Jumat, 25 Desember 2009

Seekor Gajah Bodhisatta

Seperti banyak kepala biarawan di jamannya, Ajan Pan belajar di vihara desanya. Beliau pernah meninggalkan desa selama beberapa tahun untuk mencari pengetahuan dari guru-guru lainnya, dan kembali ke desa asalnya untuk mengajar. Pada akhirnya, beliau menjadi kepala biarawan di vihara desa. Pan dilahirkan di desa Udder Cow. Saat ia berumur dua puluh satu tahun, beliau ditahbiskan menjadi bhikkhu di vihara desa Udder Cow di tahun 1896 dan diberi nama Sonantho. Ajan Sun, kepala biarawan vihara desa Mo Fish, adalah pembimbing beliau.

Sebelum ia menjadi kepala biarawan, di antara masa vassa Ajan Pan sering memimpin murid-muridnya melakukan thudong [perjalanan ziarah ke tempat suci]. Pada suatu waktu, Ajan Pan memimpin sekelompok empat orang bhikkhu ke Buddha's Footprint [Jejak Kaki Buddha] di bagian utara Saraburi di Dataran-dataran Pusat. Suatu malam, setelah mereka berjalan mengikuti jejak gajah menyeberangi hutan, mereka tiba di daerah seperti padang rumput yang dikenal sebagai thung dalam bahasa Thai. Lucien Hanks, seeorang ahli antropologi Amerika yang melihat sebuah thung di Dataran-dataran Pusat di pertengahan abad ke dua puluh, menggambarkannya seperti “tempat yang sangat luas yang diselimuti dengan rumput-rumput tinggi, rumput alang-alang, dan di tempat-tempat yang lebih tinggi di daerah ini ditutupi dengan semak-semak tebal”. Hanks memperhatikan bahwa para penduduk desa umumnya menghindari daerah ini. Mereka yang berjalan melalui sebuah thung melaporkan bahwa “saat mereka naik di punggung kerbau air, di kiri dan kanan mereka hanya terlihat rumput. Disamping itu, ular-ular sebesar lengan bergerak di semak belukar, buaya-buaya kadang bersembunyi di dekat danau-danau. Tetapi, binatang-binatang ini tidak mengerikan seperti kelompok-kelompok gajah yang dapat menyerang dengan tiba-tiba dan membunuh manusia yang membuat para gajah terkejut.”

Ajan Pan dan murid-muridnya tiba di hutan setelah berjalan sekitar dua kilometer menyeberangi sebuah thung, mereka memasuki thung tersebut setelah melewati sekelompok rumah pedesaan yang beranggota lima rumah tangga. Di dekatnya terdapat sebuah danau, tetapi pada saat itu danau tersebut tak berair. Memeriksa tanah tersebut, Ajan Pan memberitahu para bhikkhu bahwa mereka semua akan menginap di sini untuk malam itu. Beliau memberikan peringatan keras. “Setelah kalian memasang klot [tenda payung besar], jangan berpindah. Apapun yang terjadi, kalian harus rela mati demi Dhamma.”

Untuk menciptakan lingkungan sunyi, para bhikkhu memberi jarak di antara setiap klot, mereka mendirikan klot di dekat pinggiran hutan. Tidak lama setelah para bhikkhu selesai mendirikan tenda-tenda mereka, sekelompok penduduk desa tiba. Mereka memberi persembahan air gula. Setelah para bhikkhu meminum air, para penduduk mendesak para bhikkhu menginap di dekat tempat tinggal mereka daripada di tempat terbuka. Mereka memberitahu Ajan Pan, “Yang Mulia, ini adalah wilayah gajah. Sekelompok gajah tinggal di hutan ini. Baru-baru ini beberapa bhikkhu, yang memasang klot mereka di sini, diserang dan diinjak oleh gajah-gajah liar. Akan lebih aman jika para bhikkhu memindahkan klot ke desa. Selanjutnya, jika terjadi sesuatu, kita dapat datang membantu Anda.” Ajan Pan tidak menerima undangan mereka. Ia memberitahu para penduduk, “Kita mempunyai peraturan bahwa saat seorang bhikkhu telah memasang klotnya, ia tidak diperbolehkan memindahnya. Apapun yang terjadi, kita harus menghadapinya.” Ajan tersebut bersikeras bahwa para bhikkhu tetap tinggal dimana mereka telah membuat kemah. Mengetahui kebiasaan gajah-gajah liar, para penduduk memperingati para bhikkhu, “Jika para gajah muncul, mohon pukul tutup mangkok makanan kalian dengan keras. Kita akan segera datang membantu kalian saat mendengar signal tersebut.” Selanjutnya, mereka kembali ke desa sebelum malam hari tiba.

Setelah para penduduk pergi, Ajan Pan memberitahu para bhikkhu melakukan brahmavihara-bhavana, atau meditasi pada empat keadaan mulia: cinta kasih ( metta), belas kasihan (karuna), kegembiraan simpati (mudita), dan batin yang tak tergoyahkan (upekkha). Segera setelah para pelaku meditasi mencapai konsentrasi, pikiran mereka penuh dengan belas kasih, luas, tak terbatas, bebas dari kebencian dan pikiran jelek, mereka memperluas cinta kasih mereka kepada semua makhluk. Dengan setiap bhikkhu duduk dalam samadhi menurut tingkat mereka masing-masing, suasana di sekitar mereka sunyi dan hening. Sekitar jam 10 malam, seperti yang diperingatkan oleh para penduduk, para bhikkhu melihat sekelompok gajah, yang dipimpin oleh gajah besar dengan gading pendek, keluar dari hutan. Bulan hampir penuh, sehingga langit sangat terang. Para bhikkhu dapat melihat setiap gajah dengan jelas. Klot Ajan Pan adalah yang terdepan, diikuti dengan empat bhikkhu lainnya. Saat pemimpin gajah mendatangi klot Ajan Pan, gajah besar melangkah melewatinya dan berdiri tak bergerak. Ajan Pan berada di bawah perut gajah yang besar, yang meluas pada setiap sisi. Untuk keluar dari hutan, setiap gajah di kelompok tersebut harus melangkahi klot yang menghalangi jalannya. Melangkah di samping setiap klot, para gajah satu persatu menyelip masuk melewati para bhikkhu, dan mulai menyeberangi thung menuju hutan yang berada di ujung lapangan.

Tetapi, gajah yang terakhir nakal. Para penduduk menamakannya Twist karena salah satu gadingnya tidak lurus. Bukannya mengikuti kelompok gajah lainnya menyeberangi thung, Twist berputar kembali dan mulai berlari menuju para bhikkhu. Ia tiba-tiba menyerang klot Ajan Pan. Pada saat yang menakutkan ini, Ajan tersebut tidak terganggu. Belakangan ia memberitahu para muridnya, “Dengan cita-cita menuju pengertian pencerahan (bodhinyana), batin saya tak tergoyahkan; jika saya meninggal dalam keadaan ini, saya akan langsung dilahirkan di Surga Tusita dan melihat gajah tersebut dari sana.” Setelah mencapai jhana ke tiga [konsentrasi perenungan], Ajan Pan mengendalikan pikirannya untuk memasuki pikiran-pikiran para muridnya. “Selanjutnya, saya melihat ke dalam pikiran keempat rekan saya, dan melihat mereka semua bercita-cita menuju pengertian pencerahan. Saya merasa lega bahwa semua rekan bhikkhu saya mempunyai tujuan yang sama.”

Maha Wira, salah satu bhikkhu thudong yang menyaksikan penyerangan Twist, belakangan menceritakan kembali cerita ini. “Saat Twist lari ke klot Luang Pho [Bapak Ketua] Pan, pemimpin gajah [yang mengikuti Twist] menyerang Twist. Pemimpin gajah memakai belalainya memukul Twist dari belakang. Luang Po mendengar suara pukulan tiga kali. Setiap pukulan mendorong kepala Twist ke tanah. Tetapi hal itu tidak menghentikan Twist untuk datang mendekat. Akhirnya, gajah besar dengan belalainya memegang erat gading Twist dan menarik keras. Twist terjatuh ke tanah. Hal itu membuatnya berhenti menyerang. Twist berdiri dan berlari menyeberangi thung. Ketua gajah berjalan dengan perlahan-lahan memutari thung sejenak. Setelah melihat bahwa tidak akan terjadi masalah lagi, gajah besar berputar ke klot Ajan, berlutut dan mengangkat belalainya seperti ia sedang melakukan penghormatan. Selanjutnya, ia mengikuti kelompoknya dan menghilang dari pandangan kita.” Ajan Pan memberitahu para muridnya, “Saya kira gajah tersebut pasti adalah bodhisatta.”



Naskah Asli:
A Bodhisat Elephant - Diterbitkan oleh Majalah Buddhis "Inquiring Mind" edisi musim gugur 2003, vol. 20, no. 1

Diterjemahkan oleh : Jenny H - Surabaya
Editor : Bhikkhu Uttamo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar