Jumat, 25 Desember 2009

Meninggalkan Dhamma = Meninggalkan Kebahagiaan Sendiri

Oleh: Irwan Sutejo

Pertama-tama perkenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Irwan Sutejo dengan nama Buddhis saya Indavadi. Nama Buddhis saya merupakan hasil pemberian Bhante Vijito pada hari raya Waisak tahun 2002.
Terlahir di kota Medan , saya seperti orang-orang keturunan Tionghoa sebelumnya yakni merupakan penganut Agama Buddha tradisi, atau yang lebih dikenal sebagai Agama Buddha KTP. Sejak kecil saya selalu dididik oleh kedua orang tua saya mengenai cara-cara menjalankan tradisi sembahyang dan sebagainya. Agama Buddha KTP yang dimaksud adalah saya masih menjalankan ritual bakar uang-uangan kertas, masih mengambil jimat dikelenteng, dll. Hal tersebut berlangsung terus menerus, bahkan ketika saya sudah menginjak kursi sekolah, pembelajaran mengenai Agama Buddha di sekolah tidak menarik minat saya. Tidak dipungkiri Agama Buddha yang diajarkan saya tidak pernah mencoba mengerti maupun mendalaminya. Hal tersebut sangat mungkin berkaitan dengan kamma saya yang mungkin belum berbuah, sehingga pada saat SD saya benar-benar sangat buta akan Agama Buddha. Satu hal yang membuat saya tahu adalah “dosa”. Banyak sekali cerita maupun terror berupa dosa akan hal buruk yang jika kita perbuat dan juga keyakinan tradisi lainnya.

Meski masa kecil saya tidak berupa sosok yang jahat, tapi yang pasti saya bukanlah sosok yang kenal maupun familiar dengan Agama Buddha. Hal tersebut berlangsung hingga SMP di mana saya semakin menjadi-jadi. Saya diajar oleh seorang guru agama yang sudah mempunyai reputasi buruk di sekolah dan tidak memberikan apa-apa bagi batin saya. Masa SMP adalah masa-masa di mana saya semakin jauh dari yang namanya “Buddha”. Tidak ada agama dalam hidup, meski sekali lagi saya bukanlah sosok yang jahat, cuma ketidaktahuan saya telah membuat saya menjadi buta segalanya. Keadaan mulai berubah saat saya memasuki kursi SMA, saya bertemu seorang guru Agama Buddha aliran Theravada. Tidak tahu apa yang terjadi tapi saya menjadi benar-benar tertarik dengan penjelasan beliau yang bisa diterima dengan akal maupun logika (sejak SD sampai SMP saya diajar oleh guru dengan basic bukan Theravada).

Saya mengenal beliau dengan baik, hal tersebut berimbas pada pengetahuan saya mengenai Agama Buddha. Saya mulai merasakan kesejukkan mengenai Agama Buddha, hingga akhirnya saya bersedia divisudhi untuk pertama kalinya. Saat itu merupakan saat yang paling berbahagia dalam hidup saya, di mana saya mulai merasakan kedamaian akibat ajaran Agama Buddha. Saya bangga akan perbuatan saya baik buruk atau baik, saya berani untuk menerima akibatnya. Saya merasa sebagai sosok yang tidak mencoba mencari perlindungan selain pada perbuatan saya sendiri. Hal tersebut berlanjut hingga saya bersedia mengabdikan diri untuk menjadi pengurus satu-satunya Vihara Theravada di kota Medan yakni: Vihara Mahasampatti. Saya bekerja tanpa pamrih dengan tujuan memajukan Agama Buddha. Akibat dari tekad saya tidak jarang orang tersinggung oleh tindakan saya, tapi tidak pernah saya pedulikan.

Ketika saya mencoba membunuh suatu makhluk hidup saya mulai berpikir akan kondisi yang sama jika terjadi pada diri kita. Ketika saya melihat bunga mekar, batin saya mulai berkata pada saya apa yang diperbuat itulah yang dipetik. Ketenangan yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Damai yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya menjadikan saya tidak lagi merasakan ketakutan maupun kegelisahan apapun. Betapapun saya pernah mengagungkan kekerasan tetapi sekarang saya mulai merasa dengan menyakiti orang lain sesungguhnya kita menyakiti diri kita sendiri. Saya mulai berpikir mengenai kondisi tidak kekal, penderitaan, dan tidak adanya ego. Saya tidak terhipnotis dan tidak terbuai oleh yang namanya surga, tetapi semua perbuatan saya lakukan semata-mata untuk kebahagiaan semua makhluk yang ada.

Namun hal tersebut tidak bertahan lama, ketika saya pindah ke Jakarta untuk keperluan pendidikan, perlahan tapi pasti saya mulai berubah kembali. Buddha mulai pudar meski kedamaian yang pernah ada masih berbekas. Syukur pada semuanya ketika kondisi mulai memburuk saya dipinjamkan suatu VCD oleh teman saya yang berjudul Angulimalla. Satu ucapan dari Sang Buddha membuat saya kembali hingga saat ini yakni “Berhenti”. Saya begitu terhanyut ketika Beliau menyatakan ucapan dan kalimat lanjutannya. Saya sadar bahwa saya juga harus “Berhenti”. Akibat dari hal tersebut Agama Buddha tidak pernah dan tidak bakal saya tinggalkan lagi pada kehidupan saya selanjutnya. Apa yang ingin saya sampaikan adalah berangkat dari agama tradisi, saya kemudian mencoba mencari tahu mengenai Agama Buddha secara sendirian (Ehipassiko), hingga kini saya menjadi sosok yang bahagia karena Dhamma.

Saya tahu banyak pribadi yang mengalami masalah seperti saya, dan juga banyak sekali yang berpindah agama karena hal tertentu. Di sini saya hanya mencoba menyampaikan satu hal yakni cobalah untuk mendekati Sang Buddha dan ajaranNya. Jangan pernah meninggalkan ajaran kesunyataan tersebut karena dengan melakukan hal tersebut kita telah meninggalkan kebahagiaan kita sendiri. Saya bukan sosok yang bisa menghafal semua paritta dan mengerti semua ajaran Dhamma, tapi untuk semua pribadi saya sarankan berpijaklah pada empat pernyataan Sang Buddha yakni:

janganlah berbuat kejahatan,
tambahkanlah kebajikan,
sucikan hati dan pikiran,
inilah inti ajaran para Buddha.

Mungkin cerita saya jauh dari kesan magic. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah bahwa semua orang bisa seperti saya apabila mereka berusaha mendekati Buddha dan ajaranNya. Bukalah pintu hati dan pikiran untuk mencoba mencari kebahagiaan dalam ajaranNya, niscaya batin dan kepercayaan tidak akan tergoyahkan.

Semoga cerita saya menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mengalami kesulitan mengenal Agama Buddha dan sedang tergoyahkan batin maupun kepercayaannya. Tidak ada unsur kepalsuan dalam cerita ini dan semuanya berdasarkan pengalaman nyata saya.

Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar