Rabu, 23 Desember 2009

ASIVISOPAMA SUTTA

(Sutta Ular-ular Berbisa)
Oleh: Venerable Sayadaw U Waryameinda (Minlha Sayadaw)
Diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Indonesia Oleh:
Candasili Nunuk Y. Kusmiana
Editor Oleh: Panna Kumara
Tata Letak & Sampul : Samuel B. Harsojo
Akhir Desember 2004



Asivisopama Sutta, atau sutta ular-ular yang sangat berbisa berasal dari Samyutta Nikaya, suatu kumpulan kata-kata dhamma dari Sang Buddha. Dan Mahasi Sayadaw telah berulang kali membabarkan ulang sutta ini. Karena sutta ini dapat dipakai sebagai dasar pengetahuan bagi para yogi yang tengah berlatih meditasi vipassana.



PERUMPAMAAN



Tersebutlah seorang laki-laki yang setelah melakukan perbuatan jahat, tidak mau menanggung akibat perbuatan jahatnya itu. Ia tak ingin dihukum dan menderita.

Sang raja mengetahui bahwa laki-laki ini orang jahat. Tapi ia tidak memiliki bukti yang dapat digunakan untuk menghukum kejahatan yang telah dilakukan tersebut. Namun sang raja menemukan suatu cara untuk menghukumnya meski tidak secara langsung. Ia diperintahkan memelihara 4 ekor ular yang sangat berbisa dan berbahaya. Ular-ular berbisa ini akan mengigit jika marah. Gigitannya dapat menimbulkan penderitaan dan bahkan kematian.

Seperti perintah raja, ia pun memelihara ular-ular tersebut dengan baik. Setiap hari ia membangunkan ular-ular itu, memandikan, memberinya makan, memenuhi segala kebutuhan dan jaga melatihnya. Ia berpikir, merupakan kehormatan baginya mendapat tugas mulia semacam ini dari raja. Maka ia pun merasa bahagia dan menerima kehadiran ular-ular tersebut dengan senang hati.

Keempat ular tersebut mengambil posisi demikian. Ular pertama merayap melalui kaki naik ke tubuhnya dan beristirahat di bahu kanan. Ular kedua merangkak dari sisi sebelah kiri dan beristirahat di bahu kiri. Ular ketiga memanjat dari arah depan, melingkari tubuhnya dan beristirahat di muka, ular keempat merangkak dari belakang dan beristirahat di kepalanya.

Laki-laki itu tidak menyadari dirinya dalam bahaya. Sebaliknya, ia berbahagia memiliki dan memelihara ular-ular itu. Ular-ular itu diperlakukan bak perhiasan berharga. Dipamerkannya ular-ular itu berkeliling kota dengan penuh kebanggaan dan kebahagiaan.

Suatu hari ia bersua dengan sahabat karibnya. Si sahabat mengingatkannya demikian, “Jika masing-masing ular ingin melakukan sesuatu yang berbeda disaat bersamaaan, kamu tidak akan mampu memuaskan mereka. Akibatnya mereka akan marah dan menggigitmu. Apabila hal ini terjadi, kamu akan sangat menderita dan kemungkinan akan mati.”

Kata sahabat ini lagi, “Raja sebenarnya secara tidak langsung sedang menghukummu. Bila engkau tidak mampu menjaga ular-ular itu dengan baik atau tidak mampu menyenangkan dan memuaskan mereka, raja akan menghukummu atau ular-ular itu yang menggigitmu sampai mati.”

Kenyataannya memang demikian. Ada beberapa orang suruhan raja yang diperintahkan mengawasinya, untuk memastikan apakah ia benar-benar menjaga ular-ular itu. Melihat keadaan ini, si sahabat menasehatinya untuk melarikan diri saat pengawas dan ular-ular sedang tidur.

Laki-laki ini mematuhi nasehat sahabatnya tersebut. Ia melarikan diri pada saat yang tepat. Raja, yang mengetahui bahwa dirinya melarikan diri, segera memerintahkan para pengawal untuk mengejar dan membawanya kembali. Tak ketinggalan ular-ular juga membuntuti, mengikuti jejaknya dari bau yang ditinggalkan.

Setelah mengejar beberapa lama, baik para pengawal maupun ular-ular itu tidak berhasil menemukan buruannya. Tapi raja tak berputus asa. Beliau ingat dengan lima musuh laki-laki itu. Mereka berkenan mencari, menemukan serta membawanya kembali ke hadapan raja meski tanpa imbalan apapun. Raja juga telah membuat pengumuman dengan hadiah besar bagi siapapun yang berhasil menangkap dirinya.

Dalam pelariannya, laki-laki ini bersua lagi dengan sahabat baiknya dan mengingatkan dirinya bahwa ia tidak hanya dikejar oleh ular-ular dan pesuruh raja. Tapi juga oleh 5 musuhnya. Maka, si sahabat ini menasehatinya agar lari secepat dan sejauh mungkin.

Saat raja menyadari bahwa laki-laki ini sulit ditemukan, beliau didatangi seseorang yang mengaku kawan dekat dengan buronan raja tersebut. Orang ini akan membujuk laki-laki tersebut pulang kembali. Jika dilihat sepintas, orang ini bersikap layaknya kawan baik. Tetapi sesungguhnya ia merupakan musuh terselubung laki-laki itu.

Sekali lagi, sahabat baik laki-laki itu datang untuk mengingatkan datangnya seorang “kawan”, sahabat yang salah. Maka berbekal nasehat tersebut saat si “kawan” ini datang dan membujuknya untuk kembali, ia pun menolaknya. Ia terus berlari sampai menemukan sebuah desa. Desa itu keadaannya berantakan. Dan hanya ada 6 rumah yang sedang ditinggal pergi pemiliknya.

Ia pun berkeliling mencari makan dan minum di desa ini. Maklum saja, setelah lari demikian lama, ia kehausan dan kelaparan. Rumah pertama yang dimasukinya hanya ada pot dan beberapa kotak kosong. Demikian pula dengan rumah lainnya, tak ada sedikit pun makanan yang tersisa.

Karena kelelahan ia duduk di bawah pohon dengan maksud tidur sejenak. Saat itu sahabat baiknya datang dan memberitahukan bahwa rumah-rumah kosong itu milik 6 perampok yang akan segera kembali. Jika para perampok menemukan dirinya, sudah pasti mereka akan membunuhnya.

Mendengar nasehat ini, meski kelelahan, ia melanjutkan pelariannya dan terus berlari sampai menemukan sebuah sungai lebar, dalam, dan berarus deras. Ia menyadari jika dirinya bisa mencapai sisi seberang, ia akan aman dari kejaran para musuhnya. Tapi, di tepi sungai ini tak ada perahu yang bisa dipakainya untuk menyeberang.

Ia pun segera mengumpulkan ranting-ranting pohon dan mengikatnya untuk dijadikan sebuah rakit. Saat rakit sederhana itu selesai, ia menaiki dan mengayuh rakit sederhana itu dengan kedua kaki dan tangannya. Sekuat tenaga ia berjuang. Dengan keteguhan hati dan usaha yang besar akhirnya ia sampai ke sisi seberang sungai. Ditempat ini ia baru merasa lega karena telah terbebas dari musuh-musuhnya.

Dari seberang ia melihat bagaimana ular-ular dan para pengawal raja berdiri ketakutan di tepi sungai yang lain. Mereka takut kembali ke kerajaan karena gagal menjalankan tugas dan raja akan memberikan hukuman saat mereka kembali dengan tangan kosong. Akhirnya, mereka menunggu di tepi sungai dengan sia-sia dan mati kelaparan.

Setelah memberikan perumpamaan ular dan laki-laki ini secara panjang lebar, ada beberapa hal penting dari cerita ini yang dapat diambil hikmahnya bagi para yogi saat berlatih meditasi. Bagaimanapun, menyampaikan cerita saja tidaklah mencukupi. Ada hal penting lain yang perlu dijelaskan untuk para yogi sehingga mereka bisa mempelajari dan mempraktekkannya dalam latihan.

Adapun 3 hal penting yang perlu diperhatikan dalam praktek dhamma, yaitu :
Sabhava Yotti
Melihat segala fenomena pada diri sendiri sebagaimana adanya.
Sadaka Yotti
Contoh mengenai orang lain yang berhasil dalam latihan. Jika menemukan kesulitan saat berlatih, kita bisa mendapat masukan dari contoh-contoh semacam ini.
Ayama Yotti
Seseorang dapat terinspirasi dengan mendengarkan suatu percakapan. Didalam dhamma tidak ada satupun yang bersifat khayalan. Semua yang dibabarkan bersumber dari Tipitaka, ajaran murni.

Untuk membabarkan kebenaran dari segala sesuatu sebagaimana adanya, maka sumber yang dirujuk harus mengacu pada naskah asli. Disini, Y.M. Mahasi Sayadaw selalu mengingatkan bhikkhu-guru meditasi, untuk membabarkan dhamma yang ada hubungannya dengan vipassana.

Ketika mengutip cerita-cerita dhamma seorang guru tak boleh menekankan selain vipassana. Cerita-cerita yang diambil harus secara langsung berhubungan dengan vipassana. Karena seseorang tak akan bisa meraih pandangan terang hanya dengan belajar, berpikir, mendengarkan kotbah-kotbah atau berdiskusi, hanya melalui praktek (meditasi vipassana) sajalah seseorang bisa mencapai pandangan terang.

Sekarang kami akan memberikan penjelasan tentang lambang-lambang yang digunakan dalam cerita di atas:
Empat ular berbisa melambangkan empat unsur utama.
Lima musuh berarti lima kelompok kehidupan.
Kawan yang salah adalah nafsu-nafsu raga atau kemelekatan atas kenikmatan indrawi
Desa berantakan dan enam rumah kosong melambangkan tubuh dan 6 landasan indra.
Sisi sungai merujuk pandangan salah tentang adanya diri - attha ditthi
Sungai berarti empat banjir besar.
Rakit melambangkan Delapan Jalan Utama.
Sisi seberang sungai berarti Nibbana.
Laki-laki yang mengayuh rakit dengan sekuat tenaga melambangkan diri kita yang berjuang dengan sepenuh daya.
Mencapai pantai seberang berarti mencapai Nibbana.

EMPAT ULAR

Empat ular berbisa pada cerita di atas merujuk pada 4 unsur utama yang bisa ditemui pada setiap orang. Dan laki-laki pada cerita ini adalah diri kita. Kita semua, dari ujung kepala sampai ujung kaki terbuat dari 4 unsur utama tersebut.

Empat unsur utama tersebut adalah :
Pathavi dhatu, unsur tanah dengan karakteristik kasar, halus, keras dan menahan.
Apo dhatu, unsur air yang memiliki karakteristik cair, saling melekat (kohesi), basah dan berat.
Tejo dhatu, unsur api yang memiliki karakteristik panas, dingin dan ringan.
Vayo dhatu, unsur udara yang memiliki karakteristik pergerakan, tekanan, kaku dan tegang.

Tak ada seorang pun yang tidak memiliki empat unsur utama yang dilambangkan sebagai empat ular berbisa tersebut. Setiap hari kita harus menjaga 4 ular berbisa ini. Meski dalam kenyataannya, kita memiliki jutaan ular berbisa dalam tubuh yang harus dipelihara setiap hari.

Sering kita saksikan seorang laki-laki memamerkan tubuh kekarnya yang berotot. Mereka berpikir bahwa dirinya kuat, gagah dan tampan. Mereka tidak menyadari bahwa tubuh ini berbahaya. Ada lagi sebagaian orang berolahraga, lari pagi misalnya, sampai berkeringat dan merasa puas. Sebagian lagi bahkan mengijinkan mobil atau truk melindas tubuhnya dengan maksud memamerkan kekuatan tubuhnya.

Tanpa disadari, orang-orang ini sedang memancing bahaya marahnya “ular-ular” yang dapat menggigit serta membunuh mereka. Banyak orang tidak waspada akan bahaya yang dikandung oleh empat unsur utama ini.

Adapun keempat ular tersebut adalah Ular Katthamukha (unsur tanah), ular Putimukha (unsur air), ular Aggimukha (unsur api), ular Sattamukha (unsur udara).

Ular-ular ini sangat berbisa dan berbahaya. Dalam bahasa dhamma dikatakan, bila kita dalam kondisi sakit berarti kita sedang digigit ular. Gigitan ular-ular ini dapat menimbulkan derita sakit luar biasa atau kematian.

Bila ular Kathamukha (unsur tanah) mengigit, tubuh menjadi kaku seperti sepotong balok kayu. Misalnya leher, tungkai, tangan atau tubuh menjadi kaku, berarti ada yang salah dengan unsur tanah.

Bila ular Putimukha (unsur air) menggigit, maka tubuh atau bagian tubuh tertentu mengalami pembusukan. Misalnya, muncul bisul-bisul yang berisi air dan darah kotor berbau busuk yang sering kita kenal dengan nama nanah. Ini menunjukkan ketidakseimbangan pada unsur air.

Adapun gigitan ular Aggimukha (unsur api) membuat suhu tubuh meninggi atau timbul sensasi panas seperti terbakar.

Terakhir, gigitan ular Sattamuka (unsur udara) akan membuat tubuh seakan terpotong, seperti lumpuhnya sebagian anggota tubuh, yang disebabkan ketidakseimbangan unsur udara dalam tubuh.

UNSUR TANAH

Setiap unsur memiliki karakter tersendiri. Unsur tanah misalnya, berkarakter keras, lunak, halus atau kasar. Adapun bagian-bagian tubuh yang termasuk kedalam unsur tanah adalah :
Rambut di kepala
Rambut di tubuh
Kuku
Gigi
Kulit
Otot-otot
Daging
Tulang-belulang
Tulang sumsum
Ginjal
Hati
Jantung
Selaput-selaput
Paru-paru
Limpa
Usus besar
Usus kecil
Otak
Kotoran (tahi)
Isi perut

Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, dari ras manapun juga memiliki unsur tanah. Saat menyentuh rambut, rambut terasa lembut. Sebaliknya tulang-tulang dan gigi terasa keras.

Keduapuluh bagian unsur tanah ini bisa dirasakan sebagai : keras, lembut, halus atau kasar. Sebagai perumpamaan, saat kaki menyentuh lantai kita bisa merasakan apakah lantai itu terasa keras, lembut, halus atau kasar.

Jika kita menyentuh batang pohon, batang pohon itu terasa kasar. Permukaan dinding terasa lebih lembut daripada batang pohon. Tetapi permukaan cermin lebih lembut dibanding dinding.

Maka, saat membandingkan permukaan dinding dengan permukaan cermin, permukaan dinding tersebut terasa lebih kasar. Dengan demikian istilah kasar dan lembut bersifat relatif. Apa yang sedang dialami merupakan kebenaran hakiki tantang unsur tanah.

UNSUR AIR

Unsur air memiliki karakteristik berat, cair, saling melekat atau lengket. Unsur air ini tidak bisa dirasakan seperti pada unsur tanah. Tapi saat bermeditasi seorang yogi bisa “melihat” dan merasakan unsur ini apa adanya. 12 bagian tubuh yang didominasi oleh unsur air ini adalah :
Darah
Keringat
Lemak
Air empedu
Lendir/ dahak
Nanah
Air mata
Lemak
Air ludah
Selaput lendir
Minyak sendi
Air kencing

Sebagai contoh kita membutuhkan semen dan air untuk membuat sebuah patung. Patung tak bisa dibentuk bila hanya digunakan semen saja. Maka, bila sebuah patung dipecah dan dipisah-pisahkan secara kimiawi, kita temukan partikel-partikel padat dan cair.

Tubuh kita pun terbentuk dari unsur air dan unsur tanah. Dimana bentuk itu akan timbul dari persenyawaan unsur air dan unsur tanah tersebut.

Terbentuknya bulir-bulir padi dikarenakan persenyawaan unsur air dan unsur tanah tersebut. Di musim kemarau kita bisa melihat partikel-partikel debu dengan jelas karena tidak adanya unsur air yang membuat debu melekat. Saat turun hujan, partikel-partikel debu saling melekat dan terjadi bentukan baru. Inilah akibat kondisi alami air yang bersifat saling melekat.

Ketika bermeditasi, seorang yogi tidak boleh menganalisa unsur apa saja yang sedang dicatatnya (dalam batin). Pikiran sepenuhnya ditujukan mengawasi keadaan unsur-unsur tersebut secara alami. Jadi, saat mencatat unsur air, seperti adanya cairan yang keluar dari mulut, hidung atau mata, catat tepat pada saat terjadinya.

Contohnya, ketika air mata terkumpul, kemudian mulai mengalir dari ujung mata lalu turun ke pipi, rasakan sensasi panas dan dingin yang muncul pada saat itu.

Unsur air pun memiliki karakteristik berat meski berbeda dari unsur tanah. Tanah memiliki daya menahan. Sedang air tidak. Kita bisa berdiri di atas tanah tapi tidak di atas air.

Saat berjalan, saat meletakkan kaki, kita merasakan berat, tapi ini bukan keadaan alami mengalir dari bekerjanya unsur air. Jadi, saat bermeditasi, kita bisa merasakan unsur air dengan pikiran tapi tidak dengan sentuhan.

UNSUR API

Unsur api dengan karakteristik panas, dingin atau ringan ini terdiri dari 4 jenis, yaitu :
Panas dari tubuh normal yang menyebabkan penuaan seperti munculnya kerutan-kerutan, gigi tanggal, rusak dan rambut memutih.
Unsur api memang berbahaya, tapi tanpa keberadaan unsur ini kita tak akan bisa bertahan hidup. Namun bila keberadaannya dalam tubuh berlebihan akan membuat kita sakit.
Panas tubuh yang berada di atas batas suhu normal seperti pada saat demam. Meski sakit yang diderita tidak terlalu serius tapi dapat menimbulkan ketidaknyamanan.
Kelebihan pembakaran seperti saat demam tinggi. Pada saat itu akan muncul penderitaan karena panas berlebihan. Jenis panas semacam ini dapat membuat seseorang mengigau.
Panas di perut yang membantu pencernaan makanan. Tanpa panas ini makanan tak bisa dicerna. Tapi, bila panas muncul berlebihan dapat mengakibatkan hal yang tidak baik.

Keempat jenis panas ini bisa berbahaya dan membuat seseorang sangat menderita. Dari keempatnya, panas pencernaan memainkan peranan penting dalam tubuh. Dari perut panas itu menyebar ke seluruh tubuh. Jika suhunya normal maka seseorang akan merasa nyaman. Tapi bila suhunya dibawah ambang batas normal, makanan tak bisa dicerna. Dalam keadaan demikian seseorang akan merasa kurang sehat. Saat suhu berlebihan dapat menimbulkan demam. Akibat panas di pencernaan ini ketiga jenis panas lainnya berkembang. Hanya orang-orang sehat seperti Sang Buddha yang dapat makan apapun karena suhu dipencernaanNya selalu dalam keadaan seimbang.

Ketika seseorang merasa panas atau dingin, hal itu muncul dari bekerjanya unsur api. Rasa dingin merupakan panas yang lembut. Sedangkan kepanasan adalah panas yang kuat. Sebagai contoh bila membandingkan suhu dari air dalam bejana yang diletakkan di bawah sinar matahari dan di dalam lemari es, perbedaan suhunya relatif. Akan sangat berbahaya bila terlalu banyak panas dalam tubuh.

Semak-semak dan pohon-pohon tumbuh karena adanya panas. Manusia juga tumbuh dan menjadi tua karena adanya panas. Panas dapat membuat benda-benda menjadi lebih lembut. Contohnya beras. Sebelum dimasak beras itu masih keras dan tidak bisa dimakan. Tapi setelah terjadi proses pemanasan pada saat memasak, beras menjadi lunak dan dapat dimakan. Demikian pula dengan besi yang bisa meleleh bila dipanasi pada suhu tinggi.

Panas dapat membuat benda-benda menjadi lebih ringan. Pada saat yogi merasa tubuhnya ringan, ini dikarenakan bekerjanya unsur api. Demikian pula saat seseorang merasa kedinginan. Tak hanya panas berlebih tapi dingin yang berlebihan juga dapat menyebabkan seseorang jatuh sakit. Di daerah-daerah beriklim dingin seseorang bisa meninggal karena diserang hawa yang terlampau dingin.

UNSUR UDARA

Terdapat 6 jenis unsur udara, yakni :
Sendawa, angin yang naik ke atas.
Angin yang turun ke bawah.
Udara di luar usus besar (dalam perut)
Udara di dalam usus besar.
Pergerakan di tubuh atau anggota badan
Udara saat menarik atau mengeluarkan napas.

Saat bermeditasi dan mencatat kembung-kempisnya perut, kita bisa merasakan bekerjanya unsur udara secara jelas. Sebagai contoh, saat meniup sebuah balon dengan udara maka balon akan mengembang. Tapi bila udara dikeluarkan balon akan mengempis. Sama halnya saat menarik napas maka perut akan mengembang. Dan saat mengeluarkan napas perut akan mengempis. Fenomena ini erat kaitannya dengan bekerjanya unsur udara. Udara masuk dan keluar saat kita menarik dan mengeluarkan napas.

Pergerakan, rasa kaku, goyangan, bergerak dari satu tempat ke tempat lain, ketika sedang berjalan, semuanya ini berhubungan dengan unsur udara. Seperti sebuah rumah tua yang membutuhkan penyangga untuk menopang agar tidak ambruk. Unsur udara menyangga tubuh agar bisa berdiri.

Sesosok mayat tidak memiliki unsur udara. Jadi mayat tak bisa berdiri dan menjadi lebih berat (dibandingkan saat masih hidup) karena ketidakhadiran unsur udara. Sayangnya ada sekelompok orang yang percaya tubuh orang mati menjadi lebih berat karena bekerjanya makhluk jahat. Kepercayaan ini hanya omong kosong belaka.

Sifat alami dari unsur tanah, air dan udara bisa dirasakan oleh tubuh. Sementara unsur air tak bisa dirasakan dan disentuh. Sebagai conttoh, bila kita menyentuh es akan terasa dingin karena bekerjanya unsur api. Ketika menyentuh dan merasakan es itu keras atau lembut, kita merasakan unsur tanah. Sedang unsur air hanya bisa disentuh oleh pikiran.

Ketika bermeditasi dan muncul sensasi seperti terbakar di kepala, panas atau dingin, ini akibat bekerjanya unsur api. Bila rambut terasa lembut, kaku atau halus, semua itu merupakan unsur tanah. Kita tidak dapat melihat unsur-unsur itu dengan mata, telinga ataupun mencicipinya dengan lidah. Tapi ketiga unsur (tanah, api, udara) itu dapat kita rasakan. Sementara unsur air hanya bisa dirasakan melalui pikiran, tak bisa dirasakan oleh indra.

Keempat unsur utama itu tak bisa dilihat dengan mata namun bisa dirasakan dan diketahui melalui meditasi dan pengetahuan. Apabila kita merasai sesuatu yang kasar, keras, lunak, lembut ini merupakan unsur tanah. Sedang unsur api ditunjukkan dengan adanya rasa panas, hangat atau dingin. Dan unsur udara dapat diketahui keberadaannya dengan terjadinya kekakuan, tekanan, tegangan maupun pergerakan. Dalam meditasi kita bisa menemui kebenaran hakiki dari unsur-unsur tersebut. Saat kita membayangkan atau berpikir itu bukanlah kebenaran. Tapi khayalan belaka.

Apabila dianalisa lebih jauh, maka ke empat unsur utama tersebut terbagi lagi menjadi 20 jenis unsur tanah, 12 jenis unsur air, 4 jenis unsur api, dan 6 jenis unsur udara. Jadi seluruhnya berjumlah 42 jenis. Ke-42 jenis unsur tersebut dikelompokkan dalam 4 unsur utama yang membentuk jasmani. Atau dengan kata lain kita di dalam kekuasaan 4 ular berbisa.

Ketika muncul ketidakseimbangan pada unsur-unsur tersebut seseorang bisa menderita. Jenis penderitaan itu muncul dalam berbagai penyakit seperti kanker, lumpuh, demam tinggi, dan lain-lain. Atau dikatakan kita sedang digigit oleh salah satu dari 4 ular berbisa tersebut. Ini berarti ada yang tidak beres dengan salah satu atau lebih dari empat unsur tersebut.

Untuk menjaga empat unsur itu selalu seimbang, kita mengalami penderitaan (dukkha) tapi sering menganggapnya sebagai kebahagiaan (sukkha). Bila kita bahagia tanpa menyadari bahaya dari empat unsur tersebut, kita persis seperti cerita laki-laki dengan ular-ular di atas. Agar terbebas dari bahaya tersebut kita harus rajin berlatih meditasi (vipassana).

Dalam mencatat setiap obyek yang muncul pada saat bermeditasi dapat diumpamakan seperti mengambil sebuah langkah menjauh dari ular-ular berbisa tersebut. Dengan demikian kita mengikuti nasehat dari sahabat baik yakni Sang Buddha. Beliau telah menyadari sepenuhnya sifat alami unsur-unsur tersebut dan membimbing kita dengan bijaksana melalui praktek meditasi satipathana vipassana.

Lima musuh dalam cerita di atas merujuk pada lima kelompok kehidupan (panca khanda), yaitu:
Kelompok kehidupan materi ( rupa khanda )
Kelompok kehidupan perasaan ( vedana khanda )
Kelompok kehidupan persepsi ( sanna khanda )
Kelompok kehidupan bentuk-bentuk pikiran ( sankhara khanda )
Kelompok kehidupan kesadaran ( vinanna khanda )

Secara umum kelompok-kelompok kehidupan terdiri dari kelompok kehidupan duniawai dan adi duniawi. Dalam buku ini kelompok kehidupan yang dimaksud hanya berhubungan dengan tingkat kehidupan duniawi. Kehidupan duniawi memiliki kemelekatan, upadana. Sementara kehidupan adi duniawi tak memiliki kemelekatan.

Bila dirinci kata upadana adalah gabungan dari kata upa dan adana. Upa artinya kehausan, keinginan. Sedang adana berarti menggenggam. Dan khanda artinya kelompok.

Ada beberapa contoh untuk menjelaskan arti kata ini. Selama diserang badai para penumpang kapal akan menggenggam erat-erat benda berharga miliknya. Hal ini terjadi karena munculnya rasa takut kehilangan benda-benda berharga itu. Contoh lainnya, di keramaian seperti pasar atau pusat perbelanjaan para orang tua menggenggam erat-erat tangan anak-anak mereka yang masih kecil. Tindakan ini dilakukan karena mereka takut anak-anak itu akan terluka atau hilang. Dengan cara seperti inilah kita melekat pada panca khanda, atau lima kelompok kehidupan.

Pada cerita di atas juga diceritakan bagaimana kelima musuh mengikuti dan mengejar laki-laki tersebut. Namun sejatinya kelima musuh itu tidak mengikuti melainkan berada “di dalam” kita.

Saat seseorang sedang bermeditasi “musuh-musuh” tersebut jelas terlihat. Misalnya, ketika sedang duduk bermeditasi, kaki akan terasa kaku atau kesemutan. Kaki merupakan materi (rupa) dan sensasi rasa kaku, gatal, sakit, atau kesemutan adalah perasaan (vedana).

Saat mencatat sakit atau kesemutan yang muncul pada jasmani, kita mengenali atau mengetahui adanya rasa sakit dan kesemutan itu (sanna). Aktifitas batin yang dilibatkan dalam proses mencatat dan menyelidiki bentuk-bentuk batin (sankhara). Sementara mengetahui apa yang sedang terjadi adalah kerja kesadaran (vinnana). Apapun yang kita lakukan kelima kelompok kehidupan itu bisa menimbulkan kesulitan setiap saat.

Di dalam berlatih meditasi vipassana, kita berusaha menemukan kelima musuh di dalam diri. Jadi, kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan disipin dalam melakukan pencatatan dalam batin secara akurat.

Kadang kita menemukan satu musuh atau lebih. Perlu disadari musuh-musuh itu tak hanya ada di satu tempat tapi di seluruh tubuh. Mulai dari kepala sampai ujung kaki. Tak ada satu pun tempat di tubuh yang bebas dari mereka.

Waktu berada di rumah sendiri kita tahu dimana letak benda-benda yang dicari. Tapi di rumah orang lain akan sulit menemukannya. Dengan cara sama, saat menemukan kelima kelompok kehidupan di dalam diri, kita harus mengenali mereka sebagai musuh. Bila tidak menyadari bahaya ini kita tak akan bisa menyelamatkan diri dari cengkramannya. Tapi bila kita sanggup mengenali mereka apa adanya, bahwa mereka sesungguhnya berbahaya, saat itulah kita bisa menyelamatkan diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar