Selasa, 22 Desember 2009

Sedikit Pengertian Anatta

"Aku" tidaklah lebih daripada penggunaan kata2 yang ditujukan untuk mempermudah penjelasan mengenai gabungan antara organisme fisik dan sebuah kesadaran yang berpikir bahwa organisme fisik yang mengerjakan segala sesuatu hal atas perintahnya sendiri adalah "Aku"

Ketika ditanya "Siapa kau?"

Aku menjawab "Aku adalah [nama] *edited* "

Dan ia yang bertanya masih bisa berkata,"Aku tanya siapa kau, bukan apa namamu."

Aku menjawab lagi "Aku adalah seorang novelis, seorang dog breeder, seorang..."

Dan ia yang bertanya masih bisa berkata,"Aku tanya siapa kau, bukan apa pekerjaanmu."

Aku berusaha untuk menjawab lagi " Aku anak dari kedua orangtuaku"

Dan ia yang bertanya masih bisa berkata,"Aku tanya siapa kau, bukan apa statusmu dalam keluargamu."

"Aku" yang berbicara sedetik lalu memiliki pemikiran yang berbeda lagi dengan "aku" yang berbicara sedetik kemudian

Bahkan "aku" terkadang bisa mengubah pemikiranku yang sudah "aku" tekadkan sebelumnya dengan sebuah keputusan lain yang datang dari "aku" juga hanya dalam beberapa detik saja

Dalam hitungan detik "aku" sudah sangat bisa berbeda dengan "aku" sebelumnya

Lalu siapakah yang "aku"?

Ketika "aku" selalu berubah - ubah dan tidak tetap, dimanakah "aku" yang sejati?

Apakah yang di detik lalu atau yang sedang di saat ini atau yang akan berada di masa depan?

Padahal "aku" selalu merasa bahwa semuanya "aku" lakukan atas dasar kemauan dari "aku" sendiri

Bahkan "aku" tidak bisa mengendalikan "aku"

Seringkali "aku" melakukan hal yang sesungguhnya "aku" tak inginkan

Seringkali "aku" mengucapkan hal yang sesungguhnya "aku" tahu akan menyakitkan dan tak seharusnya "aku" katakan

Seringkali juga "aku" melukai diriku sendiri tanpa sadar ketika "aku" mau terus menerus mengikuti penderitaan dan tidak segera bangkit lagi dari penderitaan tersebut karena selalu berpikir "aku" tidak bisa padahal kenyataannya ada kemungkinan yang lebih baik jika "aku" mau berusaha dan yakin di dalam usahaku

Yang menggelikan, adalah "aku" sesungguhnya ingin berbahagia, tapi "aku" malah menjebak diriku sendiri dalam penderitaan itu

Mereka bilang semua itu dilakukan karena sedang emosi, tapi tetap saja "aku" lah yang melakukannya, "aku" yang menyadari bahwa semua hal itu tidak baik tapi di sisi lain tetap melakukannya

Seringkali "aku" mengalami perperangan batin di dalam sebuah permasalahan,konflik ataupun dilema

Lalu siapakah "aku" yang sejati ketika "aku" menyadari bahwa ada "aku" di satu sisi yang menentang "aku" yang berada di sisi lainnya lagi di saat yang bersamaan?

Apakah "aku" ada dua atau hanya ada satu?
"Aku" digunakan untuk pronomina kata tunggal tapi mengapa bisa muncul begitu banyak "aku" di saat bersamaan di dalam kondisi tertentu?

Jawaban sesungguhnya dari pertanyaan "Siapakah aku?" adalah "Karena tidak ada "aku" yang sejati dan tetap, maka "aku" tidak pernah ada."

PENJELASAN :

"Aku" tidaklah lebih daripada penggunaan kata2 yang ditujukan untuk mempermudah penjelasan mengenai gabungan antara organisme fisik dan sebuah kesadaran yang berpikir bahwa organisme fisik yang mengerjakan segala sesuatu hal atas perintahnya sendiri adalah "Aku"

- gabungan antara kesadaran dan fisik kita diberi nama "Aku" karena kesadaran itu berpikir bahwa sinkronisasinya kesadaran itu dengan bagian fisik adalah sebuah kesatuan padahal sebenarnya bukan. Keduanya adalah dua gabungan yang berbeda dan saling membutuhkan dan bekerjasama. Dua tapi terasa seperti satu. Kita semua adalah bauran fenomena mental dan materi, tidak lebih dari itu. Bagian kesadaran dari kedua gabungan ini yang bereaksi terhadap suatu objek. Bukan bagian fisik yang bereaksi. Pernah merasakan sakit setelah melihat luka berdarah padahal luka berdarah tersebut sudah menganga beberapa saat sebelumnya? Hal ini membuktikan hal tersebut. Ketika kita merasa lapar, pikiran kita yang merasa lapar, tapi fisik kita yang mencernanya.
Kesadaran bereaksi dari objek di sekitar kita, mengeluarkan suatu hal yang disebut "pikiran", beberapa orang menyebutnya sebagai "perasaan". Hal ini tentunya terbentuk dari kondisi (mengingat adanya objek di sekitar) sehingga pikiran membentuk sebuah pemikiran terhadap objek. Bagian fisik sendiri terbentuk dari kondisi2. Tubuh kita tidak terlahirkan secara spontan kan? (butuh proses untuk membuat anak lho...he3x) Selain itu tubuh kita juga mengalami proses penuaan dan penyakit yang akhirnya berakhir dengan pemisahan kesadaran dengan fisik alias kematian karena fisik tersebut sudah tidak memungkinkan lagi kondisinya untuk "dihuni" oleh kesadaran



Ketika ditanya "Siapa kau?"

Aku menjawab "Aku adalah Benny "

Dan ia yang bertanya masih bisa berkata,"Aku tanya siapa kau, bukan apa namamu."

Aku menjawab lagi "Aku adalah seorang novelis, seorang dog breeder, seorang..."

Dan ia yang bertanya masih bisa berkata,"Aku tanya siapa kau, bukan apa pekerjaanmu."

Aku berusaha untuk menjawab lagi " Aku anak dari kedua orangtuaku"

Dan ia yang bertanya masih bisa berkata,"Aku tanya siapa kau, bukan apa statusmu dalam keluargamu."

-Ini menunjukkan tidak adanya pertanyaan yang bisa menjawab "Siapakah aku?" tanpa dikoreksi lagi


"Aku" yang berbicara sedetik lalu memiliki pemikiran yang berbeda lagi dengan "aku" yang berbicara sedetik kemudian

Bahkan "aku" terkadang bisa mengubah pemikiranku yang sudah "aku" tekadkan sebelumnya dengan sebuah keputusan lain yang datang dari "aku" juga hanya dalam beberapa detik saja

Dalam hitungan detik "aku" sudah sangat bisa berbeda dengan "aku" sebelumnya

Lalu siapakah yang "aku"?

Ketika "aku" selalu berubah - ubah dan tidak tetap, dimanakah "aku" yang sejati?

Apakah yang di detik lalu atau yang sedang di saat ini atau yang akan berada di masa depan?

- Kedua hal tersebut menunjukkan bukanlah "aku yang memutuskan A" atau "aku yang memutuskan B setelah memilih A." tapi sesungguhnya hanya reaksi pikiran yang terus berubah dalam perubahan. Jadi "aku" sesungguhnya tidak lebih daripada refleksi reaksi pikiran kita terhadap objek di sekitar kita


Padahal "aku" selalu merasa bahwa semuanya "aku" lakukan atas dasar kemauan dari "aku" sendiri

Bahkan "aku" tidak bisa mengendalikan "aku"

Seringkali "aku" melakukan hal yang sesungguhnya "aku" tak inginkan

Seringkali "aku" mengucapkan hal yang sesungguhnya "aku" tahu akan menyakitkan dan tak seharusnya "aku" katakan

- Ini menunjukkan bahwa tidak ada "aku" karena tidak adanya kendali akan "aku" itu sendiri. Jika "aku" memang ada, kenapa ada "aku" lain melakukan hal tidak diinginkan oleh "aku"? Kenapa ada "aku" lain yang begitu liar di dalam "aku"? "Aku" tidaklah lebih daripada aliran pikiran yang terus berubah - ubah, begitu liar dan tidak ada satupun hal yang ada di dalam pikiran tersebut yang pantas disebut "aku" karena ketidakkonsistenannya dan juga keliarannya


Seringkali juga "aku" melukai diriku sendiri tanpa sadar ketika "aku" mau terus menerus mengikuti penderitaan dan tidak segera bangkit lagi dari penderitaan tersebut karena selalu berpikir "aku" tidak bisa padahal kenyataannya ada kemungkinan yang lebih baik jika "aku" mau berusaha dan yakin di dalam usahaku

Yang menggelikan, adalah "aku" sesungguhnya ingin berbahagia, tapi "aku" malah menjebak diriku sendiri dalam penderitaan itu

Mereka bilang semua itu dilakukan karena sedang emosi, tapi tetap saja "aku" lah yang melakukannya, "aku" yang menyadari bahwa semua hal itu tidak baik tapi di sisi lain tetap melakukannya

- Inilah yang paling berbahaya di dalam konsep adanya "aku". Pikiran bersifat seperti lingkaran, tidak menjadi subjek tidak juga menjadi objek, dia yang mengawali , dia juga yang menjadi akhir. Ketika kita berpikir "aku" tidak bisa, maka "aku" akan tidak bisa padahal sesungguhnya semua itu hanyalah permainan pikiran saja. Seringkali juga kita menghancurkan "diri" kita sendiri dengan pikiran2 negatif padahal "diri" kita bisa melakukan lebih baik daripada itu semua. Oh ayo lah, pikiran bisa membentuk adanya "aku yang bisa" bukan sekedar "aku yang tak bisa" jika kita memang mau mengubah pikiran tersebut. Karena memang tidak ada "aku" yang yang sejati,sadarilah bahwa tidak pernah ada "aku" untuk membatasi diri, dengan itulah "aku" bisa berkembang tanpa "aku"


Seringkali "aku" mengalami perperangan batin di dalam sebuah permasalahan,konflik ataupun dilema

Lalu siapakah "aku" yang sejati ketika "aku" menyadari bahwa ada "aku" di satu sisi yang menentang "aku" yang berada di sisi lainnya lagi di saat yang bersamaan?

Apakah "aku" ada dua atau hanya ada satu?
"Aku" digunakan untuk pronomina kata tunggal tapi mengapa bisa muncul begitu banyak "aku" di saat bersamaan di dalam kondisi tertentu?

- Ini yang seringkali disebut malaikat dan iblis dalam diri kita. Ada "aku" yang baik. Ada "aku" yang buruk. Lalu "aku" yang manakah yang sejati? Sisi yang mana dari dualisme tersebut yang merupakan "aku"? Positif dan negatif hanyalah reaksi pikiran kita dan tidak menunjukkan adanya "aku" yang sejati karena semuanya kembali lagi ke cara kita memandang sebuah objek. Lalu apakah dualisme itu sendiri adalah "aku"? Bahkan dualisme itu juga ada karena kita menilainya positif dan negatif secara bersamaan juga kan?Jangan samakan penilaian kita dengan diri kita. Karena yang yang ada hanyalah "penilaian" yang seringkali disalahpahami sebagai "diri" sekalipun keduanya sama - sama tidak eksis secara nyata

Jawaban sesungguhnya dari pertanyaan "Siapakah aku?" adalah "Karena tidak ada "aku" yang sejati dan tetap, maka "aku" tidak pernah ada."

- Gue rasa, sekarang semuanya sudah jelas mengapa dibilang tidak ada "aku" ^^

Benny Prawira - Juli 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar