Rabu, 23 Desember 2009

KONSEP KETUHANAN BUDDHISME

Buddhisme memiliki pandangan yang amat jauh berbeda dengan pandangan theisme mengenai konsep Ketuhanan
Memang , agama Buddha tidak pernah membawa – bawa nama Tuhan personal dalam Tipitaka
Agama Buddha memiliki konsep Ketuhanan di dalam kitab Udana 8.3 :
“ Oh , bikkhu , ada sesuatu Yang Tak Dilahirkan , Yang Tidak Menjelma , Yang Tidak Tercipta , Yang Mutlak . Jika seandainya saja , oh bhikkhu , tidak ada Yang Tak Dilahirkan , Yang Tidak Menjelma , Yang Tidak Tercipta , Yang Mutlak, maka tak akan ada jalan keluar dari kelahiran , penjelmaan , pembentukan , pemunculan , dari sebab yang lalu (karma -red) . Tetapi karena ada Yang Tak Dilahirkan , Yang Tidak Menjelma , Yang Tidak Tercipta , Yang Mutlak , maka ada jalan keluar untuk bebas dari kelahiran , penjelmaan , pembentukan , pemunculan dari sebab yang lalu . “
Sesuatu Yang Tak Dilahirkan , Yang Tidak Menjelma , Yang Tidak Tercipta , Yang Mutlak itulah yang disebutkan konsep Ketuhanan dalam agama Buddha .
Yang dapat disebut sebagai Tuhan adalah sesuatu yang tanpa aku (anatta) yang tak dapat dipersonifikasikan .
Realitas Tertinggi , Kebenaran Mutlak , Kebenaran Absolut , yang disebut Asakantha Dharma serta tidak dapat diwujudkan dalam bentuk apapun
Sesuatu yang disebut Mutlak atau Absolut oleh karena esa adanya , bebas dari dualisme
Contoh dualisme adalah bersifat pengasih tapi juga bisa murka

KONTEKS THERAVADA (Yang dipakai juga oleh sekte lain)
Yang disebutkan dalam kutipan Udana di atas adalah suatu kondisi (bukan alam kehidupan ataupun makhluk suci) yang disebut dengan Nirvana (pali Nibbana)
Apa yang disebut sebagai Tuhan dalam Buddhisme adalah bukan sebuah pribadi,entitas,pihak tertinggi,ataupun oknum sehingga dengan demikin Buddhisme menolak adanya Tuhan personal
Tuhan dianggap sebagai sesuatu yang tak dapat dipersonifikasikan , tidak bersifat antropomorfisme (pemberian ciri - ciri manusia kepada suatu hal) yang dapat menyebabkan ritual – ritual yang tidak bermanfaat bagi kualitas moral,kebijaksanaan dan kepandaian orang yang melakukan ritual tersebut .
Buddhisme juga tak memandang tuhan sebagai makhluk adikodrati .
Dalam Brahmajala sutra dikemukakan bagaimana Buddha melepaskan diri dari perangkap jala pendapat yang dianggap spekulatif antara lain paham semi eternalis yang memandang adanya Pencipta yang berkuasa menentukan tempat setiap makhluk (Digha Nikaya – (D.N) I.18)
Jika ada suatu makhluk yang merancang kehidupan seluruh dunia – maka manusia tidak lain adalah alat dari kehendaknya dan tentu saja makhluk adi kuasa itu yang bertanggung jawab (Jataka V.238)
Berbagai peristiwa kejahatan dan malapetaka tak dapat dijelaskan seandainya determenisme teistik itu benar.
Jika Pencipta yang Maha Baik itu adalah Maha Kuasa , mengapa ia menciptakan ketidakadilan (Jataka VI.20)
Singkat kata , Buddhisme tidak mengajarkan teisme fatalistik dan deterministik ataupun konsep Ketuhanan personal yang menempatkan suatu kekuasaan adikodrati merencanakan dan menakdirkan hidup semua makhluk .
Teisme semacam itu mengingkari kehendak bebas manusia (freewill) dan dengan sendirinya juga meniadakan tanggung jawab moral perbuatan manusia (karena semuanya terjadi atas kehendak makhluk adikodrati tersebut)
Tuhan yang transenden dalam Buddhisme tak terkonsepkan melalui personifikasi
Ia harus dipahami secara langsung (intuitif) melalui pencerahan dan bukan melalui konsep – konsep yang tertera di dalam doktrin dan legenda
Sayangnya untuk memahami secara intuitif ini tidaklah mudah dan cenderung sulit apabila tak memiliki ketekunan dan tekad yang sangat kuat
Karena kesulitan itu , ada yang berusaha memahami Tuhan dengan pendekatan konseptual personal
Akhirnya terbentuklah Tuhan yang seperti sesosok makhluk (personal) yang bisa berbicara , berpikir , dan bertindak menyerupai manusia
Dengan demikian , Tuhan menjadi lebih mudah dimengerti dan dihayati
Namun akibatnya , timbullah banyak pandangan salah yang menyesatkan dan mengagalkan orang itu memahami Tuhan secara benar
Misalnya pandangan membabi – buta bahwa Tuhan di dalam agamanya yang paling benar sehingga membenarkan adanya pembunuhan (perang agama) ataupun memindahkan agama orang lain ke agamanya sendiri dengan cara apapun juga baik secara halus ataupun kasar karena anggapan Tuhan hanya ada dalam agamanya dan juga ritual – ritual berlebihan yang tidak berguna untuk kemajuan kebijaksanaan , kepandaian , dan kebaikan hati serta moral pelaku ritual.
Buddhist menyakini Buddha sebagai makhluk yang telah mencapai Perfect Enlightment dan karenanya disebut mahatahu
Dalam Vinaya I , Buddha mengatakan “…Penakluk yang melampaui segalanya , Aku yang Mahatahu . “
Tapi Buddhist mengatakan tidak ada makhluk yang maha kuasa .

KONTEKS MAHAYANA
Sebutan lain untuk konsep Tuhan dalam agama Buddha adalah Dharmakaya (tubuh dharma yang menjadi hasil pencapaian ke Nirvana)
Konsep Dharmakaya dibabarkan dalam sutra – sutra Mahayana yang menekankan aspek transendental (sifat – sifat kerohanian) dari kebuddhaan
Dalam tradisi Mahayana , figur Bodhisatva memegang peranan sentral dan merupakan sumber inspirasi dalam menapaki jalan kesucian .
Seorang Bodhisatva adalah makhluk suci yang memunculkan boddhicitta (aspirasi meraih enlightment demi dirinya sendiri dan juga orang lain) dan berlatih 6 paramita .
Paramita berarti penyempurnaan , “menyeberangkan ke pantai seberang” dan mencakup 6 jenis yakni penyempurnaan :
a. Kemurahan hati
b. Moralitas
c. Ketabahan
d. Kegigihan
e. Meditasi
f. Kearifan
Penyempurnaan kemurahan hati , moralitas dan ketabahan menghasilkan akumulasi kebajikan
Penyempurnaan meditasi dan kearifan menghasilkan akumulasi pengetahuan
Akumulasi kebajikan menyebabkan lahirnya dimensi rupa (rupakaya) dan akumulasi pengetahuan menyebabkan lahirnya dimensi transendental berupa tubuh Dharma (dharmakaya)
Rupakaya (tubuh berwujud) sendiri terdiri atas tubuh transformasi (nirmanakaya) dan tubuh pahala (sambhogakaya)
Nirmanakaya merupakan tubuh jasmani dan jelmaan – jelmaan yang dapat diperlihatkan kepada manusia
Sambhogakaya merupakan tubuh keberkahan yang hanya dapat dilihat oleh makhluk suci yang telah mencapai tahapan spiritualitas tinggi seperti para Bodhisatva dan dewa – dewa tingkat tinggi .
Dharmakaya dilukiskan sebagai melampaui batas waktu , secara hakikat bebas dari segala bentuk dan di luar semua kategori fenomena .
Dharmakaya dari semua Buddha di segala tempat adalah sederajat dan tak berbeda
Seperti yang dikatakan dalam Avatamsaka sutra bab I , “ Para Buddha bagaikan angkasa , tanpa perbedaan sedikitpun , sama dengan alam semesta sejati , tanpa bertumpu pada tempat kediaman apapun , (hanya) perwujudan khayalnya yang mewujud dimana – mana , semuanya duduk di tempat pencerahan meraih penyadaran sejati . “
Dengan demikian setiap Buddha memiliki 3 jenis tubuh :
a. Dharmakaya
b. Sambhogakaya
c. Nirmanakaya
Yang kemudian dikenal dengan Trikaya (3 tubuh)
Suara Buddha juga memiliki 64 atribut seperti lembut , menenangkan , menyenangkan , jernih ,dll
Dharmakaya bersifat kekal , meliputi segalanya , tak dibatasi ruang dan waktu , ada dengan sendirinya , bebas dari pasangan yang berlawanan (dualisme) , tetapi hanya ada satu Dharmakaya .
“ Dharmakaya adalah tak dapat dihancurkan , abadi , tak berubah , hening , dan tak dapat dibayangkan “ – Srimala-devi-simhanada-sutra
“ Dharmakaya adalah abadi , kebahagiaan , ‘ Aku ‘ sejati , dan murni . “ – Mahayana – Mahaparinirvana – sutra
Dalam Aggana Sutra tercatat kata – kata Buddha sebagai berikut , “ .. Aku ini sesungguhnya putra Bhagawa , dilahirkan dari mulut Nya , dilahirkan dari Dharma , diciptakan oleh Dharma , ahli waris Dharma . Karena apa ? Oleh Karena Vasettha (nama murid-red) nama – nama berikut ini adalah serupa dengan Tathagata : Tubuh Dharma (Dharmakaya)…”
Konsep Dharmakaya ini juga ditunjukkan oleh pernyataan Buddha kepada Vakkali , “ Barangsiapa melihat Dharma , ia melihat Aku . Barangsiapa melihat Aku , ia melihat Dharma . “ Samyutta Nikaya (SN ) III
Pada kesempatan lain , Buddha berkata , “ Semenjak saat ini , semua siswa-Ku harus tau bahwa Dharmakaya dari Tathagata adalah kekal . “ Mahaparinirvana-pacchimovada-sutra
“ Tubuh Buddha yang sesungguhnya , Dharmakaya “menembus seluruh jagad yang juga dipenuhi oleh tak terhitung para makhluk yang bertujuan untuk mencapai enlightment . Kebebasan Buddha tiada bandingannya , memperlihatkan perhatian pada seluruh makhluk yang berkesadaran “ Avatamsaka sutra bab 5
Konsep yang hampir sinonim dengan Dharmakaya adalah Tathatgatagarbha , yaitu benih kebuddhaan yang inheren di dalam setiap makhluk hidup , tapi sayang belum dapat terwujud menjadi seorang Buddha disebabkan oleh kekotoran batin .
Tathagatagarbha menunjuk bahwa setiap makhluk memiliki hakikat Buddha (Buddhadhatu) karena telah memiliki segala kebajikan yang lengkap dan potensi yang tertinggi untuk mencapai kebuddhaan tapi ditutupi oleh kekotoran batin .
Konsep Tathatgatagarbha memberi gambaran bahwa suatu benda yang murni , mulia , dan berharga (kebuddhaan) dibungkus oleh suatu benda yang menjijikan , kotor atau tak berharga (noda batin)
Mahayana-mahaparinirvana-sutra menjelaskan gambaran ini dengan berbagai kiasan seperti emas (pencerahan / pencapaian potensi maksimal ) di rumah wanita miskin ( noda batin / penghalang potensi maksimal untuk berkembang) hingga suatu hari diberikan petunjuk (ajaran Buddha / jalan untuk menghilangkan penghalang potensi maksimal dan mengembangkan ptensi maksimal tersebut) untuk menemukan apa yang sejak awal dimilikinya (benih kebuddhaan / bibit potensi maksimal )

KONTEKS VAJRAYANA
Dharmakaya yang non – personal disebut juga sebagai Adi Buddha yang mewakili sifat dasar seluruh makhluk yang paling inheren .
Adi Buddha mencerminkan segala potensialitas kebajikan – kebajikan intrinsik yang dimiliki setiap makhluk seperti sifat welas asih dan kearifan agung .
Jadi Tuhan dalam agama Buddha bisa juga disebut Adi Buddha , yang merupakan Realitas Absolut , Kebenaran Mutlak , Kesadaran Tertinggi ,bukan suatu personal
Secara harfiah , Adi = Yang Pertama , Buddha = Yang Sadar .
Adi Buddha adalah Buddha tanpa awal dan akhir , Buddha primordial (=Nirvana) dan berada tersembunyi di dalam setiap manusia
Sebutan Adi Buddha berasal dari tradisi Aisvarika , aliran Mahayana di Nepal yang menyebar lewat Benggala hingga dikenal pula ke Jawa
Adi Buddha adalah Dharmakaya , pencapaian dari Nirvana , Tubuh Dharma yang Absolut yang tersembunyi di balik semua noda batin manusia , dimana hal ini menjadi tujuan utama oleh para Buddhist
Konsep mengenai Adi Buddha dapat dilihat dalam kitab Namasangiti , Karandavyuha , Svayambhu – Purana , Maha – Vairocanabhisambodhi sutra , Guhyasamaya Sutra , Tattvasangraha sutra , dan Paramadi-Buddhodharta-Sri-Kalacakra-Sutra .
Di Indonesia , dikenal kitab Namasangiti versi Chandrakirti dari Sriwjiaya dan Sanghyang Kamahayanikan dari zaman pemerintahan Mpu Sindok
Walaupun umat Buddha menyebut Tuhan yang Maha Esa dengan nama yang boleh berbeda dan konsep yang berbeda juga dari agama kebanyakan , Undang – Undang RI no 43 tahun 1999 menetapkan sebagaimana Peraturan Pemerintah RI no 21 tahun 1975 bahwa dalam pengucapan sumpah / janji bagi mereka yang beragama Buddha , kata – kata “ Demi Allah” diganti dengan “ Demi Sang Hyang Adi Buddha “
Dengan begitu Buddhisme layak disebut sebagai religion , karena Buddhisme menawarkan jalan untuk dapat kembali kepada Ketuhanan (Nirvana,AdiBuddha,Dharmakaya) dengan cara memanfaatkan segala macam potensi maksimal dari manusia tersebut .

BUDDHA DI MATA UMAT DAN PENGIKUTNYA
Semua Buddhist percaya bahwa Gautama telah mencapai tahap melebihi daripada sekedar manusia biasa karena Beliau telah mencapai potensi maksimalnya melalui Pencerahan
Konteks kepercayaan Hindu dalam kitab Purana , Buddha dianggap sebagai Avatar (baca:Awatara) , titisan Tuhan semi Personal (Hyang Widhi) yang memulihkan ketentraman dunia .
Namun bagi para Buddhist , Beliau bukanlah Tuhan karena Buddhisme menolak konsep Ketuhanan Personal yang juga terkandung dalam konsep Ketuhanan Semi Personal Hinduist .
Gautama melebihi manusia biasa dalam artian Ia telah tersadarkan atau tercerahkan , yakni sanggup melihat hakikat kehidupan dan fenomena sebagaimana adanya .
Buddhist meyakini Gautama adalah seorang guru yang bijak (bagi gue Beliau adalah seorang penyelamat secara tidak langsung , filsuf yang hebat , seorang manusia dengan kasih dan toleransi yang tak terhingga , orang jenius luar biasa di zamannya , dan panutan hidup )
Hal ini juga menyebabkan satu dari sepuluh julukan Buddha adalah “ Guru Para Dewa dan Manusia . “
Buddhisme juga mengajarkan pentingnya mencari perlindungan yang sejati
Menurut Dharmapadda (Dhp) 188 – 189 , “ Karena rasa takut , banyak orang pergi mencari perlindungan ke gunung – gunung , ke arama – arama , ke pohon – pohon , dan ke tempat – tempat pemujaan yang dianggap keramat . Tetapi itu bukanlah perlindungan yang aman , bukanlah perlindungan yang utama . Dengan mencari perlindungan seperti itu , orang tidak akan bebas dari penderitaan . “
Untuk perlindungan diri , manusia membutuhkan Tuhan dan mendambakanNya sebagai tempat sandaran bagi perlindungan , keselamatan , kesejahteraan , dan keamanannya sendiri , seperti seorang anak bersandar pada orangtuanya (ayolah , akui saja , kita semua ini cengeng seperti bayi !)
Perlindungan terutama dirindukan oleh orang – orang yang mengantisipasi secara cemas datangnya bencana , atau baru mengalami musibah
Buddhisme mengajarkan bahwa penyebab utama terjadinya bencana adalah karma – karma buruk yang telah dilakukan (kehidupan sekarang maupun lalu) dan berbuah pada masa kehidupan sekarang karena adanya semua faktor pendukung (karma membutuhkan pendukung juga agar bisa terjadi)
Itulah sebabnya mengapa semua manusia memerlukan perlindungan yang patut diandalkan guna menghindarkan diri dari segenap bencana
Penyebab utama manusia mencari perlindungan :
a. Ketakutan akan penderitaan
b. Keyakinan bahwa perlindungan itu bisa memberikan cara bagi kita agar terhindar dari segenap bencana dan penderitaan mengerikan
Pengertian “berlindung” di dalam agama Buddha berarti bahwa perlindungan itu berfungsi sebagai sebuah perisai yang menamengi kita dari pelbagai bencana .
Buddhisme menganggap segala macam hal baik dan buruk terjadi karena akitivitas kita melalui ucapan , perbuatan dan pikiran .
Jika memang benar perlindungan sebagai perisai , maka moralitas dan kebijaksanaanlah yang menjadi perisai sesungguhnya bukan makhluk hidup ataupun entitas lain , melainkan diri sendiri yang seharusnya diandalkan untuk tetap melaksanakan moralitas dan kebijaksanaan agar bisa terlindung dari segala macam hal buruk atau penderitaan .
Gautama adalah contoh panutan yang baik agar kita bisa menemukan perlindungan sejati dalam diri kita .
Harap diingat , saat kita berbicara mengenai “ Berlindung kepada Buddha .” , hal ini tak bisa diharfiahkan secara langsung bahwa kita berlindung kepada Gautama dan membuat Beliau seolah – olah panti sosial yang bisa membantu menyelesaikan semua masalah di dalam kehidupan kita (sayangnya , hal ini seringkali disalahpahami oleh para Buddhist itu sendiri )
Pengertian yang sesungguhnya mengenai “berlindung kepada Buddha” atau kata “Buddha memberkati kita” merujuk kepada nilai – nilai benih kebuddhaan dalam diri kita , nilai – nilai kebaikan yang kita lakukan yang akan memberkati diri kita dan melindungi diri kita dari segala macam hal negatif (harap dipisahkan pengertian Buddha ketika kita mengucapkannya dengan merujuk kepada Gautama , nilai – nilai kebuddhaan di dalam diri kita , ataupun orang yang telah mencapai pencerahan karena kata “Buddha” memiliki 3 arti tersebut )
Buddha Gautama adalah contoh yang baik agar kita bisa melindungi diri sendiri karena Beliau memiliki 3 kualitas utama (berdasarkan teks Buddhist) yaitu mahatahu , cinta kasih yang tak terbatas dan kekuatan supernatural
3 kualitas ini muncul karena Gautama telah membebaskan dirinya dari segenap kuasa negatif atau kotoran batin dan mencapai pemaksimalan potensi di dalam dirinya sebagai seorang manusia .
Buddhisme merumuskan 3 kotoran batin dasar (yang digambarkan dengan sangat jelas dalam bentuk murid2 Tong Sam Cong di legenda Sun Go Kong . Ingat ,hanya legenda !) yakni :
1. Keserakahan (lobha)
Contohnya seperti mengambil sesuatu yang bukan miliknya , iri hati , mengambil sesuatu secara berlebihan , kepelitan , menghendaki penghormatan berlebihan juga termasuk lobha
2. Pandangan salah (moha)
Contohnya seperti kebodohan , ketidakmampuan untuk membedakan yang baik dan yang benar karena terpengaruhi oleh emosi , ketidakmampuan untuk mengenali segala sesuatu sebagaimana adanya juga termasuk moha
3. Kebencian (dosa)
Contohnya seperti membenci seseorang , keinginan untuk menghindari hal – hal yang tak disukai , kemarahan meluap – luap juga termasuk di dalamnya
Ke3 kekotoran batin ini saling berkaitan dan sering juga disebut sebagai 3 akar kejahatan karena segenap perbuatan jahat dan juga penderitaan yang dilakukan oleh umat manusia dapat dicari akarnya kepada 3 hal negatif itu .
Ke3nya merupakan penghalang bagi seseorang untuk dapat mencapai potensi maksimalnya sebagai seorang manusia dan menghalangi benih Kebuddhaan untuk tumbuh .
Adanya kotoran batin atau kualitas negatif itu menghalangi seseorang dari cinta kasih sejati yang tak bersyarat ataupun membeda – bedakan .
Logis sekali , mengingat benci dapat saja mencemari rasa kasih itu
Adanya pandangan mengenai “ aku “ juga akan mempersempit makna kasih itu sendiri, karena di dalam mengasihi seseorang akan selalu menghubungkan cinta kasih dengan keuntungan dan kerugian bagi diri sendiri .
Jelas sekali , apabila kita menjadikan sosok yang masih bersifat dualis (mengasihi tapi juga bisa membenci), maka kadangkala sosok tersebut bisa jadi mencintai dan juga membenci kita di saat – saat tertentu dan dengan kondisi – kondisi tertentu terpenuhi .
Gautama juga dianggap sebagai sosok panutan yang baik dalam menemukan perlindungan sejati di dalam diri sendiri karena punya 18 kualitas unik :
1. Tindakan jasmani tanpa cela
2. Ucapan tanpa cela
3. Pikiran tanpa cela
4. Tak membeda-bedakan
5. Konsentrasi tak terhenti (24 jam/ 7 hari, non stop!)
6. Stay calm n cool alias tetap tenang sekalipun menyadari inti dari semua fenomena (baik ataupun buruk)
7. Kegigihan yang tak habis – habisnya (semangat!)
8. Keuletan yang tak kunjung habis (cia yo!)
9. Selalu berkesadaran penuh
10. Kebijaksanaan yang tak terbatas ( I hope I could do that right now)
11. Pembebasan yang tak kunjung habis (mencapai Pencerahan n terbebas dari hal – hal negatif geto maksudnya)
12. Pengetahuan dan visi tanpa akhir yang berasal dari Enlightment
13. Semua tindakan jasmani dituntun oleh kebijaksanaan
14. Semua ucapan dituntun oleh kebijaksanaan
15. Semua pikiran dituntun oleh kebijaksanaan
16. Penembusan pengetahuan tak terbatas ke masa lalu
17. Penembusan pengetahuan tak terbatas ke masa sekarang
18. Penembusan pengetahuan tak terbatas ke masa depan
Gautama juga selalu menghendaki perdamaian dan menghindari pertikaian
Hal ini dapat dilihat dengan begitu jelas di saat Beliau mendamaikan suku Sakya n Koliya yang hendak berperang karena berebut sumber air (untung bukan berebut permen!)
Beliau mengajarkan , “ Barangsiapa mencaci-maki orang yang mencaci-makinya , maka ia adalah orang yang 2 kali lebih buruk . Menahan diri dari pembalasan , memenangkan pertempuran yang sulit dimenangkan . Jika seseorang tahu bahwa orang lain sedang marah tapi ia sendiri menahan diri dari kemarahan , orang yang menahan kemarahan itu telah berbuat yang terbaik bagi dirinya sendiri dan bagi orang yang marah itu . Orang tersebut adalah penyembuh bagi kedua belah pihak . “ Samyutta Nikaya bab 7 , Sutra ke3
Sehubungan dengan perdamaian , Gautama juga mengajarkan dalam sutra pertama dari Digha Nikaya , “ Buddha adalah seorang pemersatu bagi mereka yang bermusuhan dan pendukung mereka yang telah bersatu , turut bergembira dalam damai , mencintai perdamaian , menyukai perdamaian , Ia adalah seorang yang memuji perdamaian . “
Karena Gautama telah terbebas dari kebencian , kemarahan serta perasaan emosi – emosi negatif lainnya , Ia dapat memancarkan kasih tanpa batas terhadap semua makhluk (bukan hanya manusia tapi juga hewan , hantu , jin dan setan )
Karena itu Beliau juga tak pernah meminta seseorang untuk percaya kepadaNya baru bisa mendapatkan kasihNya (cinta kasih tak bersyarat) dan bisa mencapai Nirvana .
Gautama (dan juga Buddha – Buddha yang lain) juga memiliki sepuluh kekuatan (dasasala) :
1. Mengetahui dengan bijak segala sesuatu sebagaimana adanya , apa yang mungkin sebagai mungkin dan apa yang mustahil sebagai mustahil
2. Mengetahui buah – buah karma masa lalu , masa sekarang , dan masa depan sehingga sanggup untuk mengambil tindakan yang tepat
3. Mengetahui segenap unsur yang menyusun dunia fenomena kita ini ( kata – kata Beliau jarang sekali bertentangan dengan sains bahkan seringkali saling melengkapi)
4. Mengetahui watak dan kecondongan batin setiap makhluk
5. Mengetahui kualitas batin atau tingkat perkembangan kemampuan setiap makhluk mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi
6. Mengetahui segenap jalan yang membawa ke alam kehidupan manapun juga
7. Mengetahui segenap jhana (=kondisi yang dicapai dalam meditasi dengan pikiran yang terpusatkan secara penuh - red) , pembebasan dan samadhi berserta pencapaiannya , Beliau juga tau hal – hal apa yang bisa mencemarkan dan kembali memurnikan hal – hal itu
8. Mengetahui seluruh kehidupan di masa lalu
9. Mengetahui proses kelahiran dan kematian tiap – tiap makhluk karena perbedaan karma masing – masing
10. Mengetahui penghancuran segenap kekotran batin , baik pada dirinya sendiri ataupun orang lain
Oleh karena itu semua Buddha memiliki satu corak : tak dapat dibayangkan dan dipahami
Mereka juga diyakini memiliki segenap kekuatan batin hasil dari terkikisnya segenap kekotoran batin , bukan karena pemberian makhluk yang lebih tinggi kekuatannya .
Meskipun dianggap mahatahu dan punya kekuatan supranatural , Gautama tak mahakuasa , karena Beliau tak bisa :
1. Menghapuskan hukum karma
2. Menyelamatkan makhluk yang tak berjodoh untuk bertemu denganNya ataupun ajaranNya
3. Melenyapkan dan mengakhiri alam penderitaan eksistensi yang telah muncul seperti alam binatang , neraka , dan alam manusia
Bagi kami , Gautama adalah panutan yang baik agar dicontoh sehingga kita bisa menemukan perlindungan sejati dalam diri kita sendiri , bukan sebagai Tuhan personal yang bisa menyelamatkan kami dari akibat perbuatan – perbuatan kami sendiri
Beliau bisa menyelamatkan diriNya dengan perbuatan – perbuatan baiknya dan kekuatan supranaturalnya , Beliau juga menyelamatkan orang lain dengan cara mengajarkan ajaranNya, selain itu ia mengasihi semua makhluk tanpa batas karena memiliki cinta kasih tak bersyarat tak peduli apakah mereka percaya kepadaNya , bisa memberikan hal apa kepadaNya atau pun telah melukaiNya atau tidak , bahkan Gautama juga tidak mengindahkan ritual – ritual sebagai tanda penghormatan , pelayanan dan kemuliaan untuk diriNya ataupun hal - hal lainnya yang tak berguna bagi kemajuan potensi pengikutNya.
Semua ini hanya dapat diraih apabila kita telah mencapai Enlightment .
Pencapaiannya inilah yang hendaknya menjadi contoh bagi kita agar kita mendapatkan perlindungan yang utama dan sesungguhnya , yaitu di dalam diri kita sendiri .

KESIMPULAN KONSEP KETUHANAN
Buddhisme menolak adanya Tuhan personal , Ketuhanan di dalam Buddhisme lebih merupakan sifat – sifat mendasar yang ada di dalam diri kita yang harus ditemukan dengan cara intuitif
Penolakan ini disebabkan karena Buddhisme menganggap konsep Tuhan personal (sorry sebelumnya untuk yang beragama dengan konsep Ketuhanan Personal) adalah bentuk pikiran manusia yang berusaha untuk memuaskan nafsunya akan hal – hal adiduniawi dan yang di luar jangkauan pikirannya sendiri .
DKTL konsep Tuhan personal diciptakan dan hanya dibatasi oleh kemampuan manusia di dalam berpikir dan berimajinasi
Ketidaklogisan lainnya juga disebabkan karena tidak mungkin adanya makhluk yang bisa Maha Kuasa sekaligus Maha Pengasih dan Maha Adil .
Maha Kuasa dapat dipertanyakan ketika melihat betapa banyak orang menyebut – nyebut nama yang dianggap sebagai Tuhan personal mereka namun tak pula kunjung datang bantuan di saat terjadinya bencana .
Permasalahan ketidaklogisan di dalam konsep Tuhan personal sebagai causa prima yang menciptakan segalanya , maka tentunya kejahatan dan dosa adalah ciptaan Tuhan juga padahal dikatakan pula Maha Baik , bagaimana mungkin sebuah hal yang negatif keluar dari hal yang positif ? Apabila Maha Baik , kenapa tak langsung saja menghapuskan semua penderitaan umatnya? Apabila kejahatan dan dosa eksis bukan berdasarkan kehendak Tuhan personal , maka konsep Maha Pencipta (kausa prima ) pun akan gugur .
Dikatakan pula salah satu gelar Maha dalam konsep Tuhan personal adalah Maha Pengasih , tapi bagaimana ia bisa menjadi Maha Pengasih apabila ia menghukum umat yang tak berdosa dalam bencana (seperti bayi misalnya)?Konsep Maha Pengasih juga akan bentrok dengan Maha Adil , apabila Maha Adil dilaksanakan , maka Tuhan personal harus menghukum seorang umatnya dengan siksaan api neraka , bagaimana mungkin Maha Pengasih dan Maha Adil menghukum seseorang dengan hukuman abadi ? Untuk menyiksa dengan hukuman saja sudah menggugurkan konsep Maha Pengasih dan apabila hukuman tersebut bersifat abadi (tidak sesuai dengan lamanya orang tersebut melakukan perbuatan salah) bagaimana mungkin bisa disebut sebagai Maha Adil ?
Konsep Maha Tahu dalam diri Tuhan personal juga akan gugur apabila kita melihat bencana dianggap sebagai bahan ujian tingkat keimanan kita , apabila benar adanya Maha Tahu , untuk apapula kita harus repot – repot diuji lagi tingkat keimanan kita ? Tentunya Maha Tahu akan mengetahui hasil akhirnya tanpa harus diuji terlebih dahulu bukan ?
Sekalipun demikian , masih terdapat kesamaan di antara konsep Ketuhanan personal dengan konsep Ketuhanan Non Personal dalam Buddhisme seperti keabsolutan dari konsep Ketuhanan tersebut, selain itu juga keduanya sama - sama tidak bisa dibuktikan keberadaannya melalui deskripsi kata2 manusia.
Sekalipun berbeda jauh , Buddhisme bukanlah agama ateistik karena konsep Ketuhanan non personal yang dimiliki oleh Buddhisme (Adi Buddha, Dharmakaya , dan Nirvana) berada di pertengahan antara teisme dengan ateisme .

MENGAPA BISA MUNCUL PAHAM KONSEP KETUHANAN PERSONAL ?
Hal ini pun dijelaskan dalam Tipitaka terutama dalam Visuddhimagga (Pali) atau Abhidharmakosha (Sanskrit)
Dalam kosmologi Buddhist diperkenalkan adanya 3 tingkat alam kehidupan yaitu :
1. Alam nafsu keinginan (kamadhatu)
2. Alam bermateri (rupadhatu)
3. Alam tak bermateri (arupadhatu)
Kita semua (manusia , binatang, hantu , jin , setan dan para dewa) hidup dalam kamadhatu
Di alam nafsu keinginan tertinggi terdapat MahaBrahma yang dapat disetarakan dengan pengertian Tuhan personal
Karena kekuasaan yang besar , Mahabrahma dapat menolong umatnya namun sekalipun memiliki kekuatan supranatural yang tinggi , menurut Gautama ia tidaklah maha kekal , tidak maha pencipta dan juga tak maha kuasa .
DKTL, kekuatannya terbatas
Ia tak bisa menentang hukum karma (sebagaimana juga Gautama tak bisa melakukan hal itu) dan selain itu , menurut Samyutta Nikaya, ia masih berguru kepada Gautama ( guru aja gak bisa , apalagi murid ? )
Sekalipun umurnya terasa sangat panjang menurut ukuran alam manusia (waktu adalah sesuatu yang sangat relatif dalam kosmologis Buddhisme) , suatu saat ia akan mati juga
Mahabrahma juga masih memiliki berbagai macam perasaan , karena ia belum terbebas dari nafsu sepenuhnya
Karena itu ia juga bisa merasa senang ataupun sedih
Sealin itu , ia juga memiliki sebuah kesalahpahaman di saat pertama kali tercipta karena karmanya
Ia bepikir dirinya yang muncul pertama kali dunia para dewa
Di saat ia merasa kesepian dan muncul dewa – dewa lain yang lebih rendah , ia berpikir bahwa dirinya Pencipta padahal dewa – dewa yang lebih rendah muncul dikarenakan karma – karma mereka
Dewa – dewa yang lain yang melihatnya sebagai yang pertama muncul pun menganggap diri mereka diciptakan olehnya sehingga menganggap ia sebagai seorang Pencipta
Karena hukum karma terus berlaku di alam nafsu keinginan , mereka yang masa hidupnya sebagai dewa meninggal pun turut tercipta oleh karena karma mereka sebagai seorang manusia yang memiliki pengetahuan terbatas
Manusia yang mencoba untuk memahami siapa diri mereka mulai bermeditasi namun sayangnya tidak mencapai Pencerahan Sempurna dan hanya sampai ke tahap MahaBrahma
Dari sinilah muncul konsep Ketuhanan Personal sebagai Pencipta segala hal .
Pandangan ini pun terus disebarkan seiring berjalannya waktu dan dianggap sebagai penjelasan logis karena ketidakmampuan manusia untuk bisa melihat keseluruhan alam fenomena tanpa adanya pelatihan diri .
Lalu bagaimana dengan anggapan bahwa Tuhan menyatakan kemahakuasaannya dalam bentuk hukum alam?(maha pengatur)
Di dalam Buddhisme , terdapat panca niyama (lima hukum alam) yang eksis bersamaan dengan adanya alam fisik itu sendiri
Panca niyama ini bersifat mutlak,absolut kepada semua orang yang baik ataupun jahat , percaya tauapun tidak , tau maupun tidak tahu dan juga tidak berkepribadian
Niyama – niyama inilah yang menyebabkan adanya keteraturan dalam alam semesta dan ke5 niyama ini juga saling bergantungan satu sama lainnya
Manusia – manusia yang belum mengenal sains di zaman dahulu menganggap semua keteraturan alam semesta ini terjadi karena ada yang mengatur dan berkuasa atas mereka , namun Gautama telah mendahului sains jauh sebelum manusia mengenal apa arti kata “sains” itu sendiri sehingga ia menjabarkan semuanya dengan sangat tepat .
Maaf , apabila tulisan ini terlampau “ mengguncang “ iman ,hanya mau menjelaskan mengapa Buddhist tidak memiliki konsep Ketuhanan Personal , tak bermaksud menghina ataupun menjelek- jelekkan agama lain .
Semoga dengan adanya postingan ini , semua pertanyaan telah dijawab dengan memuaskan
Semoga membawakan manfaat bagi kita semua
Semoga kita semua berbahagia
Semoga semua makhluk berbahagia
Semoga begitulah adanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar