Jumat, 25 Desember 2009

Atasi Stres Anak dengan Meditasi

Observasi Mahasiswa Psikologi Unair yang Menang LKTM



Bebaskan Posisi, Santai dan Dengarkan Dongeng
Anak-anak usia TK dan SD di Surabaya, ternyata banyak yang mengalami stres karena pelajaran di sekolahnya. Ini adalah hasil observasi mahasiswa Fakultas Psikologi Unair. Dan, dari hasil observasi itu, cara untuk mengatasi stres ini bisa dilakukan dengan meditasi. Seperti apa?

Di sebuah ruangan salah satu SD di kawasan Pucang, tidak seperi biasanya, puluhan siswa diam seribu bahasa. Sebagian terlentang di lantai. Ada yang kepalanya disandarkan pada temannya, atau gurunya. Sebagian lagi duduk bersila seperti sedang bersemedi. Semua mata siswa itu terpejam. Sayup-sayup terdengar musik intrumen klasik mengalun pelan.

Di tengah-tengah mereka, terlihat seorang gadis dewasa berjilbab dan bertubuh sedikit gemuk, membacakan dongeng tentang Petualangan Terbang Ke Kerajaan Langit. Sesekali terdengar perintah dari perempuan pendongeng kepada anak-anak. "Biarkan tubuhmu santai…rileks…pejamkan mata. Hirup udara pelan-pelan, tahan…, satu…, dua…,tiga…, empat…., hembuskan…," teriak pendongeng itu. Kemudian dia meneruskan dongengnya sampai 30 menit lamanya.

Sedang apa sebenarnya anak-anak ini? Yang jelas, mereka tidak sedang dininabobokkan dengan dongeng pengantar tidur. Tetapi, anak-anak ini sedang melakukan meditasi. Mereka dipandu oleh mahasiswi-mahasiswi dari Fakultas Psikilogi Unair. "Ini namanya meditasi dengan story telling," ujar Niken Wulandari, perempuan yang jadi pendongeng itu.

Mengapa anak-anak ini harus bermeditasi? Ternyata jawabannya cukup mengejutkan. Anak-anak ini mengalami stres, akibat tekanan-tekanan dalam proses pembelajaran di sekolahnya.

Sebenarnya, apa yang dilakukan Niken pada anak-anak SD itu merupakan kelanjutan dari Karya Tulis yang disusunnya bersama dua temannya Ani Christina dan Lupi Ariyanti. Dalam Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) Nasional beberapa waktu lalu, mereka dinobatkan sebagai pemenang ketiga.

Karya tulis mereka berjudul Teknik Meditasi-Relaksasi Dengan Story Telling Untuk Menumbuhkan Kemampuan Coping Terhadap Stres Pada Anak Pra Sekolah.

Sebelumnya tiga gadis ini melakukan observasi di beberapa taman kanak-kanak (TK) di Surabaya. Mereka mewawancarai guru, orang tua dan siswa.

Hasilnya, bisa disimpulkan, anak-anak ini sebagian besar mengalami stres. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari mogok sekolah, pusing, bosan, malas mengerjakan PR, dan segala sesuatu yang berwujud penolakan. "Tekanan yang dirasakan sang anak cukup tinggi setiap harinya," ujar Lupi Ariyanti, mahasiswi angkatan 2000 ini.

Apa yang menyebabkan mereka stres? Anak-anak merasa tertekan dengan pelajaran dan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Dalam Garis-Garis Besar Pedoman Kegiatan Belajar (GBPKB) TK, sebenarnya anak hanya dikenalkan pada bilangan. Tetapi, di TK saat ini, anak sudah diharuskan menyelesaikan soal-soal matematika.

Dalam pengenalan huruf, anak sudah diharusan menulis kalimat, bahkan dengan huruf halus. Belum lagi, matematika dan menulis halus itu juga menjadi PR mereka. Di sekolah dan di rumah mereka ketemu dengan materi yang di luar kemampuannya itu. "Selama ini memang sudah umum di TK-TK, tapi sebenarnya tanpa diketahui masyarakat, jiwa anak mereka terancam," kata Ani Christina.

Saat dipresentasikan, lanjutnya, dewan juri dari Dirjen Dikdasmen kaget bukan main. "Mereka kaget melihat contoh pekerjaan anak-anak TK yang kami bawa. Katanya, perlu revisi kurikulum secara total," ujar Lupi, menceritakan saat mereka presentasi LKTM di UNS (Universitas Negeri Surakarta).

Lewat meditasi inilah diharapkan anak-anak bisa mengurangi stres pada dirinya. Meditasi, selama ini sering dimaknai kegiatan supranatural atau religius. "Padahal intinya, meditasi adalah usaha untuk memfokuskan pikiran pada satu obyek," timpal Ani, gadis Malang, kelahiran 30 Mei 1982 ini.

Jadi, sambung Ani, meditasi tidak hanya milik orang dewasa. Tetapi bisa dilakukan pada anak. Seperti yang dilakukan Niken pada sebuah SD, meditasi dilakukan dengan cara menyuruh anak mencari posisi yang paling nyaman. Bisa duduk, tengkurap, atau terlentang. Selanjutnya, mata terpejam dan konsentasi mendegarkan dongeng.

Setelah enam kali meditasi dalam dua minggu, Niken melihat ada perubahan pada diri anak-anak itu. Sebelumnya, mereka mengaku sering berdebar-debar saat akan sekolah, pusing, takut, bosan dan sebagainya. "Setelah meditasi, keluhan-keluhan itu banyak berkurang," katannya. "Sehingga, agresivitasnya juga menurun, dan itu positif buat peningkatan prestasi belajarnya," papar gadis kelahiran 4 Februari 1982 ini.(tomy c. gutomo)

Sumber : Jawa Pos, Jumat, 24 Okt 2003

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar