Jumat, 25 Desember 2009

Lotus Therapy

Sang pasien duduk dengan mata terpejam, tenggelam di dalam ritme pernafasannya, dan setelah sekian lama ia menyadari bahwa dia sedang memikirkan hubungan yang bermasalah dengan ayahnya.

“Aku sanggup berada di sana, hadir untuk rasa sakit,” katanya, ketika sesi meditasi telah berakhir. “untuk membiarkan apa adanya, tanpa memikirkan lebih lanjut.”

Therapist mengangguk setuju

“Penerimaan apa adanya,” ia melanjutkan.”Membiarkan apa adanya. Tidak berusaha untuk mengubah apapun.”

“Itu dia,” kata si therapist. “itu dia, dan ini adalah suatu hal yang besar.”

Latihan dalam kesadaran dan focus menangkap dan melepaskan emosi mungkin telah menjadi teknik psychotherapy baru yang terkenal di dekade yang telah berlalu ini. Meditasi penuh kesadaran, seperti namanya, berakar di ajaran lima abad sebelum penanggalan Kristen, oleh pangeran India, Siddharta Gautama, yang akan dikenal sebagai Buddha. Terapi ini menangkap perhatian segala macam terapi wicara, termasuk peneliti akademik, analis Freudian di dalam latihan privat dan skeptic yang telah melihat segala pencapaian oleh terapi lainnya.

Untuk bertahun tahun, psychotherapist telah berkerja untuk mengurangi penderitaan melalui perubahan kerangka cara berpikir oleh pasien, secara langsung mengubah tingkah lakunya atau membantu orang untuk mendapat pandangan dari sumber keputusasaan dan kebingungan di bawah sadarnya.

Janji dari meditasi penuh kesadaran adalah akan dapat membantu pasien untuk tahan dari banjir emosi ketika dalam proses terapi – dan pada akhirnya pengubahan reaksi di dalam kehidupan sehari di mana kata-kata tidak dapat menjelaskan.

“Ketertarikan ini telah meningkat pesat,” kata Zindel Sega, seorang psikolog dari Center Addiction and Mental Health di Toronto, di mana sesi terapi group di atas telah direkam. “dan menurut saya, sebagian besar dari hal ini adalah makin banyak therapist yang berlatih di dalam suatu bentuk percobaan bagi dirinya dan menggunakannya di dalam terapi”

Di dalam latihan dan konferensi di seluruh negri, murid, konselor dan psikolog di dalam ceramah latihan di dalam kesadaran. National Institutes of Health, telah menyokong lebih dari 50 riset untuk mengetes teknik penuh kesadaran, naik 3 di tahun 2000, untuk membantu meredakan stress, mengurangi keinginan adiktif, meningkatkan perhatian, mengangkat keputusasaan, dan mengurangi hot flash.

Sebagian pendukung mengatakan kehadiran Sang Buddha di dalam psykoterapi menyignalkan celah yang lebih besar di dalam kebudayaan - satu cara untuk mengakses penyembuhan yang lebih dalam, celah tersembunyi telah terungkap.

Akan tetapi selama ini, bukti akan meditasi penuh kesadaran membantu untuk meredakan gejala psikis hanyalah tipis, dan di beberapa kasus, bahkan menyebabkan orang menjadi lebih buruk. Banyak periset sekarang khawatir akan antusiasisme terhadap latihan Agama Buddha akan jauh ke depan di dalam ilmu pengetahuan, bahwa alat psikologi ini akan menjadi fatamorgana yang lain.

“Saya sangat terbuka dengan kemungkinan bahwa cara ini mungkin bisa efektif dan tentu saja harus dipelajari,” kata Scott Lilienfeld, seorang professor psikolog di Emory. “yang membuat saya khawatir adalah semangat, omongan tentang mengganti dunia ini. Ini dapat menimbulkan kesimpulan bahwa psychoteraphy mempunyai kecenderungan untuk tumbuh.”

Meditasi Buddhis datang di bidang psikoterapi dari arus pengobatan akademik. Di tahun 1970 an, seorang murid lulusan di biologi molecular, Jon Kabat-Zinn, tertarik oleh ide-ide Buddhis, yang mengadaptasikan versi latihan meditasi yang dapat dipelajari dengan mudah dan diteliti. Ini adalah design versi secular, bagaikan batu berharga yang diambil dari banyak lapisan fondasi ajaran Buddhis, di mana telah menumbuhkan banyak variasi sekte dan latihan spiritual dan menarik 350 juta orang di seluruh dunia.

Di dalam meditasi transedental dan tipe meditasi lainnya, para pelajar mencari untuk menjadi transen atau “menghilangkan” diri mereka sendiri. Tujuan dari meditasi penuh kesadaran adalah sangat berbeda, merawat kesadaran dari tiap sensasi di saat sensasi itu timbul.

Dr. Kabat-Zinn mengajar latihan tersebut kepada orang-orang yang menderita rasa sakit kronis di sekolah medis University of Massachusetts. Di tahun 1980an ia menerbitkan serangkaian riset yang menunjutkkan bahwa kursus 2 jam yang diberikan sekali seminggu selama 8 minggu, mengurangi rasa sakit kronis lebih efektif dari penyembuhan biasanya.

Berita menyebar, pertama secara pelan-pelan. “Saya berpikir ketika itu, periset yang lainnya harus berhati-hati ketika mereka berbicara tentang ini, karena mereka tidak ingin dikenal sebagai orang aneh jaman baru,” Dr Kabat-Zinn, sekarang seorang professot emerit di sekolah medis University of Massachusetts, berkata di dalam suatu wawancara. “jadi mereka tidak menyebutnya sebagai penuh kesadaran atau meditasi.” Setelah sekian lama, kita telah cukup menyelidiki di luar sana sehingga orang orang menjadi lebih nyaman dengan ide tersebut.”

Satu orang yang menyadarinya dari awal adalah Marsha Linehan, seorang psikolog dari University of Washington yang sedang berusaha menyembuhkan pasien yang terganggu dengan sejarah tingkah kecenderungan untuk bunuh diri. “untuk merawat pasien-pasien tersebut dengan terapi perubahan tingkah laku, telah membuat mereka menjadi lebih buruk, bukan lebih baik.” Kata Dr. Linehan di dalam suatu wawancara. “Dalam hal-hal yang lebih keras, Anda akan membutuhkan suatu hal lain, suatu hal yang membolehkan orang untuk menoleransi emosi yang sangat kuat ini.”

Di tahun 1990an, Dr Linehan menerbitkan suatu seri penemuan yang menggunakan teknik penuh kesadaran Buddhis Zen, “penerimaan radikal,” digunakan oleh terapis dan pasien secara signifikan mengurangi resiko perumahsakitan dan usaha bunuh diri di dalam pasien resiko tinggi.

Pada akhirnya di tahun 2000, suatu grup penelliti termasuk Dr. Segal di Toronto, J. Mark G. Williams di University of Wales dan John D. Teasdale dari Medical Research Council di Inggris menerbitkan suatu riset yang menemukan bahwa 8 minggu sesi yang diadakan tiap minggu akan kesadaran telah mengurangi setengah pengulangan dari orang-orang yang mengalami 3 atau lebih depresi.

Dengan Dr. Kabat-Zinn, mereka menulis buku popular, “The Mindfull Way Through Depression.” Keingintahuan psikoterapis mengenai kesadaran ini telah menjadi “bagaikan memberi makanan, sejenis itu, yang sedang terjadi” kata Dr. Kabat Zinn.

Meditasi penuh kesadaran ini dapat dengan mudah di deskripsikan. Duduk di posisi yang nyaman, mata tertutup, lebih diinginkan dengan punggung yang tegak dan tanpa penyangga. Relax dan perhatikan sensasi di badan, suara, dan mood. Perhatikan tanpa memutuskan. Biarkan pikiran terbenam di dalam ritme pernafasan. Jika pikiran itu pergi (dan akan), secara perlahan kembalikan perhatian ke pernafasan. Paling tidak 10 menit.

Setelah menguasai kontrol perhatian, beberapa terapis mengatakan, seseorang dapat berbalik, secara mental, untuk mengatasi pikiran yang mengancam dan mengerikan. – seperti contohnya, hubungan yang kering dengan orangtua- dan belajar untuk mengatasi kemarahan atau kesedihan dan membiarkan itu pergi, tanpa menuju ke masa suram atau berusaha mengubah perasaan, langkah salah.”

Seorang wanita, doktor, yang telah bertahun tahun di dalam terapi untuk mengatur keberadaan untuk mengurangi kebingungan, akhir-akhir ini mulai menemui Gaea Logan, seorang terapis di Austin, Texas., yang menggunakan meditasi penuh kesadaran di dalam latihannya. Pasien tersebut memiliki cukup banyak hal yang membuatnya khawatir, termasuk anak yang mempunyai penyakit mental, perceraian, dan apa yang dia deskripsikan sebagai ”suara di dalam yang kasar,” kata Ny Logan.

Setelah melatih meditasi penuh kesadaran, ia terus merasa bingung di saat-saat tertentu akan tetapi kata Ny. Logan, ”Saya dapat berhenti dan mengamati perasaan dan pikiran saya dan memiliki kasih untuk diri saya sendiri.”

Steven Hayes, seorang psikolog dari University of Nevada di Reno, telah membuat terapi wicara yang diberi nama Acceptance Commitment Therapy, atau ACT, berdasarkan dari usaha seperti seorang Buddha untuk berjalan lebih dari bahasa untuk mengubah dasar dari proses psikological.

“Ini perubahan dari kesehatan mental kita yang di definisikan oleh isi dari pikiran kita,” kata Dr. Hayes, “untuk mendefinisikan hubungan kita di dalam konten tersebut – dan mengubah hubungan tersebut dengan duduk bersamanya, memperhatikannya, dan menjadi bebas dari definisi tersebut oleh kita sendiri.”

Untuk segala tanda-tanda yang bagus ini, ilmu pengetahuan di belakang kesadaran ini masih dalam tahap bayi. Agensi untuk kesehatan, riset dan qualitas, yang menyelidiki latihan kesehatan tahun lalu menerbitkan review yang komprehensif tentang meditasi, termasuk T.M., latihan Zen dan kesadaran, untuk berbagai macam masalah fisikal dan mental. Riset tersebut menemukan bahwa dari keseluruhan, penelitian ini terlalu remang-remang untuk mengambil kesimpulan.

Review akhir-akhir ini oleh peneliti asal Kanada, memfokuskan secara spesifik di meditasi penuh kesadaran, menyimpulkan bahwa hal tersebut “Tidak memiliki efek yang dapat dapat digantungkan terhadap depresi dan kebingungan.”

Terapis-terapis yang menggunakan latihan kesadaran tidak setuju ketika meditasi tersebut paling berguna pula. Beberapa orang mengatakan bahwa meditasi Buddhis itu paling berguna untuk digunakan oleh pasien-pasien yang memiliki masalah emosional yang cukup dalam. Lainnya seperti Dr. Linehan, memaksakan bahwa pasien yang memiliki penyakit mental yang parah adalah kandidat yang bagus untuk kesadaran.

Satu kasus di mana terapi yang berdasarkan kesadaran untuk menghindari pengulangan depresi. Perawatan tersebut mengurangi resiko pengulangan depresi di antara orang-orang yang telah memiliki tiga atau lebih sesi depresi. Akan tetapi hal tersebut mungkin memiliki efek yang sebaliknya terhadap orang-orang yang memiliki satu atau dua sesi depresi, penelitian menunjukkan.

Perawatan penuh kesadaran “Mungkin menjadi kontradiksi di grup pasien ini,” S. Helen Ma dan Dr. Teasdale dari Medical Research Council menyimpulkan dari penelitian terapi di 2004.

Oleh karena meditasi penuh kesadaran mungkin memiliki efek yang lain di perjuangan mental yang lain tantangan untuk para pendukung adalah untuk menspesifikasikan di mana hal ini paling efektif- dan, tergantung akan menjadi sepopuler apa latihan ini.

Pertanyaanya, kata Linda Barnes, seorang professor associate di obat keluarga dan dokter anak di sekolah medis Boston University, bukan akankah meditasi penuh kesadaran ini akan menjadi teknik terapi tinggi atau untuk kembali ke klise alat membantu diri sendiri.

“Jawaban terhadap kedua pertanyaan tersebut adalah iya,” kata Dr. Barnes.

Masalah sesungguhnya, sebagian peneliti setuju, adalah akankah ilmu pengetahuan akan tetap menjaga ritme dan membantu orang untuk membedakan variasi penuh kesadaran dari ketidak sadaran.

Variasi dari latihan meditasi telah dipelajari oleh periset Barat akan efeknya di dalam kesehatan mental dan fisik.

Tai Chi

Latihan aktif, sewaktu-waktu dikatakan sebagai meditasi bergerak, menyangkut gerakan yang sangat perlahan secara berkelanjutan dengan konsentrasi ekstrim. Gerakan-gerakan tersebut adalah untuk menyeimbangkan energi vital di dalam tubuh akan tetapi tidak memiliki signifikan keagamaan.

Penelitian tercampur aduk, sebagian penemuan mengatakan bahwa dapat mengurangi tekanan darah pasien, dan penelitian lainnya tidak menemukan efek apapun. Ada bukti bahwa tai chi dapat membantu orang-orang usia lanjut untuk melatih keseimbangan.

Transcendental Meditation

Para pelaku meditasi duduk secara nyaman, mata terpejam, dan bernafas secara alami. Mereka mengulangi dan konsentrasi pada mantra, atau suatu kata, atau suatu suara yang dipilih oleh para guru untuk mencapai keadaan penyerapan kesadaran yang dalam. Para pelaku “kehilangan” diri mereka sendiri, tidak tersentuh oleh masalah sehari-hari. Penemuan mengatakan bahwa hal tersebut dapat mengurangi tekanan darah di beberapa pasien.

Mindfulness Meditation

Para pelaku mencari posisi yang nyaman, memejamkan mata dan focus pertama di pernafasan, secara pasif mengamati. Dan jika emosi memasuki pikiran, mereka mengijinkannya lewat dan mengembalikan perhatian ke pernafasan. Tujuannya adalah untuk mencapai kesadaran fokus akan apa yang terjadi pada setiap saat.

Penelitian menemukan bahwa hal tersebut dapat mengatasi sakit kronis. Penemuan tersebut tercampur dengan penggunaan zat-zat berbahaya. Dua percobaan menunjukkan bahwa hal tersebut dapat memotong keseringan pengulangan di dalam orang orang yang telah mengalami tiga atau lebih periode depresi.

Yoga

Penambahan kesadaran melalui teknik pernafasan dan postur-postur spesifik. Variasi pelajarannya sangat bervariasi, bertujuan untuk mencapai penyerapan total di saat ini dan pelepasan dari pikiran biasanya. Hasil penelitian juga bercampur-campur, akan tetapi bukti menunjukkan bahwa hal tersebut bisa mengurangi stress.

Sumber:
http://www.nytimes.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar