Selasa, 22 Desember 2009

Anatta (Ketiadaan "Aku")

Anatta adalah kata bahasa Pali yang berasal dari awalan 'an' yang berarti tiada dan 'atta' atau jiwa; anatta kebanyakan diterjemahkan sebagai 'tiada jiwa'. Dalam konteks penulisan ini, atta akan diterjemahkan sebagai 'tiada inti diri'. Kata atta mempunyai makna yang luas dan dapat ditemukan dalam bidang ilmu psikologi, filsafat, maupun peristilahan sehari-hari, contohnya, atta dapat berarti diri, mahkluk, ego, atau kepribadian. Namun sebelum membahas tentang apa itu atta, maka perlu melihat berbagai arti atta yang ditelaah dari sudut pandang Buddhis maupun non-Buddhis, agar kita dapat memahami dengan tepat, apa yang ditolak Sang Buddha ketika Ia membabarkan doktrin anatta, yang mana Ia menolak keberadaan atta.

Definisi atta menurut non-Buddhis dan Buddhis

Definisi atta menurut non-Buddhis :

1. Dalam Abingdon Dictionary of Living Religions :

Sesuatu yang memberi kehidupan kepada suatu makhluk hidup; atau bagian atau dimensi dalam makhluk hidup, yang merupakan inti, tidak berbentuk; atau sesuatu yang tidak berbentuk namun menghidupkan; atau sesuatu yang tidak berbentuk namun menciptakan individu.

2. Dalam A Dictionary of Mind and Spirit oleh Donald Watson :

Jiwa dikenal dengan banyak nama: jiva (Jain), Atman (Hindu), Monad, Ego, Diri, Diri yang lebih tinggi, sesuatu yang melebihi Diri, Diri yang tidak dapat dipahami, batin, atau bahkan pikiran.

Sedangkan definisi atta menurut Buddhis:

1. Dalam Buddhist Dictionary karya Nyanatiloka:

segala sesuatu yang secara mutlak dipandang sebagai keberadaan diri, sosok ego, jiwa, atau substansi pokok yang bersifat kekal.

2. Dalam The Truth of Anatta oleh Dr. G.P.Malalasekera:

Atta adalah diri suatu keberadaan metafisik yang halus, jiwa.Berbagai definisi atta atau jiwa sebagai diri, ego, jiwa, atau pikiran, sejalan dengan bidang psikologi. Karena itu perlu juga melihat definisi atta dari sudut pandang ini.

Menurut Dictionary of Psychology, 'diri' adalah: (1) individu sebagai makhluk hidup;(2) ego atau aku; (3) kepribadian atau kumpulan sifat.

Definisi 'ego' adalah: diri, terutama gagasan seseorang akan dirinya sendiri. Definisi 'kepribadian' adalah kumpulan sistem psikofisik dalam individu yang bersifat dinamis dan menentukan cara berpikir dan perilaku seseorang atau sesuatu yang memberikan prakiraan apa yang akan dilakukan seseorang dalam menghadapi suatu situasi. Istilah-istilah psikologis itu bersesuaian dengan beberapa istilah yang dipakai dalam ajaran Buddha untuk menerangkan kehidupan konvensional makhluk hidup. Peristilahan itu berguna sebagai label, namun secara mutlak, label-label tersebut, seperti yang akan kita lihat, hanya sekedar nama yang semata-mata merupakan kebenaran ilusi.

Dalam bahasa Pali, ada istilah seperti satta, puggala, jiva, dan atta untuk menerangkan psikologi konvensional mengenai makhluk. Satta, menurut Nyanatiloka, berarti makhluk hidup. Puggala berarti individu, orang, berikut padanannya: kepribadian, perangai, makhluk (satta), diri (atta). Jiva adalah kehidupan sesuatu yang vital, jiwa. Beberapa pemakaian istilah atta juga ada dalam bidang psikologi. Menurut Dr. Malalasekera, atta dapat berarti, diri seseorang, misalnya attahitaya patipanno no parahitaya (berbuat menurut diri sendiri, bukan menurut orang lain) atau attanava akatam sadhu (apa yang dilakukan oleh diri sendiri adalah baik). Atta dapat pula bermakna diri sendiri, kepribadian, termasuk tubuh dan pikiran, seperti dalam attabhava (kehidupan), attapatilabha (kelahiran dalam beberapa bentuk kehidupan).

Ajaran Buddha tidak menolak bahwa konsep kepribadian semacam itu ada benarnya,namun hanya secara konvensional. Dr. Malalasekera menulis: Ajaran Buddha tidak berkeberatan untuk memakai kata atta, satta, atau puggala untuk menggambarkan individu sebagai suatu kesatuan atau untuk membedakan seseorang dengan lainnya. Pembedaan semacam itu diperlukan, terutama mengenai hal-hal seperti ingatan dan kamma yang bersifat pribadi dan untuk mengenali adanya alur kesinambungan (santana) masing-masing. Namun demikian, istilah-istilah ini hendaknya hanya digunakan sebagai label, dan konsep kesepakatan bahasa, sarana bantu pemahaman dan komunikasi, itu saja.

Bahkan Sang Buddha terkadang memakai istilah-istilah tersebut: Ini adalah pemakaian duniawi, istilah percakapan duniawi, uraian duniawi, dengannya Sang Tathagata berkomunikasi tanpa menyalahartikannya (D.I., 195) .

Ketika mengulas mengenai istilah satta, Nyanatiloka menambahkan, Istilah ini, sama seperti atta, puggala, jiva dan istilah lainnya yang berkenaan dengan 'ego', dianggap sebagai sekedar istilah konvensional (voharavacana) pada umumnya, dan sama sekali tidak mempunyai makna kebenaran.

Dalam pengertian kebenaran mutlak, Sang Buddha menolak konsep psikologi dan agama mengenai segala macam 'diri' atau 'jiwa'. Tetapi kita bisa memakai istilah seperti 'diri' dan 'ego' untuk menggambarkan hal tertentu dari kelima khanda (agregat atau kelompok) yang menampilkan penampakan semu suatu individu. Seperti yang dikatakan Arahat Vajira yang hidup semasa kehidupan Sang Buddha:

Bilamana semua bagian penyusun ada, Kita menyebutnya sebagai 'pedati'; Demikian pula, di mana kelima kelompok ada, Kita menyebutnya sebagai 'makhluk hidup'.

Doktrin anatta diajarkan oleh Sang Buddha dari sudut pandang seseorang yang telah mencapai Pencerahan Sempurna, pandangan yang melihat bahwa segala sesuatu adalah anatta.

Pemahaman tentang Anatta

Anatta adalah salah satu doktrin yang sangat penting dalam ajaran Buddha. Anatta adalah ajaran yang paling unik, yang diakui oleh banyak cendekiawan, membedakan ajaran Buddha terhadap agama-agama lainnya. Para cendekiawan menyatakan bahwa semua agama selain ajaran Buddha menerima adanya sesuatu atau makhluk yang bersifat spiritual, metafisik, atau psikologis, di dalam atau di luar makhluk hidup. Kebanyakan agama mengakui keberadaan jiwa atau diri.

Donald Watson menulis, Di antara agama-agama besar di dunia, hanya ajaran Buddha yang tidak mengakui keberadaan jiwa. Pelajar lainnya, Richard Kennedy menyatakan,Menurut ajaran Kristiani, Islam, dan Yahudi, setiap jiwa akan dihakimi pada akhir zaman.. Jiwa itulah yang menentukan apakah seseorang akan dihukum dalam neraka atau dihadiahi kehidupan abadi di dalam surga.. Ajaran Buddha mengajarkan bahwa jiwa atau diri yang kekal itu tidak ada.

Dalam Encyclopedia Americana disebutkan,Dalam ajaran Buddha tidak dikenal adanya diri yang kekal seperti halnya Atman. Meditasi membawa pada kesadaran bahwa gagasan tentang diri atau atman, hanyalah khayalan belaka.

Sekalipun doktrin anatta adalah begitu penting, unik, dan semestinya dipahami oleh umat Buddha, namun sampai saat ini dari seluruh ajaran Sang Buddha, doktrin inilah yang paling banyak disalahpahami, paling disalahtafsirkan, dan paling menyimpang. Beberapa cendekiawan besar yang memelajari ajaran Buddha, sangat menghormati Sang Buddha dan mengagumi ajaran-Nya, namun mereka tidak dapat mengerti kenapa seorang pemikir besar seperti Beliau menolak keberadaan jiwa.

Akibatnya, mereka berusaha menemukan celah-celah dalam ajaran-Nya dan mencoba menyelipkan pembenaran tentang adanya atta menurut Sang Buddha. Contohnya, dua cendekiawan modern, Ananda K. Coosmaraswamy dan I.B. Horner (The Living Thoughts of Gotama the Buddha), telah berusaha menegakkan gagasan bahwa Sang Buddha mengajarkan doktrin tentang adanya 2 diri, yaitu Diri besar (ditulis Self dengan huruf S besar) untuk menunjukkan Jiwa atau Diri spiritual dan diri kecil (ditulis sebagai self dengan huruf s kecil) yang dimaksudkan sebagai ego pribadi. Mereka menyatakan bahwa Sang Buddha hanya menolak ego pribadi bila Ia berbicara tentang anatta.

Kontroversi mengenai doktrin anatta sepertinya didasari oleh rasa takut yang mendalam terhadap penolakan adanya jiwa. Manusia pada umumnya sangat melekat pada hidupnya, sehingga mereka cenderung untuk mempercayai adanya sesuatu yang bersifat tetap, kekal, abadi di dalam dirinya. Bila ada orang yang mengatakan bahwa tiada sesuatu pun yang kekal dalam diri mereka, tidak ada semacam jiwa dalam diri mereka yang akan berlangsung selamanya,mereka akan merasa ketakutan.

Mereka bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan mereka di masa mendatang mereka takut jadi musnah! Sang Buddha memahami hal ini, seperti yang dapat kita lihat dalam cerita tentang Vacchagotta, yang seperti orang pada umumnya, takut dan bingung terhadap doktrin anatta.

Vacchagotta adalah seorang pertapa yang pada suatu hari mengunjungi Sang Buddha untuk menanyakan beberapa hal penting. Dia bertanya kepada Sang Buddha, Apakah atta itu ada? Sang Buddha diam. Kemudian, dia bertanya kembali, Apakah atta itu tidak ada? Namun Sang Buddha tetap diam. Setelah Vacchagotta berlalu, Sang Buddha menjelaskan kepada Ananda, mengapa Ia telah bersikap diam. Sang Buddha menjelaskan bahwa Ia mengetahui Vacchagotta sedang mengalami kebingungan tentang atta, dan jika Ia menjawab bahwa atta itu ada, berarti Ia mengajarkan paham eternalistik, teori jiwa yang kekal, yang tidak Ia setujui. Namun, bila Ia menjawab bahwa atta itu tiada, maka Vacchagotta akan berpikir Sang Buddha mengajarkan paham nihilistik, paham yang mengajarkan bahwa makhluk hidup hanyalah suatu organisme batin-jasmani yang akan musnah total setelah kematian.

Sang Buddha tidak setuju dengan paham nihilistik karena paham ini menolak kamma, tumimbal lahir, dan hukum keberasalan yang saling bergantungan. Sebaliknya Sang Buddha mengajarkan bahwa manusia terlahir kembali dengan patisandhi, kesadaran yang berkesinambungan, kesadaran tumimbal lahir yang tidak berpindah dari kehidupan sebelumnya, melainkan timbul karena adanya berbagai kondisi dari kehidupan sebelumnya, misalnya kondisi seperti kamma. Jadi orang yang terlahir kembali bukanlah orang yang sama dengan yang telah meninggal, namun juga bukan orang yang sepenuhnya berbeda dengan yang telah meninggal. Yang paling penting, dalam ajaran Buddha tidak dikenal adanya tubuh metafisik, jiwa, atau roh yang sama yang berlanjut dari satu kehidupan ke kehidupan berikutnya.

Namun ajaran ini terlalu sulit bagi Vacchagotta, dan Sang Buddha ingin menunggu sampai Vacchagotta telah matang secara intelektual. Sang Buddha bukanlah seperti komputer yang akan menjawab setiap pertanyaan secara otomatis. Demi kebaikan para penanya, Ia mengajar sesuai dengan kesiapan dan perangai seseorang. Cerita selanjutnya, melalui meditasi Vipassana, Vacchagotta mampu mencapai kematangan spiritual, memahami sifat segala sesuatu yang tidak memuaskan, fana, dan tiada inti diri; dan akhirnya dia menjadi seorang Arahat.

Namun sayang, cerita ini disalahgunakan oleh beberapa cendekiawan yang mencoba membuktikan bahwa Sang Buddha tidak sepenuhnya menolak keberadaan atta. Adapun gagasan yang terkandung dalam istilah atta sebagai berikut. Sebelum Sang Buddha muncul di dunia, Brahmanisme,yang kemudian hari disebut Hinduisme,adalah ajaran utama yang dianut di India. Brahmanisme mengajarkan doktrin keberadaan atta (atau atman, dalam Sansekerta), yang pada umumnya diterjemahkan sebagai jiwa atau diri. Ketika Sang Buddha muncul, Ia menyatakan bahwa atman itu tidak ada. Doktrin ini sangat penting bahwasanya Beliau mengajarkannya hanya 5 hari setelah khotbah pertama-Nya mengenai Empat Kesunyataan Mulia. Kelima murid yang mendengarkan khotbah pertama ini mencapai tingkat pemenang arus (Sotapanna), orang yang telah mencapai tahap pertama pencerahan. Lima hari kemudian, Sang Buddha mengumpulkan kembali kelima murid-Nya dan mengajarkan doktrin anatta kepada mereka. Pada akhir khotbah-Nya, kelimanya menjadi Arahat, orang yang telah mencapai tahap tertinggi pencerahan.

Apakah atta yang ditolak oleh Sang Buddha itu? Kata anatta adalah kombinasi dua kata, yaitu an dan atta. An berarti tidak atau tiada, dan atta biasanya diterjemahkan sebagai jiwa atau diri. Namun atta mempunyai makna yang luas, yang dibahas dalam 2 kitab terkemukan Hindu yaitu Upanishad dan Bhagavad Gita. Dalam ajaran Buddha, berbagai pandangan tentang atta dapat ditemukan dalam Brahmajala Sutta.

Atta adalah inti dalam segala sesuatu. Inti sebatang pohon adalah bagian yang paling keras dan inti dari sesuatu dapat dianggap sebagai tetap. Inti juga bisa diartikan sebagai bagian terbaik dari sesuatu, bagian yang merupakan sari, bagian yang murni, sejati, indah, dan tak lekang oleh waktu. Gagasan tentang atta sebagai inti dari segala sesuatu ditemukan dalam Chandogya dan Brihadaranyaka Upanishad. Arti lain atta adalah jiwa, suatu sosok rohaniah di dalam semua orang, jiwa, yang disebut atman dalam kitab-kitab Hindu, adalah diri individual, dan identik dengan Diri Universal, Makhluk Tertinggi, yang disebut Brahman. Atman tinggal dalam setiap makhluk hidup. Seperti Brahman, atman adalah kekal. Saat tubuh mati, atman berpindah dan menempati tubuh lain sebagai rumah barunya. Dengan cara ini, atman berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya, meninggalkan tubuh lama yang telah usang dan menempati tubuh baru. Dalam agama Hindu, kebebasan identik dengan atman universal atau brahman, atau bahwasanya atman individual tersebut adalah bagian dari brahman.

Sang Buddha menolak teori atman. Menurut Beliau, tidak ada sesuatu pun yang dapat kita sebut sebagai inti diri yang kekal dan mulia. Juga tidak ada sesuatu pun yang dapat kita katakan sebagai penguasa segala sesuatu. Dalam ajaran Buddha tidak ada pelaku, namun yang ada hanyalah perbuatan melakukan; tidak ada yang mengalami, yang ada hanya pengalaman. Tidak ada apa pun atau siapa pun yang mahakuasa karena segala sesuatu hanyalah merupakan pembentukan dan penguraian konstan hal-hal yang terkondisi.

Sang Buddha mengajarkan bahwa hanya ada lima agregat (khanda) penyusun kehidupan: (1) jasmani (proses materi atau bentuk), (2) perasaan; (3) pencerapan; (4) bentukan mental; dan (5) kesadaran. Secara lebih umum, dapat dikatakan bahwa hanya ada dua kelompok fenomena dalam kehidupan ini, yaitu nama dan rupa. Selain keduanya, tidak ada apa pun yang dapat kita sebut atta. Satu-satunya hal yang ada selain alam nama dan rupa adalah yang tak terkondisi (asankhata), Nibbana, Kebenaran Mutlak, namun bahkan Nibbana pun bersifat anatta.

Kita adalah susunan kelima agregat tadi, dan setelah ditelaah dan diamati satu per satu dengan meditasi mendalam, kita akan menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun, baik jiwa atapun diri, selain kelima agregat tadi. Kombinasi kelima agregat itulah yang kita sebut sebagai orang, makhluk, pria atau wanita. Hanya kelima agregat inilah tubuh, perasaan, pencerapan, bentukan mental, dan kesadaran yang berinteraksi dan saling tergantung satu sama lain. Tiada yang mengarahkan, tiada yang melakukan, tiada yang mengalami, dan tiada inti yang dapat ditemukan. Atta hanyalah semata gagasan yang tidak sesuai dengan kebenaran.

Dalam beberapa sutta, terdapat cerita mengenai seorang pertapa terpelajar yang sangat terkenal bernama Saccaka. Pada suatu hari ia mendengar bahwa Sang Buddha mengajarkan doktrin anatta. Karena dia adalah seorang ahli debat yang sangat piawai, dia memutuskan untuk mendatangi dan meyakinkan Sang Buddha bahwa doktrin anatta adalah salah. Saccaka sangatlah percaya diri; dia menyatakan bahwa bila dia berdebat melawan sebuah pilar baru, maka pilar tersebut akan berkeringat karena ketakutan. Dia menyatakan bahwa ibarat orang kuat yang dapat dengan mudah melemparkan seekor kambing, maka dia akan dengan mudah mengalahkan Sang Buddha dalam perdebatan.

Saccaka dan para pengikutnya mendatangi Sang Buddha. Setelah bertukar salam, Saccaka meminta Sang Buddha untuk menjelaskan doktrin-doktrin yang diajarkan-Nya. Sang Buddha menjawab bahwa Ia mengajarkan anatta. Saccaka menantang, Tidak. Atta itu ada. Kelima agregat adalah atta.Sang Buddha menjawab, Apakah kamu yakin benar bahwa rupa (tubuh) adalah atta? Saccaka tidak mampu menjawab, jika dia mengatakan bahwa tubuh adalah atta, maka Sang Buddha dapat menimpali, Lantas mengapa engkau tidak membuat dirimu menjadi lebih tampan? Jadi Saccaka terpaksa menjawab bahwa rupa bukanlah atta. Di sini dapat kita lihat Sang Buddha mematahkan argumentasi tentang beberapa karakteristik yang dikaitkan dengan atta. Jika Saccaka memiliki atta, dia dapat memerintah atta untuk mengerahkan kekuasaannya untuk mengubah penampakannya, karena atta identik dengan brahman, sang penguasa tertinggi, yang tak terbatas, pencipta yang mahakuasa, dan sumber segala sesuatu, seperti tercantum dalam Bhagavad Gita.

Namun, menurut Sang Buddha, yang ada hanyalah kelima agregat, kelima khanda, dan mereka bukanlah atta karena mereka terikat oleh hukum-hukum kefanaan, tidak memuaskan, dan tiada inti-diri. Rupa (bentuk materi) bukanlah atta, bukan tuan dan pemerintah dirinya sendiri, serta terikat pada kesengsaraan. Khanda lainnya ,perasaan, pencerapan, bentukan metal, dan kesadaran, juga terikat pada hukum yang sama. Jadi, Saccaka telah dikalahkan.

Dalam Majjhima Nikaya, Sang Buddha menguraikan bahwa kepercayaan akan atta adalah gagasan yang hanya akan menimbulkan egoisme dan keangkuhan: Yang Sempurna telah bebas dari teori apa pun (dittigata), karena Yang Sempurna telah melihat apa yang sebenarnya tubuh itu, dan bagaimana tubuh muncul dan berlalu. Ia telah melihat apakah sebenarnya perasaan.. pencerapan.. bentukan mental.. kesadaran itu, bagaimana mereka muncul dan berlalu.Oleh sebab itu Saya katakan bahwa Yang Sempurna telah memenangkan pembebasan penuh melalui pemusnahan, peluruhan, pelenyapan, penolakan, dan menghalau seluruh khayalan dan dugaan, melepaskan diri dari seluruh kecenderungan keangkuhan ,aku dan milikku.

Dalam Brahmajala Sutta yang tersohor, yang sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin memelajari penjelasan mengenai pandangan salah, Sang Buddha mengatakan: Di sanalah, Bhikkhu, ketika para pertapa dan brahmana penganut paham kekekalan menyatakan bahwa diri dan dunia adalah kekal adanya, itu hanyalah hasutan dan kebimbangan mereka yang tidak tahu dan tidak melihat; yang terbenam dalam nafsu.

Dalam Anattalakkhana Sutta, terdapat uraian panjang mengenai ajaran anatta yang dibabarkan oleh Sang Buddha ketika tinggal di Benares, di Taman Rusa Isipatana.

Meskipun kita dengan mudah memahami bahwa rupa (bentukan materi) adalah bukan atta, ada yang sulit untuk memahami mengapa khanda lainnya,perasaan, pencerapan, bentukan mental, dan kesadaran yang dapat dirangkum sebagai nama (pikiran), adalah bukan sesuatu yang disebut atta. Pada akhirnya, banyak orang percaya bahwa pikiran dan jiwa adalah sama atau saling berhubungan, dan mereka mendefinisi pikiran atau jiwa sebagai bagian dari manusia yang memberikan hidup dan kesadaran pada tubuh fisik. Lebih jauh, mereka percaya bahwa dengan demikian pikiran dan/atau jiwa adalah pusat spiritual dan psikologis seseorang.

Namun, menurut Sang Buddha, nama bukan atta seperti halnya rupa bukan atta. Nama juga terikat pada kaidah kefanaan, tidak memuaskan, dan tiada inti diri. Sang Buddha memerlakukan nama dan rupa secara setara, dan keduanya saling tergantung satu sama lain.

Seperti sebuah boneka kayu, meskipun kecil, tidak hidup dan tidak aktif, namun apabila tali-temalinya dimainkan, ia dapat dibuat bergerak, berdiri, terlihat hidup, dan penuh aktivitas; demikian pula dengan pikiran dan tubuh, sesuatu yang sunya, tidak hidup, dan tidak aktif; namun dengan kerja satu sama lain, kombinasi pikiran dan tubuh ini dapat bergerak, berdiri, terlihat hidup, dan penuh aktivitas.

Hal penting yang juga perlu diingat adalah bahwa nama-rupa atau khanda hanyalah sekedar pengelompokkan abstrak yang dibuat oleh Sang Buddha, maka tidak berarti mereka punya keberadaan nyata sebagai kelompok. Oleh karenanya, khanda-khanda ini tidak pernah berfungsi sebagai suatu kesatuan atau kelompok yang disebut tubuh atau perasaan atau pencerapan atau bentukan mental atau kesadaran, namun hanya funsgi individual yang mewakili masing-masing kelompok. Contohnya, satu unit kesadaran hanya diasosiasikan dengan satu bentuk perasan saja. Dua unit pencerapan yang berbeda tidak dapat timbul pada saat yang bersamaan, dan hanya menghasilkan satu unit kesadaran saja, misalnya kesadaran melihat, dapat timbul pada satu waktu. Sejumlah bentukan mental dapat timbul dengan tiap-tiap bentuk kesadaran. Kelompok-kelompok ini tidak pernah timbul sebagai suatu totalitas; hanya tiap penyusun atau tiap detak dari kelompok tertentu yang dapat timbul, tergantung pada kondisinya. Tidak ada paduan fungsi kelompok yang bisa disebut suatu diri atau jiwa.

Cara lain untuk memelajari bahwa nama bukanlah atta adalah dengan melihat kembali definisi khanda yang diberikan oleh Sang Buddha dalam Samyutta Nikaya, XX, 56. Keempat khanda yang diklasifikasikan sebagai nama (pikiran), bukan suatu bentuk pikiran yang bersifat kekal atau apapun yang dapat disebut atta. Melainkan, khanda khanda saling bergantung sepenuhnya, dimana komponen dari masing-masing agregat mengondisikan timbulnya komponen yang lain.

Cara lain untuk menelaah sifat nama dan rupa adalah melalui pendekatan Abhidhamma,suatu sistem psikologis yang sangat rumit dan bersifat teknis. Abhidhamma menurut Narada Maha Thera (dalam A Manual of Abhidhamma) adalah ilmu jiwa (psikologi) tanpa jiwa (psikis). Abhidhamma mengajarkan bahwa kebenaran sejati terdiri dari empat unsur penyusun. Yang pertama adalah Nibbana (Nirvana dalam bahasa Sansekerta) yang tidak terkondisi dan ketiga unsur lainnya adalah citta, cetasika, dan rupa (kesadaran,faktor mental, dan materi) yang terkondisi dan merupakan bagian dari penyusun nama dan rupa. Semua gagasan konseptual, seperti diri, mahkluk, atau orang, dibahas hanya sebagai fenomena mental dan material apa adanya, yang bersifat fana,terkondisi, saling ketergantungan, dan tidak adanya inti diri. Kesadaran, sebagai contohnya, yang tampak seperti arus berkesinambungan, dijabarkan sebagai citta (suatu pergantian peristiwa mental individual yang bersifat sementara) dan cetasika (suatu kumpulan faktor mental yang kompleks) yang berperanan khusus dalam pembentukan kesadaran. Dalam proses ini tidak terlibat adanya diri, jiwa, atau agenagen lainnya.

Untuk memahami Kebenaran, perlu pengetahuan akan sifat segala sesuatu yang anatta dan itu hanya dapat ditembus melalui meditasi vipassana (pandangan terang), yang berkaitan langsung dengan pengetahuan tentang anicca-sifat segala sesuatu yang fana, dukkha-tidak memuaskan, dan anattatanpa inti diri. Seseorang tidak akan dapat mencapai kemajuan jika belum mampu mengalami corak umum ini secara langsung, bukan sekedar secara intelektual. Selama meditasi, akan tampak jelas apa yang menyamarkan ketiga corak ini.

Sifat kefanaan (ketidakkekalan) tersamarkan oleh kesinambungan. Jika kita melihat nyala sebuah lilin, kita akan berpikir bahwa nyala tersebut sama dari waktu ke waktu. Padahal, nyala lilin itu secara terus-menerus lenyap dan muncul lagi setiap saat. Kita melihat ilusi satu nyala yang sama karena gagasan dan penampakan kesinambungan.

Sifat tidak memuaskan (penderitaan) tersamarkan oleh perubahan posisi tubuh. Ketika kita duduk dan merasa tidak nyaman, kita mengubah posisi dan merasa nyaman kembali. Sesungguhnya, kita selalu mengubah posisi setiap saat dalam hidup kita, tetapi kita tidak menyadarinya. Setiap saat rasa tidak nyaman muncul, kita segera mengubah posisi tubuh kita.

Sifat tiada inti diri tersamarkan oleh persepsi bahwa segala sesuatu adalah berbentuk dan solid. Kita melihat segala benda dan diri kita sendiri sebagai sesuatu yang solid dan berbentuk. Kita tidak akan memahami sifat segala sesuatu yang sunya, tiada inti diri, jika kita tidak mengetahui bahwa persepsi ini salah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar