Sabtu, 26 Desember 2009

Umat Buddha dan Solusi Kemarahan

Oleh : Yang Arya Bhikkhu Uttamo Thera

TIPE UMAT BUDDHA
Dapat diterangkan di sini bahwa tipe atau jenis umat Buddha itu ada
bermacam-macam. Jenis kelompok umat yang pertama adalah: Umat Buddha
KTP. Jadi ke mana-mana disombongkan: Ini lho, KTP saya: Buddhis!"
Kalau mereka ditanya, bagaimana riwayat Sang Buddha? Jawabnya: "Ah, itu
bukan urusan saya. Itu urusannya para bhikkhu dan para Dharmaduta.
Pokoknya saya Buddhis. Ditanya viharanya di mana. Jawabnya: "Bukan urusan
saya. Itu urusannya orang-orang yang mau jadi bhikkhu. Ditanya buku
parittanya apa, dijawab: Buku paritta bukan urusan saya. Saya susah
membaca paritta". Paritta apa saja yang dihafal? Jawabnya: Untuk apa
menghafal paritta? Lidah saya keseleo-keseleo! Jadi kamu Buddhis-nya apa?
K-T-P! Toh kalau KTP-nya Buddhis, juga bisa masuk surga, cukup. Kalaupun
mau ditambah sedikit, pokoknya Buddhisnya sampai dupa. Kalau saya sudah
bisa pegang dupa, acung-acung dupa, jungkir balik di depan patung, saya
sudah Buddhis: Patung apakah itu? Tidak tahu. Pokoknya saya ikut yang
lain. Nah, ini golongan yang pertama. Amat menderita, Saudara.
Golongan yang kedua adalah golongan yang lebih baik daripada yang
pertama, yaitu yang disebut umat Buddha bergaya "Kapal Selam".
Saudara tentu pernah nonton film "The Man From The Atlantis",
bukan? Di sana mereka selalu menggunakan kapal selam. Saudara perhatikan
kebiasaan kapal selam; kalau ada bahaya, dia turun, biar aman. Kalau mau
ketemu pejabat, dia naik. Nanti kalau santai-santai, nganggur-nganggur:
turun. Kalau mau jalan-jalan: naik. Nah, itu cerita film The Man From The
Atlantis. Ternyata cerita itu bukan hanya ada di televisi, tetapi di
vihara cerita itu bisa terjadi. Ada acara Waisak: muncul. Tidak ada
bhikkhu: tenggelam. Ada bhikkhu: naik. Ini tipe yang kedua.
Tipe yang ketiga adalah tipe yang paling ideal, yaitu umat Buddha yang
memang betul-betul mempelajari Dhamma dan melaksanakan Dhamma. KTP-nya
Buddhis, rajin datang ke vihara untuk berpuja-bakti, mendengar Dhamma,
serta melaksanakan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari.

JENIS UKIRAN KEMARAHAN DAN SOLUSINYA

Di Bali saya lihat umat Buddhanya telah menunjukkan satu
kekompakan/persatua n di dalam mengembangkan Buddha Dhamma. Ternyata orang
Bali, umat Buddha di Bali, bukan hanya terkenal bisa mengukir kayu,
mengukir barang-barang, meja-kursi, tapi juga bisa mengukir prestasi di
dalam memajukan umat Buddha. Oleh karena itu saudara tidak sia-sia menjadi
orang Bali. Bisa mengukir, tidak hanya mengukir patung, tapi juga mengukir
prestasi untuk memajukan agama Buddha. Dan saya harap, ukirannya jangan
berhenti sampai di sini. Ini hendaknya semakin dikembangkan, sehingga
ukiran prestasi atau kebajikan saudara itu semakin banyak, ke mana
akhirnya manfaat kebajikan ini juga menjadi milik saudara.
Berbicara tentang ukiran yang positif perlu saudara kembangkan, tetapi
yang negatif jangan dikembangkan. Apakah yang negatif itu? Sang Buddha di
dalam Anguttara Nikaya I ayat 283, bercerita tentang seni mengukir. Beliau
bercerita demikian. Saudara-saudara, ada jenis tukang ukir yang
bermacam-macam. Yang pertama adalah tukang ukir yang mengukir di batu
karang. Jadi ada batu karang yang besar, diukir. Saya tadi baru saja
datang dari Tanah Lot, di sana saya melihat batu karang yang besar sekali,
dan seperti diukir dindingnya. Begitu juga ketika ke Gunung Kawi, saya
melihat gunung batu yang diukir. Ini kepandaian orang Bali dalam hal
mengukir.. Sang Buddha mengatakan, ada orang-orang yang seperti orang yang
bisa mengukir batu cadas, batu karang. Bayangkan, saudara. Batu karang
yang teguh, yang kuat, seperti candi Gunung Kawi, diukir. Itu bisa
bertahan bertahun-tahun lamanya, bahkan ratusan tahun. Kalau itu ukiran
yang positif, tentu kita akan merasa senang dan bahagia. Tetapi seperti
saya katakan tadi, yang diceritakan Sang Buddha ini adalah jenis ukiran
yang negatif.. Orang yang mengukir seperti mengukir di batu karang itu
adalah diumpamakan orang yang kalau sudah jengkel, marah, atau benci, ia
menyimpan kejengkelan atau kebenciannya itu bukan untuk waktu 1-2 hari,
bukan untuk waktu 1-2 bulan, tetapi bertahun-tahun jengkelnya masih ada.
Itu seperti orang mengukir di batu karang, seperti mengukir Gunung Kawi.
Dari jenis yang pertama ini, saya ingin bertanya, apakah saudara punya
Gunung Kawi" di dalam diri saudara? Apakah masih tersimpan kejengkelan
saudara yang 10 hari yang lalu? Yang 10 tahun yang lalu?
Suami rewel, langsung dikatakan: "Memang kamu sudah rewel sejak
bertahun-tahun lalu". Demikian juga dengan sang suami, bila melihat
istrinya akan ke vihara make-up-nya saja lama sekali, lalu suami
mengatakan: Ayo cepat, ini sudah mau mulai kebaktiannya. Kamu pasang gincu
saja, masa begitu? Jambonnya itu terlalu muda.. Hapus. Ganti yang merah
tua. Wah, itu terlalu merah, kayak bikang ambon! Hapus. Ganti yang muda
lagi. Berkali-kali ganti sampai tissu satu dus habis untuk menghapus
pemerah bibir. Suaminya jengkel, kemudian mengatakan: Kamu ini dari sejak
menikah sampai sekarang punya anak-cucu, begini terus.
Kalau saudara masih mengucapkan kata-kata seperti itu, hati saudara itu
seperti Gunung Kawi, seperti batu karang di Tanah Lot yang diukir,
sehingga tidak bisa hilang kejengkelan, dendam saudara itu, baik kepada
pasangan hidup maupun kepada yang lain. Kalau sekarang kepada pasangan
saja tidak bisa memafkan sampai bertahun-tahun, apalagi sama teman. Kalau
di vihara kita melihat teman berbisik-bisik, tertawa cekikikan-cekikikan ,
saudara berkata: Awas kamu ya, kamu menggosipkan saya. Pokoknya selama
kamu belum meninggal, saya tidak akan pernah mau datang ke vihara. Jangan
harap saya akan menginjakkan kaki di rumahmu". Itu namanya kita mengukir
Gunung Kawi di dalam diri kita. Apakah saudara demikian? Saudara sendiri
yang bisa menjawabnya.
Jenis ukiran yang kedua, bukan mengukir di batu karang, atau di dinding
batu, tetapi mengukir di pantai. Tadi saya juga mengunjungi Pantai Sanur.
Saya cemplungkan kaki saya di pasir pantai, kemudian saya minggir. Tidak
lama, jejak telapak kaki saya hilang kena ombak. Tapi hilangnya setelah
ombaknya beberapa kali. Nah, saudara, Sang Buddha pun mengumpamakan
demikian; seperti orang mengukir di atas pasir. Ada ukirannya, ada
gambarnya, bisa bertahan untuk waktu yang sementara. Kalau yang pertama
tadi, waktunya tidak terhingga, sampai mendarah daging menulang sumsum
kebenciannya tidak bisa hilang. Tapi, kalau yang mengukir di atas pasir,
ini lain ceritanya. Jengkel sama temen, jengkel sama pasangan hidup, itu
wajar. Pasangan hidup masih punya kesalahan, itu wajar. Namanya saja
manusia yang masih punya rasa kebencian. Tetapi kalau kita seperti
mengukir di pasir, hendaknya janganlah untuk waktu yang lama.
Jenis berikutnya yaitu jenis yang ketiga. Kalau yang pertama adalah
mengukir di batu karang, jenis yang kedua mengukir di pasir, maka yang
ketiga adalah yang ideal, yaitu mengukir di atas air. Saudara nanti boleh
mencoba di bak mandi saudara. Tulis huruf A. Bekas garisnya ada, tetapi
langsung hilang. Demikian pula hendaknya apabila timbul kejengkelan,
kemarahan, ketidaksenangan di dalam hati kita, hendaknya jangan ditahan
seperti batu karang, bahkan juga jangan ditahan seperti lukisan di pasir,
tetapi hendaknya seperti kita melukis di atas air. Cepat hilang
kejengkelan itu. Nah, saudara, tiga jenis kejengkelan, tiga jenis ukiran
inilah yang mulai kita renungkan sekarang.
Idealnya kita tentu mau menjadi umat Buddha yang terbaik, bukan? Saya
yakin tidak ada yang ingin menjadi umat Buddha yang jelek-jelek, tetapi
pasti yang baik. Bahkan kalau bisa, yang terbaik. Menjadi umat Buddha yang
sungguh-sungguh mau mendengar Dharma, melaksanakan Dharma dengan baik,
bukan hanya umat Buddha KTP atau Kapal Selam. Demikian pula dengan
kesabaran, hendaknya seperti melukis di atas air. Tapi sekarang,
bagaimanakah caranya? Seseorang bisa jengkel, marah, atau tidak senang itu
karena ada sebabnya. Apakah yang menjadi sebab kejengkelan/ kemarahan?
Kalau kita marah kepada pembantu di rumah, apakah sebabnya? Apakah
karena pembantu kurang pintar? Ataukah saudara yang kurang pintar? Tentu
saudara menjawab, Pembantu yang kurang pintar. Kenapa demikian? Karena
kalau dia pintar, dia sudah jadi boss seperti saudara semua. Jadi, yang
kurang pintar itu siapa? Kita sendiri! Kalau misalnya ada pembantu yang
menutup pintu saja lupa terus, setiap hari mesti disuruh; kemudian kita
omeli;Kamu ini betul-betul bodoh ya, bodoh kayak kerbau. Masa diberitahu
untuk menutup pintu saja setiap hari tidak pernah ingat?
Kalau saudara renungkan baik-baik pembantu yang lupa-lupa terus itu
mungkin memang otaknya kurang lancar. Kalau saudara omeli sampai setengah
jam itu, sebetulnya saudara menjadi seperti dia. Karena dengan
ngomel-ngomel, saudara sendiri jadi tidak menutup pintu, pintunya terbuka
terus. Padahal kalau sudah tutup pintu itu, sudah selesai masalahnya.
Jadi kalau saudara ngomel, saudara marah, berarti saudara tidak
menyadari bahwa kemampuan orang itu jauh di bawah saudara. Berarti yang
kurang pintar bukan dia, tetapi saudara sendiri yang kurang pintar
memahami kenapa kok dia membuat kesalahan itu. Makanya secara Dharma, alam
sudah menunjukkan bahwa kalau satu jari menunjuk orang lain, maka tiga
jari menunjuk kepada diri sendiri. Kalau kita menunjuk: Kamu kurang
pintar!" Berarti 1 jari menunjuk dia, 3 jari menunjuk ke kita; berarti
kita ini 3 kali lebih "kurang pintar daripada dia. Maka dari itu
belajarlah dari alam, supaya tidak gampang-gampang kita menunjuk orang
lain: kamu bodoh, kurang pintar, buruk, dan sebagainya. Jadi yang pertama
harus kita renungkan bahwa sebetulnya mengapa saya marah? Mengapa saya
jengkel dengan dia? Itu semua sesungguhnya adalah karena keinginan saya
sendiri. Jadi penyebab dari kejengkelan, ketidaksenangan, atau kemarahan,
sesungguhnya adalah karena KEINGINAN sendiri.
Coba saudara yang sudah punya pasangan hidup, tanyakan,Kenapa saudara
sayang sama pasangan hidup saudara. Kenapa saudara kadang-kadang ingin
selalu dekat dengan pasangan hidup saudara? Kadang-kadang inginnya hanya
ngomong-ngomong bersama dengan pasangan hidup saudara. Kenapa? Karena
pasangan hidup saudara bisa memberikan apa yang saudara inginkan. Wah,
kalau saya ngomong-ngomong dengan dia, cocok sekali. Sehingga, karena
ngomong-ngomong terus, lalu lupa ke vihara! Atau Wah, saya ini kalau jalan
berduaan dengan dia, senang sekali, karena saya itu bisa mengikuti jalan
cepat. Kalau ingin jalan lambat sambil nonton-nonton toko, dia bisa ikut
pelan, bisa mengikuti keinginan saya. Saya ketemu dengan teman-teman, dia
bisa saya ajak dan tidak memalukan saya. Wah, saya bahagia.
Tetapi sebaliknya, dengan pasangan hidup juga bisa jengkel. Kenapa?
Karena pasangan hidup saudara tidak memuaskan keinginan saudara sendiri.
Diajak ngomong-ngomong: Bagaimana ya, situasi politik zaman sekarang?
Langsung pasangan hidupnya menjawab: Iya, situasinya tidak enak. Coba,
harga bawang sekarang naik. Ditanya: Bagaimana keadaan vihara sekarang,
apakah banyak kemajuan? Jawabnya: Ya, cukuplah. Tapi umat vihara yang dulu
itu pernah pinjam sendok, tidak dikembalikan. Padahal sendoknya antik,
itu. Bagaimana ya caranya kita minta kembali sendoknya sama dia? Wah, ini
sudah tidak cocok. Yang ditanya tentang vihara, jawabannya tentang sendok.
Yang ditanya soal politik, jawabannya bawang merah, bawang putih. Sudah
tidak karuan ini. Ah, malas saya ngomong-ngomong sama dia, enakan ke
vihara, pelarian. Daripada di rumah jengkel terus, stress, lebih baik ke
vihara saja, dengar-dengar Dhamma atau kadang-kadang di vihara ngaco-ngaco
saja, bisa juga begitu. Nah, saudara, mengapa kita jengkel dengan pasangan
hidup kita? Karena kita tidak ingin pasangan hidup kita itu melakukan
demikian. Sebaliknya kalau jalan; saya ingin cepat, pasangan hidupnya
pelan. Saya ingin pelan sambil nonton-nonton toko, dia malah ngebut, mau
cari toilet! Bagaimana ini? Wah tidak cocok. Lebih baik jalan sendiri
saja. Kenapa? Karena keinginan tidak tercapai. Begitu juga kalau ketemu
teman-teman, diajak ngomong-ngomong. Teman-teman bertanya, Bagaimana ini
pasangan hidupmu, bahagia ya, hidup rukun-rukun? Langsung sang istri
pasang muka merengut: Rukun apa. Itu kan hanya di depan umum. Kalau di
belakang, dia ngomel-ngomel terus sama saya, malah pernah mukulin saya
juga, koq. Sang suami lalu berpikir, Wah, ini menjatuhkan martabat dan
gengsi. Bisa repot. Ini memalukan saya. Sehingga istri tidak diajak
jalan-jalan lagi.
Nah, dari contoh-contoh tersebut, jelaslah kenapa kita senang sama
orang, kenapa kita tidak senang sama orang. Itu semua karena keinginan
kita. Kalau keinginan tercapai, saya senang. Kalau keinginan tidak
tercapai, saya tidak senang. Bukan hanya dengan pasangan hidup atau orang,
dengan benda, rumah/tempat, dengan musik, bacaan, apa saja, semuanya
tergantung kepada kesenangan saudara. Kalau kesenangan tercapai, saudara
senang, cinta, bahagia. Kalau kesenangan atau keinginan tidak tercapai,
saudara jengkel, emosi, marah. Kalau demikian, dapat kita simpulkan bahwa
marah adalah karena keinginan kita, setuju?
Kalau sekarang marah itu adalah karena keinginan, maka begitu kita
marah, hendaknya kita segera menyadari: "Ini keinginan saya. Saya ingin
apa sih? Saya ingin dia pintar seperti ini. O..., lalu saya lihat
kemampuannya, dia tidak bisa, ya sudah. Keinginan saya, saya turunkan.
Tidak usah terlalu menuntut. Kalau kita hanya memegang keinginan saja,
Pokoknya dia harus bisa menuruti omongan saya, maka kita akan menderita.
Menderita karena keinginan kita sendiri.
Dengan bisa memaklumi kekurangan orang lain, dan mengubah cara berpikir
atau keinginan kita, kita dapat mengurangi kemarahan. Jangan terlalu
menuntut terhadap orang lain, karena semua orang, semua barang, semua
benda itu ada kelemahannya, ada kekurangannya.
Jadi kalau saudara marah, ingat baik-baik: "Ini toh karena keinginan
saya. Lalu bagaimana renungannya supaya tidak sering marah? Bagaimana
mengendalikan kemarahan? Kita merenungkan demikian: Dia punya kekurangan,
tetapi juga punya kelebihan; demikian pula dengan saya. Tiada lagi
kemarahan di dalam diri saya. Nah, inilah mantranya. Mantra agar tidak
marah. Kalau kita mulai jengkel atau marah kepada seseorang, kita
merenungkan atau langsung mengatakan: Dia memang punya kekurangan, tapi
juga punya kelebihan. Begitu pula dengan saya. Tiada lagi kemarahan di
dalam diri saya. Melakukan perenungan ini, kalau pagi bangun tidur diulang
5 kali, malam mau tidur diulang 5 kali. Dan mulai membaca mantra ini sejak
hari ini. Kenapa demikian? Saya 'kan belum marah sama dia? Itu memang
benar. Tapi ini untuk siap-siap menghadapi munculnya marah itu. Sama
seperti saudara belum ketemu maling, tapi saudara sudah belajar kungfu.
Jangan belajar kungfu kalau malingnya sudah datang. Keburu benjol semua
kepala saudara. Belajar kungfu itu kalau malingnya belum datang, otomatis
jurusnya keluar. Demikian juga dengan kemarahan. Jangan menunggu akan
marah, baru merenungkan mantra itu. Mulailah sejak sekarang, mumpung belum
marah. Walaupun saudara adalah pasangan hidup yang serasi, saudara
hendaknya mulai berpikir demikian. Walaupun di pergaulan saudara tidak ada
masalah, mulailah saudara berpikir begitu. Sehingga nanti kalau ketemu
teman di organisasi yang menjengkelkan, saudara akan berpikir: Walaupun
dia punya kekurangan, toh dia juga punya kelebihan. Saya akan
mengingat-ingat kelebihannya.
Dengan demikian maka kejengkelan kita bisa kita kurangi, karena sumber
kejengkelan adalah pikiran kita, keinginan kita sendiri. Karena kita ingin
dia sempurna, dan tidak ingin dia tidak sempurna. Siapakah yang sempurna
dalam dunia ini? Tidak ada yang sempurna. Inilah yang perlu kita renungkan
di dalam hati. Jangan ngomong dia punya kelebihan dulu, karena kuman di
seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak. Kesalahan
orang sedikit saja nampak, tetapi kebaikannya meskipun banyak, tidak
nampak. Karena itu kesalahan pada orang lain lebih mudah dilihat daripada
kelebihan dia. Karena itu kita ngomong dulu kekurangannya pada mantra
perenungan kita: Memang dia punya kekurangan, tapi dia pasti punya
kelebihan. Begitu pula saya. Tiada lagi kemarahan di dalam diriku. Ini
direnungkan terus. Kalau direnungkan terus, maka dalam waktu 1 tahun saya
akan melihat ukiran-ukiran di Gunung Kawi, yang berupa
kejengkelan- kejengkelan, emosi, kebencian, kemarahan, semuanya menjadi
hancur, lumat, rata dengan tanah. Tidak ada lagi emosi di dalam diri
saudara.
Tetapi ukiran-ukiran Gunung Kawi yang baik-baik, dengan mengenalkan
Dharma kepada lingkungan, keluarga, rekan-rekan dan kerabat saudara, akan
terus berjaya untuk waktu yang tak terbatas. Dan kalau saudara bisa
mengembangkan hal ini —ukiran yang positif bisa dipertahankan, ukiran yang
negatif tidak dilakukan—, maka kebahagiaan akan menjadi milik saudara.
Kebahagiaan tidak hanya saudara alami di dalam kehidupan ini, tetapi
kebahagiaan juga akan saudara alami setelah kehidupan saudara hidup di
duni aini. Artinya saudara pun akan bisa terlahir di surga karena kebaikan
saudara. KTP saudara Buddhis, juga bisa lahir di surga. Umat Buddha kapal
selam juga bisa lahir di surga. Umat Buddha yang sungguh-sungguh, akan
terlahir di surga untuk waktu yang lama dan berkali-kali.
Oleh karena itu lakukanlah kebaikan, karena kebaikan yang dilakukan
akan membuahkan kebahagiaan, baik di dalam kehidupan ini, maupun di dalam
kehidupan-kehidupan yang selanjutnya.
Semoga semua makhluk, baik yang tampak maupun yang tidak tampak akan
memperoleh kebahagiaan lahir dan batin, sesuai dengan kondisi karma
masing-masing. Dikutip dari Mutiara Dhamma VI
============ ========= ==

Semoga bermanfaat.. .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar