Jumat, 25 Desember 2009

MEDITASI MEMBERIKAN PENYEGARAN PADA OTAK

Oleh Marc Kaufman
Staff Penulis di Washington Post
3 Januari 2005

Washington, Amerika Serikat – Penelitian tentang otak manusia dimulai untuk menghasilkan bukti nyata tentang meditasi yang telah dilakukan berabad-abad oleh para praktisi Buddhis: Disiplin Mental dan praktek meditasi bisa mengubah cara kerja otak dan membuat orang bisa mencapai tingkat kewaspadaan yang berbeda.

Keadaan perubahan tersebut secara tradisional telah dimengerti sebagai sesuatu di luar ukuran dunia fisik dan evaluasi obyek. Tapi beberapa tahun belakangan ini, para peneliti di Universitas Wisconsin bekerja sama dengan para bhikkhu Tibet telah berhasil menerjemahkan pengalaman-pengalaman mental tersebut ke dalam bahasa ilmu pengetahuan tentang frekuensi tinggi gelombang Gamma dan keseimbangan otak, atau koordinasi di antaranya. Dan mereka telah menunjukkan dengan tepat bahwa korteks prefrontal kiri yang letaknya tepat di belakang dahi sebelah kiri, adalah tempat dimana terjadi aktivitas otak yang hebat pada saat dihubungkan dengan meditasi.

”Apa yang kami temukan pada orang yang telah lama melakukan praktek meditasi memperlihatkan skala pergerakan otak yang belum pernah kami lihat sebelumnya”, kata Richard Davidson, seorang ahli ilmu otak di Laboratorium W.M. Keck yang baru di Universitas Wisconsin bernilai 10 juta dollar untuk meneliti Fungsi Imajinasi Otak dan Tingkah Laku. “Praktek mental mereka berpengaruh pada otak sama seperti pada latihan golf dan tenis yang akan mempertinggi daya guna otak”. Dia berkata, hal tersebut menunjukkan bahwa otak mampu untuk dilatih dan secara fisik dapat diubah sedemikian rupa seperti yang dapat dibayangkan oleh beberapa orang.

Para ilmuwan dulu percaya kebalikannya – bahwa hubungan-hubungan antar sel urat otak telah terbentuk sejak awal kehidupan dan tidak berubah pada masa kanak-kanak. Tetapi asumsi tersebut tidak terbukti selama 10 tahun yang lalu dengan bantuan imajinasi otak tingkat tinggi dan tehnik-tehnik lainnya, dan dalam tempatnya, para ilmuwan telah merangkum konsep pengembangan otak yang terus menerus dan "neuroplasticity”.

Davidson mengatakan bahwa hasil terbaru dari studi meditasinya yang dipublikasikan di “Cara Kerja Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional” di bulan November, mengambil konsep neuroplasticity satu langkah lebih jauh dengan memperlihatkan bahwa latihan mental via meditasi (dan barangkali cara lainnya) dapat dengan sendirinya mengubah cara kerja di bagian dalam dan di sekeliling otak.

Penemuan-penemuan baru tersebut adalah hasil kolaborasi lama, bila tidak mungkin, antara Davidson dan Dalai Lama Tibet, praktisi Buddhisme terkenal di dunia. Dalai Lama pertama kali mengundang Davidson ke tempat tinggalnya di Dharamsala, India pada tahun 1992 setelah mempelajari riset penemuan Davidson tentang emosi-emosi dari ilmu pengetahuan otak. Orang-orang Tibet mempunyai tradisi meditasi intensif yang telah berabad-abad lamanya dan, sejak mula, Dalai Lama telah tertarik untuk mengajak David dari segi ilmu pengetahuan menggali cara kerja pikiran meditasi dari para bhikkhunya. Dua tahun yang lalu, Dalai Lama menghabiskan dua hari untuk mengunjungi Laboratorium Davidson.

Pada akhirnya Dalai Lama mengirimkan delapan praktisi meditasinya yang ulung ke Laboratorium Davidson untuk dilakukan tes Electroencephalograph (EEG) dan scanning otak pada mereka.

Para praktisi Buddhis dalam eksperimen ini telah melalui latihan meditasi tradisional di Tibet Nyingmapa dan Kagyupa selama kira-kira 10.000 sampai 50.000 jam dalam waktu 15 sampai 40 tahun. Sebagai bahan perbandingan, 10 sukarelawan pelajar yang tidak mempunyai pengalaman meditasi sebelumnya juga di tes setelah mereka latihan meditasi selama 1 minggu.

Pada para bhikkhu dan sukarelawan dipasang sensor listrik sebanyak 256 buah dan diminta untuk bermeditasi dalam jangka waktu pendek. Berpikir dan aktivitas mental lainnya dikenal dapat memproduksi sedikit, tapi dapat dideteksi, aktivitas ledakan-ledakan listrik sebagai sekelompok besar syaraf yang mengirimkan pesan satu sama lain dan di situlah sensor-sensor tersebut diketahui. Davidson sangat berminat terutama dalam mengukur gelombang Gamma, beberapa dari frekuensi tertinggi dan yang paling penting gerak listrik pada otak.

Para bhikkhu dan sukarelawan diminta untuk bermeditasi, secara spesifik pada perasaan haru yang tidak terbatas. Ajaran Buddhis menjelaskan keadaan tersebut sebagai “kesiapan yang bebas dan kemampuan untuk membantu makhluk hidup”, yang mana hal tersebut ada di dalam intisari ajaran Dalai Lama. Para peneliti memilih pemusatan tersebut karena tidak perlu berkonsentrasi pada obyek tertentu, kenangan tertentu atau gambar tertentu dan mengolahnya, bukan merubah bentuk/ keadaan yang sudah ada.

Davidson mengatakan bahwa hasilnya jelas memperlihatkan bahwa meditasi mengaktifkan otak para bhikkhu yang telah terlatih dengan cara yang sangat berbeda dari para sukarelawan. Yang paling penting, gelombang elektroda menangkap pergerakan cepat-pindah yang lebih besar dan gelombang Gamma yang sangat kuat pada para bhikkhu, dan ditemukan pergerakan gelombang melalui otak jauh lebih teratur dan terkoordinasi daripada para pelajar. Pada orang yang baru belajar meditasi menunjukkan hanya sedikit aktivitas gelombang Gamma yang meningkat pada saat bermeditasi, tapi pada beberapa bhikkhu, otaknya memproduksi aktivitas gelombang Gamma yang jauh lebih kuat daripada yang pernah diberitakan sebelumnya pada orang yang sehat, kata Davidson.

Dia menambahkan, pada para Bhikkhu yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bermeditasi, mempunyai tingkat gelombang Gamma tertinggi. “Dosis respon” ini – dimana obat atau aktivitas tingkat tinggi berpengaruh jauh lebih besar daripada di tingkat yang lebih rendah – adalah apa yang dicari oleh para peneliti untuk memperkirakan sebab dan pengaruhnya.

Dalam studi-studi sebelumnya, aktivitas mental seperti pemusatan pikiran, ingatan, belajar, kesadaran dihubungkan dengan semacam koordinasi syaraf yang meningkat ditemukan pada para bhikkhu. Gelombang Gamma yang kuat pada para bhikkhu juga dihubungkan dengan pekerjaan merajut, tidak sama dengan sirkuit otak, dan juga dihubungkan dengan aktivitas mental yang lebih tinggi dan juga meningkatkan kesadaran.

Penelitian Davidson konsisten dengan hasil kerja Davidson sebelumnya yang menunjukkan dengan tepat korteks prefrontal kiri dari bagian otak yang berhubungan dengan kebahagiaan, pemikiran-pemikiran positif dan perasaan-perasaan. Dengan menggunakan Fungsi Magnetic Resonansi Imajinasi (FMRI/ Functional Magnetic Resonance Imagining) pada bhikkhu yang sedang bermeditasi, Davidson menemukan bahwa aktivitas otak mereka – yang diukur dengan EEG – tinggi terutama di area ini.

Kesimpulan Davidson dari penelitian ini bahwa meditasi tidak hanya mengubah cara kerja otak dalam jangka pendek, tapi juga kemungkinan dapat memproduksi perubahan-perubahan secara permanen. Kata Davidson, penemuan itu didasarkan pada fakta bahwa para bhikkhu mempunyai lebih banyak aktivitas gelombang Gamma daripada para pelajar sukarelawan bahkan sebelum mereka mulai bermeditasi. Seorang peneliti di Universitas Massachussets, Jon Kabat-Zinn, juga telah menyimpulkan hal yang serupa beberapa tahun yang lalu.

Para peneliti di Universitas Harvard dan Princeton saat ini sedang melakukan percobaan pada beberapa bhikkhu yang sama dalam beberapa aspek yang berbeda dari praktek meditasi mereka: kemampuan mereka untuk memvisualisasikan gambar-gambar dan kendali dari pikiran mereka. Davidson juga berencana melakukan penelitian lebih lanjut.

“Apa yang kami temukan adalah pikiran atau otak yang terlatih, yang secara fisik berbeda dari otak atau pikiran yang belum terlatih” katanya. Pada saatnya “kami akan mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang pentingnya potensial pelatihan mental semacam ini dan meningkatkan kemungkinan bahwa hal ini akan dilakukan dengan lebih serius”.

Sumber : Meditation Gives Brain a Charge, Study Finds

Diterjemahkan oleh : Lena Handjaja, Jakarta
Editor : Bhikkhu Uttamo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar