Sabtu, 26 Desember 2009

Karena Engkau Hidup, Maka Engkau Mati

Manusia yang hidup di dunia ini selalu mengalami proses tumbuh dan berkembang. Mula-mula manusia dilahirkan sebagai bayi, kemudian tumbuh menjadi balita, anak-anak, remaja, dewasa, tua, adan akhirnya meninggal dunia. Menjadi tua adalah suatu proses kehidupan yang sangat alami; tak seorang pun dapat mencegah proses penuaan ini. Meninggal dunia juga merupakan suatu proses yang pasti akan dialami oleh semua manusia yang dilahirkan; tak seorang pun dapat menghindar dari kematian. Tidak ada kematian bagi manusia yang telah lahir adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena manusia yang dilahirkan pasti akan mengalami kematian.

Dalam kitab suci Dhammapada Bab X ayat 135, Sang Buddha bersabda, “ Bagaikan seorang penggembala menghalau sapi-sapinya dengan tongkat ke padang rumput, begitu juga umur tua dan kematian menghalau kehidupan makhluk-makhluk.”

Ya….semuanya berjalan dari kelahiran menuju kematian. Semuanya mengalami proses perubahan yang terus menerus. Setiap hari rupa atau jasmani manusia selalu mengalami proses perubahan yang tiada henti-hentinya. Dalam jasmani manusia tidak ada sesuatu yang tetap atau kekal. Demikian pula dengan nama atau batin manusia yang selalu mengalami ketidakkekalan atau anicca. Batin manusia yang terdiri atas perasaan (vedana), pencerapan (sanna), bentuk-bentuk pikiran (sankhara). Dan kesadaran (vinnana) itu selalu berubah-ubah.

Kedaan yang dialami oleh manusia juga berubah-ubah. Keberhasilan dan kegagalan, untung dan rugi, kemasyhuran dan nama buruk, penghormatan dan penghinaan, pujian dan celaan, kepuasan dan kekecewaan, suka dan duka silih berganti mencengkeram kehidupan manusia. Suatu waktu manusia mengalami keadaan yang menyenangkan, seperti untung, termasyhur, dipuji atau suka. Namun, pada waktu lain manusia mengalami keadaan yang tidak menyenangkan, seperti rugi, nama, buruk, dicela, atau duka.

Pada umumnya manusia merasa gembira bila mengalami keadaan yang menyenangkan. Kadang-kadang di antara mereka ada yang lupa diri dan menganggap bahwa keadaan itu akan berlangsung terus. Pada umumnya manusia ingin sehat terus menerus, makan enak teru-menerus, untung terus menerus, memiliki harta terus menerus, dipuji terus menerus, anak-anak baik terus menerus, suami atau istri setia terus menerus, bahkan hidupnya juga ingin terus menerus. Namun, itu adalah tidak mungkin karena segala sesuatu adalah tidak kekal.

Sebaliknya, bila manusia mengalami keadaan yang tidak menyenangkan pada umumnya mereka akan kecewa, sedih dan beranggapan bahwa seakan-akan hidupnya tidak berarti lagi. Mereka tidak sanggup menerima beban yang amat berat itu. Mereka merasa bahwa penderitaan itu datang menimpanya terus menerus. Mereka menganggap bahwa penderitaan yang dialaminya itu tidak akan pernah berakhir. Mereka merintih dan meronta-ronta ingin mengakhiri penderitaan itu secepatnya, bahkan dengan cara yang justru kian memperburuk kondisi yang ada, seperti melakukan bunuh diri. Ini merupakan tindakan yang keliru.


Bekal menghadapi ketidak kekalan.
Umat Buddha seyogyanya menyadari bahwa keadaan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan itu silih berganti mewarnai kehidupannya. Mereka seyogyanya menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini dan keadaan-keadaan yang dialaminya itu bersifat anicca atau tidak kekal.

Menurut Buddha Dhamma, tidak ada sesuatu yang dapat terus menerus tetap kekal. Segala sesuatu yang ada atau yang terjadi adalah tidak kekal. Selalu berubah-ubah, bersifat sementara. Manusia berkumpul, kemudian berpisah. Umat Buddha yang menyadari hal ini seyogyanya berusaha mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya agar mereka tidak menyesal nanti.

Umat Buddha seyogyanya berusaha membekali dirinya dengan perlindungan yang aman, yaitu pikiran baik (kusala citta) yang terlatih dengan baik. Umat Buddha harus mempunyai modal di dalam batin yang lebih kuat, sehingga tegar menghadapi apapun. Umat Buddha harus memiliki nilai-nilai agama dalam batinnya serta menghayati nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Maha Parinibbana Sutta, Sang Buddha memberikan wejangan terakhir sebagai berikut:

“Vayadhamma sankhara, appamedana sampadetha”'
yang berarti “segala sesuatu yang terdiri atas paduan unsur-unsur dikodratkan akan hancur kembali. Karena itu, berjuanglah dengan sungguh-sungguh.”

Ya….. hidup ini adalah perjuangan. Setiap manusia berjuang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Umat Buddha berjuang untuk mencapai tujuan terakhir, yaitu kebebasan mutlak atau Nibbana. Namun, dalam perjuangan untuk mencapai tujuan terakhir itu, umat Buddha hendaknya tidak mengabaikan moral atau sila. Sebab, dengan mengabaikan moral atau sila, tujuan perjuangan itu menjadi terhambat. Umat Buddha seyogyanya melaksanakan sila atau kelakuan bermoral itu dengan sebaik-baiknya, sehingga selamat dan dapat mencapai tujuan perjuangan tersebut.

Selanjutnya, dalam menghadapi kehidupan yang tidak kekal itu, umat Buddha seyogyanya berjuang melakukan hal-hal sebagai berikut :

- Memiliki cara berpikir Buddhistis
- Melepaskan kemelekatan terhadap segala sesuatu
- Menggalang hubungan yang baik.
- Melakukan kebaikan dan mengikis keburukkan sekarang juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar