Rabu, 23 Desember 2009

Vegetarianisme dalam Sekte - Sekte Buddhist

Pada awalnya, mungkin agak membingungkan bahwa kaum Theravada makan daging, orang Cina Mahayana tidak, dan orang Tibet yang mempraktekkan Vajrayana juga makan daging. Perbedaan dalam praktek ini tergantung kepada perbedaan penekanan pada masing-masing aliran.

Penekanan pada ajaran Theravada adalah untuk melenyapkan kemelekatan pada obyek-obyek indria dan untuk menghentikan pikiran tidak seimbang yang berkata, “Saya suka yang ini dan tidak yang itu.” Dengan demikian, ketika bhikshu-bhikshunya pergi keluar mencari derma, mereka menerima dengan tenang dan rasa terimakasih apappun yang diberikan, daging atau bukan. Tidak hanya akan menyinggung perasaan orang yang memberi tetapi juga akan merusak latihan bhikshu itu sendiri dan menambah kemelekatan, jika ia berkata,:Saya tidak boleh memakan daging, jadi berilah saya sayur-sayuran yang segar.”
Dengan demikian, sepanjang daging itu datang bukan karena dipesan olehnya, serta tidak melihat, mendengar, atau curiga bahwa binatang itu dibunuh untuknya, bhikshu itu diperkenankan memakannya. Tetapi, akan lebih bijaksana jika mereka yang memberikan derma ingat bahwa premis dasar dari ajaran Buddha adalah tidak menyakiti makhluk lain, dan mau memilih apa yang akan dipersembahkan secara tepat.

Berpijak pada landasan ketidakmelekatan, belas kasih bagi makhluk lain sangat ditonjolkan, khususnya dalam tradisi Mahayana. Dengan demikian, bagi mereka yang mengikuti ajaran ini, dinasihatkan untuk tidak memakan daging supaya tidak menimbulkan penderitaan bagi makhluk lain dan untuk mencegah orang menjadi tukang jagal. Selain itu juga, karena getaran yang ditimbulkan daging dapat menghalangi seorang siswa biasa dalam mengembangkan belas kasih.

Jalan Tantra atau Vajrayana mempunyai empat kelas. Di kelas bawah, kebersihan dan kesucian sebelah luar ditekankan sebagai teknik bagi praktisi untuk menumbuhkan kesucian sebelah dalam dari pikiran. Jadi, praktisi ini tidak memakan daging, yang dianggap bersih.

Sebaliknya dalam Tantra-yoga tertinggi, berlandaskan pada ketidakmelekatan dan belas kasih, praktisi yang memenuhi syarat melaksanakan meditasi dengan mengambil obyek system urat syaraf yang sangat halus, dan untuk itu, unsur-unsur jasmaniah yang kuat sangat dibutuhkan. Dengan demikian, daging bahkan dianjurkan bagi orang seperti itu. Pada tingkat ini juga ditekankan transformasi obyek dengan meditasi yang mendalam, tidak makan daging dengan serakah bagi kepentingan dirinya sendiri.

Di Tibet terdapat faktor tambahan untuk dipertimbangkan: berkenaan dengan tempat yang sangat dingin dan iklim yang kejam, terdapat sedikit sekali yang bias dimakan selain gandum tanah, produk-produk susu, dan daging. Untuk bertahan hidup, rakyat di sana mesti makan daging.
Yang Mulia Dalai lama telah mendorong rakyat Tibet dalam pengasingan. Yang sekarang tinggal di negeri-negeri yang penuh dengan sayur mayur dan buah-buahan, untuk menahan diri sedapat mungkin dari memakan daging.
Juga jika seorang siswa mempunyai masalah berat dengan kesehatannya yang mengharuskannya makan daging, maka sang guru mungkin akan membolehkannya.
Dengan demikian, setiap orang mesti memeriksa tingkatan lainnya serta kemampuan tubuhnya dan makanlah dengan bijaksana.

Adanya beragam doktrin Buddhis itu, akhirnya menjadi bukti kesanggupan Sang Buddha dalam menuntun orang berdasarkan watak dan kebutuhannya. Sungguh amat sangat penting untuk tidak terpecah dalam sekte-sekte, melainkan mesti menghargai semua tradisi beserta praktisinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar