Sabtu, 26 Desember 2009

MAU SURGA. . .?

Wow . . . siapa she yang ga pingin ke surga? Semuanya pasti dong mau terlahir di surga setelah meninggal. Tapi kadang kita justru kebingungan karena banyak yang mawarin “tiket” ke surga dengan “tarif” (syarat dan ketentuan) yang berbeda-beda. Biar ngak bingung, ayooo gunakan logika-mu dan simak pembahasan singkat berikut ini.

Tentu Anda pernah mendengar kelompok-kelompok tertentu yang mengatakan bahwa ANDA (umat Buddha-red) tidak bisa masuk surga karena tidak mau menerimajuru selamat mereka meski selamanya hidup ini banyak berbuat baik. Sebaliknya mereka mengatakan bahwa seorang yang berbuat jahat, tetapi di akhir hidupnya bertobat dan mau menerima juru selamat mereka maka orang itu dapat terlahir di surga.

Bagi umat kelompok yang menekan kepercayaan saja, maka kalimat di atas sungguh luar biasa karena adanya pengorbanan dari juru selamat mereka sehingga mereka-mereka dapat terangkat ke surga karena dia! Tetapi bagi kita umat Buddha, hal yang di luar logika ini justru menjadi tanda tanya besar karena hal seperti itu tidaklah berdasar. Biar makin jelas, yuk ikuti pembahasan dengan beberapa contoh berikut ini…

Langsung saja kita perhatikan pernyataan yang ada pada paragraf kedua. Yang berbuat baik bila tidak melalui perantara tertentu (baca: tidak menerima juru selamat tertentu) tidak bisa ke surga, sedangkan yang lainnya berbuat jahat, bertobat, melalui perantara, trus bisa ke surga. Kita semua tentu setuju bahwa ada pihak yang dirugikan, dan ada sesuatu yang tidak beres dalam hal ini karena yang berbuat jahat tidak dihukum! Bertobat untuk tidak nengulangi perbuatan salah adalah hal yang baik, tetapi bukan berarti setelah bertobat semua akibat kesalahan hilang begitu saja. Tentu semuanya ada hitung-hitungan yang fair, yang pastinya harus bebas dari KKN.

Sebenarnya inti permasalahannya adalah “harus menerima juru selamat tertentu baru bisa masuk surga”, atau bisa diartikan bahwa surga dimonopoli oleh pihak-pihak tertentu saja. Ini tentu tidak benar karena bila itu benar bagaimana pula dengan nenek moyang kita yang lahir sebelum juru selamat itu lahir? Bagaimana pula dengan penduduk di daerah terpencil yang mendengar nama juru selamat saja tidak pernah? Ya . . tentu sudah dapat dipastikan bahwa pernyataan “harus menerima juru selamat terlebih dahulu untuk bisa ke surga” tersebut tidak dapat diterima, meskipun ada kelompok tertentu yang mengatakan bahwa itulah yang difirmankan dalam kitab yang katanya merupakan firman tuhan.

Mengenai yang satu ini, sungguh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha. Dalam Dhamma dikatakan bahwa siapa saja dapat terlahir di surga, tidak peduli apa warna kulit mereka, apa agama kepercayaan mereka, ataupun apa kebangsaan mereka. Selama orang tersebut berbuat baik (tidak harus menjadi umat Buddha) dan tidak berbuat jahat, maka mereka dapat terlahir di surga. Inilah Ajaran Buddha yang luar biasa, yang diajarkan 2500 tahun yang lalu tapi masih relevan dengan dunia modern hingga saat ini, tampa perlu diubah-suai.

KEKAL. . .?


Ngomong-ngomong tentang surga, banyak ajaran yang mengklaim di surga adalah kekal. Tetapi dalam agama Buddha, surga tidaklah kekal, dan bukan pula tujuan akhir umat Buddha karena tujuan terakhir umat Buddha adalah Pembebasan Mutlak (Nibbana). Sebelumnya, mari kita lihat defenisi kata “kekal” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: “kekal” adalah “tetap, tidak berubah, tidak bergeser, selama-lamaya, abadi, lestari”. Ada ajaran agama yang mengatakan bahwa surga adalah kekal sebagaimana yang difirmankan, tapi sebenarnya bila kita simak apa yang difirmankan dalam kitab mereka, maka terlihat hal yang sebaliknya. Dari keterangan kitab, dikatakan bahwa iblis dulunya adalah penghuni surga yang karena melawan penguasanya (hayoo tebak siapa penguasa surga…), akhirnya makhluk yang selalu dituliskan bersayap itu dibuang ke neraka. Jadilah ia makhluk jelek, si iblis yang selalu disalahkan sebagian orang bila terjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Dari contoh tragis ini, tentu kita tidak dapat mengatakan bahwa kehidupan surga adalah kekal.

Meskipun masa kehidupan di alam surga jauh lebih panjang bila dihitung dengan masa kehidupan di alam manusia, tetap saja kehidupan di surga bisa berakhir karena sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya, kehidupan di alam surga tidaklah kekal abadi. Dengan demikian tentu sudah bisa kita tebak kalo penghuni surga yang kita sebut sebagai dewa-dewi juga bisa silih-berganti. Karena itulah orang-orang bijak tidak meminta-minta berkah pada dewa/dewi karena bisa-bisa dewa/dewi yang dimintai berkah sudah tidak ada di alam surga, tetapi sebaliknya orang-orang bijak akan menjadikan keberadaan para dewa/dewi tersebut sebagai panutan sehingga mereka terdorong untuk selalu berbuat baik sebagaimana yang pernah dilakukan oleh para dewa/dewi tersebut. Haruslah kita ingat bahwa apapun yang kita inginkan semuanya tergantung pada diri kita sendiri, hanya diri kita sendiri yang bisa dan mampu menolong diri kita sendiri, bukan orang lain meskipun mereka ingin melakukanya dengan mengorbankan diri sendiri karena itulah hukum alam.


SATU ATAU BANYAK SURGA…?

Bagi banyak agama, surga hanya satu. Tetapi dalam Ajaran Buddha, terdapat 26 tingkatan alam surga Lo… bingung ya kok surga bisa banyak gitu? Ya alasannya gampang saja, karena kebaikan setiap orang berbeda-beda, ada yang banyak dan ada yang sedikit. Kalo yang dari kecil sudah banyak berbuat baik trus mati masuk surga yang sama dengan orang yang beberapa tahun terakhir dalam hidupannya baru bertobat dan mulai berbuat baik, apakah adil? Sebagai contoh, surga diumpamakan sebagai kamar hotel, sedangkan perbuatan baik yang diperbuat bagaikan uang yang terkumpul. Nah. . . , bagi mereka yang logis. . . sapa si yang masa mau bayar 300 juta untuk dapat tinggal kamar hotel yang sama dengan yang bayar 300 ribu? Jadi buat apa dong kita banyak berbuat baik? Itulah sebabnya mengapa dalam Ajaran Buddha terdapat banyak surga. Seseorang terlahir di surga yang mana tergantung pada berapa banyak kebajikan yang telah ia lakukan. Pembagiannya sangat adil dan ngak neko-neko!

Oh ya, dalam agama Buddha juga tidak dikenal jalan instan seperti kita kenal adanya mie instan, hehehe. Artinya . . ? Ya dalam agama Buddha tidak dikenal adanya upacara/ritual yang bisa membuat seseorang terlahir di surga. Hal ini disampaikan untuk diwaspadai karena adanya kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama Buddha yang berasal dari Negara tertentu mengajak umat Buddha yang kurang memahami Dhamma untuk bergabung dengan mengatakan bahwa setelah mereka bergabung, melalui kegiatan ritual pertobatan (dengan membakar nama mereka-red) maka mereka memiliki tempat di surga. Untuk ke surga juga tidak perlu menggunakan password 5 huruf sebagaimana yang dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan tertentu pula. Itu bukanlah Dhamma, bukan ajaran agama Buddha. Seseorang terlahir ke surga atau tidak, semuanya tergantung pada perbuatan yang kita lakukan, bukan dengan menerima juru selamat tertentu, bukan dengan password atau dengan cara-cara instan lainnya.

Nah . . . udah jelas dong gimana kalo kamu-kamu pingin lahir di surga. Jangan termakan rayuan yang tidak mendasar dan tidak logis dari penyebar ajaran tertentu. Yang penting, dengan banyak berbuat baik dan tidak berbuat berbuat jahat pasti bisa ke surga. Perumpamaan Batu dan Minyak, apakah dengan menerima juru selamat tertentu, dapat membuat batu yang tenggelam dalam air terapung? Apakah bila tidak menerima juru selamat tertentu bisa membuat minyak yang terapung dia atas air tenggelam ke dasarnya? Bila jawabannya adalah tidak, berarti pikiran kamu masih berfungsi dengan baik. (rf)

Artikel ini di ambil dari majalah B+Magz edisi 6

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar