BERHALA BUDDHA

oleh : Benny Prawira

Kritik: Yeah, kita semua tau lah ini kritik paling klasik yang gak bosen2nya dikeluarin terus dari mulut2 orang2 yang gak tau apa - apa dan juga membenci Buddhism. Persepsi ini makin gawat aja dengan ketidakmampuan sebagian (gak semuanya yah!) anggota Sangha untuk memberikan penjelasan yang benar kepada umatnya, tapi malah memberikan contoh jelek dengan membawa2 rupang sebagai "pendengar bisu" dalam setiap acara Buddhist (yang ini gue baca dari buku)

Tanggapan: Rupang tidaklah dikenal sampai sekitar 500 - 400 tahun setelah Gautama parnirvana. Berdasarkan penemuan arkeologis, patung Buddha tertua baru ada sekitar abad pertama SM. Para artist Buddhist awalnya hanya menggambarkan Buddha dalam bentuk simbol2 seperti daun Bodhi, roda dharma, takhta dan telapak kaki Buddha. Rupang merupakan inovasi terakhirnya. Tak pernah tertulis dalam Tripitaka bahwa Buddhist harus menyembah patung. Buddhism pada masa awalnya tidak mengenal Buddha dalam bentuk patung, walau pada zaman itu pembuatan patung bagi dewa - dewi merupakan hal yang jamak dan wajar, sebab Buddhisme pada jaman itu cenderung menampilkan Buddha sebagai suatu aspek dharma dan bukannya dalam wujud manusia
Buddha jelas melampaui wujud sehingga rupang dalam bentuk apapun tak akan sanggup mewakili dirinya. Inilah kenapa para artist Buddhist awalnya lebih memilih menggunakan simbol2 seperti daun Bodhi untuk pencerahan dan roda Dharma untuk ajaran. Buddha sendiri mengatakan bahwa siapa yang melihat dharma akan melihat dirinya dan yang melihat dirinya akan melihat dharma. Inilah sebabnya mengapa Buddha dan Dharma dianggap sebagai suatu kesatuan.
Definisi "berhala" adalah patung atau gambar yang dipuja sebagai Tuhan sedangkan Buddhisme sendiri tidak mengakui adanya Mr.G dan tidak menganggap Gautama sebagai perwujudan dari Mr.G.
Rupang Buddha digunakan untuk melambangkan potensi tertinggi dalam sifat dasar manusia, mengingatkan kita bahwa ajarannya bersifat humanosentris, bukan teosentris sehingga kita diingatkan untuk melihat ke dalam agar bisa mencapai kebijaksanaan dan kesempurnaan. Buddhisme juga menekankan untuk tidak melekat kepada aspek2 rupa (bentuk lahiriah) karena segalanya itu hanyalah khayal dan tidak memiliki corak sejati yang pastinya tidak akan membuat kita mencapai Kebuddhaan. Untuk mencapai nirvana, kita gak boleh melekat kepada apapun, karena jika kita masih melekat maka berarti lingkupnya menjadi lebih kecil, terbatas oleh ruang dan dibatasi oleh waktu padahal nirvana itu sendiri melampaui ruang dan waktu dan tidak terjadi dalam pemisahan antara "subyek" dan "obyek"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar