Selasa, 22 Desember 2009

Benci dan Cinta

"Mengapa benci dan cinta bisa menjadi sangat melekat sekalipun keduanya bertentangan? Mengapa benci bisa menjadi begitu manis ketika terpuaskan? Mengapa cinta bisa menjadi begitu tragis begitu tak terpuaskan? Tidakkah karena keduanya berasal dari satu hal yang sama yaitu hasrat kepada sebuah objek?"

Kalimat ini merupakan pemikiranku yang menganggap bahwa apa yang kita rasakan semuanya bersifat sama sekalipun mungkin terasa agak bertentangan. Benci terasa begitu manis ketika terpuaskan, bukankah begitu juga adanya cinta? Siapa yang tidak senang melihat musuh yang dibencinya berhasil disakitinya? Siapa yang tidak senang ketika orang yang dicintainya mencintainya juga sehingga keinginannya untuk dicintai itu terpenuhi? Cinta terasa begitu tragis ketika tak terpuaskan, bukankah begitu juga adanya benci? Siapa yang tidak merasa "sakit" ketika cintanya tak tersampaikan, tak terbalaskan, dan lain sebagainya? Siapa juga yang tidak merasa "sesak" ketika benci yang disimpan dalam hati itu tak terbalaskan atau tak mampu untuk diungkapkan?

Pada dasarnya, cinta maupun benci berasal dari hal yang sama, yaitu hasrat kita kepada sebuah objek. Cinta maupun benci adalah reaksi pikiran kita terhadap sebuah objek yang dimulai oleh sebuah hasrat.Biasanya hasrat terhadap objek muncul terlebih dahulu, baru setelahnya disertai dengan "memegang erat2" objek yg disukai dengan kata lain keterikatan (cinta) atau sebaliknya "menolak" objek tersebut (benci). Menolak maupun memegang erat2, keduanya adalah bentuk keterikatan kita kepada objek. Keduanya bisa menyebabkan ketidakbahagiaan kita. Kehilangan yang dicintai dan kedatangan yang dibenci serta ketakutan akan keduanya terjadi, tidakkah ketiganya menyebabkan ketidakbahagiaan?

Kebahagiaan ada justru di saat kita tidak mencintai maupun tidak membenci hal tersebut. Kebahagiaan ada justru di saat kita berpikir bahwa objek adalah objek, bukan objek tuk dicintai ataupun objek yang dibenci. Ketenangan dan kebahagiaan justru ada di pertengahan kedua rasa tersebut. Di dalam kenetralan rasa antara kedua reaksi pikiran itu. Memang harus diakui akan sangat sulit untuk bisa berada di zona "netral" selamanya apabila kita belum melatih diri. Tapi tidak ada salahnya bagi untuk mencoba "merelakan" hal yang kita cintai dan "membiarkan" hal yang kita benci.

Kecenderungan pasti akan ada, tapi jangan biarkan kecenderungan untuk "membenci" ataupun "mencintai" itu menguasai kita. Bagaimanapun juga, kita tak akan mungkin menjadi bahagia saat menjadi budak daripada nafsu kita sendiri (budak daripada nafsu, bukan budak daripada objek yang kita cintai ataupun kita benci karena sesungguhnya objek tidak melakukan apapun juga kepada kita, tapi reaksi pikiran kita sendiri lah yang memperbudak/melekatkan kita kepada kepada objek tersebut), selain itu karena sifat pikiran yang bukan subjek dan juga bukan objek (misalnya kita yang mulai satu pemikiran, maka kita juga yang terkena efek pemikiran tersebut), kita sebenarnya bisa untuk berusaha mengendalikan baik cinta ataupun benci tersebut dan semua itu tergantung kepada niat, keyakinan, pikiran positif dan perjuangan kita. Yah, memang mudah untuk diucapkan dan pasti orang2 berpikir akan sulit untuk dijalankan, tapi masalahnya kalo dipikir sulit dijalankan makanya kita akan sulit menjalankan hal yang kita mau tersebut, tapi setidaknya sulit juga bukan berarti mustahil untuk dicoba kan?

Begitulah "benci" dan "cinta", keduanya memang tidak sepenuhnya "sama" tapi juga tidak sepenuhnya "berbeda". Keduanya hanyalah "reaksi pikiran" tidak sepenuhnya "nyata" maupun "eksis". Ketika kita merasakannya berbeda maka kita akan merasakannya sebagai dua hal yang berbeda. Ketika kita menyadari persamaannya, maka kita akan menyadari keduanya sebagai dua hal yang sama namun telah dibedakan oleh pikiran kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar