Sabtu, 26 Desember 2009

Karma Bukanlah Fatalisme

OH… KAMMA….., FATALISME ALA BUDDHIST….?
Oleh Selamat Rodjali

Pendahuluan

Para pembaca yang baik,
Apabila terdapat nama yang ternyata penulisannya sama dengan penulisan nama para
pembaca, penulis memohon maaf. Semua nama yang dipakai di dalam artikel ini
ilustrasi semata, bukanlah nama yang sesungguhnya.

Mitra, berjalan limbung ke luar kantornya setelah mendapatkan keputusan bahwa
dia diputus hubungan kerja (di-PHK) oleh perusahaannya. Tak lama berselang
diberitakan bahwa dia saat ini terbaring di rumah sakit karena ditabrak mobil di
depan kantornya. "Oh… sungguh kasihan Mitra, setelah jungkir balik cari kerjaan
dan diterima, eh…. di-PHK pula…", gumam Wati. Mengapa orang se-sabar Mitra
terkena musibah serumit ini, demikian Wati bertanya kepada Adhitthana. "Itu
karena Mitra kurang berbuat baik", jawab Adhitthana. "Kemarin si Mahawan
meninggal dunia, setelah sakit-sakitan delapan tahun… Kalau sudah kamma, mau
diapa-in lagi…", demikian sambungnya. "Itulah Kamma, ajaran Sang Buddha",
sambut Vajra, "Maka-nya…. Pahami dengan baik ajaran Kamma ini supaya kita dapat
menjawab setiap fenomena", sambung Vajra dengan bangga. "Lihatlah si Saddha…
sejak lahir hingga umur 17 tahun ini masih tidak bisa mandiri, mati tidak
hidup-pun kasihan…yaaah… inilah permainan kamma", tambahnya.
"Sakit-sakitan….. karena dulu melakukan Kamma buruk….; susah mencari pekerjaan….
karena kurang melakukan kamma baik… Inilah kamma…. "Apakah kamu tidak ingat yang
sering kamu bacakan…. Kamma yoni (lahir dari kammamu), kamma bandhu
(berhubungan dengan kammamu), …., Yam kammam karissami Kalyanam va papakam va
tassa dayado bhavissami (apapun kamma yang diperbuat, baik atau buruk, itulah
yang akan diwarisi)… "

"Tidak demikian Adhitthana, tidak demikian Vajra…. Kamma tidaklah demikian
fatal…. Saya yakin tidak seperti demikian…, janganlah kamu berbicara demikian di
hadapan Mitra maupun Saddha serta keluarga Mahawan….. Mereka nanti bisa
tersinggung dan keluar dari agama Buddha", Chandra nimbrung dengan semangatnya.

"Chandra… kamu ini tahu apa tentang ajaran Kamma… Saya tahu modal kamu… bahkan
ketika kamu baru lahir, saya sudah paham betul ajaran Kamma ini", jawab Vajra
dan Adhitthana serentak.

Demikian saudara pembaca…. Banyak sekali contoh kalimat, konsep, pernyataan umat
Buddha yang mengaku "pakar" ajaran Buddha, khususnya ajaran Kamma, mengobral
kebanggaan "ajaran Kamma" yang dipahaminya dan berupaya menenangkan dan
meyakinkan umat yang bingung atau sedang goncang batinnya, sehingga tak kurang
kebanyakan umat Buddha pun menjadi bertanya-tanya… Kamma ini fatal sekali… , tak
ada bedanya dengan ajaran "ber-Tuhan" yang lain… . Bukan itu saja… banyak juga
umat yang akhirnya lebih memilih keluar dari agama Buddha setelah mendengar
ajaran fatalisme ala Buddhist di atas…

Sebaliknya, penulis pun pernah menjumpai kasus "goyahnya" keyakina seorang
pandita Buddhist dalam kasus berikut:
Sebagian besar umat Buddha, tentu ingat peristiwa beberapa tahun lampau di mana
satu kendaraan penuh berisi para Bhikkhu, Samanera dan seorang umat pendana
mengalami musibah sehingga satu kendaraan itu meninggal dunia semua….
Kejadiannya di jalan Raya Ancol… Seorang `Pandita Buddhist' menyatakan bahwa
ternyata kamma baik belum tentu menghasilkan buah (vipaka kamma) yang baik,
sebab kalau baik berbuah baik maka tak mungkin pendana dan bhikkhu yang
sama-sama baru saja berbuat baik tersebut meninggal dunia kecelakaan…

Jadi, saudara…. Bagaimanakah kita memahami fenomena di atas? Marilah kita mulai
menelusurinya dari dasar-dasar kamma di bawah ini hingga ke akhir artikel ini.

Apakah kamma? Apakah merupakan Fatalisme ala Buddhist?
Kamma sebagai kehendak…
Berbicara etimologi, kamma mengandung arti `pekerjaan' atau `perbuatan'. Namun
di dalam konteks Dhamma kita mendefinisikan kamma lebih spesifik sebagai
`perbuatan yang didasari kehendak (cetana)' atau `perbuatan-perbuatan yang
dilakukan dengan kehendak'. Di dalam ajaran Buddha, perbuatan-perbuatan yang
tidak dilandasi kehendak tidak dipandang sebagai kamma.

Namun demikian, definisin ini, adalah definisi yang umum. Apabila kita
mengharapkan untuk mengklarifikasinya, dan melihatnya di dalam rentang makna
yang menyeluruh, kita harus menganalisanya lebih mendalam, membaginya ke dalam
perspektif yang berbeda

Secara dasariah, kamma adalah kehendak, yang mencakup kehendak, keinginan,
pemilihan dan keputusan, atau energi yang mendorong ke arah perbuatan. Kehendak
adalah sesuatu yang mendorong dan mengarahkan semua perbuatan mahluk hidup.
Kamma adalah agen atau kekuatan pendorong di dalam semua pembentukan dan
penghancuran yang dilakukan mahluk hidup, oleh karena itu, kehendak merupakan
dasar / inti aktual dari kamma, seperti diberikan di dalam kata-kata Buddha:
Cetanaham bhikkhave kammam vadami: Para bhikkhu, saya katakan, kehendak adalah
kamma. Setelah berkehendak, kita membentuk kamma melalui jasmani, ucapan dan
pikiran.

Pada titik ini, kita seyogyanya memperluas pengertian atas kata `kehendak'
(cetana) ini. `Kehendak' di dalam konteks Dhamma memiliki pengertian yang lebih
halus daripada pengertian di dalam penggunaan umum. Di dalam bahasa Indonesia,
lebih cenderung digunakan kata `kehendak' apabila kita ingin menyediakan suatu
hubungan antara pikiran internal dengan hasil perbuatan eksternal. Sebagai
contoh, kita cenderung untuk mengatakan,'Saya tidak berniat untuk melakukannya',
`Saya tidak berarti mengatakan itu' atau `ia melakukannya tanpa kehendak'.
Namun menurut ajaran Dhamma, semua perbuatan dan perkataan, semua pikiran tidak
masalah bagaimana bergulir, dan tanggapan pikiran terhadap berbagai objek yang
diterima melalui indera penglihatan, indera pendengaran, indera penciuman,
indera pengecapan dan indera sentuhan, dan perenungan di dalam batin itu
sendiri, tanpa kecuali, mengandung unsur kehendak. Kehendak, dengan demikian
adalah dorongan atau pemilihan secara sadar atas objek kesadaran melalui batin.
Kehendak merupakan faktor yang mendorong batin untuk mengarah ke, atau menolak
dari, berbagai objek kesadaran atau perhatian batin, atau untuk melanjutkan
dalam arah tertentu. Kehendak merupakan pembimbing, manajer atau pemerintah
dari bagaimana batin menanggapi stimuli / rangsangan. Kehendak merupakan
kekuatan yang merencanakan dan mengorganisasikan proses pergerakan batin, dan
secara mutlak kehendaklah yang menentukan berbagai kondisi yang dialami oleh
batin.

Satu contoh kehendak adalah satu contoh kamma. Apabila ada kamma, maka ada
hasil yang segera. Bahkan hanya satu saat pikiran kecil, walaupun tidak
penting, tidaklah terlepas dari konsekuensinya.

Punabbhava (bumimbal lahir) merupakan konsekuensi logis dari proses kamma.

Kamma dan tumimbal lahir saling terkait, dan merupakan ajaran pokok dalam Buddha
Dhamma. Sebelum kehadiran Buddha Gotama, kepercayaan tentang kamma dan tumimbal
lahir sudah umum dikenal di India. Namun demikian, hanya Sang Buddha yang telah
menerangkan dan memformulasikan kedua doktrin tersebut secara lengkap seperti
yang kita miliki sekarang.

Apakah penyebab ketidaksamaan yang ada di antara umat manusia?

Bagaimanakah kita bertanggung jawab atas ketidaksamaan di dalam dunia yang tidak
seimbang ini?

Mengapa seseorang harus dibesarkan di dalam kemewahan yang tak terhingga dengan
sikap batin, moral dan kualitas fisik yang baik, sedangkan orang lainnya
dilahirkan sebagai jutawan dan yang lainnya sebagai fakir miskin? Mengapa
seseorang harus memiliki keajaiban mental sedangkan yang lainnya idiot?
Mengapa seseorang dilahirkan dengan sikap `kesucian' sedangkan yang lainnya
memiliki kecenderungan kriminal? Mengapa seseorang harus memiliki kemampuan
berbagai bahasa, sebagai artis, ahli matematika, dan sebagai musisi sejak kecil
(balita)? Mengapa beberapa orang harus buta, tuli dan cacat sejak dilahirkan?
Mengapa beberapa orang dipuja sedangkan orang lainnya dikutuk/dicampakan sejak
kelahirannya?

Secara pasti, terdapat satu sebab ATAU sebab-sebab yang mengakibatkan
ketidaksamaan di antara umat manusia, ataukah murni merupakan kecelakaan semata?

Tak seorang pun yang memiliki kebijaksanaan akan berpikir bahwa ketidaksamaan,
keragaman ini disebabkan oleh peluang membuta/untung-untungan (seperti teori
peluang statistic) atau murni karena kecelakaan semata.

Di dunia ini tidak satupun yang terjadi bahwa manusia tidak berhak hanya karena
beberapa alasan atau lainnya yang tak masuk akal. Biasanya alasan atau
alasan-alasan yang sesungguhnya, tidak dapat dimengerti oleh akal manusia atau
intelektual biasa. Sebab tak terlihat yang pasti atau sebab-sebab dari akibat
yang terlihat tidaklah perlu dibatasi hanya oleh kehidupan sekarang, namun dapat
ditelusuri ke kelahiran sebelumnya atau kelahiran-kelahiran jauh sebelum
kehidupan saat ini.

Dengan bantuan pengetahuan telesthesia dan retro- cognitive, tidak mungkinkah
bagi seseorang yang dengan baik mengembangkan `penglihatannya' untuk mencerap
kejadian-kejadian yang secara biasa tidak dapat dicerap dengan fisik mata? Umat
Buddha mengakui kemungkinan pencerapan tersebut !

Beberapa kaum religius dengan puasnya mempertalikan ketidaksamaan ini kepada
satu sebab tunggal seperti `Dewa/Tuhan Pencipta' yang tidak dapat dimengerti.
Buddha secara langsung menolak keberadaan satu mahluk pencipta, yang
diinterpretasikan sebagai `Mahluk Yang Maha Kuasa' atau sebagai satu `kekuatan
kosmik yang tanpa sebab.'

Istilah bahasa Pali yang setara bagi `Dewa/Tuhan Pencipta' seperti di dalam
kepercayaan lain adalah Issara (Isvara dalam bahasa Sansekerta) atau Brahma. Di
dalam Tipitaka secara mutlak tidak ada referensi tekstual apapun akan keberadaan
satu mahluk pencipta atau hubungannya dengan kisah penciptaan manusia.

Meskipun kenyataannya bahwa Buddha tidak mendudukkan `Dewa/Tuhan' gaib mengatasi
manusia, beberapa pakar memaksakan bahwa Buddha bersikap diam terhadap
pertanyaan kontroversial yang penting ini. Pertanyaan-pertanyaan berikut ini
akan jelas menunjukkan pandangan Buddha terhadap konsep satu `Dewa/Tuhan
Pencipta.'

Di dalam Anguttara Nikaya, Buddha menyatakan ada 3 pandangan yang berbeda yang
terdapat pada jaman Beliau. Satu dari ketiga pandangan tersebut adalah :

"Perasaan senang, tidak menyenangkan atau perasaan netral apapun yang dialami
orang-orang ini, semuanya disebabkan oleh kreasi/ciptaan satu Dewa Agung
(Issara-nimmanahetu)." (Anguttara Nikaya I, 174; Gradual Sayings I, 158).
Menurut pernyataan ini kita adalah apa yang diinginkan oleh satu `Pencipta.'
Masa depan kita tergantung sepenuhnya di dalam tangannya. Nasib kita telah
ditentukan olehnya. Keinginan bebas yang diakui sebagai ciptaannya tak pelak
lagi merupakan kekeliruan.

Meng-kritik pandangan yang fatal ini, Buddha mengatakan:
"Demikian, kemudian, karena ciptaan dari satu Dewa Agung, orang-orang akan
menjadi pembunuh, pencuri, pezinah, pembohong, pemfitnah, pembicara kasar,
pembicara omong kosong, penuh nafsu serakah, berkeinginan jahat dan memiliki
pandangan salah. Demikianlah bagi mereka yang bersandar pada ciptaan satu
Dewa/Tuhan sebagai alasan utamanya, maka tidak akan ada keinginan untuk
melakukan sesuatu, juga tidak ada usaha untuk melakukan, ataupun tidak perlu
untuk melakukan perbuatan ini atau mengendalikan diri dari perbuatan itu."
(Anguttara Nikaya I, 174; Gradual Sayings I, 158).

Di dalam Devadaha Sutta (Majjhima Nikaya No. 101, ii. 222), berkenaan dengan
pertapa telanjang, Buddha menyatakan:
"Apabila, O para bhikkhu, mahluk-mahluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan
sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Dewa/Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para
pertapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Dewa/Tuhan yang
jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang
sangat mengerikan."

Di dalam ajaran Buddha, perbedaan kondisi batin, moral, intelektual, temperamen
merupakan kombinasi dari perbuatan dan tendensi kita di masa lalu maupun kini.

Walaupun Sang Buddha mengatributkan variasi atau keragaman ini karena Kamma,
sebagai sebab terdekat dan utama di antara sebuah keragaman, namun bukanlah
berarti bahwa segala sesuatu disebabkan oleh kamma. Ajaran Kamma, penting
seperti adanya, hanya merupakan satu dari 24 (dua puluh empat) kondisi
(paccaya), yang dideskripsikan di dalam ajaran Buddha.

Sebuah teks penting yang menceritakan Sang Buddha meng-`counter' sebuah
pandangan keliru bahwa "segala sesuatu yang menyenangkan, tak menyenangkan
ataupun netral yang dialami disebabkan oleh beberapa perbuatan lampau
(pubbekatahetu), Sang Buddha menyatakan:

"Demikian, karena perbuatan lampau manusia menjadi pembunuh, pencuri, pe-zinah,
pembohong..... berpandangan salah. Demikianlah bagi mereka yang bersandar pada
kamma perbuatan lampau sebagai sebab utama, maka tidak akan ada keinginan untuk
melakukan sesuatu, juga tidak ada usaha untuk melakukan, ataupun tidak perlu
untuk melakukan perbuatan ini atau mengendalikan diri dari perbuatan itu."
(Anguttara Nikaya, I, 173).

Uraian tersebut bertentangan dengan kepercayaan bahwa semua kondisi fisik maupun
kecenderungan batin lahir diakibatkan kamma. Apabila kehidupan kini secara total
dikondisikan atau sepenuhnya dikontrol oleh kamma lampau, maka kamma tertentu
cenderung mengarah ke fatalisme atau determinisme atau predestinasi. Seseorang
tidak akan pernah memiliki kebebasan untuk menentukan kehidupannya kini dan akan
datang. Artinya kebebasan berkehendak merupakan isapan jempol belaka. Kehidupan
seolah bersifat murni mekanis, tak ubahnya sebuah mesin. Tak ada bedanya dengan
dikontrol atau dikendalikan oleh "Dewa/Tuhan Pencipta". Perbedaannya hanya
perbedaan kata, yaitu kata "Dewa/Tuhan Pencipta" dengan kata "kamma" Susunan
kata yang satu dapat disubstitusikan dengan kata yang lain, karena kekuatannya
sama.

DOKTRIN KAMMA YANG DIAJARKAN OLEH BUDDHA BUKANLAH SEBUAH DOKTRIN FATALISTIK.

Kamma sebagai satu keselarasan / `hukum' alamiah

Buddha mengajarkan bahwa segala sesuatu yang berkondisi, baik materi maupun
bukan materi, sepenuhnya merupakan subjek dari sebab-sebab, dan saling
tergantung. Keselarasan alami segala sesuatu ini di dalam istilah umum disebut
`hukum alamiah', dan di dalam bahasa Pali `niyama', secara harfiah berarti
`kepastian' atau `cara yang tetap', mengacu pada kenyataan bahwa faktor-faktor
tertentu yang spesifik akan membawa kepada hasil yang bersesuaian.

Hukum-hukum alamiah ini, walaupun secara seragam didasarkan pada prinsip
sebab-musabab yang saling tergantung, namun demikian dapat dipilah ke dalam
model hubungan yang berbeda. Komentar Buddha Dhamma menggambarkan lima kategori
dari hukum alamiah, atau Niyama. Mereka adalah:

1. Utuniyama: proses alamiah yang berkenaan fenomena fisik, khususnya
perubahan-perubahan di dalam lingkungan alamiah, seperti cuaca, angin dan
turunnya hujan; fenomena alamiah seperti cara bunga berkembang pada siang hari
dan menguncup pada malam hari; cara tanah, air dan zat hara membantu tumbuhnya
sebuah pohon; cara benda-benda meluruh dan terdekomposisi. Perspektif ini
menekankan kepada perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh `panas' atau
temperatur/suhu baik di luar tubuh mahluk maupun di dalam tubuh mahluk itu..
2. Bijaniyama: proses alamiah yang berkenaan dengan hereditas, seperti di dalam
hal,'sesuai benihnya, demikian pula buahnya.'
3. Cittaniyama: proses alamiah yang berkenaan dengan bekerjanya batin / pikiran
/ kesadaran, seperti proses kognisi sensasi dan reaksi batin terhadapnya;
pergerakan dari bhavanga-citta dan sebagainya. Hal ini semua dipengaruhi oleh
cittaniyama.
4. Kammaniyama: hukum alamiah yang berkenaan dengan tingkah laku mahluk hidup,
yaitu proses dari pembentukan perbuatan-perbuatan dan hasil-hasilnya. Khususnya,
hal ini mengacu kepada bekerjanya kehendak, atau proses proliferasi batiniah dan
konsekuensi-konsekuensinya. Intinya, hal ini dapat disingkat dalam
kata-kata:'perbuatan-perbuatan baik membawa hasil-hasil yang baik,
perbuatan-perbuatan buruk membawa hasil-hasil yang buruk.'
5. Dhammaniyama: hukum alamiah yang mengatur hubungan dan keterkaitan segala
sesuatu: yaitu, cara segala sesuatu muncul, berproses dan kemudian padam - ini
adalah aturannya: semua mahluk mengalami kelahiran, ketuaan, kesakitan dan
kematian sebagai satu kondisi normal, mahluk hidup secara normal hidup sampai
kurang dari seratus tahun; tanpa memperhatikan apakah seorang Buddha muncul
ataukah tidak, segala sesuatu secara teratur merupakan subjek dari perubahan,
tidak memuaskan dan bukan diri / aku / tanpa kepemilikan. Inilah aturannya.

Empat proses alamiah (niyama) yang pertama tercakup di dalam atau berasal dari
proses alamiah yang kelima, Dhammaniyama, hukum alamiah Dhamma, atau hukum
alamiah. Mungkin dipertanyakan, mengapa hukum alamiah Dhamma, menjadi
keseluruhan, juga tercakup sebagai juga sub bagian. Hal ini dikarenakan
Dhammaniyama tidak tercakup di dalam kategorisasi keempat hukum alamiah yang
lain. Sebagai ilustrasi, kita mungkin lebih baik menggunakan sebuah
perbandingan: Populasi Indonesia, misalnya, dapat dipilah ke dalam kategori yang
berbeda, seperti presiden, pemerintah, pelayan publik, pedagang dan masyarakat;
atau dapat dikategorikan sebagai polisi, militer, pelayan publik, pelajar dan
masyarakat; atau dapat dibagi ke dalam sejumlah cara kategori lainnya.
Kenyataannya, kata-kata `masyarakat' ini meliputi semua pengelompokan lain di
dalam negara. Pelayan publik, perumah tangga, polisi, militer, pedagang dan
pelajar semuanya adalah sama dengan anggota masyarakat, namun mereka
dikelompokkan berbeda karena tiap-tiap kelompok tersebut masing-masing memiliki
karakter-karekter yang unik. Orang-orang itu tanpa atribut-atribut khusus
baginya dikelompokkan ke dalam kata-kata umum sebagai `masyarakat.' Lebih jauh
lagi, walaupun kelompok-kelompok itu dapat berubah sesuai dengan disain
khususnya, mereka akan selalu tercakup di dalam kata-kata `masyarakat', atau
`rakyat', atau istilah generik lainnya yang mirip. Memasukkan Dhammaniyama di
dalam kelima niyama seyogyanya dimengerti di dalam cara seperti itu.

Apakah kelima hukum alamiah ini lengkap dan semua tercakup ataukah tidak
bukanlah hal yang penting. Komentator telah merinci lima kelompok relevan
terhadap kebutuhan mereka, dan kelompok-kelompok lainnya dapat dimasukkan ke
dalam kelompok yang kelima, yaitu Dhammaniyama, di dalam cara yang sama seperti
contoh di atas. Hal penting untuk dicamkan di dalam batin adalah disain
komentator di dalam menunjukkan lima niyama ini. Di dalam hubungan ini, tiga
hal penting seyogyanya disebutkan, sebagai berikut:

1. Pertama, ajaran ini menjelaskan perspektif Buddha Dhamma, melihat sifat
alamiah segala sesuatu - dunia dan kehidupan dunia - sebagai subjek dari
sebab-sebab dan kondisi-kondisi. Tidak masalah bagaimana halusnya hukum ini
dianalisa, kita melihat hanya proses-proses bekerjanya keteraturan itu, atau
keadaan dari saling ketergantungan. Mengetahui ini membawa kita untuk belajar,
hidup dan praktik dengan sebuah pengertian yang jelas dan teguh akan hakekat
sesungguhnya segala sesuatu. Kita tidak perlu memperhatikan diri kita dengan
pertanyaan yang berlebihan terhadap satu Dewa Pencipta dengan kekuatan untuk
mempengaruhi aliran dari keteraturan itu untuk menyimpang (apabila Dewa itu
tidak menjadi salah satu dari faktor-faktor tertentu di dalam aliran tersebut).
Ketika berhadapan dengan pertanyaan menyesatkan seperti, "Tanpa satu mahluk
untuk mencipta hukum-hukum ini, bagaimana mereka dapat terjadi?", kita hanya
perlu merenungkan bahwa itu terserah mereka, segala sesuatu pasti berfungsi di
dalam beberapa cara atau yang lainnya, dan inilah cara mereka berfungsi. Adalah
tidak mungkin bagi mereka untuk berfungsi tanpa cara-cara itu. Manusia,
mengamati dan mempelajari keadaan segala sesuatu ini, kemudian berlanjut untuk
menyebutnya sebagai sebuah `hukum.' Namun demikian, apakah itu disebut sebuah
hukum ataupun tidak, tidak akan mengubah proses sesungguhnya yang terjadi.
2. Kedua, di dalam analisa kita terhadap sebuah hukum alamiah ini, kita
seharusnya tidak mengartikannya mengurangi kejadian-kejadian seluruhnya ke arah
satu hukum tunggal. Di dalam kenyataannya, satu atau kejadian yang sama di alam
mungkin muncul dari salah satu dari hukum-hukum ini, atau sebuah kombinasi
darinya. Sebagai contoh, mengembangnya bunga teratai pada siang hari dan
menguncup pada malam hari bukan merupakan efek utuniyama (hukum alamiah
unsur-unsur) sendiri, namun juga merupakan subjek dari bijaniyama (hereditas),
Ketika seseorang menitikkan air mata, hal itu mungkin dikarenakan kebanyakan
oleh efek cittaniyama, berhubungan dengan kondisi batin senang atau sedih, atau
dapat juga merupakan kerja dari utuniyama, seperti dari masuknya asap rokok ke
dalam mata. Atau kombinasi dari cittaniyama, utuniyama dan kammaniyama sehingga
dapat mengalami fenomena tersebut.
3. Ketiga, dan paling penting, di dalam hal ini komentator sedang menunjukkan
kepada kita bahwa hukum kamma, atau kammaniyama, hanya merupakan salah satu dari
sejumlah hukum-hukum alamiah. Kenyataan bahwa hukum itu diberikan sebagai hanya
satu di antara lima hukum alamiah yang berbeda mengingatkan kepada kita bahwa
kita seyogyanya tidak segera menuliskan semua kejadian, menyenangkan atau tidak
menyenangkan, dikarenakan bekerjanya kamma. Kita mungkin mengatakan bahwa kamma
adalah kekuatan yang mengarahkan masyarakat, atau memutuskan nilai-n ilai dan
kehidupan di dalamnya. Walaupun kamma hanya merupakan salah satu dari hukum
alamiah itu, kamma merupakan satu yang terpenting bagi mahluk hidup, karena
sifat tanggung jawab yang khusus bagi mereka. Mahluk hidup melakukan kamma dan
kamma membentuk keberuntungan dan kondisi-kondisi kehidupan mereka.
Memperhatikan dunia seperti kebanyakan orang cenderung melakukan, bahwa dibagi
ke dalam jangkauan pengaruh bagi alam yang mana yang bertanggung jawab, dan
bahwa bagi mahluk mana yang bertanggung jawab, kita akan melihat bahwa
kammaniyama adalah benar-benar merupakan satu tanggung jawab mahluk hidup.
Sedangkan bagi niyama yang lain, mereka sepenuhnya mempengaruhi alam semesta
termasuk mahluk hidup.

Di dalam cakupan kammaniyama, faktor kehendak adalah sangat penting. Demikian,
kammaniyama adalah hukum yang mengendalikan alam kehendak, atau dunia dari
kehendak batin mahluk hidup dan perbuatannya. Apakah mereka harus terlibat
dengan niyama lain ataupun tidak, mahluk hidup harus bergelut dengan
kammaniyama. Bahkan keterlibatan mereka dengan niyama lain pasti dipengaruhi
oleh kammaniyama. Demikian, kammaniyama merupakan satu hal utama bagi mahluk
hidup, yang mengatur luasnya mahluk hidup untuk dapat menciptakan dan mengontrol
segala sesuatu di sekeliling mereka.

Berbicara sebenarnya, kita dapat mengatakan bahwa kapasitas mahluk hidup untuk
memasuki dan menjadi satu dari faktor-faktor di dalam sebab dan akibat alamiah
secara berkesinambungan, yang sebaliknya mengkondisikan kemunculan impresi bahwa
mereka dapat untuk mengendalikan dan merekayasa alam, semua itu disebabkan oleh
kammaniyama ini. Di dalam dunia ilmu dan teknologi, misalnya, mahluk hidup
berinteraksi dengan niyama lainnya, atau hukum alamiah lain, dengan mempelajari
kebenarannya dan bertindak terhadapnya sesuai dengan sifat alamiahnya,
menciptakan impresi bahwa mahluk hidup dapat memanipulasi dan mengendalikan
dunia alamiah.

Sebagai tambahan untuk hal ini, mahluk hidup membentuk hubungan personal dan
sosialnya sendiri, sebaik interaksi mereka dengan benda-benda lainnya dan
lingkungan di sekelilingnya, melalui kehendak atau perbuatan. Melalui kehendak,
mahluk hidup membentuk dirinya dan gaya hidup, posisi sosial dan
keberuntungannya. Dikarenakan kammaniyama merupakan sesuatu mengenai mahluk
hidup secara spesifik, mencakup keseluruhan kehendak dan dunia kreasi mahluk
hidup, maka ajaran Buddha amat tinggi menekankan pentingnya kammaniyama. Hal
ini dapat disimak dari kata-kata: Kammina vattati loko, yaitu Dunia diarahkan
oleh kamma. Namun bukanlah berarti bahwa segalanya oleh kamma.

Hukum kamma dan konvensi sosial

Terpisah dari kelima jenis hukum alamiah yang telah disebutkan di atas, terdapat
jenis hukum lain yang secara spesifik merupakan buatan manusia dan secara tidak
langsung mempedulikan alamiah. Ini adalah aturan dari hukum yang ditetapkan dan
disetujui oleh masyarakat, terdiri dari aturan-aturan sosial, adat istiadat,
hukum dan seterusnya. Mereka dapat diletakkan pada akhir dari daftar di atas
sebagai jenis keenam dari hukum, namun mereka tidak memiliki nama Pali.
Katakanlah mereka adalah konvensi sosial. Aturan dari hukum sosial ini
diproduksi oleh pikiran manusia dan berhubungan dengan kammaniyama. Namun
demikian, mereka hanya merupakan satu suplemen terhadap kammaniyama, mereka
bukan kammaniyama, dan tidak memiliki hubungan yang sama dengan kebenaran
alamiah seperti kammaniyama, seperti yang akan ditunjukkan sekarang. Namun,
dikarenakan konvensi sosial ini ditemukan di dalam kammaniyama, mereka cenderung
membingungkan bila dibedakan dengan kammaniyama, dan seringkali disalahartikan
muncul sebagai satu hasil. Dikarenakan kedua jenis hukum ini, yaitu kammaniyama
dan konvensi sosial, melibatkan manusia dan sangat dekat hubungannya dengan
kemanusiaan, maka menjadi sangat penting untuk secara jelas mengerti perbedaan
di antara keduanya.

Secara umum, kita mungkin menyatakan bahwa hukum kamma adalah hukum alamiah yang
membahas perbuatan mahluk hidup, sedangkan konvensi sosial, atau hukum sosial,
sepenuhnya merupakan ciptaan mahluk. Itu berhubungan dengan alam hanya sejauh
sebagai sebuah produk dari proses pikiran alamiah mahluk itu. Intinya, dengan
hukum kamma, mahluk hidup memetik buah dari perbuatannya sesuai dengan proses
alamiah, sedangkah di dalam hukum sosial, mahluk hidup bertanggung jawab bagi
perbuatan-perbuatannya via sebuah proses yang ditetapkan sendiri olehnya.

Akhir kata
Saudara pembaca… membahas kamma membutuhkan ruang yang cukup panjang. Tidaklah
mungkin dibahas tuntas di dalam satu artikel ini. Namun demikian, dengan
merenungkan uraian di atas, diharapkan para pembaca cukup mendapatkan informasi
untuk menyimak kembali beberapa kasus pada awal tulisan ini, apakah tepat
jawaban-jawaban atas fenomena yang dihadapi Mitra, Mahawan maupun Saddha, juga
para bhikkhu, samanera dan pendana?

Kamma lampau merupakan satu hal, kamma saat itu juga merupakan satu hal…,
berbagai kondisi yang dihadapi saat itu merupakan faktor lainnya yang mendukung
berbuahnya kamma bagi Mitra, Mahawan, Saddha, para bhikkhu, samanera dan
pendana…

Kita tidaklah mutlak produk masa lampau, juga kita di masa mendatang tidak
mutlak produk saat ini, kita adalah produk lampau dan kini. Yang namanya produk,
memiliki bahan baku. Bahan baku tentunya bukan hanya satu, bukan hanya kamma.
Kamma hanya satu faktor dominan dari 24 faktor kondisi (paccaya) atau secara
singkat hanya satu dari 5 Niyama. Kesehatan / keberlangsungan fisik disebabkan
oleh 4 faktor, yaitu kamma, citta, utu dan ahara. Kamma hanya satu dari empat
faktor penentu kesehatan fisik.

Demikianlah saudara pembaca, ulasan singkat yang terkait dengan sebagian doktrin
kamma. Semoga ulasan ini dapat mengantisipasi berkembangnya fatalisme baru ala
Buddhist, fatalisme Kamma. Semoga semua mahluk berbahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar