Sabtu, 26 Desember 2009

PUNNAKIRIYAVATTHU 10 (10 Jalan untuk berbuat kebaikan)

PUNNAKIRIYAVATTHU 10 (10 Jalan untuk berbuat kebaikan) yaitu:

1. Danamaya: Berbuat kebaikan dengan jalan berdana.
2. Silamaya: Berbuat kebaikan dengan jalan melaksanakan sila.
3. Bhavanamaya: Berbuat Kebaikan dengan jalan melaksanakan meditasi
4. Apacayanamaya: Berbuat kebaikan dengan jalan merendahkan diri.
5. Veyyavacamaya: Berbuat kebaikan dengan jalan membalas membantu.
6. Pattidanamaya: Berbuat kebaikan dengan jalan membagikan sesuatu kepada orang lain.
7. Pattanumodanamaya: Berbuat kebaikan dengan jalan merasa gembira melihat kebaikan orang lain.
8. Dhammassavanamaya: Berbuat kebaikan dengan jalan mendengarkan dan belajar Dhamma.
9. Dhammadesanamaya: Berbuat kebaikan dengan jalan mengajarkan Dhamma.
10. Ditthujukamma: Berbuat kebaikan dengan jalan mempunyai pandangan benar

Keterangan:
Untuk memperoleh keseimbangan dan keharmonisan hidup, umat Buddha tidaklah cukup hanya membaca buku Dhamma, begitu pula dengan hanya memiliki suatu pengetahuan teoritis Buddha Dhamma. Juga sebaliknya, tidaklah cukup secara membuta mengikuti tradisi Buddhisme tanpa suatu pengetahuan akan makna yang sesungguhnya. Sang Buddha selalu menganjurkan umat awam (tak hanya Bhikkhu) utnuk mempraktekkan Dhamma. Bagi umat awam, hal ini kadang-kadang terdengar begitu sulit. Setelah mendengar kata ‘mempraktekkan (patipatti)’, mungkin mereka berpikir. “Oh, saya harus menjadi Bhikkhu dan tinggal di hutan.” Namun sesungguhnya, praktek Dhamma tidak hanya untuk Bhikkhu ataupun hanya untuk penghuni hutan (forest-dwellers)!

Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat banyak cara untuk mempraktekkan Dhamma. Berdana (danamaya) adalah praktek Dhamma. Melaksanakan sila dengan sempurna (silamaya) adalah praktek Dhamma. Pengembangan batin atau meditasi (bhavanamaya) adalah praktek Dhamma. Menghormat dan merendah hati (apacayanamaya) adalah praktek Dhamma. Membantu dan melayani orang lain (veyyavacamaya) adalah praktek Dhamma. Memberikan jasa kepada orang/makhluk lain (patidanamaya) adalah praktek Dhamma. Berbahagia melihat orang lain berbuat baik (pattanumodanamaya) adalah praktek Dhamma. Mendengarkan dan belajar Dhamma (dhammasavanamaya) adalah praktek Dhamma. Mengajarkan Dhamma (dhammadesanamaya) adalah praktek Dhamma. Meluruskan pandangan agar berpandangan benar (Ditthujukamma) adalah praktek Dhamma. Sepuluh cara untuk berbuat baik ini merupakan tuntunan bagi umat awam di dalam mempraktekkan Dhamma.

Di dalam sutta tentang penimbunan harta sejati (Nidhikhanda Sutta, Khuddakapatha 8, Khuddaka-nikaya) tersirat bahwa timbunan harta kebajikan bukanlah seperti timbunan harta karun duniawi yang begitu mudah hilang atau mudah dihancurkan. Timbunan harta kebajikan, merupakan pengikut setia. Kebajikan akan mengikuti pembuatnya dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya dan manfaatnya tak akan pernah hilang. Walaupun…akhirnya mungkin kehabisan tenaga kalau tidak ada perbuatan baik selanjutnya yang dilakukan.

‘Harta karun’ biasanya tertimbun oleh motif keegoisan. Nah, motif apa yang menyebabkan perbuatan baik dilakukan? Motif, bervariasi, sepenuhnya tergantung kepada si pembuatnya! Lalu, apakah seseorang harus menunggu untuk memetik buah dari kebajikkannya itu di masa depan ataukah dalam satu kehidupan mendatang? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan mengatakan bahwa inti buah dari kebajikan adalah Kebahagiaan, dapat dialami di sini dan sekarang; sementara itu buah-buah lainnya mungkin dipetik dimasa mendatang.

Secara alamiah, kebahagiaan akan mengikuti seseorang yang membuat batinnya suci dan bergembira dalam melakukan segala sesuatu yang baik! Apabila umat Buddha adalah orang-orang yang berbahagia, dan kebahagiaannya itu berada diluar kesenangan yang fana dan lemah, maka hal ini dikarenakan, di antara mereka yang mempraktekkan, mereka mengetahui, bahwa cara menuju kebahagiaan adalah sesegera dan sekontinyu mungkin melakukan perbuatan-perbuatan bajik…!

Khuddaka nikaya, Khuddakaya-patha 8, Nidhikkhanda Sutta:

“…Bagi seorang wanita dan pria, berdana dan bermoral baik, dapat menahan nafsu dan berpengendalian diri, merupakan timbunan harta terbaik. Harta itu dapat diperoleh dengan berdana kepada cetiya, sangha, orang lain atau tamu, kepada ayah dan ibu atau kepada orang yang lebih tua. Inilah harta yang disimpan sempurna, tak mungkin hilang, walaupun satu saat akan meninggal, ia tetap akan membawanya…. Setiap kejayaan manusia, kebahagiaan surga, bahkan kebahagiaan Nibbana, semuanya diperoleh dari kebajikkannya itu…Oleh karena itu, orang bijaksana selalu bertekad untuk menimbun harta kebajikan itu.”

(Dighanikaya Atthakatha III.999. Compendium of Philosophy 146)

Sumber: Buku Kamus Umum Buddha Dhamma (Pandit J.Kaharuddin/Panjika)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar