Jumat, 25 Desember 2009

Mengenyahkan Setan

Di sadur dari biografi YM Phra Acharn Mun
Kompilasi oleh YM. Phra Acharn Maha Boowa Nyanasampanno

Pada suatu malam sekelompok suku pedalaman yang tinggal di sekitar daerah perbukitan berunding bahwa kini ada seorang guru besar yang tinggal di daerah mereka, dan mereka berpikir mungkin beliau memiliki mantra gaib (gatha) [ayat suci dari Tipitaka] yang bisa dipakai sebagai pelindung terhadap setan dan iblis. Mereka bermaksud mendatangi dan menanyakan hal itu kepada beliau pada keesokan paginya.

YM Acharn Mun, berkat pandangan kewaskitaannya, mengetahui tentang hal ini dan memberitahu para bhikkhu (murid-muridnya) mengenai apa yang telah beliau dengar. Keesokan harinya para penduduk desa datang berkunjung dan memohon gatha (mantra) yang dapat melindungi mereka dari gangguan setan dan iblis. Beliau menyuruh mereka untuk merenungkan kata buddho, dhammo atau sangho dalam batin, dan beliau berkata bahwa tak ada setan dan iblis yang bisa menahan kekuatan kalimat kalimat ini. Mereka mengikuti instruksi beliau dengan penuh keyakinan, tanpa mengetahui bahwa ini adalah metode / akal cerdik beliau agar mereka menjalankan praktik meditasi.

Hasilnya tidak perlu menunggu lama, keesokan harinya mereka bergegas menemui beliau kembali dan melaporkan apa yang terjadi semalam ketika pikiran (batin) mereka mencapai eka-citta (ekagatha / batin terpusat ke 1 titik / fokus). Mereka berkata bahwa apa yang mereka lakukan sudah benar karena setan dan iblis ketakutan oleh kekuatan kalimat ini, sudah melarikan diri. `Mulai saat ini kalian tak perlu takut pada setan dan iblis' YM Acharn Man berkata. 'Mereka sudah melarikan diri. Bahkan bila ada di antara kalian yang belum mencapai keadaan ini (ekacitta), setan dan iblis juga sudah ketakutan begitu mendengar kalimat ini', sabda beliau.

Semenjak itu beliau menyuruh mereka merenungkan kalimat ini setiap hari. Para penduduk pedalaman ini secara alami adalah orang yang polos, sederhana dan patuh. Mereka meraih hasil yang menakjubkan sehingga pikiran (batin) mereka bersinar cemerlang dan mampu mengetahui (membaca) pikiran orang lain, termasuk para bhikkhu yang tinggal di vihara dimana YM Acharn tinggal. Hal yang sama juga terjadi pada penduduk desa yang semula mengira YM Acharn adalah "harimau yang menyamar", seperti yang sudah diceritakan sebelumnya. Mereka segera mengunjungi YM Acharn dan menceritakan hasil luar biasa ini.

Hal ini mengagetkan para bhikkhus yang merasa takut umat awam dapat membaca pikiran mereka*), terutama bila mengetahui sesuatu yang kadangkala tak dapat mereka kendalikan misalnya tentang suatu hal yang tidak pantas bagi kebhikkhuan mereka. Kemudian para bhikkhu bertanya kependuduk tentang perkembangan meditasi mereka, lebih karena takut "kecolongan" melebihi keinginan mereka untuk mengetahui tehnik perkembangan batin penduduk. Dengan sederhana polos dan tulus , penduduk menjawab dengan jujur kepada para bhikkhu dan tanpa maksud melebih lebihkan. Tidak seperti penduduk di kota , mereka tidak menutupi fakta dan menyembunyikan perasaan agar dianggap ramah /demi kesopanan. Ini adalah bukti pencapaian mereka yang tak dapat dibantah lagi dan hal ini terbukti dari bhikkhu yang pikirannya terbaca oleh mereka malam sebelumnya tanpa keraguan sedikitpun.

Penduduk desa juga berkata jujur kepada YM Acharn, berkata bahwa mereka mengetahui dengan jelas kondisi pikiran / batin mereka sendiri, sebelum mampu membaca batin orang lain. Ketika ditanya seperti apa dan apakah ia (batinnya) takut akan setan , mereka tersenyum dan berkata, "Pikiran / batin melebihi hal duniawi. Tidak takut oleh apapun . Agung." Semenjak saat itu, setan dan iblis menjadi isu yang tidak berarti dan semua orang di desa beralih ke YM Acharn dan Dhamma sebagai pelindung mereka. Mereka yang telah meraih pencapaian meditasi menceritakan ke suku mereka dan semua menjadi yakin dan patuh pada instruksi YM Acharn'.

Ketika tiba waktu berdana makanan pada pagi hari, mereka akan berkumpul bersama ditempat yang sama dan berdana, YM Acharn memberitahu mereka agar mengucapkan kata sadhu**) [ menghargai perbuatan baik / jasa orang lain – turut bersyukur atas jasa yang dilakukan orang lain / sesama] dengan keras kepada sesama mereka. Bahkan mahluk yang tak tampak ( peta & devata) juga turut bergembira atas perbuatan baik dan turut menikmati jasa baik mereka. Mereka dengan gembira melakukan hal ini setiap hari.

*Catatan kaki :

**) Selain Sadhu seringkali umat Buddhis Thai juga mengucapkan anumodana - turut bersyukur atas perbuatan baik yang dilakukan oleh orang lain

*) Kisah yang mirip juga terjadi pada jaman Sang Buddha seperti yang tertera dalam kitab Dhammapada, dimana disebutkan ada seorang umat wanita yang mampu membaca pikiran orang lain. Beberapa bhikkhu takut wanita itu bisa membaca pikiran mereka karena kadangkala mereka tak dapat mengendalikan memikirkan sesuatu yang porno atau tak pantas.

Jelas tampak bahwa pada sebagian umat yang berpendidikan rendah tetapi patuh dan yakin, lebih mampu mengembangkan / mengolah batin daripada bhikkhu atau orang terpelajar dengan nilai akademis yang istimewa. Tampaknya pengetahuan intelektual mereka mengantikan pencapaian mereka dalam kekuatan istimewa ini. Bahkan dalam hal meditasi penerangan (vipassana), mereka tak sebanding dengan umat awam yang rendah hati, polos dan bersahaja . Sampai kini contoh ini masih bisa ditemukan di Thailand

-. Sekilas tentang Cetoparinyana (membaca pikiran orang / mahluk lain):

Orang yang telah mengetahui Cetoparinyana dapat mengetahui jalan / keadaan pikiran orang lain atau mahluk lain, misalnya ia mengetahui pikiran sedang bahagia, menderita, seimbang dan dapat mengetahui sebab sebabnya. Juga dapat mengetahui lebih dalam apakah pikiran dipengaruhi atau tidak oleh nivarana, dalam jhana atau tidak, dapat mengetahui tingkat kesucian orang lain yang lebih rendah dari dirinya tetapi yang lebih tinggi darinya tidak dapat diketahuinya. Pencapaian Cetoparinyana ini cukup bermanfaat , tetapi lebih bermanfaat mengetahui batin / pikiran (citta) sendiri. Kita mengetahui sifat tak baik & upakilesa yang melekat pada diri kita. Bila ada sifat tak baik jangan dimasukkan dalam batin kita. Bila orang tersebut mengetahui kekuatan batin kita berarti kekuatan batin orang itu lebih tinggi dari kita dan kita harus menghormatinya (namaskara), memohon dengan hikmat agar ia bersedia mengajar kita atau menjadi guru kita. Lalu bagaimana halnya dengan umat yang memiliki kemampuan batin melebihi dari bhikkhu ? Yang jelas umat tersebut tetap harus namaskara kepada sang bhikkhu (menghormati ke-bhikkhu-annya). Dalam literature disebutkan bahwa – sekalipun umat sudah ariya tetapi bhikkhu belum mencapai kesucian umat tetap harus menghormati bhikkhu tsb. Sebaliknya sang bhikkhu juga harus menghargai dan menghormati pendapat umat tsb walau tidak harus namaskara. Dan sesungguhnya mereka yang memiliki Cetoparinyana ini telah mengetahui batinnya sendiri, sebelum ia dapat mengetahui batin orang lain. Ini adalah hukum alam. Seseorang yang memiliki kemampuan ini dapat mengembangkan batinnya untuk mencapai batin yang sempurna dan memiliki kekuatan batin tanpa noda, ini adalah dari hasil mengetahui batin orang lain.

Referensi :
1.Riwayat Hidup LP Man Buridhatto – Luangta Maha Boowa N
2.Samma Samadhi – LP Waen Sucinno
3.Mangala Berkah utama – J Sanjivaputta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar