Rabu, 23 Desember 2009

PROSES TERJADINYA ALAM SEMESTA DALAM BUDDHISME

Di dalam teks Buddhist , proses terjadinya alam semesta ini dianggap tidak terlalu penting sehingga jarang sekali dibahas
Mengapa tidak terlalu penting , karena :
1. Apakah dengan mengetahui asal – muasal alam semesta akan menjamin kebajikan , moral , kasih dan kebaikan kita akan meningkat?
2. Apakah dengan mengetahui asal – muasal dari segala sesuatu akan menjamin kebahagiaan kita ?
3. Apakah dengan mengetahui asal – muasal dari segala sesuatu akan melenyapkan alam – alam penderitaan (seperti neraka,alam hantu,asura,dll) ?
Jawaban dari ke3 pertanyaan itu tentunya adalah satu yaitu :TIDAK
Selain itu tertulis dalam Digha Nikaya III.4 , Gautama mengatakan kepada Sunakkhatta bahwa penyingkapan asal muasal segala sesuatu bukanlah tujuan ajaran-Nya , karena tidak menuntun kepada penghancuran penderitaan
Namun , bukan berarti Buddha tidak pernah mengajarkan mengenai asal – muasal semuanya
Menurut Buddha , bahasa manusia tak dapat melukiskan “ awal” lahirnya alam semesta dan makhluk hidup secara tepat
Bagaikan jari yang menunjuk bulan tapi bukan bulan itu sendiri
DKTL , pembahasan tentang asal usul makhluk hidup dan alam semesta hanya merupakan suatu penunjuk arah ke realita , bukan realita itu sendiri
Buddhisme tidak mengenal konsep Tuhan Pencipta namun Buddhisme mengajarkan alam semesta ini mengalami proses kelahiran , pendewasaan , penuaan , dan kehancuran yang terus – menerus dan berulang – ulang kali
Proses ini berlangsung sejak masa yang tanpa awal dan tak ada suatu masa awal yang benar – benar awal
Pandangan Buddhisme mengenai hal ini terlihat jelas dalam Bhayaberava – sutta (sutra ke 4 dari Majjhima Nikaya)
“ Ketika pikiranku melakukan konsentrasi dan dengan demikian termurnikan , tidak tercela , mengatasi semua kekotoran , dapat diarahkan , mudah diarahkan serta tenang , Aku memustakannya pada kelahiran – kelahiran yang lampau , satu , dua , …. Ratusan , ribuan , banyak kalpa (masa dunia) dari penyusutan dunia , banyak kalpa pengembangan dan penyusutan dunia . “

Pandangan Buddhisme mengenai kosmologi sangat sejalan dengan sains karena astro-fisikawan mengatakan bahwa di dalam kosmos terjadi proses pembentukan , pengembangan , dan penyusutan galaksi , yang akhirnya disertai dengan pemusnahan galaksi itu sendiri .
Kelahiran dan kematian setiap galaksi juga disebabkan oleh karma kolektif (gabungan) makhluk hidup

“ Setiap daratan dan negeri
Terlahir melalui kekuatan karma
Kalian semua musti merenungkan
Karakteristik dari evolusinya (perubahannya-red) “

“ Para makhluk yang tercemari kotoran batin
Dibelenggu oleh karma dan delusi yang menakutkan
Disebabkan oleh pemikiran mereka , lautan dunia
Seluruhnya tercemari “

“ Jika makhluk yang berpikiran murni
Melatih perbuatan yang penuh keberkahan dan kebajikan
Pemikiran mereka menyebabkan lautan daratan
Menjadi suci sebagian dan tercemar sebagian “
(Avatamsaka sutra bab 4)

Dari kutipan ini , dijabarkan bahwa alam sekitar kita adalah resultan dari berbagai tindakan serta pikiran yang berasal dari para makhluk hidup penghuninya
Jika penghuni berbuat dan berpikir tidak baik , maka dunia akan rusak
Pola pikir dan tindakan kita juga membentuk dunia sekitar kita
Jika kita berpikir bahwa sesuatu itu baik , maka hal itu akan nampak baik

Buddhisme membedakan proses awal terciptanya makhluk hidup dengan alam semesta dengan asal – usul terciptanya bumi berikut nenek moyang kita
Karena menurut Buddhisme , sebelum bumi ada , sudah terdapat jumlah dunia – dunia yang tak terhingga banyaknya beserta makhluk hidup penghuninya
Lalu darimana mereka datang ?
Mari kita menuju proses terciptanya kehidupan di bumi terlebih dahulu , sebelum membahas topik yang sangat kompleks , rumit , dan membutuhkan kon – sen – tra – si yang sangat tinggi di saat membaca mengenai awal lahirnya alam semesta beserta makhluk – makhluknya secara ilusi .

KELAHIRAN BUMI DAN MAKHLUK PENGHUNINYA
Kali ini akan diambil dari Aggana – sutta yang merupakan sutra ke 27 dari Digha Nikaya .
Pembahasan dalam sutra aslinya agak panjang , jadi akan dipersingkat saja .
1. Setelah berlalunya suatu masa yang sangat lama , dunia ini mengerut . Pada masa pengerutan , makhluk – makhluk kebanyakan dilahirkan di alam surga Abhasara (surga ke 12) . Mereka berdiam di sana dan rupa mereka tercipta dari pikiran , hidup bukan dari makanan , melainkan dari kebahagiaan pikiran . Tubuh mereka memancarkan cahaya sendiri serta melayang di udara , dan keadaan ini berlangsung dalam masa yang sangat lama . Jadi dunia kita (bumi) belum terisi karena makhluk hidup hanya ada di dimensi lain yaitu surga Abhasara dan sedang dalam tahap pengerutan .
2. Tapi , setelah waktu yang sangat lama , bumi mulai mengembang . Pada saat pengembangan , kebanyakan makhluk di alam Abhasara habis masa kehidupannya di san dan terlahirkan di bumi . Di sini , tempat kediaman mereka yang baru dan rupa mereka masih tercipta dari pikiran . Hidup bukan dari makanan , melainkan dari kebahagiaan batin . Masih seperti di alam Abhasara , tubuh mereka bercahaya sendiri serta melayang di udara. Keadaan ini juga berlangsung dalam waktu yang sangat lama . Dari segi sains dan agama Buddha , keduanya sepakat di saat seperti ini hanya ada makhluk hidup aseksual (tanpa alat kelamin ) . Sains menyebutnya sebagai cyanobacteria , makhluk bersel satu yang menghasilkan cahaya dari tubuhnya sendiri .
3. Pada masa itu , semuanya merupakan suatu dunia yang terdiri dari air , gelap gulita . Tak ada matahari atau bulan yang nampak , tidak ada bintang – bintang atau konstelasi – konstelasi yang kelihatan , siang maupun malam belum ada , bulan maupun pertengahan bulan belum ada , tahun – tahun maupun musim – musim belum ada , laki – laki maupun wanit belum ada . Makhluk – makhluk hanya dikenal sebagai makhluk – makhluk saja . Dari segi sains , pernyataan mengenai bumi terdiri dapat dibagi menjadi dua cara , yakni bumi yang pada mulanya masih cair atau kehidupan berawal dari air . Kutipan ini juga tidak mengatakan bahwa mathari , bulan , dan bintang belum ada (atau tercipta sesudah bumi ) tapi dikatakan belum nampak . DKTL ada sesuatu yang menghalangi mereka untuk bisa terlihat . Dalam sains , bahwa memang masih ada kabut yang menyelimuti bumi di saat ini karena adanya proses pendinginan bumi .
4. Setelah berlangsung waktu yang sangat lama , sejenis lapisan zat yang enak (rasa pathavi) muncul dan menyebar di permukaan air . Lapisan zat itu kelihatannya seperti kulit yang terbentuk sendiri di atas permukaan susu panas yang telah mendingin . Zat ini berwarna seperti mentega , bebauan dan rasa
5. Di antara para makhluk hidup ada yang rakus yang mencoba untuk mencicipi zat tersebut . Lahirlah nafsu keinginan berupa kecanduan . Selanjutnya , satu persatu dari mereka mulai mencicipi zat itu
6. Karena pencicipan yang terus – menerus , sinar mereka memudar . Dengan memudarnya sinar mereka dan disebabkan oleh karma kolektif mereka , maka mulai nampaklah matahari , bulan dan bintang , malam dan siang dibedakan . Sejak itu terjadilah evolusi di muka bumi .
7. Makhluk – makhluk itu berlanjut mencicipi makanan enak dalam waktu yang sangat lama , sehingga tubuh mereka pada gilirannya menjadi semakin bergantung pada makanan itu dan memenuhi kebutuhan gizi darinya . At last , tubuh mereka semakin kasar , padat dan berat , serta perbedaan tubuh pun semakin kentara . Yang kuat menghancurkan yang lemah
8. Setelah habis dijadikan makanan , zat itu digantikan peranannya oleh semacam cendawan
9. Setelah sekian waktu memakan cendawan , jenis makanan itu tak muncul lagi digantikan oleh sejenis tumbuhan menjalar yang dapat langsung dimakan
10. Tumbuhan menjalar itu akhirnya menghilang digantikan oleh sejenis pepadian yang pada awalnya dapat langsung dimakan , tetapi seiring dengan berlangsungnya perubahan degradasi (penurunan tingkat) kebajikan , maka degenerasi padi pun terjadi . Awalnya , tumbuh sangat cepat dan dapat dimakan dua kali sehari tanpa ada yang harus bekerja keras . Dengan memburuknya kekuatan karna , maka diperlukan usaha keras untuk memakannya
11. Semasa proses pencicipan sejenis pepadian ini organ seks semakin berkembang disebabkan oleh hawa nafsu keinginan , serta didorong oleh aneka kecondongan dan keadaan pikiran emosional
12. Demikianlah , selama proses tersebut , derajat perbedaan fisik semakin kentara antara yang pria dan yang wanita
13. Aktivitas seks mulai terjadi
Dalam Buddhisme , sosok Pencipta bukanlah sebuah keharusan dalam kelahiran alam semesta karena Buddhisme mendalilkan suatu alam semesta yang tidak memiliki awal serta menganggap bahwa keberadaan dan berlangsungnya alam semesta itu ditunjang oleh hukum alam semata
Hukum alam itu sendiri bersifat relatif , hanya berlaku di alam fenomena , dan muncul “secara khayal” dari dalam Tathatgatagarbha (rahim Tathagata) alias pikiran kita sendiri
Buddhisme juga mengajarkan bahwa dunia yang kita tinggali beserta dengan surga – surga tingkatan rendah akan mengalami kelahiran dan kehancuran secara berkala .
Buddhisme juga mengajarkan bahwa banyak planet yang terbentuk dan penghuninya sebelum tata surya kita terbentuk .
Aggana Sutra selanjutnya juga menjelaskan bagaimana pemikiran mengenai properti atau hak milik pribadi muncul dan berkembang diiringi oleh kemunculan pencurian , kebohongan dan kekerasan , makhluk saat itu yang sudah berevolusi menjadi manusia lalu membentuk sisitem kemasyarakatan dan memilih seorang menjadi raja yang akan membentuk sistem monarki dan menghukum para pelaku kriminal .
Demikianlah bagaimana ceritanya bumi ini bisa terbentuk beserta para makhluknya

Mari sekarang kita persiapkan otak kita dengan sebaik – baiknya untuk memasuki filsafat tingkat tinggi dalam Buddhisme :

PROSES TERJADINYA FENOMENA DAN MUNCULNYA MAKHLUK HIDUP
Buddhisme mengatakan bahwa seluruh fenomena (dhatu) di alam semesta ini lahir dari pikiran kita semata yang dibelenggu oleh pandangan khayal
Proses terciptanya segala fenomena ini sangat menarik dalam bidang psikologi Buddhist , sebagaimana yang ditulis dalam Surangama Sutra
“ Pencerahan bukanlah sesuatu yang perlu dibuat terang , karena begitu ini dilakukan , sebuah ‘ objek ‘ terlahir yang disebabkan oleh cahaya ini . Begitu sebuah ‘objek’ didirikan secara khayal , anda sebagai subjek khala terlahir . Di tengah – tengah dari yang tak sama maupun tak berbeda , perbedaan berkobaran . Dan yang berbeda dari perbedaan itu adalah persamaan , disebabkan oleh perbedaan tersebut . Seketika persamaan dan perbedaan diciptakan , maka yang tak sama pun tak berbeda terbentuk pula . Demikianlah kekacauan yang saling mengontraskan ini akhirnya membawa keletihan . Keletihan berkepanjangan melahirkan keburaman . Kombinasi dari semua ini di dalam kekeruhan melahirkan kotoran batin berkenaan dengan keburaman yang meletihkan . Kemunculan adalah dunia dan kegemingan adalah ruang kosong . Yang bukan persamaan pun bukan perbedaan itu benar – benar menjadi dharma – dharma berkondisi.”
Dalam Buddhisme , pada “awal”nya yang ada hanyalah kekosongan sejati , tanpa ada konsep ruang dan waktu .
Yang ada hanyalah cahaya pencerahan yang merupakan sifat dasar absolut kita semua
Pada dasarnya cahaya pencerahan itu sudah terang , jadi seharusnya ia tak perlu ditambah cahaya yang lain
Ini mengacu kepada kedemikianan segala sesuatu yang terbebas dari segenap konsep diskriminatif (contoh konsep diskiriminatif adalah saat kita membedakan antara wortel dengan kubis)
Tapi bukan berarti cahaya pencerahaan itu tidak ada cahaya
Karena munculnya ketidaktahuan , yaitu ketika gerakan pemikiran awal yang disebabkan oleh aspek “ non – pencerahan” dari alaya (kesadaran kedelapan) , kita menambah cahaya ke dalam pencerahan yang berarti menambah kepalsuan di atas kesejatian
Sifat dasar pencerahan pada intinya sudah terang jadi adalah salah apabila kita membuatnya menjadi lebih terang lagi .
Pencerahan bukanlah sesuatu yang perlu dibuat terang , karena begitu kita menambahkan terangnya , sebuah “ objek” tercipta oleh cahaya ini
“ Objek “ ini bukanlah objek fenomena pada saat itu , karena fenomena belum muncul
“ Objek “ yang dimaksud adalah corak halus pertama , atau disebut corak karma atau corak aktivasi
Pada saat itu , lahirlah hukum karma pertama kali yang hanya berlaku di alam samsara yang relatif ini . Jadi hukum karma itu sendiri tidaklah absolut , melainkan ilusi yang hanya bisa beroperasi di alam maya kita ini , karena hukum karma itu lahir secara ilusi dan bukan bersifat primordial
Seketika sebuah “ objek” dimunculkan secara khayal , kita sebagai subyek yang khayal juga terlahirkan
DTKL , karena para makhluk juga tidak sadar bahwa pemikiran ini dari awal adalah tidak eksis , maka alaya mentransformasikan dirinya menjadi memanifestasikan pemunculan fenomena subjek yang mempersepsikan .
Ini adalah corak halus kedua , yaitu corak pemutaran , atau corak subjek yang mempersepsikan
Sehingga kini lahirlah konsep “ aku “ dan “kau” ( “aku” exist karena ada “engkau”,”engkau” exist karena ada “ aku “ ) padahal “ aku “ dan “ engkau “ sesungguhnya merupakan khayalan semata
Seketika corak pemutaran lahir , maka di tengah – tengah dari sesuatu yang bukan persamaan atau pun bukan perbedaan , terlahirlah sikap diskriminatif
Ketika subjek yang membeda-bedakan itu berhadapan dengan objek yang dibeda-bedakan , perbedaan yang diakibatkan itu menjadi identifikasi
Kegiatan identifikasi dan pembedaan lebih lanjut melahirkan manifestasi “ sesuatu yang tidak sama maupun tidak berbeda”
Di sini terjadilah corak halus ketiga , disebut corak manifestasi atau corak objek fenomena yang dipersepsikan
“ Sesuatu yang tidak sama maupun tidak berbeda “ itu menunjuk kepada makhluk hidup
Di sebut “ tidak sama “ karena masing – masing makhluk punya cirinya , disebut “ tidak berbeda “ karena semua makhluk berbagi satu subtansi “ hidup “ yang sama
Dikondisikan oleh dunia fenomena yang dipersepsikan secara khayal , pikiran delusif selanjutnya melahirkan enam corak kasar
Karena tidak sadar bahwa objek – objek ini termanifestasi secara khayal dari pikiran mereka sendiri , para makhluk ini juga melekat pada objek tersebut seakan – akan mempunyai eksistensi yang tetap dan sejati
Kekacauan ini semuanya menimbulkan keletihan pada persepsi
Keletihan adalah corak kasar pertama yang disebut dengan corak pengetahuan yang mewakili kemelakatan inheren pada fenomena
Akibat dari diskriminasi intelektual , pikiran memunculkan persepsi senang,sedih,baik,buruk,dan lain sebagainya , dimana proses pemikiran ini terus berlangsung
Di sinilah keletihan berlangsung secara kontinu
Ini adalah corak kasar kedua , yang merupakan corak kasar kontinuitas yang mewakili kemelekatan yang diskriminatif terhadap fenomena
Yang perlu diperhatikan , apa yang dimaksud dengan kemelekatan itu dapat pula rasa senang atau benci terhadap sesuatu
Keletihan yang panjang menimbulkan keburaman , kekeruhan , ketidakmurnian dan muncullah wujud sebagai obejk
Oleh karena mereka melekat pada fenomena , para makhluk lalu mempersepsikan adanya perbedaan antara dirinya dengan yang lain , dan segera membentuk kemelakatan pada “aku” khayal
Kemelekatan pada “ aku khayal “ ini menyebabkan mereka menginginkan hal – hal yang selaras dengan perasaan , berharap bahw aini akan membawa kesenangan dan mempunyai ketidaksukaan terhadap hal – hal yang berlawanan dengan perasaan
Perasaan bodoh ini terus – menerus berlangsung dan bertambah gawat , kekacauan yang dibuat sendiri itu menciptakan kotoran batin
Kotoran ini mewakili corak kasar ketiga yaitu corak genggaman
Di corak kasar keempat , seseorang menciptakan rangkaian pikiran berdasarkan konsep – konsep
Ini adalah elaborasi konsep – konsep dan merupakan corak munculnya rangkaian konsep – konsep pemikiran
Berdasarkan elaborasi konseptual ini , seseorang mengategorikan pengalamannya , membentuk kemelekatan kepadanya dan karenanya menciptakan aneka karma
Inilah yang disebut corak kemunculan karma (corak kasar kelima)
Berdasarkan karma seseorang , ia menerima akibat dari karmanya sendiri dan karenanya ia tidak bebas
Pada saat ini , yang melakukan manifestasi itu menjadi dunia , yang tidak bergerak itu menjadi ruang kosong , disebut kekosongan relatif
Kekosongan itu menunjukkan persamaan , sedangkan dunia menunjukkan perbedaan
Yang “ tidak sama maupun tidak berbeda “ ini merupakan fenomena yang dikondisikan , yaitu makhluk hidup
Setelah munculnya makhluk hidup dan dunia , maka muncullah corak penderitaan dari belenggu karma yang merupakan corak kasar keenam
Diagram alur “terjadinya fenomena” versi Buddha :
Kebodohan dasar (pencerahan dibuat terang melalui sebuah gerakan pemikiran khayal)  3 corak halus
3 Corak halus
1. Corak karma :
Corak aktivasi -> kemunculan pemikiran khayal
Menjadi
2. Subjektivitas khayal :
Corak pemutaran -> subjek yang mempersepsikan
menjadi
3. Objek dunia fenomena :
Corak manifestasi -> muncul wujud , lalu ruang kosong
Transisi
Interaksi wujud dan ruang kosong -> makhluk hidup -> 6 corak kasar
6 corak kasar
1. Corak kognisi : pengetahuan , pemilahan , diskriminasi
2. Kontinuitas : keletihan mental
Keduanya menjadi melekat pada fenomena
3. Kemelekatan pada “Aku”: kotoran batin
4. Elaborasi konsep -> 3 racun (serakah,benci dan kebodohan)
Keduanya menjadi melekat pada “ Aku “
5. Menciptakan benih karma : berbuat karma
6. Belenggu karma : adanya penderitaan dari akibat karma
Singkatnya terjadinya fenomena dan munculnya makhluk hidup diakibatkan oleh ketidakmuliaan
Dalam Surangama Sutra , Bodhisatva Manjusri berkata :
“ Pada awalnya di dalam kekosongan absolut yang terang , terjadi kebodohan awal berupa ketidaktahuan dasar . Ketidaktahuan dasar itu berupa gerakan pikiran pertama dan penatap terus – menerus terhadap kekosongan itu sendiri , sehingga selain Cahaya Fundamental yang telah ada dari sejak “ awal “ , tercipta pula cahaya palsu yang khayal , yaitu cahaya yang sekarang kita anggap asli di dunia kita . Pemunculan cahaya kedua ini seperti menambah cahaya fundamental yang sudah terang dan ini diibaratkan seperti menambah kepala di atas kepala yang sudah ada . Dengan adanya dua jenis cahay tersebut , kekosongan absolut berubah menjadi kekosongan yang buram , khayal dan relatif . Di dalam kekaburan dan kekhayalan dari sunyta (kekosongan) , muncullah kekosongan satu sisi (kekosongan relatif) . Di dalam kekosongan yang buram ini , kebodohan tersebut perlahan – lahan menebal di dalam kekosongan relatif dan mengkristla menjadi Rupa Khayal (bentuk khayalan) yang terdiri atas empat unsur (angin , tanah , api dan air) . Jadi intinya adalah cahaya buram dan kekosongan bergabung dengan kegelapan menjadi wujud . Ini mengakibatkan terjadinya dunia di dalam kekosongan relatif , di dalam mana dunia palsu (imaginer) diciptakan . Ketika persepsi pemikiran khayal berhadapan dengan Rupa (bentuk) , sebagian kecil dari Rupa ini perlahan – lahan dianggap sebagai pemilikan sendiri , dan oleh karena pemilikan sendiri didukung oleh persepsi salah , maka pikiran dan rupa bergabung dan menganggap bentuk yang buram itu sebagai Ego (Aku) , sehingga menciptakan makhluk hidup yang terdiri dari lima agregat . “
Ini hanyalah penjelasan garis besar mengenai teori kelahiran khayal (fenomena) .
Dalam Patika Suta , Buddha menyatakan bahwa Ia tidak hanya mengetahui asal muasal (agganna) dari segala sesuatu tapi jauh lebih banyak , namun disebabkanoleh keterbatasan bahasa manusia , Ia menyatakan bahwa permulaan samsara (alam penderitaan) adalah tanpa awal
“ Titik terawal tak dapat disingkapkan (atau ditemukan ) dari siklus kehidupan , perjalanan para makhluk yang diselubungi oleh kebodohan batin , terikat pada nafsu keinginan . “ (Samyutta Nikaya II.178)
Buddha mengatakan pada Ratu Srimala , “ Adalah sulit untuk mengetahui dan memahami bagaimana pikiran murni yang intrinsik dapat dikontaminasi oleh noda – noda batin . Srimala , ada dua hal yang sulit dipahami . Apa kedua hal tersebut ? Pertama , pikiran murni yang intrinsik , kedua , kontaminasi terhadap pikiran – pikiran ini oleh noda – noda batin . Hanya engkau dan Bodhisatva – Bodhisatva yang telah mencapai Dharma (kebenaran) agung yang dapat menerima dua hal ini setelah mendengarkannya . Para Srawaka dapat memahami mereka hanya melalui iman . “ – Srimala-devi-simhanada-sutra
Menurut kutipan di atas , hanya Buddha sendiri yang memahami secara eksperiensial (melalui pengalaman-red) mengapa terlahir ketidaktahuan dasar (avidya) berupa noda batin “primordial” dari pikiran sejati yang secara intrinsik adalah suci dan murni , sedangkan makhluk suci lainnya hanya bisa menerimanya melalui keyakinan saja
Menurut Buddhisme kelahiran semesta tidak dapat dituangkan ke dalam bahasa manusia karena bersifat dualistis dan khayal , sedangkan pengetahuan itu bersifat transendental , melampaui penggambaran.
Demikianlah , kelahiran segenap fenomena dan makhluk hidup (dhatu) dipandang Buddhisme sebagai suatu kesalahan dan ketidakmuliaan
Bahkan taman dan istana surgawi tidak diciptakan oleh siapa – siapa , melainkan berasal dari pikiran pikiran yang diskriminatif dan delusif (sutra Vinaya Definitif)
Seperti yang dikatakan dalam Srimala-devi-simhanada-sutra, “ Tathagata , dengan kemelakatan sebagai kondisi dan karma penoda sebagai musabab , ke3 alam (arupadhatu,rupadhatu,karmadhatu) dilahirkan . “

KEMUNCULAN ENAM ALAM KEHIDUPAN SAMSARA
Setelah itu semua baru muncullah berbagai alam kehidupan
Di sistem dunia kita ini yang disebut Saha , terdapat 6 alam kehidupan
Di dalam Surangama Sutra , sesungguhnya semua makhluk secara fundamental adalah sejati dan suci murni , tetapi disebabkan oleh pandangan keliru mereka , mereka memunculkan kesalahan dalam bentuk kebiasaan jelek yang terbagi menjadi aspek internal dan aspek eksternal .
Aspek internal menunjuk apa yang terjadi di dalam makhluk
Disebabkan oleh cinta yang melekat dan kotoran batin , mereka memnuculkan kesalahan dalam bentuk emosi
Emosi yang dimaksud di sini bukanlah luapana perasaan sesaat di dalam waktu yang singkat , melainkan keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis , seperti kebencian , kekikiran , kemelekatan , kebahagiaan , kemarahan , dan kesedihan
Ketika emosi – emosi ini terakumulasi tanpa henti , mereka menciptakan sebuah cairan cinta dan nafsu keinginan yang menjelaskan mengapa air liur menetes ketika memikirkan makanan lezat , ketika ditinggal orang yang dicintai air mata akan menetes , dan ketika pikiran menjadi melekat kepada nafsu birahi melihat tubuh yang menggiurkan maka cairan seks akan keluar (baik cewek maupun cowok)
Kendati jenis cinta itu berbeda – beda , sifat aliran dan penindasan mereka adalah sama
Dengan adanya “embunan” ini seseorang tidak bisa “melayang naik” , tapi jatuh secara alami
Sebagaimana air mengalir dari atas ke bawah
Inilah yang disebut aspek internal
Aspek internal dari emosi seperti cinta dan kemelakatan mendorong mereka jatuh,berat dan tenggelam
Cinta , kemelekatan dan nafsu keinginan berkaitan dengan unsur air .
Aspek eksternal menunjuk apa yang terjadi di luar makhluk, yakni lingkungan
Disebabkan oleh kerinduan dan hasrat mereka menciptakan kesalahan dalam pemikiran yang mengembara
Proses pemikiran berakumulasi tanpa henti , ia dapat menciptakan “uap air” yang naik
Embunan (aspek internal) bersifat jatuh karena berat , sedangkan uap air bersifat naik karena ringan
Dari pemikiran terus – menerus tanpa melibatkan emosi , suatu respons khusus dapat terjadi , yaitu sebuah gerakan yang mengangkat
Itulah sebabnya manusia yang menjaga sila secara murni , tubuh mereka ringan seperti mengapung
Bila mereka berangan – angan dilahirkan di surga , dalam mimpi mereka akan bisa terbang
Walau aneka pemikiran itu berbeda – beda , sifat ringan dan mengangkat itu adalah sama
Inilah yang disebut aspek eksternal
Spektrum dari rasio antara pemikiran yang bersifat “naik” dengan emosi yang bersifat “turun” menyebabkan munculnya enam alam kehidupan seperti berikut ini
1. Rasio Pemikiran : Emosi = 100% : 0% , maka dilahirkan di alam surga atau tanah suci Buddha , jika tak bertekad untuk terlahir di tanah suci Buddha maka akan terlahir di surga dengan karakteristik utama kebanggaan (tak berlaku di tanah suci Buddha)
2. Rasio Pemikiran : Emosi = 30 - 100% : 70 - 0% , maka dilahirkan di alam asura , resi , dan yaksa (penghuni alam hantu,binatang,manusia, dan surga yang berkekuatan besar namun dengan temperamental yang sangat tinggi sebagai karakteristik utamanya)
3. Rasio Pemikiran : Emosi = 50% : 50% , maka dilahirkan di alam manusia , apabila pemikiran lebih dominan daripada emosi maka akan menjadi pintar , apabila emosi lebih dominan daripada pemikiran maka akan menjadi bodoh , karakteristik utama manusia adalah nafsu keinginan
4. Rasio Pemikiran : Emosi = 40% : 60% , maka dilahirkan di alam binatang , apabila emosi ringan maka akan menjadi binatang bersayap apabila emosi lebih berat akan menjadi binatang buas berbulu
5. Rasio Pemikiran : Emosi = 30% : 70% , maka dilahirkan di alam hantu dengan karakteristik utama adalah kemelakatan dan keserakahan , inilah mengapa adanya arwah – awah penasaran disebabkan oleh rasa kemelekatan ( kemelekatan pada masalah yang belum terselesaikan seperti bunuh diri , kemelekatan pada janji sebelum meninggal , kemelekatan terlalu mencintai orang yang ditinggalkan atau orang yang ditinggalkan tak merelakan kepergiannya) dan keserakahan (dendam yang ada sebelum mereka meninggal) sangatlah kuat menyebabkan mereka “terikat” ke bumi namun di alam peta . Berbeda dimensi tapi satu sistem dunia .
6. Rasio Pemikiran : Emosi = 0 - 20% : 80 - 100% , maka dilahirkan di alam neraka yang berkarakteristik utama :kebencian
Berdasarkan perbandingan ini kita bisa melihat bahwa kadar emosi merupakan salah satu unsur pokok yang menentukan jenis alam kehidupan berikutnya setelah meninggal .
Misalnya ada seseorang yang menjaga 5 sila tapi sepanjang hidup atau menjelang kematiannya , ia melekat sekali kepada keluarganya, hartanya atau ada sesuatu yang mengganjal di hatinya , akhirnya ia jadi tertunda dulu dilahirkan di alam surga karena ia ia terpaksa terlahir kembali sebagai manusia atau bahkan terlahir di alam yang lebih rendah (alam peta / hantu) terdorong oleh energi emosi kemelekatannya
Setelah kekuatan karma dari energi kemelekatan itu perlahan – lahan terkikis habis , ia baru terlahir di alam surga (happy ending deh)
Sesungguhnya samsara diciptakan oleh pikiran makhluk
Beragam alam kehidupan berkorespondensi dengan ragamnya keadaan mental
Alam kehidupan merupakan lokalisasi dari alam pemikiran yang menghasilkannya

Mari kita membahas 6 alam kehidupan , alam manusia tidak dimasukkan karena sudah sangat umum dan alam asura tak dibahas tersendiri karena kategori itu terdapat dalam alam surga , manusia,hantu dan binatang.
1. ALAM SURGA
Ada 26 tingkatan surga dalam Buddhisme (28 untuk Mahayana)
Deva (dewata) di 6 surga pertama (Enam Surga Kammadhatu) menikmati kesehatan , kenyamanan,kekayaan dan kebahagiaan
Namun , seketika berkah karma untuk hidup di alam surga sudah habis , para deva mau tak mau harus terlahir di alamyang lebih rendah
Ke6 surga ini dimasukkan ke dalam kamadhatu karena mereka masih memiliki semacam nafsu keinginan seksual, tapi kadarnya dikatakn jauh lebih ringan daripada para manusia apalagi binatang
Kehidupan tidak jauh berbeda dengan manusia , hanya saja kekuatan supranatural mereka jauh lebih besar
Etika dan kemoralan mereka masih belumlah sempurna karena masih memiliki nafsu keinginan
Tapi sekalipun bernafsu , semakin tinggi tingkatan surganya , maka semakin halus cara memuaskan keinginan tersebut
Misalnya , para deva dari dua tingkat surga pertama masih harus memuaskan nafsu seksualnya hanya dengan berpelukan saja
Itulah kenapa mereka dianggap lebih tinggi daripada manusia
Biasanya , mereka hanya bersenang – senang saja menikmati karma baik dan tidak memikirkan pengembangan diri hingga akhirnya kematian menjelang mereka
Dalam Itivuttaka 83 dijabarkan 5 hal penanda kematian seorang deva telah dekat :
a. Tubuhnya yang bersinar mulai meredup
b. Takhta kedewaan yang biasanya memberikan rasa nyamankepadanya menjadi tidak nyaman lagi untuk diduduki dan malah merasa gelisah saat duduk di atas takhtanya
c. Karangan bunganya yang biasanya selalu segar , mulai menjadi layu
d. Pakaiannya yang biasanya selalu bersih sekalipun sudah dipakai dalam waktu yang cukup lama mulai kelihatan tua , pudar , kotor serta mengeluarkan bau (gak pakai detergent sih nyucinya!he3x)
e. Tubuhnya yang tak pernah berkeringat mulai berkeringat ( wah , deodorant pasti laku keras tuh di alam surga pas ada deva yang mau mati)
Ketika kelima “gejala kematian dewa” ini datang , maka pikirannya akan menjadi tersiksa
Ketika rekan – rekannya mengetahui , maka mereka tak akan lagi mendekatinya dan melempar bunga – bunga dari jarak jauh sembari berharap agar ia terlahirkan kembali sebagai manusia agar bisa kembali menjadi deva nantinya dan perlahan – lahan ia akan ditinggalkan teman – temannya .
Dengan kekuatan supranaturalnya , dewa itu akan mengetahui dimana alam kehidupan berikutnya dan ia akan menjadi semakin tersiksa apabila ia mengetahui dirinya terlahir di alam sengsara .
Sementara penderitaan batinnya mendalam , ia hanya akan bisa meratapi kemalangannya dalam 7 hari surgawi
Misalnya 7 hari surgawi di surga ke 2 sama dengan tujuh ratus tahun manusia
Di alam surga yang lebih tinggi yakni alam Brahma bermateri (surga ke 7 s/d surga ke 24) dan alam Brahma tak bermateri (surga ke 25 s/d surga ke 28) tentu saja tidak ada penderitaan dari kematiandan transmigrasi
Ketika efek dari perbuatan baik mereka yang mengirim mereka ke sana sudah habis , para deva ini akan jatuh kembali ke alam yang lebih rendah seolah – olah baru bangun tidur
2. ALAM NERAKA
Dalam Buddhisme , neraka dibagi jadi empat kelompok neraka , keseluruhannya ada 18 neraka
Terdiri atas 8 neraka panas , neraka pinggiran , delapan neraka dingin , dan neraka tersendiri (soliter) , walau sebenarnya jumlah neraka masih jauh lebih banyak
Coz keterbatasan tempat, tidak dibahas di sini karakteristik masing – masing neraka tersebut dan jangka kehidupannya , tapi hanya membahas musabab terjadinya aneka bentuk penderitaan di neraka
Suatu keolompok makhluk bisa menerima balasan karma yang identik dan terdapat tempat – tempat diman hal itu terjadi
Semuanya datang dari balasan karma yang dibuat oleh mereka sendiri
Mereka menciptakan 10 kebiasaan buruk :
a. Nafsu birahi
b. Keserakahan
c. Arogan
d. Kebencian
e. Penipuan
f. Kebohongan
g. Permusuhan
h. Pandangan sesat
i. Ketidakadilan
j. Litigasi (main nuntut sembarangan secara hukum)
Disebabkan adanya 10 kebiasaan buruk , lahirlah pengalaman ilusi berupa anek bentuk siksaan – siksaan di neraka
Misalnya kebiasaan “mengobarkan“ nafsu birahi yang berkaitan dengan unsur api akan disiksa bersentuhan dengan ranjang besi atau tiang tembaga yang membara
Keserakahan seperti hendak “menggapai” benda – benda dan dianggap sejenis penggapaian unsur air sehingga menciptakan ilusi dingin yang menggigilkan
Energi kebencian yang disuplai menciptakan ilusi adanya aneka bentuk senjata yang ditusukkan kepada diri sendiri
Energi dari berbohong terus – menerus menyebabkan pembohong terlahir di berbagai neraka yang akan dipenuhi bau kencing , kotoran , dan tempat – tempat kotor yang dipenuhi debu berterbangan
Berbohong sekali – sekali tak akan menyebabkan seseorang jatuh ke neraka – neraka ini karena kekuatan karma negatif yang ada tak cukup untuk melemparkannya ke dimensi ilusi tersebut
Kebiasaan untuk tidak bertindak menciptakan ilusi diremukkan di gunung – gunung,diremukkan di antara batu – batu , digiling – giling , dihancurlumatkan menjadi debu dan pengalaman sejenisnya
Ketidakadilan itu seperti memfitnah atau mendakwa seseorang yang tak bersalah
Kekuatan karma dari beberapa tipe ketidakadilan menciptakan beberapa tipe neraka seperti pengalaman dihenyakkan dari 4 gunung yang datang dari 4 penjuru dan menghimpit badannya menjadi hancur lebur
Sama halnya dengan kebiasaan buruk lainnya para pencipta kebiasaan buruk menciptakan siksaannya tersendiri sesuai dengan energi karma buruk yang disuplainya
Karma buruk itu menghasilkan berbagai macam halusinasi bagi si pembuat karma buruk
Aneka jenis neraka ini muncul semata – mata karena adanya suplai energi karma negatif , bukan ciptaan makhluk apapun
Kemunculan neraka – neraka itu merupakan manifestasi dari kekuatan karma negatif sehingga disebut bersifat ilusi
Dimensi alam neraka muncul secara ilusi dari ketidaksucian pikiran , ucapan dan perbuatan fisik
Bagi pelaku karma buruk , dimensi neraka itu terasa seperti nyata
Tapi bagi makhluk yang tidak lahir di neraka , maka neraka tidaklah eksis
Karena itu Buddhisme mengatakan bahwa neraka antara eksis dan tidak eksis karena pada dasarnya ia kosong dari eksistensi yang inheren , tapi disebabkan oleh kekuatan karma , manifestasi ilusi berupa fenomena siksaan akan muncul di depan mata pelaku karma buruk
DKTL, dalam Buddhisme neraka itu sendiri tidaklah kekal
Neraka sendiri bisa menjadi tidak eksis lagi apabila setiap makhluk tidak melakukan karma buruk (yang mana sayangnya hal ini sangatlah tidak mungkin)
3. ALAM HANTU (WARNING:Apabila anda tergolong sebagai orang yang mudah mual mendengar kata – kata yang menjijikkan , maka sebaiknya anda jangan mengemil ataupun memakan sesuatu di saat membaca bagian artikel ini)
Jenis hantu bermacam – macam dan ada beberapa kategori , tergantung dari aspek mana yang digunakan
Ada yang disebut 10 kategori hantu , 3 kategori hantu , ada juga yang yang 2 jenis hantu
Klasifikasi 3 kelompok hantu dibagi menurut jumlah kekayaan
a. Hantu tanpa kekayaan
i. Hantu bermulut obor api dimana makanan n minuman yang masuk terbakar api dan menjadi debu
ii. Hantu bermulut jarum dimana tenggorokkannya sangat sempit
iii. Hantu bermulut bau busuk dimana mulutnya sangat rusak , busuk , berbau amis dan mereka tak bisa mencerna apapun
b. Hantu dengan sedikit kekayaan
i. Hantu berambut seperti jarum
ii. Hantu berambut bau busuk
iii. Hantu berkulit tumor
Beberapa di antara mereka , pada saat hendak makan , makanannya berubah menjadi nanah dan darah , beberapa lagi memakan dan meminum air ludah , air kencing , kotoran dan menelan benda kotor sebagai makanan (udah gue peringatin sebelumnya kan ? )
c. Hantu dengan banyak kekayaan
i. Hantu kurban , hantu yang hidup dari kurban serta persembahan yang dilakukan manusia serupa seperti hantu – hantu yang digambarkan dalam tradisi Cina
ii. Hantu barang lenyap yang hidup dari barang – barang hilang di dunia manusia
iii. Hantu dengan kekuatan besar seperti para yaksa,raksasa dan lain sebagainya yang merupakan para penguasa hantu (jadi inget Hollow di anime Bleach.he3x)
Hantu kurban dan barang lenyap masih menderita rasa lapar dan haus tapi hantu dengan kekuatan besar mempunyai kesenangan menyerupai kesenangan duniawi yang mana hantu – hantu berkekuatan besar ini telah berbuat banyak amal semasa menjadi amnusia namun pada saat yang sama mereka juga sangat rakus ,serakah dan tak pernah puas diri
4. ALAM BINATANG
Jenis klasifikasi binatang juga banyak tergantung dari kriteria yang dipakai misalnya kriteria tempat tinggal , jumlah kaki , hingga sifat dan derajat penderitaan
Pada dasarnya , alam binatang dipenuhi oleh kengerian akibat rantai makanan

KESINAMBUNGAN DUNIA
Buddhisme mengajarkan kesinambungan dunia disebabkan oleh interaksi 4 unsur
Untuk bisa memahaminya , mari kita baca kutipan dari Surangama Sutra
“ Interaksi antara kecermelangan pencerahan dengan kekosongan buram menimbulkan gerakan yang terus – menerus , sehingga melahirkan roda angin yang menyokong dunia . Oleh karena kekosongan menimbulkan gerakan , cahaya yang mengeras itu membangun kepadatan yang merupakan sifat inheren metal (tanah) . Cahaya yang ditambahkan ke pencerahan itu membuat sifat keras tersebut , sehingga melahirkan roda metal yang menyokong daratan – daratan.
Kemelekatan yang bandel pada kemampuan kognisi yang tak tercerah mengakibatkan terjadinya formasi logam , sedangkan getaran dari kemampuan kognisi yang bersifat ilusi menyebabkan timbulnya angin .Angin dan logam saling bergesekan , sehingga terjadilah cahayaapi yang sifatnya bisa berubah – ubah . Kecemerlangan dari logam menghasilkan embun , yang kemudian berubah menjadi uap air oleh cahaya api yang menyembul dari bawah , sehingga melahirkan roda air yang melingkupi sepuluh penjuru dunia.
Api menyembul ke atas dan air jatuh ke bawah , dan kombinasi dari keduanya membangun kepadatan . Yang basah menjadi samudra dan lautan yang kering menjadi benua – benua dan pulau – pulau . Disebabkan oleh hal ini , api sering menyembul di dalam samudra dan di atas benua , kali – kali dan sungai – sungai mengalir terus – menerus .
Kektika kekuatan air kurang daripada kekuatan api , hasilnya adalah gunung tinggi…Ketika kekuatan tanah kurang daripada air , hasilnya adalah rerumputan dan pepohonan . Oleh sebab itulah belukar dan padang rumput berubah menjadi abu bila dibakar dan mengeluarkan air bila dipilin…Interaksi (dari api dan air) menjadi benih untuk kesinambungan dunia . “
Menurut Surangama Sutra, konfrontasi terus – menerus antara pencerahan yang ditambah cahaya ( penyadaran yang merupakan subjek ) dengan kekosongan gelap yang merupakan objek , menyebabkan terjadi rotasi terus – menerus oleh sebab itu terdapat angin yang eksis dimana – mana yang menyokong kehidupan di alam semesta
Penyadaran berupa subjek itu terguncang oleh kekosongan realtif ini , terpana olehnya dan mengeras menjadi unsur logam (tanah)
Kemelekatan yang kuat terhadapa penyadaran (pengetahuan) yang belum tercerah itu mengakibatkan terbentuknya logam .
Gerakan getaran dari penyadaran yang khayal ini menyebabkan angin naik ke atas
Angin dan logam bergesekan satu sama lain dan menciptakan percikan yang merupakan kelahiran unsur api
Kecemerlangan dari logam menimbulkan embun , bila logam dipanaskan , ia akan mengeluarkan cairan, butiran air akan muncul di permukaannya
Karena ada api , kelembaban terjadi kepada logam
Dari kebasahan logam itu , uap embun tercipta
Jika cahaya api menyembul dari bawah menyembur ke atas, ia menciptakan uap air saat melewati logam
Dari ini , muncul air yang ada di 10 penjuru dunia
Api bersifat menyembul ke atas , sedangkan air bersifat jatuh ke bawah
Kombinasi ke2nya menciptakan zat- zat
Bila kekuatan air lebih kecil daripada api , gunung tinggi tercipta
Itulah kenapa bebatuan di pegunungan bisa menimbulkan percikan api bila digesek dan menjadi cairan jika dicairkan
Bila kekuatan tanah lebih kecil daripada kekuatan air , maka akan tercipta rerumputan dan pepohonan
Itulah kenapa belukar dan padang rumput akan menjadi abu tanah bila dibakar dan akan mengeluarkan air jika dipilin
Interaksi air dan api menjadi benih bagi kesinambungan dunia , dimana dunia mengalami proses kemusnahan dan pemebntukan kembali secara terus – menerus tanap henti
Inilah filsafat Buddhisme mengenai kesinambungan dunia
Sekarang mari kita lihat kecocokkannya dengan sains
Dari segi sains , ke4 unsur ini dapat disejajarkan dengan unsur – unsur penyusun sebuah atom
Sebagaimana kita ketahui atom adalah bagian terkecil penyusun jagat raya ini
Untuk lebih jelasnya , mari kita bahas lebih dalam mengenai seluk – beluk ke4 unsur penyusun atom
Logam atau tanah memiliki sifat penunjang serta memiliki sifat kepadatan (solidity)
Unsur air berfungsi sebagai pengikat sifatnya adalah kohesif dan mengalir
Unsur api mengandung unsur suhu atau panas (energi)
Unsur angin memiliki fungsi sebagai penggerak serta sifatnya yang selalu bergerak
Selaras sekali dengan unsur – unsur penyusun sebuah atom
Proton dan netron memiliki andil besar dalam menentukan berat atom serta membentuk inti atom dapat diumpamakan dengan unsur tanah yang memiliki kepadatan
Meson mengikat ke2nya dapat disejajarkan dengan unsur air yang berfungsi sebagai pengikat
Elektron yang terus – menerus bergerak mengelilingi inti atom (proton dan netron) dapat disepadankan dengan unsur angin yang selalu bergerak
Energi yang mengikat antara inti atom dengan elektron dapat diumpamakan dengan unsur api yang mengandung panas atau energi
Hal ini sangat mengagumkan , mengingat pada zaman Gautama , manusia belum mengenal sains modern tapi Beliau sudah dapat menggambarkan dengan kiasan – kiasan yang sepadan dengan sains modern

KESIMPULAN
OK , dengan kata lain Buddhisme membedakan antara terciptanya makhluk hidup dan alam semesta dengan terciptanya bumi ini
Beliau tidak pernah mengajarkan bahwa bumi tercipta di dalam hitungan yang sangat cepat ataupun tiba – tiba ada dengan sendirinya
Beliau juga mengajarkan bahwa bumi mengalami proses – proses yang sama dengan sains sebelum terbentuk seperti sekarang ini
Beliau mengajarkan bahwa makhluk hidup di Bumi juga berevolusi tapi harus diakui bahwa Ia tidak mengatakan darimana makhluk penghuni bumi itu berasal (sebagaimana juga sains hanya bisa menduga bahwa makhluk hidup pertama di bumi berasal dari meteor2 planet lain dan ini pun masih berupa dugaan) tapi Beliau hanya bisa mengatakan bahwa makhluk hidup pertama di bumi merupakan reborn dari para dewa di surga Abhasara dan belum ada perbedaan fisik ataupun jenis kelamin pada saat itu
Beliau juga mengatakan bahwa matahari , bulan dan bintang sudah ada sebelum bumi lahir hanya saja belum tampak yang mana hal ini sesuai dengan sains karena sains juga mengatakan bahwa umur matahari dan bulan lebih tua daripada bumi itu sendiri dan juga saat itu adalah proses pendinginan bumi yang menyebabkan kabut dan matahari , bulan dan bintang tak bisa terlihat dari bumi
Beliau juga menjelaskan mengenai terciptanya makhluk hidup dan alam fenomena
Tapi ada sesuatu yang kurang memuaskan dan harus diakui bahwa Beliau sendiri kesulitan untuk mengetahui dan menjelaskan bagaimana di dalam kesucian pikiran sejati bisa muncul gerakan pikiran pertama yang delusif yakni kotoran batin “primordial” dan juga kebodohan dasar kepada manusia melalui kata – kata karena keterbatasan bahas manusia itu sendiri
Bagaimana caranya bisa ada kotoran batin dan kebodohan dasar di dalam pikiran sejati ?
Buddha menyatakan bahwa apabila kita hendak menjawab pertanyaan ini , kita tak akan bisa menemukannya di dalam kata – kata tapi kita harus mencapai Pencerahan terlebih dahulu baru kita bisa merasakan pengalamannya , semasa kita belum mencapai Pencerahan maka kita hanya akan bisa menerima konsep ini dengan keyakinan saja .
Beliau juga mengajarkan bahwa bukan hanya ada alam manusia saja di sistem dunia kita , tapi masih ada surga , neraka , hantu , alam binatang , dan alam asura , resi , dan yaksa selain itu juga terdapat planet – planet lain di luar bumi kita yang dihuni oleh penghuninya masing – masing , tentunya hal ini bisa menjelaskan bagaimana caranya bumi ini populasinya bisa terus bertambah padahal proses reborn tetap ada
Selain itu , Beliau juga mengajarkan proses kesinambungan dunia di dalam kiasan – kiasan yang umum digunakan pada saat itu yang dapat disetarakan oleh istilah – istilah sains pada zaman modern ini dan juga sangat cocok dengan sains
Semoga dengan adanya postingan ini , bisa membawakan manfaat bagi kita semua
Semoga kita semua berbahagia
Semoga semua makhluk berbahagia
Semoga begitulah adanya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar