Sabtu, 26 Desember 2009

Cerita Dua Bata Jelek

New Year...New Beginning..A Brighter Future?? How??
New Year Again!!! Kebanyakan orang make a wish..byk juga yg wish seperti ini

New year..New Hope..New Beginning..

Semua orang mengharapkan sesatu yg lebih baik, sesuatu yg berjalan sesuai dengan keingian, berharap ada perubahan ke arah yg lebih baik di tahun yg baru ini. Pada kenyatannya, semua kondisi yg diharapkan utk berubah hanyalah menggantungkan kebahagiaan diri sendiri pada perubahan kondisi dari luar, dengan berharap perubahan dari lingkungan, dari orang2 di sekitar kita utk berubah ke arah yg diharapkan..Tanpa memulai perubahan dari diri sendiri, segala sesuatu yg berada di luar diri sendiri tidak akan barubah!!

Tetapi permasalahnya sekarang, bagaimana mengubah diri sendiri ke arah yg lebih baik.. tentunya solusi yg paling mendasar hanya dengan mengubah cara berpikir, menanamkan cara berpikir, pola pikir yg benar dalam benak masing2.. Hanya dengan cara demikian akan membawa kita ke arah yg lebih baik, dengan pola berpikir yg benar, kita mampu melihat masalah pada tempatnya, menyelesaikan permsalahan dengan keputusan yg benar dan bukan berdasarkan emosi sesaat..

Lalu bagaimana caranya mengkategorikan pola pikir yg benar, pola pikir yg bijaksana?? tentunya kita tidak diizinkan utk mengkategorikan berdasarkan standar yg ditetapkan diri kita masing2 tetapi berdasarkan standar pola berpikir orang bijaksana..

Berikut kutipan terjemahan "Membuka Pintu Hati" (english version: "Opening the Door of Your Heart"). By Ajahn Bram

Semoga dengan cerita ini (walaupun aga panjang sedikit hehe) dapat mengubah pola berpikir kita dan membawa kebahagian bagi kita semua..



Dua Bata Jelek

Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami pada tahun 1983, kami jatuh bangkrut. Kami tejerat hutang. Tidak ada bangunan di atas tanah itu, pun tidak sebuah gubuk. Pada minggu2 pertama kami tidur di atas pintu2 tua yang kami beli murah dari pasar loak. Kiami mengganjalnya dengan batu bata pada setiap sudutnya untuk meninggikannya dari tanah (tak ada matras – tentu saja, kami kan bhikkhu hutan).

Bhikkhu kepala mendapatkan pintu yang paling bagus, pintu yang datar. Pintu saya bergelombang dengan lubang yg cukup besar di tengahnya, di mana dulunya tempat pegangan pintu. Saya senang karena gagang pintu itu telah dicopot, tetapi lantas jadinya ada lubang persis di tengah2 ranjang pintu saya. Saya melucu dengan mengatakan bahwa sekarang saya tak perlu bangkit dari ranjang jika ingin pergi ke toilet! Kenyatannya, bagaimanapun juga, angin masuk melalui lubang itu. Saya jadi tak bisa tidur nyenyak selama malam2 itu.




Kami hanyalah bhikku2 miskin yg memerlukan sebuah bangunan. Kami tak mampu membayar tukang – bahan2 bangunannya saja sudah cukup mahal. Jadi saya harus belajar cara bertukang: bagaimana mempersiapkan pondasi, menyemen dan memasang batu batu, mendirikan atap, memasang pipa2 – pokoknya semua. Saya adalah seorang fisikawan teoritis dan guru SMU sebelum menjadi bhikkhu, tidak terbiasa bekerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya menjadi cukup terampil bertukang, bahkan saya menjuluki tim saya sebagai BBC (Bhuddhist Building Company). Akan tetapi, pada saat memulainya, hal itu sangatlah sulit.

Kelihatannya gampang membuat tembok dengan batu bata: tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana , sedikit ketok sini. Ketika saya mulai memasang batu bata, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, sisi lainnya menjadi naik. Lalu saya ratakan sisi itu, batu batanya jadi melenceng. Setelah saya ratakan kembali, sisi yang pertama jadi terangkat. Coba saya sendiri!

Sebagai seorang bhikkhu, saya memiliki kesabaran dan waktu sebanyak yg saya perlukan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tak peduli berapa lama jadinya. Akhirnya saya menyelesaikan tembok batu bata saya yang pertama dan berdiri di baliknya untuk mengagumi hasil karya saya. Saat itulah saya memperhatikannya – oh, tidak! – saya telah keliru menyusun dua batu bata. Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua batu bata tersebut tampak miring. Mereka terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Mereka meruntuhkannya.

Saat itu, semennya sudah terlanjur terlalu keras untuk mencabut dua batu bata itu, jadi saya bertanya kepada kepala vihara apakah saya boleh membongkar tembok itu dan membangun kembali tembok yang baru, atau kalau perlu, meledakkannya sekalian. Saya telah membuat kesalahan dan saya menjadi gundah gulana. Kepala vihara bilang tak perlu, biarkan saya temboknya seperti itu.

Ketika saya membawa para tamu pertama berkunjung keliling vihara setengah jadi kami, saya selalu menghindari membawa mereka melewati tembok bata yang saya buat. Saya tak suka jika ada orang yg melihatnya. Lalu suatu hari, kira-kira 3-4 bulan setelah saya membangun tembok itu, saya berjalan dengan seorang pengunjung dan dia melihatnya.

“ Itu sebuah tembok yg indah,” ia berkomentar dengan santainya.

“Pak,” saya menjawab dengan terkejut, “ apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Apakah penglihatan Anda sedang terganggu? Tidakkah Anda melihat dua batu bata jelek yg merusak keseluruhan tembok itu?”

Ucapan dia selanjutnya telah mengubah keseluruhan pandangan saya terhadap tembok itu, berkaitan dengan diri saya sendiri dan banyak aspek lainnya dalam kehidupan. Dia berkata “Ya, saya dapat melihat dua bata jelek itu, tetapi saya juga dapat melihat 998 batu bata yg bagus.”

Saya tertegun. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 3 bulan, saya mampu melihat batu bata- batu bata lainnya selain dua bata jelek itu. Di atas, di bawah, sebelah kiri, dan sebelah kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu bata-batu bata yg bagus, batu bata yg sempurna. Lebih dari itu, jumlah bata yg terpasang sempurna, jauh lebih banyak daripada dua batu bata jelek itu. Sebelumnya mata saya hanya terpusat pada dua kesalahan yg telah saya perbuat: saya terbutakan akan hal-hal lainnya. Itulah sebabnya saya tak tahan melihat tembok itu, atau tak rela membiarkan orang lain melihatnya juga. Itulah sebabnya saya ingin menghancurkannya. Sekarang saya dapat melihat batu bata-batu bata yg bagus, tembok itu jadi tampak tak terlalu buruk lagi. Itu menjadi, seperti yg dikatakan pengunjung itu, “Sebuah tembok yg indah.” Tembok itu masih tetap berdiri sampai sekarang, setelah 20 tahun, tetapi saya sudah lupa persisnya di mana dua bata jelek itu berada. Saya benar2 tak dapat melihat kesalahan itu lagi.

Berapa banyak orang yg memutuskan hubungan atau bercerai karena semua yg mereka lihat dari diri pasangannya adalah “dua bata jelek”? Berapa banyak di antara kita yg menjadi depresi atau bahkan ingin bunuh diri, karena semua yg kita lihat dalam diri kita hanyalah “dua bata jelek”? Pada kenyataannya, ada banyak, jauh lebih banyak batu bata yg bagus – di atas, di bawah, ke kiri, dan ke kanan dari yg jelek- tetapi pada saat itu kita tak dapat melihatnya. Malahan, setiap kali kita melihat, mata kita hanya terfokus pada kekeliruan yg kita perbuat. Semua yg kita lihat adalah kesalahan, dan kita mengira hanya ada kekeliruan semata, karenanya kita ingin menghancurkannya. Dan terkadang, sayangnya, kita benar2 menghancurkan sebuah “tembok yg indah”.


Kita semua memiliki “dua bata jelek”, tetapi bata yang baik di dalam diri kita masing2, jauh lebih banyak daripada yg jelek. Begitu kita melihatnya, semua akan tampak tak begitu buruk lagi. Bukan hanya kita dapat berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan2 kita, tetapi kita juga dapat menikmati hidup bersama rekan kita. Ini kabar buruk bagi pengacara urusan percerain, tetapi kabar baik bagi Anda.

Saya telah beberapa kali menceritakan anekdot ini. Pada suatu pertemuan, seorang tukang bangunan mendatangi dan memberitahukan saya tentang rahasia profesinya.

“Kami para tukang bangunan selalu membuat kesalahan,” katanya, “tetapi kami bilang ke pelanggan kami bahwa itu adalah “ciri unik” yg tiada duanya di rumah2 tetangga. Lalu kami menagih biaya tambahan ribuan dollar!”

Jadi, “ciri unik” di rumah Anda bisa jadi awalnya adalah suatu kesalahan. Dengan cara yg sama, apa yg Anda kira sebagai kesalahan pada diri Anda, rekan Anda, atau hidup pada umumnya, dapat menjadi sebuah “ciri unik” , yg memperkaya hidup Anda di dunia ini, begitu Anda tidak lage terfokus padanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar