Rabu, 23 Desember 2009

Sutra Patika

Sutra Patika

PATIKA SUTTA
Sumber : Sutta Pitaka Digha Nikaya I
Oleh : Team Penterjemah Kitab Suci Agama Buddha
Penerbit : C.V. Inti Kanari Jakarta, 1996

...........................

14. "Bhaggava, Saya tahu asal mula dari segala sesuatu (agganna), dan bukan hanya itu yang Saya tahu, tetapi yang Saya tahu lebih daripada itu dan dengan mengetahui hal itu, pandanganKu tidak tersesat (paramasa). Dengan pandangan yang tidak sesat, Saya sendiri mengerti tentang kedamaian, dengan merealisasikan ini maka Tathagata tidak akan pernah berbuat kesalahan. Bhaggava ada petapa-petapa dan brahmana-brahmana tertentu yang menyatakan hal itu sebagai ajaran mereka karena asal mula segala sesuatu adalah diciptakan oleh maha kuasa, dewa Brahma? Saya telah menemui mereka dan bertanya: 'Apakah benar para guru yang mulia menyatakan tentang ajaran bahwa asal mula dari segala sesuatu adalah diciptakan oleh maha kuasa, dewa Brahma?' Dengan adanya pertanyaan itu mereka menjawab: 'Oh.' Kemudian Saya berkata: 'Tetapi, bagaimana para guru yang mulia menyatakan dalam ajaran bahwa asal mula segala sesuatu diciptakan oleh maha kuasa, dewa Brahma, itu ditentukan?' Mereka tak dapat menjawab pertanyaanku itu dan dalam kebingungan mereka menanyakan kembali hal itu kepada Saya. Karena ditanya maka Saya menjawab:
15. 'Saudara-saudara, akan tiba suatu saat, cepat atau lambat, setelah berakhirnya suatu masa yang lama, bumi (loka) ini hancur dan berevolusi (samvattati). Ketika hal ini terjadi, umumnya makhluk-makhluk terlahir kembali di alam Abhassara, mereka hidup di alam itu dengan kekuatan pikiran, hidup dengan kenikmatan-kenikmatan, memancarkan cahaya dari tubuh mereka, melayang-layang di angkasa, dan kehidupan ini berlangsung terus dalam keindahan. Begitulah mereka adanya, mereka hidup dalam suatu masa yang lama sekali.
Saudara-saudara, tiba juga suatu saat, cepat atau lambat, sistem bumi (loka) ini mulai berevolusi kembali (vivattati). Ketika hal ini terjadi alam dewa Brahma nampak, tetapi kosong. Ada sesosok makhluk yang karena masa hidupnya telah habis atau disebabkan oleh pahala (jasa karma baik)-nya telah habis, meninggal dari alam Abhassara dan terlahir kembali di alam Brahma. Di situ ia hidup dengan kekuatan pikiran, hidup dengan kenikmatan, memancarkan cahaya dari tubuhnya, melayang-layang di angkasa. Kehidupan ini berlangsung terus dalam keindahan, demikianlah ia adanya, hidup dalam suatu masa yang lama sekali. Karena ia tinggal di alam itu terlalu lama dan sendirian maka perasaan tidak puas dan kerinduan muncul dalam dirinya: 'Oh, semoga makhluk-makhluk lain pun datang menemani saya di tempat ini!' Pada saat itu ada makhluk-makhluk yang karena usia mereka telah habis atau karena pahala (karma baik) telah habis, meninggal dan lenyap dari alam Abhasara dan muncul di alam Brahma menjadi kawannya, dan dalam berbagai hal mereka hidup seperti dia.
16. Saudara-saudara, berdasarkan hal ini makhluk pertama yang terlahir dan muncul di alam dewa Brahma itu berpikir: 'Saya Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk dan asal mula dari semua kehidupan. Saya yang menciptakan makhluk-makhluk ini. Mengapa demikian? Beberapa saat yang lalu saya berpikir: 'Oh, semoga makhluk-makhluk lain pun datang menemani saya di tempat ini!' Begitulah ide yang ada dalam pikiranku dan begitu pula yang terjadi, makhluk-makhluk ini muncul.'
Makhluk-makhluk yang muncul sesudah dia, juga berpikir: 'Makhluk ini mesti Brahma, Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, Maha Tinggi, Penentu tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, ayah dari semua yang ada dan yang akan ada. Oleh Brahma ini kita semua diciptakan. Mengapa begitu? Karena seperti apa yang kita lihat, dia yang lebih dulu ada sedangkan kita muncul sesudahnya.'
17. Saudara-saudara, berdasarkan hal ini, makhluk yang muncul lebih dulu usianya lebih panjang, lebih cakap dan lebih berkuasa, sedangkan makhluk yang muncul sesudah dia nampak berusia pendek, tak terlalu cakap dan kurang berkuasa. Demikianlah ada makhluk-makhluk yang meninggal di alam itu dan terlahir kembali di alam ini (bumi). Karena telah berada di bumi, ia meninggalkan kehidupan berumah tangga menjadi petapa. Sebagai petapa ia berusaha sungguh-sungguh bermeditasi, bersemangat, bertekad, tekun dan dengan pengertian serta perhatian yang benar ia mencapai ketenangan batin. Dengan pikiran yang tenang ia dapat mengingat kembali kehidupannya yang lampau, tetapi yang diingatnya hanya sampai pada satu kehidupan yang lampau saja dan tak melampaui itu, ia berkata:
'Brahma yang dipuja, adalah Maha Brahma, Maha Agung, Maha Kuasa, Penguasa, Tuan dari semua, Pembuat, Pencipta, MahaTinggi, Pencipta tempat bagi semua makhluk, asal mula kehidupan, Ayah dari semua yang ada dan yang akan ada. Oleh dialah maka kita diciptakan. la adalah kekal, tetap, eternal, tak berubah, dan ia akan tetap seperti itu untuk selama-lamanya. Tetapi kita yang diciptakan oleh Brahma itu, kita semua yang telah ke mari adalah tidak kekal, berubah-ubah, tidak permanen dan berusia pendek dan pasti mati.'
Saudara-saudara, demikianlah asal mula dari segala sesuatu yang kamu sekalian nyatakan sebagai ajaran kamu bahwa segala sesuatu diciptakan oleh maha kuasa Brahma.'
Mereka pun menjawab: 'Saudara Gotama begitulah yang kami dengar seperti apa yang Saudara Gotama katakan.'
Bhaggava, tetapi Saya mengetahui asal mula dari segala sesuatu dan bukan hanya itu yang Saya tahu, yang Saya tahu lebih dari pada itu. Dengan mengetahui hal itu, pandanganKu tidak tersesat. Dengan pandangan tidak tersesat, Saya sendiri mengerti tentang kedamaian, dan dengan merealisasikan ini maka Tathagata tidak akan pernah berbuat kesalahan.
......................................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar