Rabu, 23 Desember 2009

Nirwana menurut filsafat Mahayana

Source: Complete Book of Zen
Penulis: Wong Kew Kit

sumber : http://www.wihara.com/forum/showthread.php?t=1219

Dalam filsafat Mahayana, nirwana tidak pernah dikonsepkan sebagai pemadaman, biasanya dijelaskan sebagai pengalaman langsung mengenai realitas kosmis. Tidak ada yang harus dihancurkan: nirwana bukan menghancurkan hal-hal negative seperti napsu, kebencian, serta khayalan dan menggantinya dengan hal positif seperti ketenangan, bela rasa, dan sadar diri. Proses pengembangan moral ini mutlak untuk diperbaiki sebelum nirwana. Di nirwana, tidak ada perbedaan antara napsu dan ketenangan atau antara kebencian dan belas kasih karena pemikiran dualistic seperti itu telah teratasi.

Mungkin karena berharap untuk menekankan perbedaan interpretasi ini, disamping ‘nirwana’, para guru Mahayana sering kali menggunakan istilah seperti bodhi, jue(kesadaran), Zen Rhu, dan Buddhahood untuk mencerminkan pencerahan. Penjelasan dalam Zen Budhisme bahkan bersifat lebih langsung dengan istilah seperti sifat Alamiah Buddha dan Wajah Sebenarnya.

Pengalaman pencerahan Buddha dijelaskan secara apa adanya seperti kejadian yang sebenarnya dalam bagian naratif literature budhisme seperti The Garland Sutra (Hua Yen Cing atau Avatamsaka Sutra) dan Lotus Sutra (Lien Hua Jing atau Saddharma Pundharika sutra). Contohnya, Garland Sutra (Hua Yen Cing atau Avatamsaka Sutra) mengatakan:

Ketika Buddha pertama kali mencapai pencerahaan, seluruh dunia menjadi dimurnikan, dihiasi dengan segala jenis permata dan bunga serta wewangian beraroma manis mengisi setiap sudutnya. Bunga-bunga merambat menganyam diri sendiri di sekeliling Buddha dan pada mereka terikat permata yang ajaib: emas,perak, batu tembus cahaya, batu akik, tembaga, batu karang, dan batu ambar yang berwarna kuning sawo. Dari daun dan ranting pohon terpancar cahaya yang bersinar terang. Perubahan ini dibawa oleh kekuatan supranatural misterius dari sang Buddha.

Keindahan realitas kosmis yang sulit diterima oleh orang biasa dialami dalam keadaan pencerahan yang dikenal sebagai ‘samadhi cermin laut’ dalam Budhisme Mahayana (aliran )Hua Yen, dan sama dengan ‘manifestasi cermin realitas’ yang dijelaskan dalam bab 4.

Dalam Vimalakirti Sutra, pencerahan yang dialami dalam keadaan Samadhi yang lain yang dikenal sebagai ‘realitas cermin yang kosong’ dijabarkan sebagai ‘Gerbang Spiritual dari Non-dualisme’, pintu gerbang menuju Dharma saat semua yang berseberangan terpecahkan. Di sini, pencerahan merupakan pengalaman langsung realitas kosmis sebagai sang Absolut, ketika tidak ada dualitas, dan saat semua pembedaan lenyap.

Aspek yang tidak dapat dibedakan serta dipisahkan dari realitas kosmis yang dialami di nirwana, secara gambling dijelaskan dalam Heart Sutra yang sangat terkenal (Ban Ruo Xin Jing atau Prajnaparamita Hridaya Sutra), meskipun banyak orang yang telah membacanya mungkin tidak menyadari maksudnya karena bahasanya yang terlalu ringkas:
Semua fenomena atau kenyataan duniawi memiliki karakteristik kekosongan: tidak muncul, tidak berhenti, tidak kotor, tidak murni, tidak menambah, tidak memecah. Oleh karena itu, dalam kekosongan tidak ada bentuk, tidak ada perasaan, tidak ada pikiran, tidak ada aktivitas, dan tidak sadar.

Secara singkat, penjelasan diatas menjelaskan bahwa dalam nirwana, orang yang telah mengalami pencerahan sadar bahwa semua dharma, realitas mutlak mereka, adalah kosong, tidak nyata. Oleh karena itu, dalam aspek rohani realitas kosmis tidak ada dharma yang timbul atau berhenti, tidak ada kenyataan yang kotor atau murni, dan tidak ada Buddha yang ditambahkan ke atau orang biasa yang dibisahkan dari keseluruhan saat orang biasa menjadi Buddha. Ini dikarenakan realitas kosmis dalam aspek rohani tidak terpisahkan dan tidak terbedakan, kosong dari semua bentuk terpisah, persepsi, pemikiran, aktivitas, dan kesadaran.

Hal yang berkaitan dengan perbedaan mereka mengenai konsep nirwana adalah pandangan para penganut Theravada dan Mahayana pada keselamatan. Para penganut Theravada yang mempercayai mentah-mentah bahwa nirwana itu terpisah dari samsara dan dicapai saat faktor-faktor negatif seperti kerinduan, kemelekatan, dan penderitaan dihilangkan, meyakini bahwa keselamatan merupakan masalah pribadi, bahwa setiap orang harus mencapai pencerahan mereka sendiri. Di sisi lain, para penganut Mahayana sangat meyakini bahwa nirwana dan samsara itu sebenarnya sama. Yang tampak berbeda sebenarnya adalah salah satu perspektif spiritual. Ketika realitas dilihat dari perspektif rohani, kita mengalami nirwana, ketika realitas dialami dari perspektif jasmani, kita mengalami samsara. Oleh karena realitas kosmis merupakan suatu kesatuan suci diluar semua dualitas, para penganut Mahayana meyakini bahwa keselamatan merupakan tanggung jawab kosmis.

Bentuk ideal Theravada adalah arahat, Makhluk yang paling berharga, sementara dalam Mahayana yang ideal adalah Bodhisattva, Makhluk yang dapat merasakan pencerahan. Oleh karena arahat hanya memperhatikan pencerahan pribadinya, ia sering digambarkan sebagai sosok dingin dan tanpa emosi, Sementara Bodhisattva yang bersumpah untuk bekerja demi keselamatan dunia terlihat suka menolong dan welas asih.

Theravada menerima Buddha Gautama sebagai sang Buddha, yang berarti satu-satunya Buddha dalam era kita, meskipun mereka juga menerima Buddha-Buddha lainnya dalam era yang lain sebelum dan setelah gautama. Para penganut Mahayana juga menerima Buddha Gautama ( Shakyamuni Buddha) sebagai Sang Buddha, yang berarti Buddha pertama dan yang paling penting dalam masa kita, juga mengenal Buddha-Buddha yang lain dari masa yang lain namun sebagai tambahan mereka meyakini bahwa sebenarnya sudah ada Buddha lain yang tidak terhitung sepanjang zaman dan ada Buddha lain yang jumlahnya juga tidak terhitung pada saat ini. Baik penganut Theravada dan Mahayana mendefinisikan Buddha sebagai orang yang mendapatkan pencerahan. Dengan demikian, perbedaannya tidak terletak pada definisinya, namun pada interpretasi mereka pada apa yang menyebabkan pencerahan. Para pengikut Theravada meyakini bahwa Buddha Gautama merupakan satu-satunya yang mendapatkan pencerahan sempurna sementara para pengikut Mahayana meyakini bahwa setiap orang, termasuk yang bukan manusia, dapat mencapai pencerahan sempurna – suatu pandangan yang mungkin lebih mendekati ajaran Gautama, jika tidak ia tidak akan mendedikasikan seluruh masa hidupnya sebagai manusia untuk tujuan ini. Di lain pihak, Vajrayana menempatkan lebih banyak penekanan pada Buddha Vairocana (personifikasi dari realitas kosmis Buddha Gautama), meskipun yang terakhir masih dianggap sebagai Buddha ada masa kini.

Dengan memikirkan bahwa para penganut Theravada menganggap bahwa pencapaian nirwana eksklusif untuk Buddha Gautama, sungguh mengejutkan bahwa konsep mereka mengenai nirwana kurang begitu ‘megah’ dibandingkan dengan para penganut Mahayana. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa Budhisme Theravada memiliki sasaran Nirwana, sementara Budhisme Mahayana memiliki sasaran Buddhahood, menjadi Buddha. Dengan kata lain dikatakan bahwa dalam Theravada, saat seseorang telah mencapai pencerahan berarti ia telah memadamkan semua keinginannya, penderitaan, dan ilusinya, dan mencapai suatu keadaan mental yang penuh dengan kebahagiaan tinggi. Dalam Mahayana, mencapai pencerahan berarti bahwa seseorang telah membebaskan dirinya dari keterbatasan imajinasi tubuh fisiknya dan menyadari bahwa ia sebenarnya berada dalam keseluruhan kosmos!

Oleh karena para guru Mahayana menyadari bahwa orang berada pada tingkat pengembangan spiritual yang berbeda, mereka telah merancang banyak dan bermacam-macam arti untuk membantu orang-orang itu mencapai pencerahan. Bagi mereka yang kurang memiliki pemahaman intelektual atau kemampuan spiritual, praktik penyembahan (seperti berdoa pada Buddha dan Bodhisattva) akan meningkatkan jasa spiritual mereka dalam kehidupan di masa mendatang. Yang lain mungkin mengucapkan nama Amitabha Buddha agar dilahirkan kembali dalam tanah Buddha untuk perbaikan berikutnya. Yang lebih maju secara spiritual dapat menggunakan meditasi yang hening dan kusuk untuk mencapai pencerahan dalam kehidupan ini. Metode yang semakin cepat dan semakin langsung, namun tidak harus selalu termudah adalah Zen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar