Rabu, 23 Desember 2009

Vipassana

Seorang Sotapanna (pemenang arus) mengalami pemadaman batin dan jasmani untuk pertama kalinya, tapi belum mencapai kebebasan sepenuhnya. Ia telah menghapuskan pandangan salah dan keragu-raguan terhadap Tiratana (Sang Buddha, Dhamma dan Sangha). Namun kekotoran batin yang lain masih dimiliki.

Sedang seorang Anagami (yang tak kembali lagi) lebih jauh telah mengenyahkan keserakahan dan kemarahan pada kehidupannya saat ini. Hanya Arahat yang benar-benar telah melenyapkan secara sempurna semua kekotoran batin serta mencapai kebebasan sejati.

Kebahagiaan nibbana yang dialami orang suci sangat berbeda dengan kesenangan yang didapat melalui 6 indra. Santi sukha adalah kebahagiaan dalam kedamaian, kedamaian dalam kebebasan batin dan jasmani, bebas dari kontak indrawi. Seseorang yang tidak mengalami kebahagiaan nibbana tidak akan dapat merasakan hal ini. Sebaliknya mereka secara sembrono membandingkan santi sukha dengan tidur nyenyak.

Terlepas dari apakah seseorang tidur beralaskan lantai yang keras atau tempat tidur mewah ketika tidurnya nyenyak, ia tak lagi merasa berhubungan dengan tempat yang keras atau empuk. Dengan demikian, saat seseorang tidur nyenyak ia merasa damai dan tidak berhubungan dengan 6 indranya. Bila terbangun, bisa jadi ia akan marah meski tak ada peristiwa apapun yang dialami oleh indranya. Tetapi ia menikmati tidarnya yang pulas itu. Hanya saat seseorang sepenuhnya terbebas dari batin dan jasmani, ia mencapai santi sukha, nibbana.

Terdapat perbedaan antara kenikmatan duniawi dengan kebahagiaan dalam dhamma. Gambaran tentang orang yang menikmati tidur nyenyaknya dapat membuat kita secara sembarangan membandingkan kenikmatan tidur nyenyak itu dengan nibbana. Sepenuhnya bebas dari indra, kebahagiaan nibbana yang sesungguhnya jauh berada diatas kesenangan hawa nafsu yang masih berada pada tingkat kesenangan duniawi.

Orang yang tidak pernah merasakan intisari dhamma akan heran, bagaimana seseorang bisa “menikmati” kedamaian nibbana tanpa ada kesadaran dan perasaan menikmati. Tetapi, bila seseorang dapat mengingat bagaimana seseorang “menikmati” tidurnya yang nyenyak, ia dapat memperkirakan santi sukha.

Sang Buddha mengajarkan bahwa mempraktekkan meditasi vipassana sama seperti mencuci pakaian kotor. Kita harus mencuci pakaian itu berulang kali sampai bersih kembali. Bukan hanya pada kehidupan saat ini, tetapi juga selama berada di lautan samsara, kita berada dibawah pengaruh kekotoran batin. Maka, mengenyahkan kekotoran batin itu bukanlah pekerjaan mudah. Kita harus berusaha keras seperti cerita laki-laki yang melarikan diri dari kejaran musuh-musuhnya tanpa kenal lelah. Dan ketika mencapai tingkat sotapanna, kita tak lagi mengembangkan kekotoran batin yang membawa kesengsaraan hidup.

Kita harus waspada dan terus berusaha dengan sekuat tenaga. Praktekkan meditasi vipassana dengan rajin sampai akhirnya mencapai sisi seberang sungai. Dan orang yang mencapai sisi seberang sungai dengan selamat serta berhasil melarikan diri dari kejaran musuh-musuhnya berkat nasehat dari sahabat baiknya, adalah seorang Arahat yang telah mencapai nibbana dengan melenyapkan semua kekotoran batin berkat nasehat bijaksana Sang Buddha.

Semoga anda semua mempraktekkan meditasi satipatthana vipassana dengan rajin, memenuhi Delapan Jalan Utama dan meraih mengetahuan magga dan phala.

SADHU! SADHU! SADHU!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar