Jumat, 25 Desember 2009

PLR, Melongok Masa Silam Demi Kesembuhan

Jakarta, Kompas, Jumat, 16 Sept. 2005



Orang hidup selalu punya masalah, so pasti. Namun, kalau berbagai upaya memecahkannya sudah dilakoni, tapi hasilnya selalu mentok, siapa tahu ada sesuatu di masa lalu yang mengakibatkan kesengsaraan di masa kini .




Salah satu jalan keluarnya, tengoklah “ke masa silam” melalui terapi past life regression (PLR).

Anto tak habis pikir, mengapa belakangan ini ia punya dorongan sangat kuat untuk menyelingkuhi sahabat istrinya. Padahal, hubungan dengan Nita, sang istri, baik-baik saja. Tidak ada masalah serius. Hal itu jelas menimbulkan konflik dalam dirinya. Ia sangat berharap ada jawaban atas masalah yang cukup mengganggu itu.

Ati dan Bimo - seorang ibu dan anak - entah mengapa selalu saja bertengkar. Sulit bagi Bimo menjadi anak penurut di mata ibunya.

Aldo mengaku tak pernah mampu melakukan hubungan suami-istri sepanjang perkawinannya. Lalu Beni punya penyakit aneh, karena di malam hari ia sering terbangun hanya karena merasa tenggorokannya kemasukan air.

Ima, seorang guru sekolah internasional di Jakarta, pun mengeluh tentang muridnya yang super-bandel, selalu saja membangkang. “Anak ajaib” itu diyakini punya hubungan emosional dengan kehidupan Ima di masa lalu.

Masih ada ribuan kisah lain yang menyimpan masalah yang tak kunjung terpecahkan. Sering jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu justru ditemukan setelah menengok kembali kehidupan di masa lalu. Itulah inti pendekatan terapi past life regression (PLR).


Rekaman tertinggal
PLR sejatinya teknik bagi seorang psikolog atau praktisi past life untuk menuntun seseorang pada kehidupannya surut ke belakang, jauh sebelum ia dilahirkan.


Tujuannya untuk membantu seseorang mengatasi masalah, trauma, penyakit psikosomatis, dan sebagainya.

Anto misalnya, sempat melihat kehidupan masa lalunya sebagai pendeta Buddha yang tidak menikah. Ketika hendak meninggal, dia dirawat oleh keponakannya, yang dalam kehidupan kini “menjelma” jadi anak perempuannya. Anto juga melihat dirinya berada dalam kehidupan pernikahan, saat ia melihat istrinya di zaman baheula, ternyata sahabat istrinya kini. Tak heran kalau Anto lalu tertarik untuk berselingkuh.

Sedangkan Ati dan Bimo, di kehidupan lalu keduanya ternyata sama-sama pria dewasa yang pernah terlibat pertengkaran hebat. Ati bahkan sampai membunuh Bimo. Tak heran bila dalam kehidupan mereka saat ini, keduanya bagai minyak dan air, tak pernah bisa menyatu.

Lalu Beni, dalam kehidupan masa lalunya adalah anggota kelompok pemberontak terhadap pemuka agama yang dogmatis di abad pertengahan. Sebagai hukuman, ia ditenggelamkan di laut. Setelah menyadari masa lalunya, secara perlahan gangguan Aldo lenyap. Ia tak pernah terbangun lagi di malam hari. Yang menarik, Aldo ternyata seorang biarawan Katolik di Italia pada abad ke-17. Lewat terapi, ia menyadari bahwa kini ia bukan lagi biarawan. Ia orang biasa yang boleh melakukan hubungan seksual sebagaimana orang biasa.

Begitu pula Ima, dalam kehidupan masa silamnya ia pernah menyeleweng dan meninggalkan suami serta anaknya. Anak itulah yang kini jadi muridnya. “Setelah tahu, kini saya selalu menyiapkan diri agar lebih sabar menghadapi murid saya yang satu ini,” aku Ima.


Evolusi jiwa
Dua praktisi yang bermukim di Jakarta, Pamugari Widyastuti, S.Psi. dan Sumarsono Wuryadi, mengakui manjurnya terapi kembali ke masa lalu ini.


Namun, jangan salah tafsir. Terapi ini bukan untuk main-main, misalnya iseng hanya untuk melihat siapa diri kita di masa lalu, tanpa ada manfaat yang bisa dipetik.

PLR bertujuan menolong seseorang ketika masalahnya menemui jalan buntu. Hal yang sama dilakukan untuk penyembuhan penyakit. Seperti Ana yang sudah bolak-balik ke dokter untuk mengobati sakit perutnya yang tak kunjung sembuh. Ketika terapi lain dan pengobatan medis tak jua menyembuhkan, dia mencoba terapi PLR.

“PLR merupakan terapi terakhir yang harus saya ambil bila klien saya tak kunjung sembuh,” ujar Reza Gunawan, praktisi self healing dari Klinik True Nature Healing. Di luar negeri, PLR cukup akrab di kalangan dunia kedokteran. Begitu tenaga medis angkat tangan terhadap kesembuhan pasiennya, mereka segera merekomendasikannya menjalani terapi PLR.

Namun, di Indonesia PLR baru hadir dalam beberapa bulan terakhir. Beberapa tempat yang aktif memperkenalkannya antara lain Yayasan Sanjiwani dan Yayasan Anggrek. “lni awal yang baik, karena ternyata PLR bisa diterima sebagai terapi,” aku Sumarsono yang berpraktik di Klinik Seroja dan Klinik Sanjiwani, Jakarta.

Menurut Sumarsono, terapi PLR dapat digunakan untuk menghilangkan berbagai trauma kejiwaan dan penyakit psikosomatis. Di samping itu, juga bisa membantu seseorang menjadi lebih percaya diri.

Untuk dapat memahami terapi PLR, mau tidak mau kita harus juga memahami perihal reinkarnasi lebih dulu. Termasuk di dalamnya hukum sebab-akibat (karma). Diyakini bahwa jiwa (roh) kita itu kekal adanya. Ketika orang meninggal dunia, sebetulnya hanya jasadnya yang mati. Jiwanya tetap hidup dengan “pakaian” dan peran yang berbeda.

Namun, memori akan kehidupan masa terdahulu masih melekat dalam jiwa. Selain bisa berupa hobi, minat, keterampilan, dan intelektualitas, memori itu juga bisa berupa pengalaman yang menyakitkan, seperti cara meninggal secara tak terduga dan menyakitkan. Hal inilah yang menimbulkan keluhan atau penyakit yang tak terpecahkan oleh tangan dokter.

Dari sisi ini, terapi PLR punya dimensi spiritualitas yang tinggi. “Selalu ada benang merah yang menghubungkan siapa kita di masa lalu dan saat ini. Ada rangkaian proses akumulatif dari pengalaman-pengalaman terdahulu menuju pada kesempurnaan. Sadar atau tidak sadar, ada evolusi spiritual pada diri manusia.

“Pada tahap-tahap tertentu, kita seperti dibenturkan sebelum menyadari maknanya. Kita menuai apa yang kita tanam. PLR digunakan untuk melihat (masa) yang lalu dan mengoreksi diri apakah yang kita hadapi merupakan karma dulu. Kehidupan yang sekarang menyempurnakan kehidupan yang lalu,” jelas Sumarsono.

Senada dengan Sumarsono, Pamugari Widyastuti menegaskan, PLR membantu menjadikan kehidupan seseorang lebih seimbang, lebih sempurna, dan lebih bersih Kalau sudah tahu arti rangkaian hidup manusia, kita akan menjadi lebih humble dan berserah diri. Manusia memiliki higher self yang menuntut kita di dalam keterpurukan untuk mengasah jiwa,” tutur Ketua Jurusan Psikologi Universitas Paramadina, Jakarta, ini.


Tanya higher self
Pamugari dan Sumarsono menggunakan teknik relaksasi, agar kliennya mudah memasuki alpha state, di mana otak dalam kondisi istirahat penuh. Saat itu, gelombang otak sangat kondusif untuk menyambung pada rekaman memori masa lampau.


“Kita minta higher self mengajak pada masa lalu yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi seseorang. Orang yang pernah belajar meditasi, reiki, dan sebagainya lebih cepat masuk dan melihatnya. Selain itu, makin muda usia prosesnya makin mudah, apalagi yang percaya pada saya. Saya bisa meregresi secara massal mahasiswa saya. Because they trust me,” aku Pamugari.

Pamugari tidak menggunakan hipnosis, karena ia ingin kliennya ingat apa yang dilihatnya di masa lalu. Ia juga menuntunnya untuk mengikuti langkah-langkah yang harus dilakukan lewat kaset. Menurut dia, dalam terapi PLR klien harus latihan sesering mungkin agar dapat menemukan jalan keluar yang tepat. Karena itu Pramugari mengharapkan, lewat kaset kliennya bisa melakukannya di rumah.

Yang dilakukan Sumarsono pun tidak jauh berbeda dengan Pamugari. Setelah relaksasi, Sumarsono mengajak kliennya untuk membuang pikiran dan merasakan proses sampai mengendap masuk ke alpha state.

“Dalam kondisi itu, roh kita yang dominan, karena raga dan pikiran sudah ‘dibuang'. Pada saat itulah higher s elf kita muncul. Tinggal tanya saja, siapa saya. Nanti, ‘kan, terjadi dialog apa yang harus kita lakukan untuk keluar dari masalah yang kita hadapi. Roh manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengetahuinya. Kita bisa minta dibawa mundur tergantung permintaan. Bisa setiap 100 tahun, atau pada kehidupan di mana rekamannya masih terbawa hingga kini,” papar guru reiki ini.

Jika seseorang gagal, biasanya karena ia tidak berhasil masuk ke alpha state atau tahap hening. “Sebaliknya, jika berhasil memasuki taraf hening, otomatis “film”-nya cepat sekali muncul. Jangan kaget kalau ada gambar-gambar kehidupan kita yang lampau. Setiap orang tidak sama. Jangan berkomentar dulu, terima saja apa adanya. Biarkan itu mengalir.”

Bagi Sumarsono tidak semua kliennya diberi tahu ketika sedang diterapi PLR. Sebab, banyak orang belum bisa menerima dan mempercayai terapi ini, sehingga ia melakukan PLR sendiri tanpa setahu kliennya. Ia punya contoh kasus salah satu kliennya, seorang laki-laki yang kulitnya melepuh.

“Orang ini sudah berobat hingga ke Amerika Serikat. Saya pun berusaha menyembuhkannya dengan reiki dan meditasi. Karena tak kunjung sembuh, saya lakukan PLR. Saya lalu “pergi” sendiri ke alam acashic dan melihat apa yang terjadi sebelumnya pada kliennya, tanpa mengajak si klien. Ternyata di kehidupan yang lalu ia jadi jagal ayam dan kerap merebus ayam dengan air mendidih tanpa berdoa terlebih dahulu. Menghadapi kasus semacam ini, saya berdoa agar karmanya dihilangkan,” ujarnya.

Rekaman memori memang tidak akan hilang, kalau kita tidak menghapusnya. Terapi PLR merupakan salah satu cara untuk menghapus “rekaman” yang tidak dikehendaki pada jiwa manusia.

Alamat:

Sumarsono Wuryadi / Yayasan Sanjiwani
Telepon: (021) 314-1057 (Cikini) atau (021) 736-1392 (Rempoa)

Pamugari Widyastuti, S.Psi, telepon: 315-4286

Sumber : http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0509/16/133555.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar