Sabtu, 26 Desember 2009

Fisika Kuantum dan Buddhisme

Oleh : Willy Yandi Wijaya

Tanpa sadar, segala benda tekonologi disekeliling kita ada produk dari fisika modern, yaitu suatu konsep fisika yang baru sekitar satu abad mulai menancapkan dasar-dasarnya. Fisika modern atau fisika baru ini terdiri dari fisika kuantum dan fisika relativitas. Fisika kuantum adalah fisika yang berhubungan dan menyelidiki materi-materi mikro atau sangat amat kecil seperti atom, subatom bahkan sampai partikel terkecil yang pernah ditemukan, yaitu quark.

Fisika Kuantum

Istilah kuantum adalah bentuk jamak dari kuanta. Kuanta adalah suatu paket atau ‘partikel’ dalam cahaya. Istilah ini diperkenalkan oleh Niels Bohr, awal abad ke-20. Ia adalah salah seorang ilmuwan penggagas fisika kuantum yang membicarakan dunia mikro atau atom. Asal mula ditemukannya adalah karena cahaya menjadi sebuah misteri bagi ilmuwan saat itu. Di satu sisi cahaya bersifat sebagai partikel, namun di satu sisi percobaan juga membuktikan bahwa cahaya mempunyai sifat gelombang. Cahaya dianggap partikel karena ketika ditembakkan ke suatu bidang, cahaya dipantulkan sesuai dengan sudutnya. Begitu pula cahaya dianggap sebagai gelombang karena memiliki sifat interferensi seperti gelombang. Bayangkan jika kita menjatuhkan batu ke air, akan muncul gelombang disekitarnya. Foton Cahaya bersifat seperti itu. Ketika ditembakkan ke dalam suatu pelat yang terdiri dari dua celah (lubang sangat kecil), foton cahaya (sebuah ‘partikel’) sekaligus melewati ke dua celah tersebut dan membentuk interferensi. Saat ini cahaya dianggap partikel sekaligus gelombang dan melampaui ‘akal sehat’ manusia selama ini (‘akal sehat’ dalam artian logika fisika klasik atau yang seolah-olah ‘nyata’ yang dapat kita amati di sekitar kita)

Dalam fisika kuantum juga dibahas masalah posisi suatu elektron (materi subatom) pada suatu atom. Awalnya para ilmuwan memperkirakan bahwa posisi elektron atau partikel subatomik di dalam suatu atom dapat ditentukan. Hingga Werner Heisenberg menguji apakah suatu posisi elektron dapat ditentukan di dalam suatu atom karena pertentangan antara Niels Bohr dan Erwin Schrodinger yang masing-masing mengajukan berbeda pendapat mengenai sifat elektron ketika berpindah apakah sebagai suatu partikel atau gelombang. Akhirnya kesimpulan Heisenberg lebih mengejutkan lagi, bahkan sampai ilmuwan sejenius Albert Einstein tidak dapat menerima teori Ketidakpastian Heisenberg yang mangatakan bahwa ketika kita berusaha untuk mengamati posisi elektron dalam suatu atom, kita akan membuatnya bergerak menjadi posisi yang berbeda dari awal. Dengan kata lain, ketika berusaha untuk menentukan posisinya melalui observasi, perilaku elektron menjadi seperti partikel, sementara ketika ingin mengukur energinya akan membuat perilaku elektron menjadi seperti gelombang. Dengan kata lain Heisenberg menyimpulkan bahwa sebagus apapun cara untuk berusaha mengukur posisi suatu elektron, kita tidak dapat mengetahuinya secara pasti. Yang dapat diperkirakan hanyalah kemungkinan posisi elektron dalam suatu atom karena elektron selalu bergetar.

Dalam Fisika Kuantum sampai saat ini semakin banyak ditemukan partikel subatom, bahkan partikel yang lebih kecil lagi dari atom yang dinamakan quark. Beberapa ilmuwan mengklaim bahwa inilah partikel yang terkecil dan yang menyusun semua alam semesta ini. Penelitian tentang quark masih berlanjut hingga saat ini. Ciri yang lebih aneh lagi ditemukan dalam suatu atom, yaitu bahwa atom memiliki sifat kecenderungan saling menarik tanpa dibatasi ruang dan waktu. Dengan kata lain, teori tersebut menyebutkan bahwa rangkaian ikatan foton (partikel subatom) dapat menjelajah bahkan menembus logam dengan tetap terikat satu sama lain. Bukti konkretnya di tahun 2003 ketika Anton Zeilinger dan kolega-koleganya dari Universitas Wina berhasil memindahkan foton-foton yang terikat melintasi sungai Danube sepanjang 600 meter dan terus terikat. Dampaknya adalah kemungkinan teleportasi benda bahkan sampai memindahkan manusia di masa mendatang dalam hitungan detik.

Kesejajaran Buddhisme dan Fisika Kuantum

Implikasi dualitas partikel sekaligus gelombang membuktikan bahwa subjek amupun objek menjadi tidak berarti lagi. Sudah sejak lama, filsafat Mahayana berkutat dengan masalah itu. Filsafat Buddha menganggap objek bukan seperti objek yang diamati terpisah dari si pengamat, namun bagi filosofi Madyamika (salah satu asal muasal Mahayana) yang diamati adalah proses perubahan karena menurut gagasan Mahayana dalam Prajnaparamita Hrdya Sutra, wujud tidak berbeda dengan kosong (rupa adalah sunya dan sunya tak lain adalah rupa). Jadi bagi Buddhisme, konsep Dualitas adalah sesuatu yang sangat logis dan bisa diterima. Akal sehat terkadang tidak bisa menerima gagasan seperti itu. Sesuatu menjadi dua hal tersebut adalah tidak logis menurut akal sehat umumnya atau seperti dalam gagasan Fisika Klasik Newtonian. Seandainya ilmuwan Barat mengenal filsafat Buddhisme sejak awal, gagasan fisika modern menjadi tidak aneh dan bisa diterima. Namun, saat ini banyak ilmuwan fisika yang bisa menerima gagasan aneh seperti itu karena memang nyata dan telah dibuktikan, begitu pula ketika membicarakan bahwa ruang dan materi adalah sama dan tidak abadi dalam fisika relativitas oleh Einstein.

Konsep tanpa-jiwa (anatta) dalam ajaran Buddha juga menunjukkan bahwa segala sesuatu tidak mempunyai inti yang kekal, sama seperti ketika para ilmuwan menemukan atom dan menyatakannya sebagai yang terkecil. Kemudian beberapa saat kemudian ditemukan partikel subatom yang lebih kecil diantaranya elektron. Tidak selesai sampai di situ, ditemukan lagi yang lebih kecil yang dinamakan quark. Sejak awal gagasan Buddha tentang anicca (perubahan) bahwa sesuatu yang kompleks tersusun dari yang lebih sederhana dan terus-menerus berubah dan bergerak. Hal ini sejalan dengan elektrion yang tidak dapat ditentukan secara pasti posisinya karena selalu bergerak dan mengalami perubahan (terus bergetar/bergerak) yang mengakibatkan pelepasan atau penambahan energi.

Konsep ketiga dalam ajaran Buddha yang selaras dengan teori kuantum adalah Kesalingterkaitan Antar Segala Sesuatu (paticcasamupada). Sejak awal gagasan tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu itu saling terkait. Ditegaskan lagi dalam Hukum Karma bahwa ada suatu sebab dan akibat yang menyertai kejadian apapun. Kita tahu bahwa keterikatan kuantum mengandung implikasi filosofi bahwa beberapa hal yang saling terkait, dapat membawa suatu informasi dengan menembus ruang dan waktu. Sama halnya dengan konsep Kesalingterkaitan Antar Segala Sesuatu bahwa karma-karma yang berikatan dengan proses kesadaran akan membawa arus buah karma dan mengakibatkan kelahiran kembali, sama seperti menurut fisika kuantum bahwa informasi bisa dibawa dan tetap terikat tidak dibatasi ruang dan waktu. Gagasan tersebut ditegaskan dalam filosofi Mahayana tentang energi kesadaran yang terbawa (alayavijnyana) ketika seseorang meninggal. Energi tersebut (alayavijnyana) tersebut membawa informasi (karma-karma) melintasi ruang-waktu dan terbentuk kembali melebur bersama dengan kondisi pembentuk kehidupan (jasmani, perasaan, persepsi, memori, pikiran).

http://www.culture.com.au/brain_proj/Stephen%20Jones/7_sun%20buddha%20on%20noise.jpg

Keselarasan terakhir terkait implikasi fisika kuantum dalam melihat realitas sebenarnya dengan Buddhisme adalah bahwa terdapat kesejajaran dalam melihat realitas. Filosofi Nagarjuna (Mahayana) menegaskan bahwa tidak ada suatu substansi yang tetap (seperti posisi partikel yang tetap), ketiadaan subjektifitas maupun objektifitas (sama seperti pengamatan terhadap posisi elektron dan si pengamat), holistis (memandang segala sesuatu secara keseluruhan) seperti prinsip Ketidakpastian Heisenberg yang menganggap bahwa yang dimungkinkan adalah melihat secara lebih luas dengan perkiraan dan ketika ingin mencoba melihat dengan memisahkan komponen-komponennya, yang terjadi adalah dualisme.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar