Rabu, 23 Desember 2009

Sejarah Singkat Gautama

Kisah kehidupan Buddha dapat digali dari berbagi sumber koleksi Sutta dan Vinaya
Dalam koleksi Sutta misalnya , terdapat Mahapadana sutta , Mahaparinibbana Sutta , Bhayabhevara sutta , Ariyapariyesana sutta dan Mahasaccaka sutta
Dari kumpulan kita – kitab tersebut diproduksi biografi Buddha seperti Mahavastu , Lalitavistara ( aliran Sarvastivada), Nidanakatha (Theravada) dan Buddha carita dari puisi Asvagosha .
Sebelum menjadi Buddha , ia adalah seorang pangeran bernama Siddharta (berdasarkan Buddhisme) terlahir pada tahun 623 SM di keluarga seorang Raja dari sebuah kerajaan kecil di kaki Himalaya , sekarang perbatasan Nepal – India ,namun para cendekiawan cenderung mengatakan Ia lahir pada tahun 563 SM
Ayahnya bernama Suddhodana , sang Penguasa suku Sakya dan ibunya bernama Maya (terkadang dikenal Mahamaya – red)
NIdanakatha berkisah bahwa ratu Maya bermimpi dibawa ke Gunung Himalaya dimana seekor gajah putih memasuki tubuh bagian kanan dan sejak saat itu ia hamil .
Ketika hendak melahirkan , Ratu Maya minta izin kepada Suddhodana untuk melahirkan di kampung halamannya
Saat melewati Taman Lumbini , Siddharta dilahirkan oleh ratu Maya dalam posisi berdiri
Tujuh hari setelah melahirkan , ratu Maya meninggal dunia
Suddhodana menikahi adik Maya , Mahaprajapati yang nantinya membesarkan Siddharta
Tercatat di dalam kita suci ( agak meragukan sekali bagian ini , mengingat SIddharta Gautama adalah seorang manusia biasa di saat Beliau dilahirkan , andaikan bisa sekalipun , Beliau adalah orang yang rendah hati , bagaimana mungkin Ia mengatakan hal – hal semacam ini ? ) bahwa pada saat dilahirkan Siddharta berjalan 7 langkah dan berkata , “ Akulah Pemimpin dalam dunia ini . Akulah Tertua dalam dunia ini . Akulah Teragung dalam dunia ini . Inilah kelahiranKu yang terakhir . Tak akan ada lagi kelahiran kembali ( Acchariyabbhutadhamma sutta )
Biografi tradisional tak dimulai dari kelahiran Gautama , tapi dengan apa yang terjadi kehidupan lampaunya (bagian ini pun masih bisa diragukan , mengingat yang menulis Tipitaka adalah murid – murid Siddharta , bukanlah Siddharta itu sendiri , sekalipun mungkin Siddharta pernah menceritakan kehidupan – kehidupan lampaunya , tapi apa mungkin siswanya dapat menghafalnya dengan tepat dan tidak menambahkan bagian – bagian tertentu ? )
Dulu , Ia adalah seorang petapa bernama Sumedha yang bertemu dengan seorang Buddha kuno bernama Buddha Dipamkara yang memunculkan niat di dalam hati Sumedha untuk mengikuti jalan kebuddhaan .
Setelah menjalani banyak kelahiran yang melatih dirinya , ia terlahir di surga Tusita , sebagai calon Buddha , menunggu momen yang tepat untuk kembali dilahirkan .
Menurut penafsiran sebagian tradisi Buddhist , semua momen penting kehidupan Pangeran Siddharta , mulai dari kelahiran hingga mencapai enlightment lebih merupakan sebuah panggung sandiwara yang sengaja dipertontonkan ( gratis lho !) kepada umat manusia untuk menceritakan bahwa semua manusia memiliki potensi tersembunyi (benih kebuddhaan dalam istilah Buddhistnya) sehingga bisa mencapai potensi maksimalnya (enlightment) sebagai seorang Buddha
Setelah kelahiran Siddharta , raja Suddhodana dikunjungi petapa tua bernama Asita yang mammpu mengenali adanya 32 tanda keagungan (mahapurissa) pada tubuh bayi itu,dimana itu berarti si bayi imut – imut itu akan menjadi orang berpengaruh
Karena itulah , petapa Asita tertawa lalu menangis ( maklum , kelamaan jadi petapa di hutan jadi gajebo deh)
Suddhodana kebingungan dan bertanya kenapa Asita menangis dan tertawa seperti orang gajebo itu
Asita pun menjelaskan bahwa kelak anak itu akan menjadi Buddha dan karena itulah ia ketawa , namun karena umurnya sudah tua , ia tak akan sempat untuk mendengarkan pengajaranNya
Petapa Asita kemudian mengatakan bahwa apabila sang Pangeran melihat 4 hal yaitu orang tua , sakit , mati dan petapa suci , maka ia akan meninggalakan istana dan bertapa untuk menjadi Buddha .
Pada hari ke5 setelah kelahiran Siddharta , Raja mengundang seratus delapan orang Brahmana untuk hadir dalam upacara pemberian nama .
7 di antara mereka meramalkan ada 2 kemungkinan yang bisa terjadi pada Siddharta :
a. Jika ia memilih berumahtangga , ia akan menjadi adiraja dunia
b. Jika ia meninggalkan keduniawian , ia akan menjadi Buddha
Suddhodana sungguh tak rela anaknya meninggalkan istana , maka ia bertekad keras untuk mencegah anaknya agar tidak melihat ke4 hal yang disebutkan oleh Asita .
Merasa waswas oleh ramalan Ki Joko Bodo dan Mama Laurent , eh salah , Brahmin Kondanna dan Petapa Asita , Raja langsung membangun 3 istana megah dengan harapan agar putranya tak berkesempatan untuk berjumpa dengan 4 pemandangan tersebut ( tega banget anak sendiri dikurung begitu kayak monyet !!! RAJA TEGA!!! )
Bahkan Raja bertanya kepada para penasihat istana mengenai perihal cara untuk memastikan sang Pangeran mewarisi takhta
Para penasihat menganjurkan agar pangeran menikah dini .
Sang Pangeran pun menikah dengan putri Yasodhara , putri Raja suku Koliya pada umur 16 tahun .
Sayangnya (atau bagusnya ?) harapan Raja ini tak terlaksana , karena Pangeran akhirnya melihat juga ke4 hal tersebut
Pemandangan ini mengguncangkan hatinya untuk menemukan arti daripada kehidupan itu sendiri
Untuk apa semua kekayaan dan takhtanya apabila seseorang tak dapat menghindari proses tua , sakit dan mati ? ( oh , so smart…)
Ia pun meninggalkan istananya di saat tengah malam (don’t try this at home when you want to be a bhikkhu,okay!?) di umurnya yang ke 29 (25 kalo menurut Mahayana – red ) meninggalkan istrinya dan bayinya yang baru lahir yang diberi nama Rahula yang berarti “belengu” (so sweet atau so tega ya?)
Hal ini menandkan bahwa hatiNya sudah tak antusias lagi (udah bete kali yah ngeliat kemewahan geto) dengan kehidupan rumah tangga .
Siddharta berguru kepada dua guru terkenal bak rockstar pada jamannya
Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta , tapi rockstar eh guru terkenal sekalipun tak membuatNya mendapatkan apa yang diinginkan .
Siddharta pun mulai melakukan penyiksaan diri dengan puasa selama berbulan – bulan agar bisa menemukan cara untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan karena kasih sayangnya yang begitu besar kepada umat manusia (oh so sweet banget , Thank you , Lord Buddha Gautama . I love you too )
Teks – teks Buddhist mencatat bahwa Siddharta menjadi begitu kurus kering sehingga “ apabila Ia menyentuh perutnya , akan dapat menyentuh tulang belakangnya “ (sorry buat yang gampang merasa jijik neh)
Setelah 6 tahun bertapa ( gue satu hari puasa aja agak susah, ini tahunan!) , Siddharta meninggalkan penyiksaan sia – sia tersebut karena Ia tak menemukan jawaban untuk menyelamatkan manusia keluar dari penderitaan dari penyiksaan diriNya .
Siddharta lalu pergi ke bawah sebuah pohon bernama pohon Bodhi (ficus religiosos – red . Gue bingung daritadi kok “ red – red “ terus yah? Kenapa gak “ green “ or “blue” getoh ? he3x)
Di sana ia merenungkan kembali permasalahan umat manusia mengapa manusia harus mengalami semua penderitaan .
Selama perenungan itu , legenda Buddhist mengatakan bahwa Siddharta mengalami godaan dari Mara si iblis jahat (yang menurut sebagian orang dapat ditafsirkan sebagai gejolak batinNya sendiri )
Setelah melanjutkan pertapaan , Siddharta berhasil menembus seluruh ilusi dari segala macam fenomena dan menemukan semua jawaban dari semua pertanyaanNya selama ini .
Ia pun mencapai potensi maksimalNya sebagai seorang manusia , mencapai Enlightment dan mendapatkan gelar sebagai “sarjana” Buddha yang berarti “ Yang Tersadar “ atau “ Yang Tercerahkan “
Sejak meraih kebuddhaan , Pangeran Siddharta memiliki julukan baru : Buddha Gautama dalam tradisi Theravada atau Buddha Sakyamuni dalam tradisi Mahayana
Secara umum , ajaran Nya dirumuskan dalam Empat Kebenaran Mulia , yang mengatakan bahwa hakikat hidup ini adalah dukkha , yang maknanya ketidakpuasan batin , tapi secara harfiah bisa juga diterjemahkan sebagai “ penderitaan “ ( well , terkadang logis bisa jadi terdengar begitu pesimis juga kan? Please deh, yang realistis aja jadi orang! )
Akar dari dukkha ini adalah tanha atau nafsu keinginan rendah
Tanha inilah yang menjadi akar penderitaan dari umat manusia , baik dalam kehidupan di bumi , ataupun menjadi penyebab dari kelahiran yang berulang – ulang ( berapa kali ? RATUSAN!)
Tiap kali ada kelahiran , maka pasti ada penuaan , sakit dan mati .
Sehingga untuk menghentikan semuanya ini , orang harus menghentikan tanha .
Buddha ini ( secara tidak langsung ) menyelamatkan umat manusia dengan cara memberikan “resep” secara bertahap menghilangkan tanha (yang harus diikuti sesuai dosis.he3x ) yakni menjalankan spiritualitas yang disebut Jalan Mulia Berunsur Delapan
Buddha kemudian membabarkan ajaran kebenaran selama 45 tahun ( 49 tahun menurut Mahayana - red) sebelum akhirnya wafat (parrinibbana) pada usia 80 tahun .

SEJARAH KITAB SUCI BUDDHIST
Kitab suci Buddhist disebut Tripitaka (Pali : Tipitaka) yang diyakini sebagai hasil pengajaran selama 45 tahun
Tipitaka ini berjilid – jilid dan sangat – sangat tebal ( intinya, cukup mematikan , atau mungkin cukuplah untuk sekedar memingsankan , orang lain kalo digunain buat getok kepalanya )
Ada dua versi kanon (kitab suci) , yang ditulis dalam bahasa Pali (Theravada) dan yang 1nya lagi menggunakan bahasa Sanskrit (Sansekerta) untuk umat Mahayana yang kemudian banyak diterjemahkan dalam bahasa Tibet dan Cina
TIPITAKA (THERAVADA – PALI)
Tipitaka berarti tiga keranjang kebijaksanaan dan sesuai dengan namanya , ia dibagi menjadi 3 kategori :
a. Vinaya Pitaka yang isinya membicarakan peraturan kebhikkhuan
b. Sutta pitaka yang berisi khotbah – khotbah Buddha
c. Abbhidhamma pitaka yang berisi ajaran – ajaran tingkat tinggi , filsafat yang terkadang bisa jadi membingungkan , dan mengenai hal – hal metafisika ( gue jamin , yang bisa langsung ngerti baca bagian sutra – sutra dari pitaka ini tanpa dibaca berulang kali , pasti orang tersebut punya IQ yang cukup tinggi! )
Setiap kategori terdiri dari RATUSAN naskah

a. Vinaya Pitaka
Di dalam pitaka ini , kita bisa melihat perkembangan peraturan yang dilakukan secara bertahap sehingga dapat pula dikatakan bahwa Vinaya Pitaka menyimpan catatan sejarah perkembangan organisasi para rahib Buddhist (seringkali disebut juga sebagai sangha – red)
Selain itu Vinaya pitaka merupakan sumber berharga bagi sejarah , tradisi , seni budaya dan ilmu pengetahuan India jaman baheula (kuno)
Vinaya pitaka terbagi lagi menjadi menjadi lima bagian yakni :
a. Parajika (pelanggaran besar)
b. Pacittiya ( pelanggaran kecil )
c. Mahavagga (Bagian besar)
d. Cullavagga (Bagian Kecil)
e. Parivara (Rangkuman Vinaya pitaka)
Tradisi Buddhist mengatakan bahwa sejarah Vinaya Pitaka ini berawal pada 20 tahun semenjak Sangha didirikan .
Bermula dari perkumpulan para bikkhu awal – awalnya terdiri dari mereka yang telah mencapai kesucian sehingga tak ada pelanggaran – pelanggaran .
Namun seiring dengan berjalannya waktu (emangnya ada kaki yah si waktu ntu ? ) , orang – orang yang tak bermotivasi murni , mulai memasuki Sangha
Mereka menginginkan keuntungan diri semata dan mulai melakukan pelanggaran – pelanggaran (WARNING : tidak semua bikkhu itu suci!)
Karena itu diperlukan penegakan peraturan ( tiang kalee)
Aturan Parajika pertama berbunyi : “ Siapapun bikhhu yang melakukan hubungan seksual , akan kehilangan kebikkhuannya , “
Hal ini ditetapkan karena adanya peristiwa pelanggaran seorang bikkhu bernama Sudinna yang melakukan hubungan seksual lagi dengan ex – istrinya (Cinta Lama Bersemi Kembali atau Nafsu Lama Bersemi Kembali lagi , din?)
Secara keseluruhan ada empat parajikka yang terdiri dari LARANGAN untuk:
a. Berhubungan kelamin lawan jenis ataupun sesama jenis apalagi kedua jenis!
b. Mencuri
c. Membunuh
d. Menyombongkan , memamerkan , dan menunjukkan kemampuan spiritual yang telah dicapainya di depan umum ataupun Sangha
Pelanggaran – pelanggaran sangat berat ini akan menyebabkan seseorang kehilangan kebikkhuannya .
Pada masa berikutnya , setiap ada pelanggaran – pelanggaran baru akan dikeluarkan peraturan – peraturan baru , hingga akhirnya terkumpullah Vinaya Pitaka yang kita kenal sekarang (wah , seharusnya ditambahin lagi bikkhu gak boleh ikutan demo tuh , khususnya di Thailand n Tibet!)
b. Sutta pitaka
Isinya mengenai :
a. Sila
b. Aneka metode meditasi
c. Pengembangan kebijaksanaan
Yang dimaksud sila adalah moralitas dari tingkat dasar , menengah hingga tinggi (udah kayak sekolah aja yah)
Moral tingkat dasar adalah moralitas yang berlaku bagi setiap orang sedangkan yang tingkat tinggi adalah bagi orang – orang yang hendak mencapai kesucian
Selain itu juga berisi mengenai ajaran jabaran – jabaran secara rinci mengenai Buddhisme , termasuk mengoreksi pandangan –
pandangan salah yang beredar di masyarakat
Sutta pitaka ini terbagi menjadi 5 bagian yang disebut Nikaya , di antaranya adalah :
i. Digha Nikaya ( Kumpulan Khotbah Panjang )
ii. Majjhima Nikaya ( Kumpulan Khotbah Sedang )
iii. Samyuta Nikaya
iv. Anguttara Nikaya
v. Khuddaka Nikaya
Masing – masing Nikaya ini terbagi lagi menjadi beberapa bagian yang disebut Sutta , dimana jumlahnya bervariasi dan berbeda antara Nikaya yang satu dengan Nikaya lainnya .
Sebagai sample , Digha Nikaya terdiri dari 34 Sutta , sementara Majjhima Nikaya terdiri dari 152 Sutta dan Samyutta Nikaya memiliki 7762 Sutta dimana masing – masing Sutta memiliki panjang yang bervariasi .
c. Abbhidharma Pitaka
Bagian ke3 Tipitaka ini berisikan sistematisasi doktrin – doktrin dan filsafat – filasafat tingkat tinggi Buddhist

Kanon ini dinamakan Kanon Pali dan digunakan oleh Theravada
Kitab – kitab berbahasa Sanskrit digunakan oleh aliran Mahayana dan disebut sebagai Kanon Mahayana yang mana kanon Mahayan berisi sebagian besar isi Kanon Pali dan mengandung pula kitab – kitab yang disebut sutra Mahayana yang tak terdapat dalam kanon Pali sehingga kanon Mahayana 4x lebih tebal daripada kanon Pali
Rumus gampangnya :
Kanon Theravada = kanon Pali
Kanon Mahayana = kanon Pali + sutra – sutra Mahayana
Isi Tipitaka Pali :
a. Vinaya Pitaka
a. Parajika
b. Pacittiya
c. Mahavagga
d. Cullavagga
e. Parivara
b. Sutta Pitaka
a. Digha Nikaya (34 Sutta)
b. Majjhima Nikaya (152 Sutta)
c. Samyutta Nikaya ( 7762 Sutta )
d. Anguttara Nikaya ( 9557 Sutta)
e. Khuddaka Nikaya
i. Khuddaka Patha
ii. Dhammapada
iii. Udana
iv. Itivuttaka
v. Sutta Nipata
vi. Vimana Vatthu
vii. Petta Vatthu
viii. Theragatha
ix. Therigatha
x. Jataka
xi. Niddesa
xii. Patisambhida
xiii. Apadana
xiv. Buddhavamsa
xv. Cariya Pitaka

c. Abhidhamma Pitaka
a. Dhamma Sangani
b. Vibhanga
c. Katha Vatthu
d. Puggala Pannati
e. Dhatukatha
f. Yamaka
g. Patthana

Sejarah Tersusunnya Tipitaka
3 bulan setelah Gautama wafat , para bikkhu berkumpul di Goa Sattapanni untuk membacakan kembali ajaran – ajaran yang telah disabdakan oleh Buddha
Ananda membacakan Dharma , tepatnya Sutta .
Upali membacakan Vinaya
Sedangkan Abhidharma dibacakan oleh Kassapa (jenius banget!)
Namun tidak disebutkan dalam Vinaya Pitaka yang mencatat peristiwa pembacaan ulang ajaran Buddhis dalam konsili I tersebut
Penyiaran ajaran Buddha yang menjangkau daerah – daerah berjauhan dan penggunaan bahasa – bahasa lokal telah menghasilkan kanon – kanon yang terpisah .
Kumpulan ini memperlihatkan keragaman ukuran , susunan dan isi menurut tradisi aliran sekte yang berkembang kemudian .
Sejarah mencatat adanya 18 aliran di abad pertama Masehi , sebagian besar kini telah lenyap .
Kitab – kitab suci agama Buddha yang terhimpun dalam Tripitaka disampaikan melalui oral ( mulut !) hingga beberapa abad kemudian baru dituliskan
Kitab Pali tertua yang diketahui hingga sekarang ditulis di daun lontar merupakan hasil dari Konsili IV di Srilanka pada tahun 83 SM .
Kitab Sanskrit Mahayana kebanyakan tidak ditemukan lagi , karena musnah dibakar oleh tentara yang menyerang India
Tapi terjemahannya dapat dikenali terutama dalam bahasa Mandarin dan Tibet
Kanon bahasa Mandarin menghasilkan kanon bahasa – bahasa lainnya seperti Korea dan Jepang
Kanon versi Sanskrit , begitu juga Pali , dimasukkan pula khotbah – khotbah siswa Buddha yang telah mencapai kesucian dan naskah – naskah yang mulai muncul belakangan .

AUTENSITAS TIPITAKA
Bagian – bagian dari Tipitaka muncul secara bertahap .
Bagian tertua adalah Sutta pitaka dan Vinaya Pitaka
Sedangkan Abhidhamma pitaka baru muncul sekitar tahun 350 SM , dimana masing – masing aliran Buddhist yang muncul pada saat itu memiliki kumpulan Abhidhamma-nya tersendiri .
Perbandingan kumpulan Abhidharma yang dimiliki Theravada dan Sarvastivada :
a. Abhidharma Theravada
a. Dhammasangani
b. Vibhanga
c. Puggalapannati
d. Kathavatthu
e. Dhatukatha
f. Yamaka
g. Patthana

b. Abhidharma Sarvastivada
a. Sangitiparyaya
b. Dharmaskandha
c. Prajnapti
d. Vijnanakaya
e. Dhatukaya
f. Prakarana
g. Jnanaprasthana
Legenda menyatakan bahwa Abhidharma ini dibabarkan di surga Tusita , tetapi pada kenyataannya ada beberapa kumpulan Abhidharma yang berbeda – beda jadi patut diragukan juga keabsahan legenda tersebut .
Kalo begitu , yang manakah yang asli ?
Sutta pitaka dan Vinaya pitaka sendiri tidaklah langsung terwujud seperti sekarang dengan cara – cara yang ajaib seperti terjatuh dari surga (gedebuk!) , mendengarkan wahyu dari makhluk suci ataupun ditulis oleh orang yang kesurupan roh – roh yang tak jelas darimana asalnya
Begitu juga dengan sutta – sutta Mahayana yang muncul belakangan .
KIta bisa dan boleh (malah dianjurkan untuk) bertanya - tanya siapa yang sesungguhnya telah menulis berjilid – jilid naskah suci yang tergabung dalam Tipitaka?
Penulisnya adalah manusia (pastilah!) dan anonim (tak dikenal)
Apakah fakta semacam ini menurunkan nilai Tipitaka ?
Silahkan baca berikutnya…

TIPITAKA MAHAYANA (SANSKRIT)
Sekalipun 4 x lebih tebal daripada Tipitaka Theravada , Tipitaka Mahayana tetap dikategorikan menjadi 3 Pitaka
Dalam salah satu divisi Tipitaka Mahayana terdapat koleksi sutra yang diberi nama Agama yang kandungan hampir sama saja dengan Sutta Pitaka Theravada
Kitab Mahayana berbeda dengan Theravada dalam beberapa aspek terutama dalam penggunaan bahasa Sanskrit dalam kitab mereka ( kitab Theravada menggunakan Pali )
Perbedaan utama lainnya adalah konsep Boddhisatyva yaitu makhluk suci yang memunculkan bodhicitta (aspirasi meraih pencerahan sempurna demi semua makhluk hidup)
Sutra – sutra penting koleksi Mahayana (yang tak terdapat dalam Tipitaka Theravada) beberapa di antaranya adalah :
a. Saddharmapundarika sutra (Lotus Sutra a.k.a Sutra Teratai)
b. Vajracchedika-prajnaparamita-sutra (Diamond Sutra a.k.a Sutra Intan)
c. Mahaprajnaparamita-hridaya-suttra ( Heart Sutra a.k.a Sutra Hati)
d. Lankavatara – sutra
e. Avatamsaka-sutra
f. Samdhinirmocana – sutra
g. Surangama Sutra
h. Sutra Pencerahan Sempurna
i. Vimalakiti – nirdesa – sutra
j. Amitabha sutra
k. Dan beberapa sutra lainnya yang terdapat dalam koleksi Maharatnakuta
Sastra – sastra penting di antaranya :
a. Mula Madhyamaka Karika
b. Mahayana sraddhotpada – sastra
c. Mahaprajna paramita sutra
d. Yogacara bhumi sastra
Disebabkan oleh aneka ragam sutra dalam Mahayana , maka lahirlah aneka macam sekte hasil dari “perbedaan penekanan doktrin” terhadap sutra – sutra tertentu dari masing – masing aliran
Di India , Mahayana bercabang menjadi aliran Madhyamika yang didirikan Nagarjuna dan Yogacara yang didirikan Asanga
Di China terdapat aliran Chan yang menjadi Zen di Jepang , Hua Yen (Avatamsaka Sutra), Tien Tai , Tanah Suci , Esoterik , Pencerapan-semata , aliran Vinaya , dan San Lun (Madhyamika)
Di Tibet , Nepal dan Mongol lahir aliran Vajrayana (Mantrayana , Tantrayana) yang menekankan teks tantra
PANDANGAN MENGENAI AUTENSITAS
Tulisan – tulisan atau kitab – kitab Buddhist menjadi bermakna bagi kami karena ajaran – ajaran kebijaksanaan dan nilai moralitas yang terkandung di dalamnya , bukan disebabkan karena adanya kepercayaan irasional dalam hati bahwa kitab suci adalah kebenaran absolut yang tak dapat terbantahkan dan mutlak diikuti disebabkan oleh kitab tersebut adalah wahyu atau firman Tuhan personal ( kami Buddhist tidak mempercayai adanya Tuhan Personal . Konsep Ketuhanan dibahas lebih lanjut nanti )
Menurut Buddhist , jika ada ajaran di dalamnya yang bertentangan dengan kebenaran – kebenaran universal , seperti sifat murka atau membunuh maka kitab itu menjadi tidak bernilai lagi dan tak layak untuk dijadikan panutan sempurna dalam kehidupan .
Disebabkan juga karena kami menganggap Tipitaka bernilai oleh karena kandungan moral dan nilai - nilai kebijaksanaan , maka kami diperbolehkan untuk tidak mempercayai cerita – cerita di dalamnya yang sekiranya terdengar seperti dongeng , tidak logis , irasional ataupun tidak sesuai dengan sains .
Karena kami hanya mengambil nilai – nilai moral serta kebijaksanaan dari cerita nyata , khotbah , maupun dongeng yang berada di dalam Tipitaka
KANDUNGAN MORAL
Sebagai aturan moral dasar bagi umat awam , agam Buddha mengenal Pancasila Buddhist (emangnya Indo aja yang ada Pancasila-nya,kita juga dunk) :
a. Menghindari pembunuhan
b. Menghindari pencurian
c. Menghindari perzinahan
d. Menghindari perkataan yang tidak benar (dusta , fitnah , bohong , dkk)
e. Menghindari minuman keras dan hal – hal lainnya yang dapat mengurangi kesadaran serta menyebabkan kecanduan (yang tertulis dengan jelas dalam Pancasila Buddhist pada umumnya adalah menghindari minuman keras )
Di samping itu Buddhisme juga mengenal Sepuluh Sila (Dasasila) dan sila Boddhisatva (untuk Mahayana) yang tingkatannya jauh lebih tinggi
Dasasila tersebut adalah :
a. 3 dari badan
a. Membunuh
b. Mencuri
c. Berzina
b. 4 dari ucapan
a. Bohong
b. Ucapan kasar (kata – kata dari kebun binatang dan isi di balik celana beserta hal lainnya)
c. Fitnah (lebih kejam dari pembunuhan?ya bisa dibilang pembunuhan karakter seh)
d. Gosip (makin digosok makin sip dah!)
c. 3 dari pikiran
a. Kebodohan batin
b. Keserakahan
c. Kebencian
Karena dasasila dan pancasila inilah , di dalam Tipitaka , sama sekali tidak ada konsep “ pembunuhan “ , “ perlawanan balik dengan kekerasan “ atas nama Buddha , para siswaNya ataupun makhluk suci lainnya .
Yang ada hanyalah kandungan nilai moralitas dan kebajikan universal (yang dapat digunakan oleh orang beragama apapun juga) , tak ada larangan tak ada perintah untuk menyenangkan hati entitas tertinggi, yang ada hanya anjuran “ untuk melakukan “ dan “ tidak melakukan “ demi kebaikan orang itu sendiri
Karena itu bagi Buddhist , penulisan Tipitaka tidak bergantung kepada sosok entitas suci ataupun Tuhan personal atau siapa yang menulis ataupun siapa yang mengajarkan hal – hal tersebut sehingga autensitas Tipitaka itu sendiri tidaklah penting bagi para Buddhist yang diajarkan untuk menjadi sangat kritis terhadap isi Tripitaka , tidak mempercayainya secara mentah – mentah dan diperbolehkan untuk tak mempercayai bagian – bagian tertentu yang sekiranya tidak logis, irasional, ataupun tidak sesuai dengan kenyataan .
Bagi Buddhist , menasehati seseorang juga tidak harus dengan kata – kata kasar ataupun yang tak senonoh .
Dalam Majjhima Nikaya (MN) I.287-288 mengajarkan bahwa ada 4 jenis ucapan yang baik :
a. Jauh dari dusta
b. Jauh dari fitnah
c. Ucapan tidak kasar
d. Ucapan yang jauh dari hal – hal bermanfaat
Sukhavativyuha sutra mengatakan pula “ Kata – kata kasar merugikan diri sendiri dan orang lain . Kata – kata yang baik membawa manfaat bagi semua.”
Lebih jauh lagi, naskah Buddhist lainya yang berjudul Risalah Tanah Suci Longshu mengatakan , “ Kapanpun kita memakai kata kotor , maka itu seakan cacing dan kutu busuk merayap keluar dari mulut kita . “
DKTL (dengan kata lain) , naskah – naskah suci agama Buddha tak dapat menoleransi penggunaan cara pengajaran dengan kata – kata kotor
Dalam naskah Buddhist juga tak dipentingkan ritual – ritual karena dianggap tak bermanfaat banyak bagi kemajuan batin .
Tapi,tradisi yang telah mengakar diperbolehkan dan bahkan dianjurkan untuk dilestarikan seandainya tradisi itu merugikan diri sendiri ataupun makhluk lain .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar