Jumat, 25 Desember 2009

Meditasi Bantu Penderita Diabetes

Meditasi relaksasi membantu penyembuhan penderita Diabetes Melitus tidak Tergantung Insulin (DMTTI). Demikian hasil penelitian yang diungkapkan April 1999 oleh tim peneliti Universitas Udayana/RSUP Sanglah yang dipimpin Prof Dr dr Luh Ketut Suryani.

Penelitian dilakukan selama bulan Maret-Mei 1998 dengan 100 sampel berusia 40-70 tahun, yang dibagi dalam kelompok kontrol yaitu mereka yang mendapatkan terapi diabetes standar berupa obat, pengaturan diet dan olah raga (jalan kaki) serta kelompok sampel yang selain mendapat terapi standar juga mendapat latihan meditasi relaksasi spiritual (MRS). Namun pada akhir penelitian, kelompok kontrol tinggal 20 orang, demikian pula kelompok sampel.

Kelompok sampel yang mendapat latihan meditasi dalam perjalanan waktu terbagi dalam dua subkelompok, yaitu kelompok yang melakukan meditasi dan pengobatan standar secara disiplin serta kelompok yang tidak disiplin.

Hasil penelitian, tujuh orang yang melakukan meditasi teratur menunjukkan tingkat kesembuhan baik dan tiga orang menunjukkan tingkat kesembuhan sedang. Yang tak teratur meditasi dan terapi standarnya hanya seorang yang tingkat kesembuhannya sedang dan sembilan orang tingkat kesembuhannya jelek. Sementara dari kelompok kontrol empat orang menunjukkan tingkat kesembuhan baik, enam orang tingkat kesembuhannya sedang dan 10 orang tingkat kesembuhannya jelek.

Meditasi dan relaksasi berpengaruh pada pola tidur. Pada kelompok yang rajin meditasi semuanya menyatakan bisa tidur nyenyak dan 90 persen bangun dengan segar. Kebutuhan waktu tidur juga berkurang. Sedang kelompok yang tak teratur meditasi 90 persen bisa tidur nyenyak tetapi hanya 60 persen yang bangun dengan segar.

Peneliti lain adalah Dr dr Tjokorda Alit Kamar Adnyana, dr N Dwi Sutanegara, dr Made Nyandra, dr IGN Sastradi, dr I Dewa Gede Basudewa, dan dr AAAA Indriany. Penelitian dibiayai oleh Sentra Proyek Pengembangan Pengobatan Tradisional Propinsi Bali.

Diabetes melitus terjadi karena gangguan fungsi endokrin pankreas. Pada penderita diabetes melitus terjadi keadaan di mana insulin tak berfungsi optimal, karena kualitas dan kuantitasnya tak memadai. Penyebabnya, reseptor insulin tak memadai atau ada faktor hormon yang melawan efek insulin, yaitu counter regulatory hormone (CRH), pada keadaan tertentu bisa juga karena penurunan produksi insulin tubuh.

Padahal insulin diperlukan tubuh untuk menjaga kadar gula darah. Penderita diabetes harus mampu mengendalikan kadar gula darah menjadi normal atau mendekati normal agar tak terhindar dari komplikasi kronis.

Dalam penelitian, penanganan penderita diabetes dilakukan secara holistik dengan pendekatan bio-psiko-spirit-sosiobudaya. Di samping diberi obat, menjalani pengaturan diet dan olahraga, penderita diberi terapi tambahan berupa meditasi relaksasi spiritual.

Meditasi relaksasi membantu penderita mencapai homeostasis, yaitu suatu keseimbangan dalam tubuh-di mana regulasi tubuh, yaitu sistem saraf otonom, endokrin dan daya tahan tubuh, berfungsi maksimal-sehingga tercapai penyembuhan oleh diri sendiri. (can/atk)

Sumber :Kompas, Sabtu, 8 Mei 1999

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar