Sabtu, 26 Desember 2009

Meditasi Buddhis Sudut Pandang Sains

Oleh: Willy Yandi Wijaya

Meditasi merupakan salah satu metode untuk peningkatan kesadaran kita dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kita dapat dengan mudah menemukan tempat yang menawarkan macam-macam meditasi dari berbagai latar belakang spiritual atau hanya sekedar sebagai sebuah terapi penyembuhan. Meditasi telah menjadi sangat tidak asing lagi di telinga kita sampai-sampai sebagai buddhis, kita menjadi heran dengan banyaknya meditasi yang menyatakan sebagai yang terbaik—secara spiritual ataupun sebagai terapi penyembuhan.

Meditasi berhubungan dengan peningkatan kesadaran, emosi, dan kemampuan otak. Meditasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu meditasi konsentrasi dan meditasi kesadaran. Meditasi konsentrasi adalah suatu cara mengarahkan pikiran agar berkonsentrasi hanya pada suatu objek tunggal. Sedangkan meditasi kesadaran adalah meditasi yang selalu sadar untuk menyadari apa yang sedang dilakukan pikiran, namun tidak berkonsentrasi pada suatu objek yang sedang dipikirkan. Meditasi Samatha dan Samadhi dalam buddhisme tibet termasuk kategori meditasi konsentrasi. Sedangkan meditasi vipassana dan meditasi kekosongan dalam Zen bisa dikategorikan sebagai meditasi kesadaran.

Mekanisme kerja otak manusia sangat rumit dan sampai saat ini masih diselidiki para ilmuwan, terutama mengenai kesadaran manusia. Otak manusia setiap saat bekerja dan para ilmuwan menggunakan EEG (electroenchepalogram) untuk mengukurnya dan disebut sebagai gelombang otak. Para ahli tersebut mengategorikan gelombang otak yang terukur melalui EEG menjadi 4 jenis, yaitu gelombang delta (lebih kecil 4 Hz), gelombang theta (4-7 Hz), gelombang alfa (8-13 Hz), dan gelombang beta (lebih besar dari 14 Hz). Gelombang alfa adalah gelombang yang terukur ketika seseorang dalam keadaan biasa, santai dan tidak berpikir hal-hal yang rumit. Sedangkan gelombang beta adalah gelombang yang muncul ketika seseorang memecahkan hal-hal kompleks seperti menyelesaikan soal matematika.

Gelombang alfa sangat teratur yang muncul ketika seseorang sedang tenang atau dalam keadaan santai. Gelombang alfa tidak ditemukan pada seseorang yang sedang cemas atau gelisah. Dari penelitian ilmuwan, seseorang yang sedang meditasi berada dalam gelombang alfa. Artinya bahwa seseorang yang sering melatih meditasinya, akan mudah menenangkan dirinya ketika ada respon yang akan membuatnya cemas atau gelisah. Pada beberapa meditator juga ditemukan gelombang theta yang biasanya terukur hanya pada saat awal-awal tidur sebelum otak menuju gelombang delta yang sangat tenang yang muncul ketika tidur nyenyak. Jadi bisa dikatakan bahwa semakin dalam seseorang bermeditasi, gelombang yang terukur di otaknya akan semakin rendah atau menuju keadaan istirahat (seperti dalam tidur), walau sadar sepenuhnya. Seseorang yang semakin sering bermeditasi juga mendapatkan manfaat langsung ketika ia tidak dalam keadaan meditasi. Ia biasanya terlihat lebih tenang dan hal tersebut dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan ilmuwan. Ritme gelombang alfa semakin meningkat dan teratur yang berarti keadaan tersebut sangat mirip dengan keadaan ketika meditasi yang tenang walaupun tidak sedang meditasi.

Meditasi seorang meditator menjadi sangat tenang namun yang terjadi adalah ia tetap sadar. Berbeda dengan ketika seseorang santai atau ketika tidur, walaupun aktivitas otak yang terukur dalam gelombang otaknya sama, meditasi menunjukkan bahwa aktivitas otak sangat minim namun sangat sadar. Dengan kata lain, energi yang dikeluarkan untuk aktivitas otak menjadi sedikit sehingga secara tidak langsung membuat seseorang tidak mudah cepat lapar karena kehabisan suplai energi ke otak (otak banyak mengabiskan energi yang seseorang dapatkan dari makan—selain olahraga). Penelitian juga membuktikan adanya peningkatan ketahanan kulit atau makin meningkatnya sensitivitas kulit, tergantung jenis meditasi yang dilakukan. Begitu pula dengan sistem pernapasan dan sistem kardiovaskular (kecepatan denyut jantung) yang diteliti oleh para ahli menunjukkan penurunan konsumsi oksigen dan pelambatan aliran darah yang dipompa oleh jantung karena penurunan denyut jantung.

Penelitian-penelitian tersebut membuka kemungkinan lain bagi meditasi buddhis yang saat ini mulai banyak dimanfaatkan bukan hanya sebagai pelatihan spiritual namun juga pengembangan mental dan fisik. Di Barat telah banyak ditawarkan penyembuhan mental karena stres, depresi, kecemasan sampai pengalaman trauma. Meditasi Samatha dapat digunakan dalam membantu seseorang untuk melatih dirinya terhindar dari gangguan stres dan kecemasan. Begitu pula dengan meditasi kekosongan Zen atau vipassana dapat digunakan sebagai peningkatan respon kesadaran dan dampak secara tidak langsungnya dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan akan terhindar dari penyakit. Meditasi buddhis dapat kita manfaatkan sebagai penyembuhan mental selain pengembangan spiritual.

Telah tiba saatnya umat buddhis lebih berperan aktif dalam pengembangan penyembuhan melalui meditasi (terutama spiritual, stres, cemas dan depresi) demi pengembangan cinta kasih dan welas asih. Pelatihan meditasi bisa dilakukan di wihara-wihara buddhis se-Indonesia dengan membentuk kelompok meditasi bersama yang rutin. Dengan demikian meditasi buddhis akan menjadi sebuah daya tarik, sebuah awal untuk mengenalkan ajaran Buddha secara universal.

Referensi

Campbell, Neil A. , Jane B. Reece, Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi, jilid 3 edisi kelima. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Khantipalo, Bhikkhu. 2008. Nasihat Praktis bagi Meditator. Yogyakarta: Penerbit KAMADHIS UGM.

Shafii, Mohammad. 2004. Psikoanalisis dan Sufisme. Yogyakarta: Campus Press

Silva, Lily de. 2008. Nibbana, Sebagai Suatu Pengalaman Hidup. Yogyakarta: KAMADHIS UGM.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar