Rabu, 23 Desember 2009

SAHABAT YANG SALAH

Nandiraga artinya kehausan, keinginan atas kesenangan-kesenangan. Walaupun nandiraga adalah musuh, ia selalu berpura-pura menjadi sahabat, yang akhirnya akan menjerumuskan kita ke dalam masalah. Sahabat salah ini berpura-pura menjaga kita, padahal sebenarnya ia selalu berusaha untuk membawa kita pada kesulitan.

Ada sebuah cerita yang dapat menjelaskan tentang sahabat yang salah ini. Sewaktu Sang Buddha masih hidup ada seorang raja bernama Ajatasattu dari Rajagaha yang ingin menghancurkan kerajaan Vesali. Ia mengirim salah satu menterinya yang bernama Visakara ke Vesali untuk membuat masalah di sana.

Visakara berpura-pura menjadi sahabat raja Vesali. Tak butuh waktu lama untuk memperoleh kepercayaan raja, Visakara diangkat menjadi seorang menteri. Setelah memiliki kedudukan tersebut Visakara mulai menjalankan rencananya, yakni menimbulkan perselisihan diantara para menteri. Saat orang-orang di Vesali mulai terpecah maka itu merupakan waktu yang tepat baginya untuk memberitahu raja Ajatasattu untuk menyerang. Akibatnya Vesali dapat ditaklukkan dengan mudah.

Dengan adanya nandiraga dalam diri, kita suka mencari kesenangan melalui mata, mendengar lagu-lagu merdu dengan telinga, menghirup bau-bauan yang harum dengan hidung, mencicipi makanan-makanan lezat dengan lidah. Demikian pula muncul keinginan untuk mencicipi sensasi-sensasi menyenangkan melalui tubuh. Serta berkhayal dan berpikir tentang sesuatu yang menyenangkan dari orang-orang yang dicintai dan benda-benda yang diinginkan.

Para yogi pemula umumnya mengalami sensasi rasa sakit dan muncul perasaan-perasaan tidak menyenangkan. Berikutnya, saat konsentrasi berkembang akan muncul perasaan-perasaan yang menyenangkan. Pada keadaan ini ada sebagian yogi yang melekat dengan bentuk-bentuk perasaan menyenangkan itu sedemikian rupa, sehingga ia tidak mau merubah posisi duduknya.

Yogi ini begitu melekat dengan keadaan menyenangkan tersebut sehingga ia tidak mampu meraih kemajuan dalam latihannya. Kemelekatan semacam ini menjadi rintangan meski muncul sesaat sebelum ia mencapai jalan (magga) dan buah (phala).

Saat konsentrasi membaik ada sebagian yogi yang melihat munculnya sinar terang benderang dan merasa bahagia dengan pengalaman tersebut. Ini tak seharusnya dilakukan. Para yogi harus mencatat semua fenomena yang muncul sehingga praktek meditasi yang dilakukannya mengalami kemajuan.

Ada suatu pengalaman dari yogi yang selalu melihat batang lilin yang terus bertambah dalam meditasinya. Hari demi hari yogi ini menceritakan pengalaman yang sama. Meski ia telah dinasehati untuk mencatat fenomena ini dengan cara “melihat..melihat..melihat..”. Tapi ia tidak lakukan karena melekat dengan pengalaman tersebut. Dan setiap hari yogi ini terus melaporkan melihat lilin-lilin yang bertambah dalam jumlah tak terhitung lagi banyaknya. Akhirnya sang guru meditasi berkata demikian, “Mengapa kamu tidak membawa sebatang lilinmu ke sini?”

Kejadian lainnya. Ada yogi perempuan yang melihat Sang Buddha duduk di atas kepalanya saat meditasi. Ia selalu melaporkan pengalaman yang sama setiap hari. Meski gurunya menasehati untuk selalu mencatat dengan teliti apapun yang dialaminya, ia tidak mengindahkannya. Kenyataannya ia melekat dan terus tertarik dengan pengalaman ini sehingga enggan untuk mencatat (dalam batin) dengan cermat obyek yang dilihatnya ini. Pada akhirnya sang guru mengatakan demikian kepadanya, “Mengapa tidak kamu bawa Sang Buddha ke vihara ini?”

Menurut istilah orang-orang Burma nandiraga merupakan musuh tersembunyi. Bila seseorang belum mencapai tingkat hidup para Arya maka nandiraga akan membawanya menuju bahaya bahkan kematian. Karena hanya para Arahat sajalah yang telah dengan sungguh-sungguh mengenyahkan nandiraga. Sebagai contoh kemelekatan terhadap nandiraga, saat seorang yogi pertama kali memperoleh ketenangan akibat berkembangnya konsentrasi, ia bisa melekat dengan pengalaman ketenangan itu. Selanjutnya ia akan berharap memperoleh ketenangan yang sama lagi, sehingga ia tidak bisa meraih pengetahuan yang lebih tinggi.

Di dunia ini ada banyak kesenangan yang bisa dinikmati. Kesenangan timbul melalui telinga, hidung, lidah, mata atau sentuhan. Seandainya terhidang makanan yang lezat tak peduli betapa kenyangnya, kita tetap tergoda untuk mencicipi makanan itu meski hanya sedikit. Bila ada yang membujuk, seseorang merasa belum terpuaskan meski tengah berbaring di ranjang mewah, karena ia bergairah untuk mencicipi kesenangan lebih banyak lagi. Bahkan para narapidana yang tengah di penjara pun bisa berkhayal dan berencana untuk menikmati kesenangan pikiran-pikirannya di masa datang. Faktanya, pikiran tak pernah lelah bermimpi dan berpikir tentang masa lalu, kini dan akan datang.

Kembali pada musuh alami. Kita tak akan pernah mengenali musuh-musuh itu bila tidak berlatih meditasi. Sebagai orang awam kita selalu menganggap nandiraga sebagai kawan karena kesenangan-kesenangan yang mereka suguhkan. Kita tidak menyadari bahaya nandiraga malah menganggapnya sebagai teman. Sementara bermeditasi adalah mengambil langkah sebaliknya.

Para yogi yang melakukan pencatatan-pencatatan dengan cermat dan rajin atas fenomena apapun tepat pada saat kemunculannya, sama seperti sedang menyelamatkan diri dari nandiraga. Ini persis seperti yang dilakukan oleh laki-laki dalam cerita di atas yang sedang melarikan diri dari kejaran musuh-musuhnya. Sewaktu bermeditasi kita akan menyadari bahwa nandiraga sejatinya bukan teman tapi musuh tersembunyi. Jadi berusahalah untuk mencatat (dalam batin) dengan rajin dan tekun.

Setelah berlatih vipassana seorang yogi perlu melihat “ke dalam”, apakah nafsu-nafsu indrawinya berkurang atau belum. Bila setelah berlatih nafsu-nafsu indrawi itu berkurang, maka bisa dikatakan bahwa dirinya semakin dekat dengan dhamma. Seandainya kita tidak terlampau haus/ingin akan benda-benda seperti sebelumnya berarti kita mengalami kemajuan.

Para Arahat telah terbebas dari semua kekotoran batin. Sementara bila kita memiliki sedikit kekotoran batin, keinginan/kehausan, berarti dapat dikatakan kita semakin membaik. Apabila nandiraga bekerja sangat kuat dalam diri, orang pada umumnya enggan pergi ke vihara meski sudah berusia lanjut. Ini dikarenakan dorongan nafsunya untuk menikmati kesenangn indrawi jauh lebih besar dibandingkan kekuatan untuk mengembangkan dhamma dalam diri.

Ada sebuah desa terpencil di Burma. Desa ini memiliki pelayanan media, fasilitas pendidikan dan sistem komunikasi yang buruk. Keadaan ini semakin diperparah dengan datangnya musim kering yang berkepanjangan. Kala itu para penduduk desa ini dinasehati untuk pindah ke kota terdekat dimana mereka akan mendapatkan kehidupan, kesehatan dan pendidikan yang lebih balik. Namun sebagian besar para penduduk desa ini menolak pindah karena melekat dengan rumahnya.

Hewan-hewan ternak seperti babi, kelinci, atau ayam dipelihara dan diberi makan setiap hari guna dijual, dibunuh dan diambil dagingnya. Para hewan ini tidak menyadari bahaya tersembunyi yang mengancam nyawa mereka. Saat hidup di peternakan mereka menikmati makanan yang diberikan oleh para peternak. Sebagian dari mereka bahkan bermain-main dengan riangnya. Demikian pula dengan kita menikmati kesenangan indrawi karena tidak menyadari kebenaran hakiki darinya (baca : bahayanya).

Anak-anak suka bermain dengan boneka atau mobil-mobilan. Permainan ini membuat anak-anak itu senang. Kesenangan pada orang dewasa lebih berkembang. Mereka menemukan kesenangan dari hal-hal lain. Sehingga permainan orang dewasa berbeda dari anak-anak. Namun Sang Buddha dan para Arahat mengetahui bahaya yang ditawarkan nandiraga. Karenanya orang-orang yang mengenal dhamma harus berusaha menjauhi nandiraga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar