Senin, 28 Desember 2009

APAKAH SEORANG ARAHAT BISA MELANGGAR VINAYA?

[Dari note HUDOYO HUPUDIO: "Apa Gunanya Sila?" --
HUDOYO HUPUDIO: Topik ini menarik dan sangat penting, karena menyangkut batin seorang yang bebas atau yang tengah menuju pembebasan. Oleh karena itu saya angkat menjadi thread tersendiri di Notes saya dengan judul: "Apakah Seorang Arahat Bisa Melanggar Vinaya?"]

=============================================

XU JERRY:

Pak Hud,
Nanya.. Koq Arahat spt YM Anuruddha masih harus ditegor Sang Buddha dan mematuhi vinaya yah? Gara2nya sih bermalam di tempat seorang wanita dalam sebuah perjalanan. Dan malamnya digoda oleh wanita tsb yg terpesona ketampanan YM Anuruddha. Oleh kejadian itu, Bhante Anuruddha ditegor dan vinaya terkait hal itu dikeluarkan.

Mohon pencerahannya. :)


HUDOYO HUPUDIO:

Apakah Anuruddha sudah arahat --atau setidak-tidaknya anagami-- ketika peristiwa itu terjadi? Kalau sudah arahat, saya rasa peraturan vinaya ybs dikeluarkan untuk ditaati oleh para bhikkhu yg datang belakangan.

Saya rasa, sekalipun Anuruddha sudah arahat, ia tetap harus menaati vinaya itu, agar:
1) menjadi contoh bagi bhikkhu2 yg lain;
2) tidak menimbulkan skandal di masyarakat (sekalipun ia sendiri tidak mungkin lagi melakukan parajika).


VIJAYA PUTTA BHANTE:

Namo Buddhaya,selama orang belum menyeberangi sungai rakit masih diperlukan, kalau sudah berada di seberang tinggalkanlah rakit ke tepian.Tidak tergantung kepada kitab suci,langsung menuju ke hati Buddha.


HUDOYO HUPUDIO:

<>

Perumpamaan tentang rakit & konsep "Hati Buddha" juga tercantum di dalam kitab suci. Jadi, jangan bergantung pada kedua konsep itu.

***

<>

Pada dasarnya Hui Neng menyanggah perumpamaan rakit: "Pantai seberang itu ada di sini sekarang; jadi tidak perlu menyeberang menggunakan rakit."


VIJAYA PUTTA BHANTE:

@Pak Hud,tdk bergantung kepada kedua konsep itu,demikianlah adanya. Akan tetapi untuk menerangkan permasalahan ini kita mau tdk mau masih terjebak pada konsep kata-kata.

@Pak Hud,pantai seberang ada di sini sekarang tak perlu menggunakan rakit,demikianlah adanya karena Hui neng sdh di Pantai seberang,bagaimana orang yg belum di Pantai Seberang? Tentu rakit masih diperlukan,asalkan disadari jgn melekat kpd sarana rakit tsb,sadhu3x


HUDOYO HUPUDIO:

@Vijja Putta Bhante: <>

Orang yang MERASA belum berada di pantai seberang itu disebabkan karena matanya tertutup debu; disebabkan karena ia tidur nyenyak & bermimpi ingin pergi ke pantai sebarang dan membutuhkan rakit untuk pergi ke pantai seberang.

Maka orang yang tercerahkan, seperti Hui Neng, bukannya memberikan rakit, melainkan justru membagi pemahamannya sendiri.

Dalam lomba menulis puisi yang diadakan oleh Hongren, Patriark Ke-5, untuk mencari penggantinya, saingan Hui Neng, Shenxiu, bhiksu senior yang banyak pengikutnya, menulis:

"Tubuh ini adalah Pohon Bodhi,
batin seperti cermin yang berdiri cemerlang.
Rajin-rajinlah menggosok cermin sepanjang waktu,
jangan biarkan debu melekat."

Lalu Hui Neng menanggapi dengan puisinya:

"Bodhi bukanlah pohon,
batin bukanlah cermin yang berdiri cemerlang.
Karena segala sesuatu pada dasarnya kosong,
di mana debu bisa melekat?"

菩提本無樹,
明鏡亦非台;
本來無一物,
何處惹塵埃?

Pada dasarnya Hui Neng hendak berkata: "Bangunlah! Jangan bermimpi terus! Tidak ada pantai seberang!" ("Cermin itu sudah cemerlang; tidak ada debu melekat. Untuk apa harus digosok setiap hari?")

Nah, melihatkah Anda bahwa 99% umat Buddha di dunia ini berpegang pada puisi Shenxiu, dan hanya 1% umat Buddha memahami puisi Hui Neng dalam batin masing-masing? Yang satu persen itulah pemeditasi vipassana yang benar.

Ini sesuai dengan pernyataan Sang Buddha sendiri: "Telah kutemukan Kebenaran yang mendalam, yang amat sukar terlihat, amat sukar dipahami, yang menenteramkan dan halus, tidak mungkin dicapai hanya dengan pemikiran, dan hanya terlihat oleh orang yang bijak.
Tetapi, dunia ini terbiasa dengan kenikmatan, menyenangi kenikmatan, asyik dengan kenikmatan. Sesungguhnya orang-orang itu sangat sukar memahami hukum sebab-akibat yang saling bergantungan; mereka tidak mengerti akhir dari segala yang terbentuk (badan & batin sendiri), pelepasan dari setiap dorongan untuk lahir kembali, memudarnya keinginan, tercapainya pembebasan, kepadaman, nibbana.
Namun, ada orang-orang yang sudah tipis debu yang menutupi matanya; merekalah yang akan memahami kebenaran."


VIJAYA PUTTA BHANTE:

@Pak Hud,bukankah Hui neng yg memberikan pemahaman itu juga masih menggunakan rakit(memberikan pemahaman dgn kata2 itu juga adalah rakit,medianya adalah kata2) lalu Pak Hud yang memberikan MMD bukankah ini juga adalah rakit? Dan terakhir kita yg sdg berdiskusi ini,bukankah juga sedang menggunakan rakit?

Sadhu3x


HUDOYO HUPUDIO:

@Vijaya Putta Bhante:
Harap tidak mencampuradukkan kata-kata (konsep, ajaran, doktrin agama, filsafat dsb) dengan Kebenaran. Kata-kata tidak pernah bisa mewakili atau menggantikan Kebenaran sepenuhnya; Kebenaran tidak bisa diwadahi di dalam kata-kata. Bahkan Kebenaran tidak bisa diwadahi dalam doktrin Buddhisme sekalipun.

Namun, kata-kata diperlukan & digunakan oleh orang yang telah merealisasikan Kebenaran untuk mengkomunikasikan Kebenaran kepada para 'pejalan' di belakangnya.

Buddha Gotama mengajarkan "Empat Kebenaran Mulia" --suatu doktrin, ajaran-- untuk mengkomunikasikan Kebenaran, yang menurut beliau sendiri "Sangat dalam, sangat halus, tidak dapat dipahami hanya dengan pemikiran, hanya bisa dipahami oleh orang yang arif." Tetapi doktrin "Empat Kebenaran Mulia" tidak bisa menggantikan Kebenaran yang ada di dalam batinnya, yang hanya bisa dicapai dengan meditasi vipassana.

Begitu pula Bodhidharma, Hui Neng, Krishnamurti, dll menggunakan kata-kata untuk mengkomunikasikan Kebenaran --yang tidak bisa diwadahi dengan kata-kata-- kepada orang yang berminat untuk mencapai apa yang mereka capai.

Kata-kata hanyalah sekadar TELUNJUK, yang menunjuk kepada REMBULAN, Kebenaran. Tapi banyak manusia mencampuradukkan 'telunjuk' dengan 'rembulan', mengira bahwa 'telunjuk' (doktrin) adalah 'rembulan' (Kebenaran).

Nah, semua ini disadari di dalam praktik vipassana (yang benar). Di dalam kesadaran vipassana, semua kata-kata, konsep, ajaran (bahkan ajaran "Empat Kebenaran Mulia") dilepaskan sebagai bentuk-bentuk pikiran, sebagai 'yang dikenal' (vinnatam).

Hanya di situlah muncul "apa yang tak terlahirkan (ajatam), tak terbentuk (akatam), tak berproses (abhutam), tak tersusun (asankhatam)."

Agar ITU muncul, maka semua 'yang dikenal' (vinnatam) --termasuk doktrin "Empat Kebenaran Mulia"-- harus runtuh.

Itulah ajaran vipassana yang tertinggi dari Buddha Gotama. (Bacalah: "Pengantar Mulapariyaya-sutta",
http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=111268781639 dan
"Mulapariyaya-sutta", http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=111295576639


THOMAS Q PADANG:

Keserakahan, kebodohan, dan kebencian - semuanya berasal dari ilusi bernama aku (atta). Aku dipadamkan dalam vipassana.

Sila yang dikenal sebagai sila, tidak memadamkan aku, maka ada unsur keserakahan, kebodohan, dan kebencian dalam melaksanakan sila sebagai sila.

Jadi di sini sila tidak pernah bekerjasama dengan vipassana untuk tujuan yang sama. Sila ada untuk tujuannya sendiri, dan vipassana ada untuk "tujuan"nya sendiri. Dengan ber-Sila bisa reinkarnasi ke surga. Tapi kalau mau padam, seseorang akan ber-Vipassana.

Jadi *praktik laku* dalam vipassana tidak sama dengan sila, dimana sila memilah ini laku baik dan buruk sementara laku vipassana adalah laku berkesadaran, atau pada yg sudah padam (nibbana) - tiada pelaku dan laku

baik/buruk, semata hanya gerak laku.

Apakah gempa baik atau buruk? Apakah mengebom baik atau buruk? Hal bisa jadi baik atau buruk, kalau ada si pelaku, tanpa si pelaku yg ada hanya gerak laku yang disebabkan oleh sebab-sebab lainnya kecuali sebab yang datang dari si pelaku (yang sudah tiada/padam). Bagi si pengamat, jelas ada baik atau buruk - sampai si pengamat juga padam. Segalanya semata hanyalah gerak dan laku, tanpa pelaku. Paticca samuppada, anatta.

Laku baik dan buruk yg dilekati sama-sama menghambat vipassana. Ibarat mistar ukur, plus seratus dan minus seratus sama jauhnya ke titik nol. Minus satu lebih dekat dibandingkan plus sejuta. Maka Angulimara bisa mencapai pencerahan jauh lebih cepat dibandingkan Ananda yg bertahun-tahun hidup dg sila bhikku. Kuncinya kelekatan pada baik atau buruk itu.

Dua orang bhikku menyeberang sungai. Bhikku pertama menggendong perempuan seksi menyeberang sungai. Berjam-jam setelah itu, bhikku kedua bertanya dg gusar mengapa bhikku pertama tadi melanggar sila. Bhikku pertama menjawab, saya sudah tinggalkan perempuan itu di seberang sungai berjam-jam yg lalu, kau masih membawanya sampai sekarang. Itulah *Kelekatan*.


XU JERRY:

@Hudoyo: <>

Sudah arahat, memang kemungkinan besar vinayanya utk para bhikkhu yg masih belum mencapai minimal anagami. tapi Bhante Anuruddha sendiri ditegur Sang Buddha koq Pak Hud..

Memang demikianlah fungsi vinaya diturunkan oleh Sang Buddha, sbg sila yg harus dilaksanakan utk menjaga kesempurnaan baik pengetahuan maupun tindak-tanduk, vijjacaranasampanno.

Kalau kita perhatikan terkadang ada bbrp orang yg scr pengetahuan luar biasa, tp tidak demikian dengan tindak-tanduknya, misalnya terkait skandal dsb. Sedangkan ajaran Sang Buddha adalah bagaimana mencapai kebenaran hakiki tp disaat yg sama tetap menjaga sikap yg berimbang terhadap kebenaran konvensional yg ada di masyarakat, nilai2 moral dan etika. Jadi dhamma sbg sarana penuntun menuju kesempurnaan pengetahuan, sementara vinaya sbg sarana penuntun kesempurnaan tindak-tanduk.


HUDOYO HUPUDIO:

@Jerry: <<... tapi Bhante Anuruddha sendiri ditegur Sang Buddha koq Pak Hud.. >>

Peristiwa itu dijadikan 'trigger' (dadakan) oleh Sang Buddha untuk menetapkan sebuah peraturan Vinaya yang melarang seorang bhikkhu berduaan saja dengan seorang wanita.

Arahat Anuruddha ditegur oleh Sang Buddha, tetapi ia tidak melanggar Vinaya, oleh karena ketika peristiwa itu terjadi peraturan yang bersangkutan belum ditetapkan oleh Sang Buddha. Kalau suatu peraturan belum ada, belum ditetapkan, tidak bisa dikatakan ada orang yang melanggarnya.

Sekarang, setelah peraturan vinaya yg bersangkutan ditetapkan ("Tidak boleh berduaan saja dengan seorang perempuan."), seandainya ada seorang arahat, yang sudah tidak punya aku lagi, yang sudah bebas (dan kita tidak tahu apakah orang itu seorang arahat atau bukan), karena suatu alasan yang penting berada berduaan saja dengan seorang perempuan, apakah arahat itu "melanggar vinaya"?

Tergantung dilihat dari sudut mana memandangnya: dilihat dari sudut pandang pihak ketiga (masyarakat luas), yang belum arahat, tentu disebut "melanggar vinaya". Tetapi bagi arahat itu sendiri, pengertian "melanggar vinaya" atau "menaati vinaya" sama sekali tidak relevan lagi.

Sebagai latihan berpikir, ada baiknya merenungkan situasi hipotetis berikut: Seandainya pada suatu hari Sang Buddha menyeberangi sebuah sungai yang deras arusnya, lalu ada seorang perempuan yang ingin menyeberang pula karena sesuatu hal yang mendesak, apakah kira-kira Sang Buddha akan menolak menggendong perempuan itu berdasarkan alasan bahwa itu melanggar Vinaya? :)

***

<>

Pengertian seperti itu hanya relevan bagi bhikkhu yang masih memiliki kesadaran-aku, yang masih belum bebas. Seorang bhikkhu yang bebas (arahat) tidak lagi berpikir untuk menaati Vinaya dan tidak lagi berpikir untuk melanggar Vinaya. Singkatnya, pengetahuan, pengalaman dan peraturan tindak-tanduk (sila, vinaya) tidak lagi relevan bagi seorang yang sudah tidak punya aku lagi, yang sudah bebas. Setiap tindakannya muncul secara spontan, begitu saja, sesuai kebutuhan saat itu, tanpa memikir-mikir apakah itu "melanggar vinaya" atau tidak, sebagaimana diceritakan dalam dongeng berikut ini.

Dongeng terkenal tentang dua orang bhikkhu yang menyeberangi sungai yang deras, di mana bhikkhu yang satu menolong menyeberangkan seorang perempuan dengan menggendongnya, sedangkan bhikkhu yang lain mengecam keras perbuatan bhikkhu pertama sebagai pelanggaran vinaya, mengandung kebenaran-kebenaran psikologis, yang mendasari kebutuhan akan sila bagi seorang yang belum bebas, yang masih punya aku, di satu pihak, dan ketidakmelekatan kepada sila, bagi seorang yang tidak punya aku lagi, di lain pihak.

***

<>

Pengetahuan & pengalaman sebanyak apa pun tidak ada kaitannya sama sekali dengan pembebasan, dengan lenyapnya aku. Jadi kasus ini tidak relevan dengan topik yang kita bicarakan di sini.


<>

Yang penting adalah mengamati aku/ego sampai aku itu padam. Untuk itu setiap usaha si aku untuk MENCAPAI ini-itu akan menghalanginya dari pembebasan. Selama si pemeditasi vipassana berpikir: "AKU harus menaati Sila; AKU harus bermeditasi vipassana; AKU harus memiliki Kebijaksanaan; AKU akan mencapai pembebasan (nibbana), AKU akan menjadi arahat," selama itu pula, akunya tidak akan pernah padam, ia tidak akan pernah bebas, tidak akan pernah mencapai nibbana, dan vipassana-nya macet.


UTPHALA DHAMMA:

Re: NOTE "Sekarang atau Nanti"

Romo, saya mengerti bila seseorang yang telah mencapai Kearahatan atau Kebuddhaan, yang tidak lagi melihat "Aku" di mana-mana, tidak tergoncangkan oleh sukha dan dukkha.

Seperti "YA Angulimala" menerima buah karma buruknya atau "Sang Buddha" yang sewaktu difitnah oleh Cinca mengatakan pada murid-muridnya bahwa itu adalah buah karma buruknya pada kehidupan lampau karena meledek seorang paccekka buddha; buah karma sebenarnya tidak menimpa beliau-beliau, bahkan juga tidak menimpa kita yang awam atau makhluk-makhluk sebagai pribadi. Pembuat kejahatan di masa lampau dalam contoh di atas bukan "diri YA Angulimala" juga bukan "diri Sang Buddha".

Secara teori memang dikatakan bahwa selama ada Avijja sankhara ini akan terus bergerak membuat karma baik maupun buruk. Buah karma tersebut akan terpatri bak kode genetik alami dalam sankhara (yang bukan diri). Bila saatnya berbuah, buah atau vipaka tersebut akan menimpa sankhara dan bentukan-bentukannya yaitu vinnana, rupa, sanna dan vedana. Jadi hukum sebab akibat berlaku semata-mata sebagai proses alam dan sejalan dengan konsep anatta.

Hukum karma bila dilihat dengan cara seperti ini akan sangat masuk akal daripada kita melihatnya dengan mengikutsertakan pandangan tentang "Aku/Atta". Misalnya mengapa peristiwa tragis pada YA Moggalana di akhir hayat beliau dapat terjadi dan sengaja tidak dicegah oleh beliau melalui kekuatan batinnya. Hal ini juga menjelaskan mengapa seseorang baik pria maupun wanita yang alim, saleh, dengan batin cukup bersih, bisa mendapat perlakuan yang sangat tidak wajar atau tragis, dan sebaliknya. Ini semua karena hukum karma berlaku untuk fenomena mental dan jasmani semata, bukan berlaku untuk "si Aku/Atta".

Seperti halnya energi yang diberikan pada bumerang, angin dan konstruksi bumerang itu sendiri lah yang membuat dia akan kembali ke posisi dia dilemparkan, bukan ke orang yang melemparkannya dan bumerang tersebut tak kan peduli bila orang yang melemparnya telah lari bergeser jauh karena takut terkena bumerang tsb.

Itu pemahaman saya, Romo. Mohon tanggapan, koreksi dan masukan-masukannya.

Hormat Saya,
Utphala


HUDOYO HUPUDIO:

Rekan Utphala Dhamma,

<>

Hukum Karma dan Paticca-samuppada jangan dipisahkan dari 'aku/atta', si pembuat perbuatan & si penerima akibat perbuatan. Kedua hukum itu hanya berlaku SELAMA masih ada 'aku/atta'. Begitu 'aku' lenyap untuk selamanya (arahat), kedua hukum itu tidak berlaku lagi.

Kalau Hukum Karma dilihat terlepas dari ada atau tidak-adanya 'aku/atta', maka mudah sekali timbul pengertian-pengertian yang absurd, seperti pernyataan "Arahat Angulimala, Arahat Moggalana, Buddha menerima akibat karma buruknya di masa lampau."

Tokoh-tokoh itu dulu mempunyai kesadaran-aku (atta) masing-masing. Begitu kearahatan tercapai, KESADARAN-AKU mereka LENYAP.

Nah, terlepas dari apa yang terjadi pada 'nama-rupa' mereka kemudian (yang di mata orang awam dikatakan "menerima akibat karmanya"), sebetulnya SIAPAKAH SI AKU yang "menerima akibat karma" itu? Tidak ada!

*****

<>

Maaf, dalam paragraf di atas saya melihat ada empat pernyataan, tiga di antaranya "kacau" akibat tidak diperhatikannya FAKTA ada atau tidak-adanya 'kesadaran-aku' dalam batin tokoh yang dibicarakan:

(A) Tidak benar; Arahat Angulimala maupun Buddha Gotama tidak lagi menerima akibat karma buruk yang diperbuat oleh 'puthujjana Angulimala' atau 'Bodhisattva Siddhartha Gotama' di masa lampau, karena sekarang tidak ada lagi kesadaran-aku Arahat Angulimala maupun Buddha Gotama yang menerima akibat karma buruk di masa lampau itu;

(B) Benar; itulah intisari pemahaman dari thread saya;

(C) Tidak benar; karena kita sebagai puthujjana masih mempunyai 'kesadaran-aku' -- 'Aku' itulah yang membuat karma dan memetik buah karma;

(D) Tidak benar; pembuat kejahatan di masa lampau ADALAH 'diri/aku puthujjana Angulimala', 'diri/aku bodhisattva (yg kelak menjadi Buddha Gotama)'.

Ketika Angulimala maupun Siddhartha Gotama mencapai kearahatan, pada titik itulah lenyap 'kesadaran-aku' mereka. Di mata mereka sendiri TIDAK ADA LAGI 'aku/diri/atta Angulimala', 'aku/diri/atta Siddhartha' dsb, sehingga tidak ada lagi yang membuat karma baru dan tidak ada lagi aku yang menerima akibat karma lama, terlepas dari APA PUN YANG TERJADI SEKARANG pada nama-rupa (badan & batin) yang dulu mereka pahami sebagai "puthujjana Angulimala" atau "puthujjana Siddhartha"-- sekarang karma & buah karma tidak bermakna apa-apa lagi. Kalau ada pengalaman yang menurut tafsiran orang awam dinamakan "akibat karma buruk dari masa lampau", MEREKA tidak memahaminya sebagai 'akibat karma buruk dari masa lampau', karena TIDAK ADA LAGI AKU SEBAGAI PENERIMA 'akibat karma'. Persis sama dengan pengertian bahwa para arahat itu TIDAK LAGI BERBUAT KARMA BARU, karena TIDAK ADA LAGI AKU sebagai pembuat 'karma baru'.

DI DALAM KESADARAN SEORANG ARAHAT TIDAK ADA LAGI MASA LAMPAU DIRINYA, KARENA DIRINYA TIDAK ADA LAGI.

*****

Kira-kira bisa dipahami?

Salam,
Hudoyo


UTPHALA DHAMMA:

Terimakasih banyak atas uraian dan kesediaan waktunya, romo.

Hormat Saya,
Utphala

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar